
Kesalahpahaman sering terjadi karena enggannya diri untuk bertanya pada apa yang terjadi.
\~\~\~
Setelah selesai menghabiskan sarapan yang pelayan antarkan, Fanya segera mengobati luka Delvin meski sudah berkali-kali ditolak pria itu.
“Auww, bisakah kau sedikit hati-hati.” Keluh Delvin pada Fanya yang sedang mengompres luka di pelipisnya.
“Aku sudah sangat hati-hati, tahanlah sebentar,” ujar Fanya sambil terus mengompres luka Delvin. "Nanti saat pulang, kita singgah sebentar ke apotek untuk membeli salep memar agar lukamu cepat membaik." Lanjut Fanya.
Delvin tak menjawab permintaan Fanya, dia sedang memperhatikan wajah perempuan itu yang sangat dekat dengannya.
Dirinya yang terlalu sering mengabaikan Fanya tak menyadari bahwa sang istri memiliki wajah anggun dengan mata indah yang sangat meneduhkan.
Manik hazel dan bibir merah muda Fanya menjadi fokus Delvin kali ini. Ada sedikit gemuruh di dalam hatinya membayangkan bibir merah muda itu pernah akan dicium Jack.
Pikiran Delvin semakin tak karuan, membayangkan sudah berapa banyak ciuman diberikan Jack pada Fanya. Juga apa yang sudah sepasang kekasih itu lakukan sepanjang mereka berpacaran.
"Pasti Jack tidak hanya menciumnya, tapi juga sudah mencumbunya atau bahkan sudah menidurinya." Batin Delvin yang menimbulkan amarah tak beralasan pada dirinya.
Delvin menepis tangan Fanya yang masih mengompres luka pria itu.
"Aku mau menemui Daddy." Ujar Delvin beralasan, dia segera berlalu meninggalkan kamar.
Fanya diam tak menyahuti, sebab Delvin cukup kasar menepis tangannya ditambah perubahan dari raut pria itu yang terlihat jelas sedang marah.
"Apa aku terlalu kuat mengompres lukanya?" Duga Fanya yang tak mengerti dengan perubahan sikap Delvin barusan.
***
Delvin duduk berhadapan dengan Ayahnya di sofa ruang tamu.
Diego bersedekap sambil menatap putra keduanya. David sudah sedari tadi berangkat ke kantor, sebelum pergi ia sudah berpesan kepada sang Ayah agar bertanya baik-baik kepada Delvin terkait pingsannya Fanya tadi.
"Jika kau tidak mencintainya, setidaknya jangan menyakitinya." Ujar Diego memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka.
"Harusnya Daddy tidak menikahkanku dengan Fanya jika tidak mau aku menyakitinya." Jawab Delvin pada sang Ayah.
"Kau!! Daddy tidak pernah mengajarkan kalian menjadi seorang pengecut yang tidak mau bertanggung jawab. Kau sudah menidurinya Delvin. Daddy sudah pernah mengatakan, jika kau tidak ingin mempertahankan pernikahan kalian, lepaskan dia tapi tidak dengan melukainya." Diego menarik nafas dalam, sebisanya ia menahan emosi untuk sang putra.
"Aku tidak bisa berjanji untuk itu." Ujar Delvin.
Kalimat Delvin berhasil memantik emosi sang Ayah, Diego bangkit dari tempat duduknya, menarik kasar kerah baju Delvin. Ia menambah luka di pelipis dan juga bibir sang anak oleh hantaman keras tangannya.
Fanya yang mendengar keributan di lantai dasar segera turun untuk melihat apa yang terjadi disana.
Dia sungguh terkejut melihat bibir Delvin mengeluarkan darah dan wajah merah padam sang Ayah mertua.
"Ceraikan dia!!" Tegas Diego.
Delvin tersenyum miring, menatap nanar ke arah sang Ayah.
"Ini kali kedua Daddy melukai wajahku, alasan pertama karena aku menolak menikah dengan Fanya dan kali ini Daddy memintaku untuk menceraikan dia," Delvin menjeda kalimatnya untuk menyeka darah yang mengalir di dagu pria itu.
"Dad, aku bahkan belum selesai denga masa lalu kita tapi Daddy sudah menambah luka baru untukku. Semua adalah kesalahanku dan akan selalu menjadi kesalahanku, bahkan jika aku mengatakan kalau aku tidak membiarkan Fanya pingsan dan aku juga tidak membiarkan dia menahan nyeri semalaman. Apa Daddy akan mempercayaiku?" Lagi Delvin tersenyum miring.
"Aku yakin Daddy tidak akan mempercayaiku, karna jika Daddy mempercayaiku, harusnya aku tidak mendapat pukulan ini. Sikap Daddy membuatku semakin yakin untuk membenci Fanya dan aku tidak tahu apa aku masih bisa berbuat baik padanya." Ujar Delvin kemudian berlalu dari ruang tamu.
Saat hendak melangkahkan kaki, Delvin melihat Fanya berdiri di dekat sebuah gucci yang tidak jauh dari ruang tamu sambil menangis dengan tubuh yang sedikit gemetar.
"Aku pulang." Ujar Delvin entah pada Diego atau Fanya, sebab mata pria itu menatap kosong keluar pintu.
Fanya segera menyusul Delvin, namun Diego menghalangi langkahnya.
"Jangan mengikuti pria brengsek itu Fanya." Seru Diego. Kalimat terakhir Delvin sungguh membuat lelaki itu khawatir putranya akan melukai Fanya.
Fanya menggeleng. "A-aku akan ikut Delvin."
"Mungkin dia memang membenciku, tapi dia tidak akan melukaiku, Dad. Aku percaya itu." Ujar Fanya sambil berurai air mata.
Fanya berlari mengikuti langkah Delvin yang sudah berjalan lebih dulu. Saat tiba di halaman, ia segera masuk ke dalam mobil pria itu.
Tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, Delvin fokus mengendarai mobil miliknya dan mengabaikan Fanya yang masih terisak akibat tangisnya tadi.
***
Sepasang suami istri itu kini sudah berada di dalam Apartemen, Delvin segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Fanya duduk di atas sofa, tadinya ia ingin meminta maaf pada Delvin sebab karena dia, pria itu menjadi bertengkar dengan Ayah dan juga kakaknya.
Dia berniat ingin mengetuk pintu kamar Delvin, namun ia urungkan kala mengingat emosi Delvin tadi.
"Aku akan menunggunya sampai dia keluar." Gumam Fanya.
Sudah berjam-jam Fanya menunggu Delvin keluar dari dalam kamar, tapi pria itu tak kunjung keluar-keluar. Dia sudah memasak pasta untuk makan malam mereka, dan juga cookis untuk pria itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari namun Delvin belum juga keluar. Fanya masih setia menunggu pria itu, hingga suara derit pintu kamar mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap jam di pergelangan tangannya.
"Delv.." Ujarnya sambil berjalan menghampiri Delvin.
Delvin mengabaikan keberadaan dan panggilan Fanya, meskipun tadi ia sedikit terkejut melihat perempuan itu yang belum tidur.
"Delvin, aku--" Kalimat Fanya langsung dipotong Delvin.
"Tolong jangan membahas kejadian tadi." Ujar pria itu. Namun Fanya tak mengindahkan perkataan Delvin. Ia menggenggam tangan sang suami, menatap mata biru yang terlihat sembab.
"Kau menangis?" Tanya Fanya, dia semakin mengeratkan genggamannya.
Tak ada respon dari Delvin, pria itu membuang muka untuk menghindari tatapan sang istri.
Diamnya Delvin membuat Fanya tak bisa membendung air matanya.
"Maafkan aku." Ujar Fanya lirih.
"Lupakan, tidurlah di kamar." Perintah Delvin, entah mengapa melihat Fanya menangis membuat dadanya terasa sakit.
Fanya menggeleng, air matanya semakin menganak sungai membasahi pipinya. "Ka--kau bisa menceraikanku, detik ini atau kapanpun yang kau mau. Biarkan semua menjadi kesalahanku, kau harus menunjukkan fotoku bersama Jack pada Dad Diego. Aku memang bukan perempuan baik seperti yang Daddy pikirkan, aku bukan perempuan baik Delvin. Daddy tidak harus membelaku, Daddy tak perlu membelaku." Ujar Fanya sambil terus terisak.
"Jangan menangis!!" Seru Delvin, dadanya semakin sakit melihat air mata perempuan itu.
Sama seperti Delvin, Fanya pun merasakan sakit yang sama melihat mata sembab sang suami dan juga luka memar di pelipis dan bibir pria itu.
"Berjanjilah kau harus segera menceraikanku." Pinta Fanya, ia tak peduli lagi bagaimana hubungannya nanti dengan Jack. Dia sudah siap menerima amukan dari orangtuanya atas perceraian mereka nanti.
"Aku akan mengurusnya setelah pertunangan Kak David." Ujar Delvin dengan suara berat.
"Terimakasih," Fanya menyeka air matanya, ia menghela nafas untuk menetralkan deru nafasnya. "Aku sungguh meminta maaf jika kehadiranku menambah luka baru untukmu. Maafkan aku Delvin, maafkan aku." Lanjut Fanya.
"Berhenti mengatakan maaf, Fanya. Tidurlah, ini sudah dinihari." Perintah Delvin namun tidak diindahkan Fanya.
"Aku akan memanaskan pasta yang kumasak tadi, kau belum makan." Jawab Fanya.
"Aku tidak lapar." Tolak Delvin. Dia tidak ingin berlama-lama menatap Fanya, sebab tatapan perempuan itu membuatnya merasa bersalah.
"Aku tidak akan tidur sebelum kau makan." Sambung Fanya.
Delvin tak bisa menolak permintaan Fanya, dia berjalan ke dapur disusul Fanya yang mengekor dari belakang.
***
Beri dukungan pada novel ini dengan cara like, vote dan juga komen yang membangun ya teman-teman. Tengkiuu luvv 💛