
Kamu akan ikut terluka ketika orang yang kamu cintai sedang terluka
\~\~\~
Saat Delvin ingin menemui Fanya, dia kehilangan jejak perempuan itu. Ia memilih untuk menunggu sang istri keluar dari dalam lift yang terletak di ballroom hotel. Fanya yang memilih turun menggunakan tangga darurat tidak bertemu tatap dengan pria itu.
Kerumunan orang yang berkumpul awalnya tidak dipedulikan Delvin. Sampai ia mendengar suara lantang Jack yang mengudara mencapai gendang telinganya, barulah pria itu beranjak dari pijakannya.
Fanya yang tersungkur di lantai sambil berurai air mata dengan segala cacian Jack pada perempuan itu turut melukai hati Delvin. Dengan membabi buta, ia menghantam Jack tanpa ampun.
Jack tidak unggul dalam bertarung, setiap pukulan Delvin yang ingin ia balas selalu berhasil ditepis pria itu. Malah wajah Jack sudah sangat kacau dipenuhi lebam dan dan darah yang mengalir dari hidung, mulut dan pelipis. Sedangkan Delvin, setitik lukapun tidak ada di tubuh pria itu.
Perut Jack mendapat pukulan keras dari kaki Delvin, membuat pria itu tergeletak di lantai. Delvin menginjak kuat lengan Jack, saat pria itu berusaha untuk bangun.
Dia menarik kemeja Jack untuk mempermudah pukulan pria itu namun akibat tarikan tangan Delvin yang terlalu kuat membuat kancing kemeja yang Jack kenakan terlepas dari pengaitnya hingga menampilkan dada bidang pria itu.
"Cuihhh!!" Delvin meludah tepat di wajah Jack.
"Kau ketahuan tidur dengan wanita lain, tapi malah menyebut Fanya perempuan murahan." Kissmark yang bertebaran di dada Jack membuat Delvin tersenyum sinis menatap tanda itu.
"Kenapa dia bisa mencintai pria bajingan sepertimu?! Dia terlalu berharga untuk menjadi wanitamu." Pukulan bertubi-tubi kembali mendarat di wajah Jack.
Richard dan Michael samar-samar mendengar suara Delvin dan dengan cepat mereka menerobos kerumunan orang banyak itu. Kedua pria itu sangat terkejut ketika mendapati Delvin sedang menghajar seseorang. Segera, mereka mencoba menghentikan sang sahabat yang terus memukul Jack, namun tidak berhasil. Kedua pria itu malah mendapat bogeman dari Delvin. Marahnya Delvin seakan mememberi kekuatan 'super' pada pria itu.
Sepuluh petugas keamanan hotel akhirnya turun tangan untuk melerai kedua pria itu.
"Jangan menghalangiku, aku belum selesai berurusan dengannya. Luka yang ia dapatkan belum sebanding dengan rasa sakit yang pria itu berikan pada Fanya. Lepaskan aku!!!" Seru Delvin berteriak, ia berontak pada petugas keamanan yang menahan tubuhnya sekuat tenaga hingga membuat pria itu sulit bergerak.
Sudut bibir Rose sedikit tertarik menyaksikan kekacauan yang diciptakan Delvin demi untuk seorang Fanya-perempuan yang pria itu nikahi.
"Fanya benar-benar membuatmu gila. Bahkan kau mau menikahi perempuan yang sudah memiliki kekasih. Kau sudah gila Delvin." Ujar perempuan itu lirih dan sebulir air mata jatuh dari pelupuknya.
***
Petugas keamanan membawa pergi Jack menjauh dari Delvin. Melihat Jack menghilang dari jangkauannya, Delvin segera menepis tangan petugas keamanan yang masih memegang tubuh pria itu.
Dia langsung mencari keberadaan Fanya yang sudah menghilang entah sejak kapan.
"Dimana Fanya?!" Tanya Delvin menatap Richard dan Michael bergantian.
"A-aku tidak tahu." Jawab mereka hampir bersamaan.
Delvin segera berlalu meninggalkan hotel tanpa meminta bantuan kedua temannya untuk mencari Fanya. Suasana pesta yang tadinya riuh bahagia kini sangat mencekam tak mengeluarkan suara.
Tubuh Delvin bertubrukan dengan Kiara ketika ia keluar dari dalam lift lantai dasar.
