
Rumah adalah bahu, tempat kita bersandar. Bukan hanya untuk pulang dan berteduh, rumah juga sebagai tempat riuhnya tawa, tangis yang nyaman. Who is your home?
\~\~\~
"Bagaimana kabar kalian disana? Tidak ada hari sulit lagi, bukan?" Tak ingin ada kesedihan yang ia bawa saat mengunjungi makam orangtuanya, Fanya terus mengulum senyum.
"Lihatlah, putri kalian tumbuh dengan baik. Papa dan Mama jangan mengkhawatirkanku ya. Aku juga sudah menikah dengan pria yang mencintaiku dan yang kucintai. Uhmm, Ada rahasia yang tidak boleh didengarnya," sedikit menunduk, Fanya setengah berbisik.
"Menantu kalian sangat keren, hidupku jauh lebih baik selama dia bersamaku." Ujar Fanya masih dengan senyum di wajahnya.
Dengan sengaja perempuan itu memuji Delvin. Hatinya pernah patah, oleh sosok ayah yang mengkhianati ibunya dan Jack yang menghancurkan perasaannya. Tapi Delvin hadir disana, membawa cinta yang begitu besar melampaui masalah yang sedang Fanya hadapi.
Hanya suaminya, hanya Delvin seoranglah pria yang dengan berani memantaskan diri untuknya dan mau memperbaiki kesalahan di masa lalu. Tak akan cukup pujian untuk Delvin, begitulah yang Fanya pikirkan.
"Kenapa kau menahannya?" Meletakkan kedua tangannya di pipi sang istri, Delvin mau perempuan itu menatapnya.
"Kenapa kau menahan air matamu?" Tanya Delvin lagi.
Fanya menggeleng samar, hilang sudah senyum di bibirnya dan yang ada hanya raut sendu. Dia memang sedang berpura-pura kuat tadi dan Delvin mengetahuinya.
"Lepaskan semuanya disini, Sayang. Kau tidak harus menahannya." Membawa sang istri ke dalam pelukannya, disanalah tempat perempuan itu meluruhkan air matanya. Di dada sang suami yang kini basah terkena cairan bening dari maniknya.
Fanya menangis cukup keras. Kembali ke makam ini sebenarnya membuat perempuan itu mengingat lagi hari-hari pernikahan ibunya yang hanya dipenuhi kesedihan. Bahkan di akhir hidup orangtuanya, sepasang suami istri itupun tidak saling jatuh cinta.
"Pa-pa dan Ma-ma pas-ti bahagia me-lihat kita, kan. Papa pasti sangat ingin memperlakukan Mama dengan baik seperti yang kau lakukan padaku, kan." Ujar Fanya sambil terisak dan terbata-bata.
"Iya, Sayang. Mereka pasti sangat bahagia." Sambil mengusap punggung sang istri, manik Delvin terlihat memerah.
"Bagaimana bisa kau bertahan selama ini Fanya?" Batin pria itu.
***
Tampak tubuh Fanya menggeliat sambil merenggangkan kedua tangannya di atas ranjang berukuran king size. Berlahan ia membuka kelopak matanya yang sempat terpejam lelap beberapa jam yang lalu.
"Delv." Suara parau khas bangun tidur terdengar lembut menyapa indra pendengaran Delvin yang sedang menatap sang istri.
"Tidurmu nyenyak, Sayang?" Semakin mendekat, Delvin merangkul pinggang Fanya.
Fanya mengangguk, "kita dimana?" Tanya perempuan itu ketika menyadari ia dan sang suami sedang berbaring di ranjang yang tampak asing baginya.
"Kita masih di Nice, tepatnya di hotel." Jawab Delvin. Sekembalinya dari makam, Fanya tertidur di dalam mobil. Delvin yang tidak ingin istrinya terganggu memilih check in di salah satu hotel dengan tipe presidential suite untuk tempat mereka beristirahat.
"Kita akan menginap?"
