My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Sanksi



Sesuatu yang terjadi tanpa kehendakmu adalah keinginan Semesta. Jika sudah begitu, adakah alasan untuk menolaknya?


\~\~\~


Setelah menyantap makanan pembuka yang hanya habis setengahnya saja, Delvin dan Fanya beralih kepada sepuluh dessert yang ada di hadapan mereka.


“Menatapnya saja sudah membuat aku kenyang.” Ujar Delvin pelan, dia sudah terlalu kenyang oleh makanan berat tadi, sepertinya sangat mustahil untuk menghabiskan kesepuluh dessert jika dimakan berdua bersama Fanya.


“Ini hanya dessert Delv, pasti lebih mudah menghabiskannya dibanding makanan yang sebelumnya.” Fanya memberi semangat kepada Delvin yang terlihat hampir menyerah, sebab jika Delvin tidak ikut memakannya sudah pasti Fanya tak sanggup menghabiskannya sendiri.


Delvin pun tak tega jika membiarkan sang istri memakannya seorang diri, “sebenarnya diskon ini lebih cocok untuk keluarga yang sudah memiliki banyak anak.” Ujar Delvin dengan mulut penuh Creme Brulee.


“Kau benar, aku terlalu serakah memesan ini semua. Harusnya tadi kita menghubungi Richard untuk membantu kita menghabiskan makanan-makanan ini.” Ujar Fanya sambil turut menyantap Creme Brulee yang dimakan Delvin.


“Kita harus cepat menghabiskannya sebelum dessert ini mencair.” Delvin mempercepat suapan ke dalam mulutnya. Fanya yang merasa bersalah karena turut melibatkan Delvin menghabiskan makanan yang dipesannya juga mempercepat suapan ke dalam mulutnya, bahkan jauh lebih cepat dari Delvin.


***


Secara bersamaan Delvin dan Fanya menyandarkan tubuhnya ke kursi, mereka menarik nafas lega karena berhasil menghabiskan kesepuluh dessert tadi. Sepanjang mereka makan, Delvin tak hentinya mengatakan pada Fanya bila tak apa jika perempuan itu tidak sanggup menghabiskannya, namun mengingat menu pembuka yang tidak habis tadi membuat Fanya enggan menyisakan makanan terakhir mereka.


Kedua manik mereka tiba-tiba saling menatap, mengingat apa yang baru saja terjadi membuat sepasang suami istri itu tertawa lepas.


“Aku tidak sanggup lagi untuk bergerak.” Ujar Fanya sambil menghapus air matanya yang keluar karena tertawa.


“Aku seperti hamil tiga bulan.” Balas Delvin, sambil tangannya mengusap-usap perutnya. Tawa Fanya pecah melihat tingkah Delvin.


Mereka berhenti tertawa saat seorang pelayan datang menghampiri meja mereka untuk mengambil tempat dessert yang sudah kosong dan menyerahkan bill pada Delvin.


Delvin merogoh dompet dari dalam sakunya, kemudian mengeluarkan kartu debit dan menyerahkannya kepada sang pelayan.


Sang pelayan memasukkan kartu tersebut ke dalam mesin imprint yang dibawanya, lalu meminta Delvin mengetik kode keamanan dari kartu itu melalui mesin imprint. Sang pelayan menyerahkan kartu tersebut pada Delvin setelah pembayaran berhasil dilakukan.


“Maaf Tuan dan Nyonya, kalian terkena sanksi karena tidak menghabiskan menu pembuka tadi.” Ujar sang pelayan sambil sedikit menundukkan tubuhnya.


Delvin dan Fanya mengernyitkan kening bersamaan, tanda mereka tidak mengerti apa yang diucapkan sang pelayan.


“Bagi pelanggan yang memesan makanan menggunakan diskon akan terkena sanksi bila makanan mereka bersisa.” Jelas sang pelayan.


“Tapi anda tidak menjelaskannya tadi,” protes Delvin, dia tidak terima jika harus dikenakan sanksi hanya karena tidak menghabiskan makanan ditambah sang pelayan yang tidak menjelaskan dari awal semua persyaratan diskon tersebut. “Aku akan membayar penuh makanan tadi tanpa potongan.” Lanjut Delvin.


“Sekali lagi maaf Tuan, itu sudah menjadi ketentuan dari restoran kami, bahkan jika Tuan membayar penuh, kami tidak akan menerimanya. Sanksinya tidaklah berat, Tuan dan Nyonya silahkan ikut saya.” Ujar sang pelayan, diapun tidak memiliki wewenang untuk membebaskan Delvin dan Fanya dari sanksi.


“Apakah bisa, hanya saya saja yang dikenakan sanksi?” Pinta Fanya, sebab dia yang memaksa Delvin memesan makanan berdiskon tadi.


“Maaf Nyonya, sanksi diberikan kepada sepasang suami istri, tidak boleh kepada salah satunya saja. Percayalah, sanksinya tidak akan memberatkan Tuan dan Nyonya.” Sang pelayan meyakinkan Delvin dan Fanya.


