My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Air Mata Fanya



Akan selalu ada harapan disetiap doa yang tersemat dengan tulus dari lubuk hati terdalamu. Maka teruslah berharap dan tak henti berdoa.


\~\~\~


Dengan langkah panjang, Richard dan Fanya memasuki bandara. Suara tangisan terdengar dari beberapa orang disana yang semakin membuat mereka dipenuhi kekhawatiran.


“Permisi Pak,” Richard menghentikan langkah salah satu petugas bandara yang melintas di hadapan mereka. “Sa—saya ingin bertanya terkait pesawat yang hilang kontak, apa ada berita terbaru?” Tanya Richard gugup.


Sang petugas bandara mengangguk. “Kita sedang berduka pak, pesawat terjatuh di pegunungan. Semua penumpang dikabarkan tewas dan sedang dilakukan evakuasi.” Jelasnya.


Air mata Fanya semakin menganak sungai mendengar penjelasan sang petugas bandara, tubuhnya hampir terjatuh namun ditahan oleh Richard. Pria itu menuntun Fanya ke kursi tunggu yang berjejer disana.


“Aku hanya berpura-pura menangis, aku tidak sedih—aku tidak sedih Richard. Aku hanya berpura-pura menangis.” Kalimat itu berulang-ulang Fanya ucapkan, kedua tangan perempuan itu senantiasa menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti.


Perdebatan kecil di meja makan bersama Delvin terlintas di benak Fanya. Dia pernah mengatakan tidak pandai ber-akting sedih ketika pria itu meninggal. Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sekarang, hati perempuan itu sangat hancur mendengar kabar tewasnya penumpang di pesawat yang juga ditumpangi Delvin.


Hati Richard sama hancurnya dengan Fanya, harusnya dia yang berangkat ke Marseille namun semalam Delvin memintanya tinggal.


"Dia belum menceraikanku Richard, dia harus kembali. Dia harus kembali untuk menceraikanku." Tangis Fanya semakin pecah, dia memang ingin berpisah dengan pria itu tapi tidak dengan cara yang seperti ini.


Suara dari tangisan Fanya yang terdengar pilu memaksa Richard menahan air matanya untuk menenangkan perempuan itu.


"Kita berdoa semoga ada keajaiban, Delvin tidak akan pergi dengan meninggalkan banyak masalah untukmu." Ujar Richard, tubuhnya setengah berjongkok di hadapan Fanya.


"Ta—tapi petugas tadi—" Kalimat Fanya dipotong oleh Richard, dia sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan Fanya.


"Sebelum kita melihat Delvin terbujur kaku, teruslah mendoakan dia agar selamat." Ujar Richard dengan penuh keyakinan, meskipun dalam hati pria itu lebih banyak keraguan.


Kalimat Richard sedikit menenangkan Fanya, berlahan air matanya mulai surut.


Akibat terlalu keras menangis, membuat tenggorokan Fanya terasa kering.


"Biar aku membelikan minum untukmu." Richard beranjak dari pijakannya, kemudian berlalu untuk membeli air minum kepada istri sahabatnya itu.


Sepeninggal Richard, Fanya tak hentinya menyematkan doa kepada Sang Kuasa, berharap Delvin selamat dari kecelakaan pesawat yang ditumpangi pria itu.


Fanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut bandara yang mampu dijangkau oleh indra penglihatannya. Sekerumunan wartawan tampak mulai ramai untuk meliput peristiwa naas yang sedang terjadi.


Seseorang yang tak asing di mata Fanya berjalan terburu-buru di antara kerumunan wartawan yang menghalangi langkahnya.


"Delvin..." Ujar Fanya pelan dengan mata membulat sempurna.


Fanya melihat Delvin yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat ia duduk berjalan sambil menggeret koper. Fanya mengerjapkan maniknya berulang untuk memastikan pria yang dilihatnya adalah Delvin—suaminya.


"Delvin itu benar kau." Seru Fanya, dia berlari meninggalkan kursi tempatnya duduk. Namun langkahnya terhenti kala melihat Rose lebih dulu menghampiri pria itu.


Perempuan yang dianggapnya kekasih dari Delvin berhambur kepelukan pria itu, di belakang mereka tampak Diego—Ayah mertuanya dan juga David—kakak iparnya bergantian memeluk Delvin.


"Tempatku bukan disini." Ujar Fanya lirih sambil berjalan mundur.


Keberadaan Fanya ternyata berhasil di tangkap oleh indra penglihatan Delvin. Pria itu mengurai pelukannya dari sang kakak.


"Kak, sebentar aku ke toilet." Ujar Delvin beralasan. Dia sedikit berlari, sambil maniknya sibuk mencari keberadaan Fanya yang sempat dilihatnya.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira