My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Tentang Fanya



Kebahagiaan yang memberi arti biasanya di dapat dari hal-hal sederhana


\~\~\~


Pagi-pagi sekali Delvin sudah bersiap berangkat ke Kota Dinan, dia mengeluarkan mobil sedan berwarna hitam dari garasi Apartemen untuk ia bawa ke rumah mertuanya.


Semalam Diego memberi tahu Delvin terkait keberadaan Fanya, lelaki itu meminta pengawal pribadinya membawa sang menantu keluar dari dalam ballroom dan segera mengantar Fanya ke Kota Dinan, sebab hari ini adalah hari ulang tahun ibu angkat perempuan itu.


Delvin yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Fanya ditambah perjalanan yang harus ia tempuh Ke Dinan memakan waktu sekitar empat jam, membuat laju mobil pria itu bergerak cepat.


Kejadian semalam masih menyisakan banyak luka untuk Delvin dan sebuah kenyataan pahit yang semalam Diego ceritakan pada pria itu membuat Delvin dipenuhi perasaan bersalah pada sang istri.


Apa yang Diego katakan semalam menjadi teman perjalanan Delvin menuju Kota Dinan, sebab kalimat yang Ayahnya ucapkan senantiasa bersuara di dalam pikiran pria itu.


*"Ayah Fanya adalah pria terakhir yang dikencani ibumu, lelaki itu terkena HIV/AIDS dan menulari istrinya. Setelah kepergian kedua orantuanya, Fanya hidup sebatang kara. Dia yang saat itu duduk di bangku SMP dirawat oleh Panti Asuhan l'amour milik keluarga kita. Daddy* pernah berniat ingin membawanya ke rumah, tapi Daddy juga  sangat khawatir kalian tidak mau menerima kehadiran Fanya." Diego sangat menjaga perasaan kedua putranya, dia tidak ingin menambah luka baru kepada David dan Delvin jika membawa Fanya yang adalah putri dari pria selingkuhan istrinya masuk ke dalam keluarga mereka.


Diego pernah meminta Delvin dan Fanya ikut menghadiri acara amal di Panti Asuhan l'amour, sekalian ingin menceritakan kepada putra dan juga menantunya itu tentang peristiwa kelam keluarga mereka agar tidak ada yang disembunyikan di pernikahan Delvin dan Fanya. Namun saat itu putra dan menantunya tidak datang.


"Sampai akhirnya pasangan suami istri yang sangat mengharapkan seorang anak diusia senja mereka mengadopsi Fanya. Mereka adalah orangtua Fanya sekarang. Daddy meminta maaf karena sering menyalahkanmu setiap kali Fanya terluka. Kehidupan Fanya yang sudah sangat berat selama ini membuat Daddy tidak ingin seorangpun menyakitinya termasuk dirimu." Malam itu, Diego mendesahkan nafas lega setelah mencurahkan seluruh isi hatinya kepada sang putra.


"Pria itu bukan tidak mampu membahagiakan Fanya, dia hanya tidak sungguh mencintainya. Jika kau sudah benar-benar mencintai istrimu, cobalah mempertahankan pernikahan kalian. Mintalah Fanya untuk memberimu satu kesempatan lagi dan jika pada akhirnya dia tidak juga mencintaimu, barulah kau melepaskan dia. Tapi Daddy percaya, kesungguhan yang kau tunjukkan pada Fanya akan membuka hatinya untuk menerimamu." Pesan Diego pada putra keduanya itu.


Kesalahan di masa lalu yang selalu Diego sesali hingga sekarang adalah dia tak lagi menunjukkan rasa cintanya kepada sang istri yang ketahuan selingkuh meskipun ia masih sangat mencintai wanita itu.


Dia juga tidak berusaha memperbaiki hubungan mereka, malah ia terkesan membiarkan sang istri mengencani banyak lelaki lain tanpa pernah mendebat atau bersikap tegas pada wanita itu.