"Apa Fanya bersamamu?" Tanya Delvin penuh harap jika keberadaan sang istri diketahui perempuan itu.
Kiara menggeleng, "aku juga sedang mencarinya. Berkali-kali aku menghubungi nomor Fanya tapi tidak aktif." Manik perempuan itu tampak sembab. Dia yang berada di dapur hotel terlambat mengetahui keributan yang terjadi di ballroom.
Ia mendapat kabar dari seorang waitress yang menjemput troli makanan dari kamar nomor 16, waitress itu mengatakan bahwa perempuan yang sebelumnya mengantar makanan ke kamar tersebut membuat dua orang pria bertengkar hebat di tengah pesta. Kiara langsung teringat pada Fanya, ia langsung berlari menuju ballroom, namun ketika sampai disana, dia tidak lagi melihat Fanya.
"Tolong kabari aku jika kau menemukannya." Ujar Delvin terdengar memohon, ia memberi kartu namanya pada Kiara.
"Terimakasih, aku akan menyisiri jalan untuk mencarinya. Aku pergi dulu." Ujar Delvin pamit, dia berlalu meninggalkan Hotel Briller.
Laju mobil yang Delvin kendarai berjalan cukup pelan, ia mengedarkan pandangan kesetiap sisi jalan. Hampir satu jam lebih ia mencari Fanya namun belum juga bertemu dengan perempuan itu.
Delvin mendesahkan nafas frustasi, pikirannya terasa kalut karena tidak berhasil menemukan sang istri. Perkataan Jack yang menyebut Fanya adalah anak panti asuhan juga menimbulkan banyak pertanyaan dibenak pria itu.
"Maafkan aku tidak pernah mempedulikanmu dan bertanya seperti apa kehidupanmu selama ini, maafkan aku." Ujar Delvin penuh penyesalan. Dia menahan sekuat tenaga cairan bening yang memaksa keluar dari pelupuknya.
Tujuan terakhir Delvin adalah Apartemen mereka, ia berharap menemukan Fanya disana. Mobil yang ia kendarai masih tetap melaju dengan kecepatan pelan.
***
Dengan langkah panjang, Delvin menuju kamar tidur. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu, namun Fanya juga tidak ada disana.
Dia keluar menuju dapur, langkah pria itu terhenti melihat sang Ayah duduk bersedekap di kursi ruang makan.
"Dad." Gumam Delvin pelan, ia mendekati lelaki paruh baya itu.
Tubuh Delvin bergetar lemah melihat surat cerai yang ia berikan pada Fanya sudah ditanda tangani perempuan itu.
Surat itu terbuka lebar di hadapan sang Ayah, pandangan Diego menatap sendu manik putranya.
"Dad, maafkan aku, maafkan aku." Ujar Delvin lirih, dia menjatuhkan tubuhnya di kaki pria itu. Kali ini, ia tak kuasa menahan air matanya, cairan bening itu sudah menganak sungai membasahi pipinya.
"Kenapa kau memukul pria itu?" Tanya Diego, tidak ada nada kemarahan dari pertanyaan lelaki itu.
Orang suruhan Diego memberi tahu kejadian di ballroom pada lelaki itu.
Pertanyaan sang Ayah tidak membuat Delvin terkejut, sebab sangat mudah bagi Diego untuk mendapatkan informasi.
"Dia memang pantas mendapatkannya. Fanya sangat mencintainya, sungguh aku menggantungkan kebahagian Fanya pada pria brengsek itu tapi dia malah mengkhianati dan mempermalukan Fanya." Tangan Delvin mengepal kuat mengingat kejadian di ballroom tadi.
"Apa kau tidak sanggup membahagiakannya sehingga memilih menceraikan istrimu?" Tanya Diego lagi, ia menunduk melihat Delvin yang masih menangis.
"Di-dia tidak mencintaiku." Ujar pria itu lirih.
Diego menaikkan kepalanya, maniknya tampak mengerjap beberapa kali. Lelaki itu merasakan sesak di dadanya melihat kesedihan putranya.
Lelaki yang mulai renta itu menghela nafas panjang, kali ini dia tidak sanggup menatap mata Delvin. Kejadian di masa lalu membuka luka lama di hati Diego.
"Kedua orang tua Fanya meninggal bersamaan dengan kematian ibumu." Kalimat Diego membuat Delvin terhenyak.
***
Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira