My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Kado Ulang Tahun



Kesalahan dari ketidaksengajaan terkadang memerlukan sebuah pertanggung jawaban. Namun bagaimana jika ‘ia’ justru semakin menambah luka? Bila tak memberi bahagia, bukankah lebih baik tidak menerimanya?


\~\~\~


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, ruangan VIP yang menjadi tempat Delvin berkumpul bersama teman-temannya sangat bising oleh suara fals dari beberapa pria yang mulai mabuk akibat minuman beralkohol yang sudah mereka teguk beberapa gelas.


Delvin yang menjadi pemeran utama dalam pesta itu pun tampak mulai tak sadarkan diri.


Fanya yang duduk di sudut ruangan menatap ngeri kepada teman-teman Delvin, termasuk kepada pria itu yang tampak meracau di tengah kesadarannya yang berlahan hilang.


Richard yang melihat kekacauan dari sahabatnya memapah pria itu untuk keluar dari ruangan tempat mereka berpesta, Rose yang melihat Richard hendak membawa Delvin untuk meninggalkan pesta beranjak berjalan ke arah pria itu yang juga disusul oleh Fanya.


“Richard, aku akan pulang bersama kalian.” Ujar Rose kepada Richard.


“Bukankah tadi kau kesini bersama Tasha dan Michael? Pulanglah bersama mereka,” Richard beralih ke arah Fanya yang sedang meremas jemarinya, gadis itu khawatir jika Richard tidak bersedia memberinya tumpangan. “Nona, ikutlah bersama kami.” Ujar Richard yang disusul dengan helaan nafas lega dari Fanya.


Rose mendengus kesal menatap kepergian ketiga sosok tadi. Ia sangat penasaran dengan gadis yang dibawa Delvin bersamanya, pria itu tidak pernah dekat dengan gadis lain selain dirinya sebab ia tahu Delvin sangat berhati-hati bahkan jika hanya untuk berteman saja kepada yang namanya kaum hawa.


Richard meletakkan tubuh Delvin di kursi penumpang, Fanya duduk tepat di samping Richard. Mobil yang dikendarai oleh sang sekretaris melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada pembicaraan di antara dua orang yang masih sadar itu.


Mobil yang berbelok arah dari tempat tinggal Fanya berhenti di garasi apartemen mewah yang sontak membuat perempuan itu kebingungan.


“Turunlah.” Pinta Richard kepada Fanya sembari membuka seat belt yang terpasang di tubuhnya.


“Ta—tapi aku...“ Kebingungan Fanya dipotong dengan pertanyaan dari Richard.


“Bukankah kau akan menginap di tempat Delvin? Turunlah, kita sudah sampai.” Richard tak menunggu penjelasan dari Fanya, ia keluar dari dalam mobil untuk kembali memapah tubuh Delvin.


Fanya menyadari kesalahannya, ia tak memberi tahu arah jalan tempat tinggalnya kepada sekretaris Delvin yang membuat pria itu mengira ia akan menginap di apartemen Delvin. Sungguh, ia merutuki kebodohonnya, bahkan mobil yang berjalan tidak ke arah tujuannya pun tak lagi ia sadari. Entah pengaruh kantuk yang mulai menguasai indra penglihatannya atau mungkin penerangan yang tidak sejelas siang menjadi penyebabnya.


Ia sedikit berlari menyusul Richard yang sudah berjalan cukup jauh darinya, mereka memasuki sebuah Privat Lift yang membawa mereka ke lantai 79 apartemen.


Sesaat setelah mereka sampai di depan pintu apartemen Delvin, Richard menekan kode pintu milik sahabatnya itu. Pintu yang terbuka akan terkunci otomatis jika mendeteksi seseorang masuk atau meninggalkan ruangan itu, memperjelas kemewahan tempat tinggal Delvin.


Richard membaringkan tubuh Delvin ke atas ranjang milik pria itu, ia berjalan keluar menghampiri Fanya yang sedang duduk di sebuah sofa sambil meremas jemarinya.


“Maaf Nona, bisakah kau membuatkan teh jahe kepada Delvin? Aku akan pulang, sebab pagi nanti aku harus ke kantor mengurus pekerjaan yang Delvin tinggalkan.” Kondisi Delvin yang mabuk parah membuat Richard tidak yakin bahwa pria itu akan ke kantor.


Fanya tampak berpikir, ia benar-benar tak mengira akan berakhir seperti ini. Terjebak di apartemen atasan barunya.


Lagi-lagi Richard tak menunggu jawaban dari Fanya, ia permisi kepada gadis yang ia pikir kekasih Delvin.


“Aku izin pulang, Nona.” Pamit Richard kepada Fanya.


Fanya menatap kepergian Richard. Kini, tinggal ia dan Delvin yang berada di ruangan yang cukup luas jika ditinggali seorang diri.


Fanya beranjak menuju dapur, membuka lemari pendingin untuk mencari jahe dan juga teh yang akan ia seduh untuk Delvin. Setelah menemukan bahan yang ia tahu sebagai pereda mabuk, ia mencampur jahe dan juga teh dengan segelas air putih ke dalam sebuah wadah aluminium, kemudian memasaknya.


Setelah dirasa cukup, ia menuang minuman tersebut ke dalam gelas dan meletakkannya di atas nampan. Ia beranjak ke kamar Delvin, menemui pria yang masih saja meracau.


Ia menaruh minuman yang ia bawa ke atas nakas, bau alkohol dari tubuh Delvin cukup mengganggu penciuman Fanya.


“Tuan, minumlah. Ini akan meredakan rasa mualmu.” Fanya menyodorkan gelas yang ia bawa tadi kepada Delvin, setelah sebelumnya ia mendiamkan minuman tersebut agar menjadi hangat.


Delvin tampaknya bukan pemabuk yang buruk, sebab ia segera bangun dari posisi tidur kala Fanya memberikannya gelas yang berisi minuman pereda mabuk itu.


Tangan Delvin meraih gelas yang Fanya berikan kepadanya, dengan sekejap ia meneguk minuman itu tanpa sisa dan kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari memejamkan matanya.


Fanya menarik nafas lega, tadinya ia sempat khawatir Delvin akan berbuat yang macam-macam kepadanya. Namun sepertinya pria itu dapat mengontrol kewarasannya yang bisa saja diambil penuh oleh alkohol yang cukup banyak Delvin minum.


Fanya melepas sepatu yang masih terpasang di kaki Delvin, sebelum akhirnya ia beranjak menuju ruang tengah untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat ngantuk.


***


Hari semakin siang, tampak sepasang anak manusia tidur saling mendekap dengan lelapnya di balik selimut yang menutup tubuh hingga bagian pundak mereka. Suara serak dari lelaki berusia 57 tahun terdengar memenuhi ruangan berwarna putih tersebut.


“Delvin!!” Ucap lelaki itu keras namun tak kunjung membangunkan Delvin.


“Dad, biarkan aku yang membangunkan Delvin, tunggulah diluar.” Pinta pria itu yang tampak mengkhawatirkan ayahnya.


“Suruh mereka menemuiku jika sudah bangun.” Ujar lelaki itu sembari berlalu keluar.


Pria yang tak lain adalah kakak Delvin mendekat ke arah adik satu-satunya itu, ia menggunjang tubuh Delvin dengan kasar. Berlahan Delvin mengerjapkan maniknya, ia sedikit memicingkan tatapan ke arah kakaknya sembari mengernyitkan dahi.


“Kak David, apa yang kakak lakukan? Why are you here?” Tanya Delvin yang merasa bingung dengan kehadiran kakaknya.


“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan Delvin?!” ujar David dengan nada suara yang meninggi. “Daddy menunggu kalian diluar, banguni kekasihmu.” Tanpa menunggu jawaban dari Delvin, ia berlalu meninggalkan kamar adiknya.


Delvin yang mendengar kata ‘kalian’ dari kakaknya membuatnya menoleh ke sebelah kirinya.


“Fanyaa!! Heii!! Mengapa kau tidur di ranjangku?!” Delvin yang sedari tadi tidak menyadari keberadaan Fanya mendorong tubuh gadis itu, membuat selimut yang Fanya pakai tersingkap, menampilkan tubuh bagian atasnya yang tidak mengenakan pakaian.


“Aku—aku mengapa berada disini?” Gumam Fanya, sebab ingatannya masih cukup jelas, semalam ia tidur di sofa luar, bukan di kamar Delvin. ”Ahhh!!” Teriak Fanya yang terlambat menyadari tubuh polosnya, ia segera menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang sempat terekspos.


Delvin yang tanpa sengaja melihat penampilan Fanya tampak membuang muka, ia menyurai rambutnya dengan kasar kala mendapati dirinya pun juga bertelanjang dada seperti Fanya.


“Cepat pakai pakaianmu, kita keluar menemui Daddyku.” Ujar Delvin tanpa menoleh ke arah Fanya.


Fanya yang masih terkejut membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut, ia memakai bra yang tertindih oleh kakinya. Tangannya berlahan meraba kasur mencari pakaian yang ia gunakan semalam, namun dia tidak menemukan pakaian tersebut.