Diego memilih pisah ranjang dari istrinya tapi tidak setuju dengan perceraian yang wanita itu minta. Setelah itu sikap sang istri tiba-tiba berubah baik, Diego yang masih sangat mencintai wanita itu tidak menaruh curiga sedikitpun pada sang istri. Dia menyerahkan setengah saham perusahaanya ketika wanita itu memintanya.


Wanita itu memanfaatkan kelemahan Diego, dia membawa pergi apa yang sudah suaminya berikan bersama lelaki selingkuhannya. Sampai penyakit mematikan yang menggerogoti tubuh wanita itu merenggut nyawanya menjadi akhir hubungan mereka.


Sungguh Diego sangat berharap, caranya yang salah dalam mencintai sang istri tidak terulang pada Delvin. Harapan lelaki itu, semoga kelembutan hati sang menantu mempermudah putranya meluluhkan perempuan itu.


***


Mobil yang di bawa Delvin berhenti di halaman rumah milik orangtua angkat Fanya. Dia segera turun dari dalam kendaraan roda empat itu.


Delvin mengetuk daun pintu yang tertutup dari bangunan sederhana itu, seorang lelaki paruh baya tampak berdiri di hadapan Delvin. Thomas-ayah mertua pria itu membukakan pintu untuk sang menantu.


"Nak Delvin, bukankah kamu sedang sibuk?" Tanya Thomas heran, sebab semalam Fanya mengatakan pria itu tidak bisa ikut ke Dinan karena sedang meninjau proyek di luar kota. Perempuan itu masih menutupi gugatan cerai Delvin dari orangtuanya.


"Aku menyerahkan semua pekerjaan pada sekretarisku Pa." Jawab Delvin memberi alasan sambil menautkan tubuhnya pada sang ayah mertua.


"Masuklah nak, Fanya sedang di dapur memasak cake untuk ulang tahun Ibu kalian." Ujar lelaki itu pada Delvin.


Di ruang tamu, tampak Lucia-istri Thomas sedang merajut syal untuk sang putri.


"Ma-" Panggil Delvin berjalan menghampiri sang ibu mertua.


"Nak Delvin, kamu meninggalkan pekerjaanmu?" Sama dengan Thomas, wanita itu juga heran melihat kehadiran menantunya.


"Tidak Ma, sekretarisku sudah megurus semuanya." Ujar pria itu. Ia pun menautkan tubuhnya pada wanita itu.


"Temuilah istrimu, dia sedang di dapur." Ucap Lucia setelah melepas pelukannya dari sang menantu.


"Baik Ma." Jawab Delvin, dengan tidak sabar pria itu berjalan cepat menuju dapur.


Semburat senyum tersampir manis di bibir Delvin melihat sang istri mengoles whipped cream di atas cake yang perempuan itu masak. Sesekali tangan Fanya menggerakkan meja putar kue untuk meratakan cream tersebut.


"Kau terlihat mahir membuat kue." Puji Delvin semakin mendekati Fanya.


"Ka-kau, apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau kemari?" Fanya dibuat tersentak melihat kehadiran pria itu, sampai whipped cream yang sudah rata menutup kue menjadi sedikit berantakan.


"Karena hari ini ulang tahun ibu mertuaku," kalimat pria itu sejenak terjeda, ia menatap lekat manik Fanya. "Sekalian juga untuk menemui istriku, aku sangat mengkhawatirkannya." Ujar Delvin lirih, dia menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.


Fanya diam tak bergeming, dia tak membalas pelukan pria itu namun air matanya juga turut keluar dari pelupuknya sama seperti Delvin.


"Lanjutkanlah pekerjaanmu, biar kita merayakan ulang tahun Mama." Delvin mengurai tautan tubuh mereka, tangannya mengusap air mata Fanya yang belum surut dari pelupuk perempuan itu.


***


Setelah mengucapkan make a wish, Lucia meniup lilin berbentuk angka 65 yang tertancap di cake tersebut.