Fanya ingin lanjut mendebat sang pelayan namun dihentikan oleh Delvin, “Percuma kita mendebat dia, anggap saja ini sebagai pelajaran untuk kedepannya.” Ujar Delvin. Dia mengajak Fanya mengikuti langkah pelayan.


Delvin dan Fanya berjalan di belakang sang pelayan, mendekati panggung kecil yang berada di samping bar yang juga ada di dalam restoran itu.


“Silahkan menulis nama Tuan dan Nyonya disini,” sang pelayan menyodorkan sebuah buku kecil beserta bolpoin kepada Fanya.


Fanya menerima kedua benda tersebut, kemudian mencatat namanya beserta nama Delvin lalu menyerahkannya kepada sang pelayan.


Sepeninggal pelayan, Delvin dan Fanya saling pandang dan lagi mereka tertawa lepas. Sebab di atas panggung terdapat pasangan yang sedang bernyanyi, entah sepasang suami istri—atau kekasih, merekapun kurang tahu. Nasib mereka sepertinya sama seperti Delvin dan Fanya—tidak menghabiskan makanan yang berdiskon. Namun yang membuat mereka tertawa adalah suara dari si perempuan yang terdengar hancur.


“Aku yakin suaramu pasti indah.” Ujar Delvin sambil terus memperhatikan pasangan yang berada di atas panggung di hadapan mereka.


“Kau tahu dari mana?” Fanyapun sama, maniknya tak beralih dari sejoli yang ia anggap lucu itu.


“Bukankah kau pandai melukis, aku yakin kau sangat berbakat di bidang kesenian, termasuk bernyanyi.” Fanya tak menampik jika dia memang berbakat dalam hal melukis tapi tidak dalam bernyanyi.


“Kau tahu, ketika SMP aku ingin bergabung ke grup paduan suara, namun bayi dari guru kesenianku tak berhenti menangis karena mendengar suaraku bernyanyi. Aku langsung ditolak dan karena itu aku memilih kelas melukis.” Cerita Fanya yang membuat mereka kembali tertawa terbahak-bahak.


“Mungkin penampilan kita akan lebih hancur dari mereka.” Delvin menyadari dirinyapun memiliki suara yang buruk sudah bisa menebak bahwa penampilan mereka nanti pasti akan sangat memalukan.


“Bukan lagi mungkin Delvin, tapi pasti akan sangat hancur.” Saat perayaan ulang tahun Delvin, Fanya teringat jika Delvin turut bernyanyi karaoke bersama Richard, suara pria itu sungguh fals dan sangat tidak enak didengar.


Pasangan yang mendapat sanksi tadi sudah selesai bernyanyi, kini tiba giliran Delvin dan Fanya yang mendapat hukuman.


“Kami persilahkan kepada pasangan suami istri Tuan Delvin Albercio dan Nyonya Fanya Clarance untuk maju ke atas panggung.” Ujar sang MC.


Mereka berjalan dengan langkah pelan menaiki panggung kecil tersebut. Setelah berada di atas panggung, sang MC menyodorkan sebuah wadah bening berisi styrofoam gabus putih yang sudah dihancurkan. Di dalam wadah tersebut terdapat gulungan kertas dengan beragam tulisan yang salah satunya akan menjadi sanksi untuk Delvin dan Fanya.


“Silahkan memilih salah satu kertas yang ada di dalam ini Tuan dan Nyonya.” Ujar sang MC sambil menunjuk wadah yang ia pegang.


“Apa hukumannya tidak bernyanyi?” Tanya Fanya, sebab mereka pikir semua sanksi akan sama diberikan kepada pelanggan yang tidak menghabiskan makanan.


“Jika Nyonya mendapat kertas bertuliskan ‘bernyanyi’ maka Tuan dan Nyonya silahkan bernyanyi. Hukumannya sesuai dengan tulisan yang Nyonya dan Tuan pilih di kertas ini.” Jelas sang MC.


Sepasang suami istri itu mengangguk paham, “kita memilihnya bersama.” Ujar Delvin.


“Caranya?”


“Kau bisa memegang punggung tanganku.”


Fanya mengangguk, segera mereka menenggelamkan tangan kanan mereka ke dalam wadah tersebut. Tangan Delvin sedikit mengaduk styrofoam gabus putih yang menutup telapak tangan mereka, selang beberapa detik kemudian dia memilih salah satu kertas yang ada di dalam wadah tersebut.


“Silahkan membukanya Tuan.” Sang MC meminta Delvin lebih dulu membuka gulungan kertas tersebut sebelum nanti diserahkan kepadanya.


Tangan Delvin membuka gulungan kertas yang dipegangnya secara berlahan, Fanya mendekat ke samping sang suami, sebab dia pun penasaran dengan isi tulisan yang mereka pilih beberapa saat lalu.


Gulungan kertas yang sudah terbuka sempurna itu membuat Delvin dan Fanya membeliakkan manik bersama.


Sanksi : Berdansa, berikan ciuman terakhir sebagai penutup dansa kalian.


Isi dari kertas yang dipilih Delvin dan Fanya.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


ig : @ceria_yuwandira