My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Delvin menghindar?



Pelarian terburuk kala menghadapi masalah adalah dengan cara menyakiti diri sendiri.


\~\~\~


Kejadian semalam sepertinya membuat Delvin menghindari sang istri. Seperti hari ini, pagi-pagi sekali ia sudah tidak berada di apartemen. Fanya yang bangun sedikit kesiangan tidak bertemu lagi pada pria itu.


Meskipun begitu, perubahan lain juga terjadi pada Delvin. ia menghidangkan sandwich di meja makan untuk Fanya.


Ini sarapan untukmu, aku tidak akan memperhitungkan apa yang kau makan di rumah ini. Jangan memakan mie instan untuk beberapa bulan ke depan, sebab kata Dokter itu menjadi pemicu nyeri perutmu semalam.


Isi pesan Delvin pada sebuah kertas note yang ia tempel di gelas berisi jus mangga yang juga untuk Fanya.


Tampak Fanya tersenyum membaca pesan Delvin, “Sebenarnya dia pria yang hangat.” Ujar perempuan itu sambil menyantap sarapan yang sudah disediakan Delvin.


***


Sekitar pukul 07.00 malam Fanya sampai di apertemen, dia baru saja pulang dari Monmartre. Perempuan itu membaringkan tubuhnya di atas sofa, dia benar-benar lelah hari ini. Efek lelah membuat dia ketiduran.


Fanya terjaga pukul 10.00 malam, dia yang belum mandi berniat untuk berganti pakaian saja. Namun Delvin yang belum ada bertemu dengannya hari ini menimbulkan pertanyaan pada perempuan itu.


“Apakah dia sudah pulang?” Gumam Fanya, dia berjalan mendekati kamar Delvin, mengetuk daun pintu berwarna coklat tersebut berkali-kali. Tak ada sahutan dari dalam, ia memberanikan diri membuka pintu yang tidak terkunci.


Fanya mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Delvin namun tidak menemukan pria itu. Setelah menyusuri keseluruhan isi kamar Delvin, dia mencari pria itu kesetiap sudut apartemen dan lagi, ia tak mendapati Delvin.


Tampak kekhawatiran di raut Fanya, dia mengembuskan nafas frustasi kala baru menyadari bahwa Delvin belum pulang sedari pagi.


Jika dulu Fanya tak peduli jika Delvin tidak pulang, kali ini ia sungguh mengkhawatirkan pria itu.


Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Fanya yang sedang duduk menatap pintu Apartemen. Dia segera meraih benda pipih tersebut, tampak nomor asing tertera di layar ponsel, segera ia mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Fan, ini aku Richard." Suara dari seberang mendebarkan dada Fanya, dia semakin khawatir terjadi sesuatu pada Delvin.


"Richard, apa Delvin bersamamu?" Tanya Fanya, dia sungguh berharapa Delvin bersama sekretaris pria itu.


"Turunlah ke bawah, aku menunggumu di lobby. Delvin sedang di rumahku. Dia--dia sungguh kacau Fanya." Ucap Richard yang semakin membuat dada Fanya berdebar tak karuan.


***


Mobil yang dikendarai Richard tiba di apartemen milik pria itu, mereka segera turun dari dalam mobil.


Richard membawa Fanya ke lantai duapuluh yang menjadi tempat tinggal pria itu.


"Dia berada di kamar itu." Tunjuk Richard pada kamar yang berhadapan dengan ruang kerjanya.


"Aku akan berbicara padanya." Ujar Fanya.


Sepeninggal Fanya yang sudah masuk ke dalam kamar, Richard menyurai rambutnya dengan kasar karena sepulang bekerja tadi dia menemukan Delvin mengisap rokok yang mungkin sudah ratusan banyaknya di kamar tamu apartemennya. Dia sudah berusaha menghentikan sahabatnya itu namun tidak di gubris sama sekali.


Setelah kejadian tidur bersama Fanya akibat mabuk di mini bar kala perayaan ulang tahun Delvin, pria itu tidak pernah lagi melampiaskan setiap masalahnya pada minuman keras.


Delvin sudah sedari pagi berkunjung ke apartemen Richard, lebam di wajah pria itu memberi jawaban pada Richard bahwa sahabatnya sedang memiliki masalah. Dia sudah bertanya apa yang terjadi, tapi tidak ada jawaban dari Delvin.


Diamnya Delvin menandakan pria itu sedang menghadapi masalah yang cukup berat, Richard tak pernah memaksa agar Delvin bercerita, dia meninggalkan Delvin di apartemen seorang diri, sebab tadi pagi dia harus berangkat ke perusahaan untuk bekerja.


***


Manik Fanya membeliak sempurna melihat kondisi Delvin yang sungguh mengkhawatirkan. Pria itu duduk menghadap jendela yang terbuka dengan puntung rokok yang sungguh banyak berserak di lantai.


Meskipun Fanya sangat sensitif dengan asap rokok, dia tetap berjalan mendekati Delvin.


"Kenapa kau kemari?" Tanya Delvin yang menyadari kedatangan Fanya, perempuan itu berdiri tepat di samping pria itu.


"Apa begitu menyenangkan menyiksa dirimu?! Apa semuanya akan membaik setelah kau melakukan ini?!" Ujar Fanya dengan suara parau.


"Kau tidak mengerti, pulanglah." Delvin tak mengalihkan pandangannya yang menatap keluar jendela.


"Aku memang tidak mengerti, tapi aku mengkhawatirkanmu Delvin, aku mengkhawatirkanmu." Seru Fanya bersama air mata yang terurai dari pelupuk perempuan itu.


Delvin menjatuhkan batang rokok yang masih sedikit terisap ke lantai kala mendengar kalimat Fanya.