
Bahkan sebuah benda mati seperti tak rela dengan perpisahan kita
\~\~\~
Diego lebih dulu meninggalkan kediaman sang calon menantu, dia diantar oleh supir pribadinya. Sebab kedua putra dan menantunya masih memiliki acara lain di rumah Valerie.
Ruang tamu Valerie kini dipenuhi oleh beberapa teman dekatnya. Termasuk David calon suaminya, Delvin dan sang istri, Richard dan Rose beserta Kiara sahabat Fanya. Kebanyakan tamu sudah meninggalkan kediaman perempuan itu.
"Jemari siapa yang terjepit di mulut buaya ini akan meminum segelas sampanye." Jelas Richard yang bertugas sebagai pemimpin permainan.
Untuk merayakan hari pertunangan Valerie dan David mereka bermain Crocodile Dentist Challenge, masing-masing dari mereka akan menekan gigi buaya mainan tersebut secara bergantian.
"Apa kita sudah bisa memulainya?" Tanya Richard meminta persetujuan dari mereka yang berkumpul di ruang tamu itu.
"Ya!!" Jawab mereka serentak.
"Baiklah, karena ini hari bahagia kak David dan kak Valerie. Aku mengizinkan kalian untuk lebih dulu bermain." Ujar Richard.
Valerie lebih dulu menekan gigi dari buaya mainan tersebut, disusul David di sampingnya. Mereka menghela nafas lega sebab mulut buaya itu masih terbuka lebar. Selanjutnya adalah dua orang teman David yang juga aman dalam permainan itu.
Tiba giliran Richard. Dia tampak mengusap-usap tangannya, seakan dia sedang gugup untuk menekan gigi buaya mainan itu.
Mulut buaya tetap menganga bahkan setelah jari Richard menekan gigi dari benda tersebut, membuat pria itu berteriak senang.
"Yess!!" Seru Richard sambil mengepalkan tangannya ke atas.
Buaya mainan tersebut sudah kehilangan lima giginya, meskipun belum terlalu banyak namun cukup mendebarkan untuk pemain selanjutnya. Sebab sedari tadi benda tersebut belum juga mengatupkan mulut.
Di samping Richard ada Delvin, pria itu menekan cepat gigi buaya itu. Lagi, sang buaya masih enggan terkatup.
Kini Fanya yang mengulurkan jari telunjuknya ke mulut buaya yang menganga.
Kletek...
Suara dari mulut buaya yang tertutup sedikit membuat Fanya tersentak, ia ingin menarik jarinya namun sudah lebih dulu dijepit oleh buaya mainan itu.
Richard yang bertugas sebagai pemimpin permainan menuangkan segelas sampanye-minuman anggur putih bergelembung yang dihasilkan di kawasan Champagne di Prancis itu ke dalam gelas lalu menyodorkannya pada Fanya.
"Apa kau sanggup meminumnya?" Tanya Delvin penuh khawatir pada sang istri.
Tak ada jawaban atas pertanyaan pria itu, Fanya hanya menatapnya sekilas kemudian meneguk habis minuman yang di berikan Richard.
"Karena tadi Fanya tergigit, maka dia yang lebih dulu menekan gigi buayanya." Ujar Richard.
"Kenapa begitu? Jika Fanya bermain lagi, artinya dia dua kali menekan gigi buaya itu dalam sekali putaran permainan." Protes Delvin tidak setuju dengan peraturan yang dibuat Richard.
"Aku sengaja membuat peraturan yang lain dari biasanya Delvin. Nanti jika tanganku tergigit, aku juga akan menekannya dua kali dalam sekali putaran." Jelas Richard.
"Kau-"
"Sudah Delvin!! Tidak masalah kalau aku bermain lagi." Ujar Fanya menghentikan kalimat Delvin yang ingin mendebat Richard.
Kembali Fanya mengulurkan jari telunjuknya untuk menekan gigi buaya mainan itu, namun kesialan sepertinya urung menjahui perempuan itu. Tangannya kembali terjepit.
"Hahahaha, buayanya sangat tertarik dengan jari lentikmu Fanya!" Tawa Richard pecah melihat jemari Fanya yang untuk kedua kalinya terjepit di antara mulut buaya mainan itu. Namun tak berapa lama tawanya terhenti, sebab Delvin memelototkan mata penuh kemarahan ke arah pria itu.
"Uhhm... Maaf, aku terlalu berlebihan." Ujar Richard sambil tangannya kembali menuang sampanye ke dalam gelas untuk di minum Fanya.
Setelah meneguk minuman itu, rasa mual dan pusing mulai menggerayangi Fanya namun berusaha ia tahan.
"Apa setelah ini juga tetap giliran Fanya?" Tanya Delvin dengan raut masam.
Richard mengangguk, "sampai tangan Fanya tidak terjepit baru permainan berlanjut ke Kiara." Jelas Richard, sebab di samping Fanya ada Kiara.
"Biarkan aku yang menekannya." Ujar Delvin tanpa meminta izin sang istri.
Kletek...
Mulut buaya kembali terkatup.
