My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Tidur Bersama



Kedekatan yang terjadi secara natural akan menimbulkan rasa nyaman yang muncul tanpa kamu minta.


\~\~\~


Delvin berjalan menuju dapur, untungnya kali ini ia tidak melewati ruang tamu jadi dia tidak perlu repot menjawab pertanyaan Ayahnya.


Namun kesialan lagi-lagi menimpa Delvin, ia bertemu Richard yang sedang duduk mengupas buah Apel di meja makan.


“Hei, kau sedang apa?” Tanya Delvin berbasa-basi.


“Seperti yang kau lihat,” Richard menunjukkan buah Apel yang hampir setengah tak berkulit. “Kau sendiri?” Richard balik bertanya.


“Hmm, Fanya kurang enak badan. Aku ingin mengambil air putih hangat untuknya.” Ucap Delvin jujur. Berbohongpun pasti akan diketahui Richard, sebab pria itu pasti akan bertanya lagi jika ia membawa minuman ke dalam kamar, untuk siapa? Dan mengapa dibawa ke kamar?


“Oh ya, bukankah tadi dia tampak sehat?” Tanya Richard heran, karena terakhir ia melihat Fanya tampak baik-baik saja.


“Pencernaannya kurang baik,” jawab Delvin asal. “Aku ke kamar dulu.” Pamit Delvin setelah botol minuman yang ia taruh di bawah dispenser terisi penuh dan air hangat yang diminta Fanya juga sudah ia letakkan di atas nampan.


“Semoga lekas membaik, sampaikan doaku pada Fanya.” Ujar Richard yang diangguki Delvin.


***


Fanya meminum air hangat yang diberi Delvin padanya.


“Apa sudah mendingan?” Tanya Delvin meskipun wajah Fanya masih terlihat pucat.


“Sakitnya tidak berkurang, aku akan mengompres perutku.” Fanya mengambil botol minum yang sedang di pegang Delvin, membalut benda tersebut dengan handuk kecil yang Delvin sediakan agar tidak terlalu panas saat bersentuhan dengan kulit.


Fanya membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang, dia mengusap botol hangat tersebut ke atas perutnya tanpa menyingkap pakaian yang ia kenakan.


“Biar aku yang melakukannya.” Pinta Delvin, jika tadi Delvin duduk di tepi ranjang, kini ia menggeser tubuhnya ke sisi kanan Fanya, menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang.


Fanya mengangguk lemah, dia tidak menolak permintaan Delvin sebab dia sudah sangat ingin tidur dengan lelap agar tidak merasakan nyeri di perutnya.


Sudah hampir satu jam botol tersebut Delvin usap ke perut Fanya, tangannya sedikit terasa pegal, kantukpun mulai menguasai dirinya. Tanpa sadar ia tertidur dengan posisi menyamping menghadap Fanya dan tangan yang bertumpu di perut perempuan itu.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Valerie beserta kedua orangtuanya izin pamit untuk pulang. Mereka menghabiskan waktu yang  cukup lama untuk berbincang-bincang dengan keluarga Albercio itu.


Sebelum pulang mereka sempatkan untuk melihat kondisi Fanya, Diego—David—dan juga Richard turut ikut ke kamar Delvin, mereka pun ingin mengetahui kondisi Fanya. Sebab Delvin yang tetap setia menemani Fanya di dalam kamar membuat mereka khawatir jika rasa sakit yang dirasakan Fanya belum juga pulih.


David mengetuk pintu kamar adiknya beberapa kali, namun tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


Matanya terfokus pada sepasang suami istri yang sedang tidur dengan posisi sangat mesra menurutnya. “Dad, mereka sudah tidur.” Ujar David pelan. David membuka lebar daun pintu kamar tersebut, sehingga mereka dapat melihat Delvin dan Fanya.


Diego sedikit menarik sudut bibirnya menyaksikan pemandangan yang ada di depan matanya. Sungguh dia sangat bersyukur di dalam hati melihat putra keduanya tertidur nyaman sambil mendekap sang istri. “Sepertinya Fanya sudah membaik, biarkan mereka tidur.” Ujar Diego.


Mereka berjalan keluar meninggalkan sepasang suami istri itu, Richard yang berada paling belakang tidak langsung keluar. Dia merogoh ponsel dari dalam saku celananya kemudian memotret pemandangan indah tersebut.


Dia ingin menunjukkan foto tersebut pada Delvin, untuk membuka mata hati dari sahabatnya itu bahwa pesona dari kebaikan yang ditebar Fanya berhasil meluluhkan kerasnya hati Delvin.


Sama seperti Diego, Richardpun sangat bersyukur bahkan bersorak di dalam hati atas momen langka yang terjadi pada Delvin. Dia sangat mengenal Delvin, bagaimana kebencian sahabatnya itu pada perempuan. Selain Rose, Delvin tidak mempunyai perempuan lain yang membuatnya merasa nyaman mengobrol apalagi berteman.


Menurut Richard, sosok Fanya sudah sangat tepat menjadi pendamping hidup Delvin karena perempuan itu dapat dengan mudah menarik perhatian sahabatnya. Ia sangat yakin, Delvin merasakan kebaikan dari sikap dan raut Fanya sehingga pria itu dengan mudah memberi tumpangan pada Fanya yang menjadi awal pertemuan mereka.


Richard sungguh berharap, keberadaan Fanya dapat menyembuhkan luka lama yang masih setia dijaga Delvin. Sebab luka tersebut menjadi alasan sahabatnya sangat membenci perempuan bahkan tidak ingin menjalin kasih dengan siapapun.


Setelah memotret mereka, Richard berjalan keluar. Tidak lupa ia menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan mengganggu tidur Delvin dan Fanya.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


ig : @ceria_yuwandira