"Selamat ulang tahun sayang." Ujar Thomas memberi kecupan singkat di kening wanita itu.


Disusul oleh Delvin dan Fanya, "mama tetap sehat dan selalu bahagia." Doa sepasang suami istri itu kepada Lucia.


"Terimakasih sayang, terimakasih nak." Lucia dibuat terharu atas perayaan sederhana dari sang suami beserta putri dan menantunya.


Saat semuanya sedang berbincang, Fanya mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari dalam tas sandang perempuan itu.


"Ma.." Panggil perempuan itu pelan, semuanya menatap ke arah Fanya.


"Aku sedikit ada rezeki, aku membeli cincin pernikahan kalian yang pernah terjual karena membayar ongkos dan biaya hidupku di Paris waktu itu. Ini kuberikan pada Papa, biar Papa yang menyematkannya di jari Mama." Ujar Fanya memberi kotak merah itu ke tangan sang Ayah.


"Nak, kamu tidak perlu menggantinya. Mama tidak pernah berharap kamu mengganti cincin itu sayang." Lucia bukannya tidak mau menerima apa yang Fanya berikan. Hanya, dia sudah merelakan cincin pernikahannya itu terjual sebagai bentuk tanggung jawab mereka pada masa depan putrinya.


Sekalipun Fanya tidak terlahir dari rahim wanita itu, namun ia dan suaminya sangat menyayangi perempuan yang mereka rawat sejak usia belasan tahun itu.


"Aku tahu Ma, tapi aku benar-benar tulus dan ingin membelikan Mama cincin. Mama terima ya?" Ujar Fanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya agar sang ibu mau menerima cincin itu.


"Kamu anak baik tapi sedikit pemaksa." Ujar Lucia, ia membelai lembut wajah Fanya.


Fanya tersenyum simpul mendengar ucapan sang ibu.


"Papa, ini cincinnya." Ujar Fanya, Thomas yang tadi belum menerima cincin pemberian putrinya itu mengambil dari tangan Fanya.


Thomas membuka kotak cincin itu dan mengeluarkan isinya. Ia meraih tangan sang istri kemudian menyematkan benda berbentuk lingkaran kecil itu ke jari manis Lucia.


"Aku jadi teringat dengan hari pernikahan kita." Ucap Lucia sambil memandangi cincin yang sudah melekat di jari manisnya.


"Terimakasih nak, sudah membuat ibumu teringat dengan hari paling bahagia di hidup kami." Ujar Thomas tersenyum pada sang putri.


"Sama-sama Pa." Sungguh Fanya sangat bahagia melihat senyum manis orangtuanya.


Kehangatan yang ditampilkan keluarga sang istri membuat Delvin terharu dan cara orangtua angkat Fanya yang memperlakukan perempuan itu dengan sangat baik adalah hal yang paling ia syukuri.


"Bisakah kita berpelukan?" Pertanyaan Delvin menimbulkan kerutan dalam di kening Fanya.


"Tentu bisa sayang." Jawab Lucia cepat.


Delvin segera menarik tangan Fanya untuk berpindah ke tempat mertuanya duduk. Dia melebarkan tangannya untuk memeluk tiga orang yang sekarang menjadi sangat berarti di hidup pria itu.


Thomas dan Lucia juga melakukan hal yang sama membuat Fanya ikut merangkul pinggang Delvin dan sang ibu. Tangannya tidak bisa menggapai Thomas, sebab sang ayah berada di samping Delvin.


"Aku sangat menyayangi kalian." Ujar Delvin pelan sambil mengecup kening sang istri.


Manik Fanya membola akibat perlakuan pria itu.


***


Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya teman-teman, biar author semakin semangat menulisnya. Jika berkenan juga bisa memberi hadiah bunga 😁 Tambahkan ke rak favorite kalian agar selalu mendapat info update. Terimakasih luvv 💛💛


ig : ceria_yuwandira