
Apapun alasannya, perpisahan akan selalu meninggalkan kesedihan. Bahkan jika tidak sama-sama menangis, pasti seorang di antara kita menitikkan air mata.
\~\~\~
Suara tangisan Fanya terdengar riuh mengisi kamar Delvin, dia berulang kali memukul tangan pria itu sebab Delvin berusaha menjauhkan tubuhnya setiap kali Fanya ingin memagut bibirnya.
"Delvin!! Berani-beraninya kau menolak ciumanku, aku akan mematahkan tanganmu." Seru Fanya sambil terisak, tenaganya yang tak seberapa kuat kembali memukul Delvin.
"Kau sungguh peminum yang buruk." Delvin memegang erat kedua tangan Fanya untuk menghentikan pukulan perempuan itu, membuat tangisan Fanya semakin pecah.
"Kau menolak ciumanku dan melukai pergelangan tanganku. Aku membencimu Delvin!!" Teriak Fanya sambil kaki perempuan itu menendang barang pusaka Delvin.
"Ohh God," Delvin meringis menahan sakit. "Jangan pernah menyentuh minuman sialan itu lagi, kau hampir merusak masa depanku." Lanjut pria itu.
Saat Delvin yang sedang fokus dengan rasa sakit di bagian bawahnya, Fanya langsung mengambil kesempatan. Dia menyosor tubuh Delvin, membuat pria itu telentang di atas ranjang.
"Fanya!!" Tangan Delvin sekuat tenaga menahan tubuh sang istri yang hendak menciumnya lagi.
"Kau pasti menyesalinya ketika sadar. Ki-kita juga akan bercerai, jangan melakukan hal yang menghambat perpisahan kita. Kelak kau tidak akan pernah memaafkanku." Ujar Delvin lirih sambil menatap lekat manik Fanya yang sedang duduk di atas perutnya.
Kalimat Delvin seolah dimengerti perempuan itu, membuat Fanya sejenak terdiam.
"Aku mau dipeluk." Cicit Fanya sambil menjatuhkan tubuhnya di dada bidang Delvin.
Setelah itu tak ada lagi suara dari Fanya, deru nafas teratur dari perempuan itu terdengar nyaring di telinga Delvin.
"Dia sudah tidur." Gumam Delvin, sebab mata Fanya sudah terpejam.
Dia hendak menggeser Fanya agar tidak menindih tubuhnya namun perempuan itu malah menggigit dada Delvin.
"Ouch, sungguh minuman itu mengubahmu menjadi kucing liar." Ujar Delvin sambil mengusap-usap dadanya yang sedikit sakit.
Posisi Fanya yang berada di atas Delvin sebenarnya sangat mengganggu untuk pria normal seperti dia. Tapi sekuat tenaga Delvin menahan gejolak di dalam dirinya itu, dia tak mau lagi mengulang kesalahan.
Agar Fanya cepat terlelap, Delvin mengusap lembut punggung perempuan itu. Suara jam dinding yang berdetak di dalam kamar pria itu mengambil alih perhatiannya yang sedari tadi memandang atap putih kamarnya.
"Apa kau tahu? Setelah mengenalmu aku merutuki diriku setiap kali menghabiskan puluhan batang rokok. Kau yang mengkhawatirkanku waktu itu sungguh meninggalkan penyesalan yang teramat dalam untukku yang sering menyakitimu. Aku tidak tahu bagaimana cara berbuat baik pada orang yang sudah melukaiku, tapi kau sangat lihai melakukannya." Kalimat Delvin terjeda, ia meraup oksigen untuk menetralkan nafasnya yang terasa sesak.
"Maafkan aku karena pernah menganggapmu perempuan murahan. Maafkan aku sudah membawamu pada kehidupanku yang tidak menyenangkan ini. A-aku berharap setelah perceraian kita, kehidupanmu semakin baik lagi. Jack bisa memberi kebahagiaan yang sempurna untukmu, mewujudkan pernikahan impianmu dan membangun keluarga yang harmonis hingga kalian tua nanti. Kau sangat pantas untuk bahagia Fanya." Sebulir air mata yang jatuh dari pelupuk Delvin mengakhiri kalimat pria itu. Dengan sangat hati-hati dia membaringkan Fanya di sisinya, perempuan itu kini benar-benar terlelap.
***
Matahari pagi mulai jauh meninggalkan peraduannya. Melalui celah jendela kamar, cahaya sang surya berhasil menyentuh kulit seorang perempuan yang sedang tidur meringkuk.
"Hah?! Aku kesiangan bangun." Seru Fanya sambil mengucek-ucek matanya. Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, perempuan itu sebelumnya tidak pernah bangun sesiang ini.
Dia segera berlari ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti sebab kepalanya sedikit terasa sakit.
"Ouch-" Fanya mendesis sambil memegang kepalanya.
"Efek sampanye semalam belum sepenuhnya hilang." Gumamnya pelan. Dengan langkah perlahan, Fanya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih duapuluh menit di dalam kamar mandi, Fanya melenggangkan kaki menuju dapur. Suasana di luar kamar tampak sepi, dia tidak menemukan Delvin disana.
"Mungkin dia sedang di kantor." Ucap perempuan itu.
Manik Fanya terkesiap melihat sandwich, salad buah dan minuman pereda mual akibat mabuk terhidang rapi di meja makan. Sudut bibir perempuan itu sedikit tertarik. Namun sebuah amplop berwarna coklat yang sempat luput dari penglihatan perempuan itu membuat ia mengernyitkan kening.
Dia menarik sebuah kursi lalu mendudukkan tubuhnya di atas benda itu. Tangannya lebih dulu mengambil amplop coklat itu daripada meminum ataupun menyantap makanan yang Delvin sediakan.
Setelah berhasil membuka ujung amplop yang di beri lem, Fanya segera mengeluarkan kertas yang ada di dalam benda tersebut.
Pandangan Fanya terfokus penuh pada tulisan yang terketik di kertas yang ia genggam
Kertas hitam di atas putih berisi gugatan cerai dari Delvin menjadi menu pembuka sarapan perempuan itu pagi ini.
***
Beri like, komen dan vote untuk mendukung cerita ini ya teman-teman. Terimakasih luvv 💛💛