Dia sedikit menyingkap selimut yang tadi turut menutupi kepalanya, ia mengedarkan pandangan ke arah lantai kamar tersebut, ia mendapati pakaiannya terletak di lantai bersama dengan muntahan Delvin yang mengenai kain berbahan katun itu. Sebenarnya ia merasa jijik mengenakan pakaian yang sudah kotor oleh muntahan Delvin, namun ia tidak punya pilihan lain.


Sebelah kaki Fanya menyentuh lantai untuk mengambil pakaian itu dan memakainya di dalam selimut tebal yang masih menutup tubuhnya. Sesaat setelah pakaian itu berhasil ia kenankan, barulah ia menyibak selimut.


“Ikut denganku!!” Terdengar Delvin memerintah kepada Fanya.


Kedua orang itu berjalan keluar menemui Ayah Delvin yang sedang duduk di sebuah sofa bersama dengan kakaknya—David.


“Duduk!!” Ayah Delvin—Diego Albercio yang melihat kehadiran putra keduanya bersama dengan perempuan yang tidur dengan anaknya tak bisa merendahkan nada bicaranya kepada dua orang yang sudah menyulut emosinya.


Delvin dapat merasakan kemarahan Ayahnya yang membuncah, ia melangkah dengan pelan, mendudukkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan lelaki itu. Dengan rasa takut yang menguasai diri Fanya, ia melakukan hal serupa seperti yang Delvin lakukan.


“Besok kalian harus menikah.” Tanpa berbasa-basi menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, Diego langsung memberi keputusan yang tidak akan bisa diganggu gugat oleh siapapun.


“Dad!! Semuanya tidak seperti yang Daddy lihat dan pikirkan, dia bukan kekasihku dan aku tidak mencintainya, Dad.” Delvin yang sudah menebak perkataan Ayahnya mencoba menjelaskan kepada lelaki itu.


“Dia bukan kekasihmu dan kau pun tak mencintainya, lalu—“ Diego sesaat menggantung kalimatnya. “Apa dia perempuan seperti wanita itu, hah?” Nada suara Diego semakin meninggi memenuhi ruangan tempat mereka berkumpul.


“Dad...’’ David mengusap punggung tangan Ayahnya, mencoba menenangkan amarah lelaki itu.


Fanya yang tak mengerti dengan ‘wanita’ yang dimaksud Ayah Delvin hanya diam namun dengan air mata yang mulai terurai. Ia yang mendapati dirinya tanpa pakaian bersama Delvin sudah membuatnya merasa kehilangan harga diri ditambah pembicaraan tentang pernikahan yang Diego utarakan benar-benar membuatnya sungguh tertekan.


“Selamat ulang tahun, sepertinya pernikahan adalah kado spesial yang paling kau inginkan di hari ulang tahunmu,” Diego melempar sebuah kotak yang ia keluarkan dari saku kanannya ke atas meja. “Kita pulang David.” Ujar lelaki itu.


Diego dan David beranjak dari duduknya, mereka melangkah namun terhenti kala Delvin meraih tangan Ayahnya.


“Dad, kau tahu aku tidak pernah menginginkan pernikahan, bahkan kak David saja belum menikah. Please Dad, aku tidak mau menikahi dia dan tidak akan menikah dengan siapapun.” Delvin mengatupkan kedua tangannya, memohon kepada Ayahnya berharap pengertian dari lelaki itu.


“Akupun tidak ingin menikah dengan putramu, Paman. Biarkan aku pergi.” Ujar Fanya sambil terisak.


“Hei perempuan licik, kau menjebakku kan? Kau pasti menginginkan ini, kau sengaja menjadi perempuan malang yang membutuhkan tumpangan.” Delvin merasa risih dengan cairan yang keluar dari pelupuk Fanya yang dianggapnya sebagai air mata buaya.


Kalimat Delvin barusan membuat dia mendapatkan tamparan keras dari Diego, menciptakan tanda merah di pipinya.


“Kau harusnya mengingat perbuatanmu padanya,” ujar Diego sembari menunjuk ke arah Fanya. “Kalian tidak bisa menghentikan keputusanku, kau sudah sangat jelas mengenalku Delvin.” Setelah memberikan ultimatum kepada Delvin dan Fanya, Diego memberi isyarat kepada putra pertamanya untuk pergi.


***


Jangan lupa like, komen dan vote ya tulisan Ceria, supaya aku semakin semangat menulisnya.


Saran yang membangun juga sangat aku butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira