My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Hari Baik Dan Buruk?



Perjalanan cinta seseorang tidak akan pernah mulus, akan ada banyak kerikil yang menjadi teman perjuangan untuk menuju kebahagiaan.


***


Semua mata menatap ke arah Delvin dan Richard yang baru saja memasuki ruangan meeting. Saat ini mereka akan mengadakan rapat untuk membahas kerjasama antara Albercio Group-perusahaan hotel terbesar di Perancis itu dengan online travel agent.


Beberapa penyedia jasa online travel agent yang berada di dalam ruangan itu berdiri dan sedikit menunduk untuk memberi hormat kepada Delvin.


Delvin mengambil posisi duduk di head table, sebab rapat kali ini akan dipimpin langsung oleh pria itu. Sedangkan Richard duduk di samping kanan Delvin.


Jack yang mewakili perusahaannya untuk memperkenalkan online travel agent mereka dibuat terkejut dengan kehadiran Delvin. Dia semakin terkejut mendengar bisikan orang yang membicarakan pria itu.


"Putra kedua dari keluarga Albercio sangat jarang memimpin rapat, katanya dia pria yang dingin. Aku takut membuat kesalahan saat mempresentasikan perusahaan kami." Bisik seorang wanita pada teman di sebelahnya.


Selama ini Jack tidak tahu, pria yang menjadi suami Fanya itu adalah putra dari pemilik Albercio Group. Jantung pria itu dibuat tidak tenang akan fakta yang baru ia ketahui.


Pembukaan rapat baru saja selesai, kini masing-masing dari penyedia jasa online travel agent tersebut bergantian memperkenalkan kelebihan yang akan membawa dampak baik kepada Albercio Group.


Setelah empat online travel agent selesai memperkenalkan perusahan mereka, tiba giliran Jack yang menjadi penutup. Pria itu beranjak dari duduknya, mendekat ke layar proyektor. Tangannya meremas kuat laser pointer yang ia pegang.


Tatapan Delvin yang mengintimidasi membuat Jack gugup dan takut setengah mati. Lagi, laporannya yang tidak digubris oleh pihak berwajib sudah bisa ia pastikan bahwa dirinya tidak mampu melawan Delvin sedikitpun.


Dengan terbata-bata Jack memperkenalkan diri terlebih dahulu, kemudian perusahaan tempatnya bekerja.


Tangannya bersusah payah menekan tombol laser pointer untuk mengganti slide di layar proyektor, benda tersebut bahkan sudah basah oleh keringat dari tangan pria itu.


Orang yang hadir disana menatap heran dengan tingkah Jack. Bingung, mengapa pria itu bisa kelewat gugup?


Jantung Jack dibuat melemas saat Delvin mengangkat tangan.


"Tolong ka-mu..." kalimat Delvin tak berlanjut, sebab Jack sudah jatuh pingsan di depan sana.


Ruangan rapat menjadi heboh dan riuh, Richard segera memberi perintah pada penjaga di luar untuk membawa Jack ke ruang kesehatan yang berada di dalam perusahaan itu juga..


"Padahal aku hanya ingin menyuruh dia mengancing resleting celananya yang terbuka." Batin Delvin terkikik dalam hati.


Menjadi pemimpin rapat hari ini memang khusus permintaan Delvin pada sang kakak, sengaja ia lakukan karena Richard memberi tahu bahwa Jack akan hadir mewakili perusahaan tempat pria itu bekerja.


Niat Delvin hanyalah ingin menunjukkan pada Jack bahwa suami dari perempuan yang pria itu khianati bukanlah orang sembarangan. Dia ingin mempertegas, jika status yang ia miliki membuat Jack tidak akan mampu melukai secuil ujung kuku Fanya apalagi merendahkan harga diri perempuan yang sangat ia cintai itu.


Namun Delvin tidak menyangka, bahwa keberadaannya justru membuat Jack dirundung kekhawatiran yang berlebihan hingga membuat pria itu jatuh pingsan hanya dengan mendengar suaranya.


Akibat pingsannya Jack, rapat berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan, namun sebelumnya salah satu online travel agent yang dianggap kompeten dipilih untuk menjalin kerjasama dengan Albercio group.


Delvin dan Richard lebih dulu keluar dari ruangan itu disusul yang lainnya.


***


Suara tawa Delvin menggelegar mengisi indra pendengaran Richard.


"Hahahahha, pria lemah seperti dia apa kuat saat di ranjang? Kau ingat, saat di hotel tidak sedikitpun pukulannya mengenai tubuhku. Dan tadi, dia pingsan karena mendengar suaraku. Ckk, si bajingan itu hanya berani melawan perempuan seperti Fanya." Selama di ruangan rapat, Delvin sudah setengah mati menahan tawa untuk menjaga wibawanya.


"Aku juga tidak menyangka dia bisa segugup itu tadi, bahkan sampai jatuh pingsan." Ujar Richard ikut terkekeh, sambil fokus mengendarai mobil milik Delvin. Mereka sedang keluar untuk makan siang menuju restoran seafood yang menjadi menu favorit mereka.


Mereka baru saja tiba di parkiran restoran, suara dering ponsel Delvin menghalangi langkah kedua pria itu keluar dari dalam mobil.


"Ya sayang." Jawab Delvin, mendekatkan benda pipih itu ke indra pendengarannya.


Richard merasa geli mendengar panggilan Delvin pada sang istri, selama ia mengenal sahabatnya itu, ini pertama kalinya Delvin memanggil perempuan dengan sebutan 'sayang'.


Tak ada jawaban dari Fanya, membuat Delvin menjadi khawatir.


"Hallo, sayang." Panggil Delvin lagi, tapi tak kunjung mendapat sahutan sang istri.


"Fanya." Kali ini ia memilih menyebut nama perempuan itu.


"Hmmm." Barulah suara Fanya terdengar, dia sengaja diam tak menyahuti Delvin. Meskipun dirinya tersipu, ia masih merasa canggung dengan panggilan pria itu.


"Seorang istri harusnya menjawab mesra panggilan sayang dari suaminya." Seru Delvin setelah mendengar deheman Fanya.


"Aku belum terbiasa." Ujar Fanya jujur.


"Maka dari itu kita harus membiasakannya. Ada apa? Apa kau mulai merindukan suaraku?" Tanya Delvin menggoda Fanya.


"Anda terlalu percaya diri Tuan Delvin," nada bicara Fanya dibuat-buat ketus. "Cepatlah kembali untuk makan siang, Kiara dan kak David sedang di Apartemen. Ajak juga Richard, dia belum pernah mencoba masakanku." Lanjut Fanya.


Ketika di Dinan, Delvin sudah memberi tahu Kiara terkait keberadaan Fanya dan sahabat istrinya itu meminta agar Fanya segera memberi kabar jika mereka sudah kembali ke Paris.


Setibanya Apartemen, Fanya tidak lupa menghubungi Kiara untuk memberi tahu kepulangannya pada sahabatnya itu, dia juga meminta Kiara menyambangi tempat tinggal mereka yang langsung disanggupi perempuan itu.


Sebelum makan siang tiba, Fanya bergelut di dapur bersama Kiara yang membantu seadanya. Kiara tidak banyak terlibat karena Fanya melarangnya. Mengajak Delvin, David dan Richard untuk makan siang bersama adalah ide dari Fanya. Sebab jarak perusahaan ke Apartemen mereka tidak terlalu jauh.


"Aku yakin dia akan ketagihan dengan masakanmu." Ujar Delvin memuji secara tidak langsung masakan sang istri.


"Mungkin, jika enak. Cepatlah kemari, makanan keburu dingin karena menunggu kalian." Sembur Fanya karena Delvin tak kunjung menyudahi percakapan mereka.


"Baik, baik... Kami akan segera kesana." Ujar Delvin menutup panggilan telepon sang istri yang sudah meninggikan nada suaranya.


"Fanya mengajak kita makan siang di Apartemen. Huhh, kak David sepertinya terlalu bersemangat sampai tidak menunggu kita." Ujar Delvin menggerutu pada sang kakak yang juga sama-sama bekerja di Albercio Group dengannya namun lebih dulu tiba di kediaman pria itu.


"Mungkin kak David berpikir rapat tadi akan berlangsung lama." Ujar Richard memberi alasan yang masuk akal. Ia memutar stir mobil menuju Apartemen Delvin.


Tak ada perbincangan yang terjadi antara Delvin dan Richard, kedua pria itu sedang hanyut dalam alunan musik lawas The Jackson 5 - I'll Be There yang berputar dari radio.


Sampai suara teriakan Delvin membenam suara radio tersebut.


"Awasss!!!"


Richard berusaha menghindari wanita paruh baya yang melintas di hadapan mereka. Namun naas, saat ia hendak berbelok, sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghantam keras mobil yang ia kendarai.


.


.


.


Beri like, komen, vote dan jika berkenan menghadiakan novel ini bunga ya teman-teman. Terimakasih 😊