"****!!" Teriak Delvin ketika kesialan juga ikut menghampirinya. Richard ingin kembali tertawa, namun ia tahan untuk menghindari pertengkaran dengan sahabatnya itu.
"Tidak bisa begitu, itu namanya tidak sportif." Rose yang sedari tadi diam kini bersuara memprotes Delvin, dia tidak mau pria itu sampai berkorban pada Fanya.
"Aku akan meminumnya sendiri tanpa bantuan siapapun." Seru Fanya, dia meraih gelas yang berisi sampanye dari tangan Richard dan meneguknya dengan cepat.
Rasa mual dan pusing kini benar-benar sudah menguasai diri perempuan itu. Di tengah kesadaran Fanya yang belum sepenuhnya hilang, dia menekan cepat gigi buaya mainan itu dan syukurnya kali ini perempuan itu selamat.
Permaianan berlanjut ke Kiara, Rose dan kembali ke Valerie. Hukuman diberikan ke David dan Richard karena jemari kedua pria itu juga dijepit oleh mulut buaya mainan itu.
Dada Delvin berdegup kencang, sebab kali ini giliran Fanya yang menekan gigi buaya itu. Sungguh jantungnya dibuat lemas karena kembali jemari sang istri terjepit.
Ke empat kalinya Richard menuang sampenye untuk diminum Fanya. Jika tadi perempuan itu meneguk habis minuman beralkohol yang Richard berikan, kini dia hanya sanggup menghabiskan setengahnya saja.
Rasa mual tadi sudah menjalar ke tenggorokan Fanya, dia muntah tepat di kaki sang suami. Delvin dengan sigap memijat tengkuk perempuan itu.
"Dia harus menghabiskan minuman itu." Ujar Rose dengan tidak berperasaan, sikap Delvin yang terlihat penuh perhatian pada Fanya menimbulkan rasa cemburu di hati perempuan itu.
"Mereka akan bercerai, kenapa Delvin masih peduli pada perempuan itu?" Batin Rose.
"Tapi sepertinya Fanya tidak sanggup menghabiskannya lagi. Dia juga bukan seorang peminum, aku yakin Fanya sudah sangat tersiksa dengan tiga gelas sampanye tadi." Kiara berusaha membela sahabatnya.
"Kalau begitu, kita memberi hukuman yang lain saja." Valerie memberi saran.
"Bagaimana kalau Fanya mencium suaminya?" Celetuk Richard yang langsung mendapat tatapan tajam dari Delvin.
"Tidak masalah bukan, toh kalian juga suami istri." Lanjut Richard santai, meski dalam hati pria itu penuh oleh rasa ketakutan.
"Mampuslah aku setelah ini." Batin Richard, dia sudah siap mendapat amukan dari sahabatnya itu.
"Boleh juga, aku setuju." Seru Valerie.
"Apa yang lainnya setuju?" Tanya Richard meminta saran pada yang lain.
"Setuju!!!" Suara Fanya dengan lantang menjawab pertanyaan Richard, membuat semua orang terkesiap mendengarnya.
"Aku akan mencium suamiku." Ujar Fanya sambil terkekeh, dia bergelayut manja di lengan Delvin.
"Heii, kau sedang mabuk." Delvin berusaha menyadarkan sang istri, tapi Fanya tidak menghiraukan perkataannya. Perempuan itu malah merangkak menaiki tubuh Delvin dan duduk di pangkuan pria itu.
Tangan mungil Fanya menangkup pipi Delvin, membuat jantung pria itu memompa cepat.
"Sebelum kau menciumku, biasanya kau memegang pipiku dulu, seperti yang kulakukan ini." Racauan Fanya sungguh membuat Kiara terkejut.
"Apa mereka sudah sejauh itu?" Batin Kiara.
"Aku belajar darimu Tuan Delvin Albercio." Lanjut Fanya sambil memagut kasar bibir Delvin. Bau alkohol yang menyeruak dari mulut Fanya dapat ia rasakan.
Tubuh Delvin sesaat menegang mendapat serangan mendadak dari Fanya. Perempuan itu tak sedikitpun memberinya jeda untuk bernafas.
Tangan Fanya yang tadi menangkup pipi Delvin kini melingkar di leher pria itu.
Sungguh Delvin ingin membalas ciuman sang istri, sebab belum sekalipun Fanya membalas ciumannya. Namun kondisi Fanya yang sedang mabuk mengurungkan niat pria itu.
Tak ingin terbuai terlalu dalam pada pagutan sang istri yang semakin liar, Delvin segera mengangkat tubuh Fanya ala bridal style. Dia membawa perempuan itu keluar dari rumah Valerie tanpa berpamitan pada pemiliknya.
Semua mata menatap kepergian pasangan suami istri itu.
Rose yang sedari tadi sudah berusaha keras menahan gejolak di dalam hatinya, mengepal kuat kedua tangannya untuk meredakan emosinya yang membuncah.
***
Silahkan teman-teman menambah ke favorite untuk mendapat notifikasi update yaa...
Berikan like, komen dan vote. Jika berkenan bisa memberikan author bunga, hehehe 😁
Follow instagram author ya : @ceria_yuwandira
Terimakasih luvv 💛💛