"Tidak, Sayang. Setelah makan siang, kita akan check out." Jelas Delvin.
Memindai wajah sang suami yang menatapnya dengan intens, Fanya memainkan jarinya disekitaran dagu pria itu yang kini mulai ditumbuhi rambut halus.
"Dua bulan ini terasa begitu panjang, bukan." Mengingat hari-hari yang mereka lewati belakangan ini begitu banyak tantangan, Fanya bersyukur semua bisa mereka atasi dengan baik.
"Hmm, dan sedikit melelahkan." Delvin setuju dengan ucapan Fanya barusan.
Bagaimana tidak, masalah beruntun yang terjadi di dalam rumah tangga mereka cukup menguras tenaga dan pikiran sepasang suami istri itu.
"Apa aku bisa mendengar penjelasanmu mengenai Jack?" Tanya Fanya hati-hati, dia tidak ingin sang suami mengira dia masih peduli dengan Jack. Fanya hanya penasaran dengan pernyataan Delvin di makam tadi.
"Tentu, aku tidak mau kau terus dipenuhi rasa bersalah." Meski sebenarnya Delvin sangat tidak sudi membawa mantan kekasih Fanya ke dalam perbincangan mereka tapi pria itu terpaksa melakukannya. Sebab Delvin tidak mau sang istri melabeli diri sebagai pengkhianat.
Melepas rangkulannya dari pinggang Fanya, Delvin sedikit bergeser ke arah nakas. Tangan pria itu menjangkau ponsel yang terletak disana.
Kembali mendekat ke sisi sang istri, Delvin memberikan ponsel tersebut kepada Fanya.
"Berjanjilah jika kau tidak akan menangisi dia." Pinta Delvin. Dia tidak rela jika air mata berharga sang istri kembali terjatuh mengetahui sifat Jack selama ini.
Fanya mengangguk. Setelah menerima ponsel yang Delvin berikan, perempuan itu sedikit terhenyak melihat foto-foto Jack tanpa busana dengan beberapa wanita. Berlahan dia menggeser layar ponsel itu, tampak video rekaman CCTV menampilkan Jack sedang berpesta liar dengan para wanita berpakaian minim.
"Saat itu aku menunggunya dengan rasa khawatir, kupikir terjadi sesuatu padanya. Ternyata dia tidak menjemputku karena sedang bersenang-senang." Ujar Fanya lirih sambil menatap waktu yang tertera di rekaman CCTV itu, sama persis dengan hari jadian mereka yang ke 3 tahun.
Sekalipun Fanya sepenuhnya sudah berpaling dari Jack, namun perasaan kecewa tak bisa perempuan itu sembunyikan. Bagaimana tidak? Hubungan mereka terjalin cukup lama dan Fanya pernah begitu sungguh mencintai pria itu sedangkan Jack sepertinya tidak sedikitpun pernah menaruh rasa padanya.
"Dan aku sangat bersyukur pada Tuhan karena mempertemukan kita waktu itu," membaca gurat kesedihan di raut Fanya, Delvin mengambil ponsel dari tangan sang istri, pria itu menghapus semua foto dan video Jack yang ada disana.
"Sekarang dan seterusnya adalah tentang kita, Sayang." Setelah menaruh ponsel tersebut ke tempat semula, Delvin kembali merangkul pinggang sang istri.
Posisi Fanya yang sempat telentang memilih menghadap Delvin.
"Jika tidak menikah denganmu, mungkin aku akan mengulang kisah pilu orangtuaku bersama Jack. Terimakasih sudah memberiku tumpangan malam itu, Delv." Mengingat pertemuan pertama mereka dulu, sudut bibir Fanya sedikit tertarik. Ya, pertemuan tak sengaja yang sempat ia sesali itu justru membawa Fanya kepada pria yang tepat yaitu suaminya-Delvin Albercio.
Kali ini dia turut melingkarkan tangannya di pinggang Delvin, hati perempuan itu kini menghangat dan damai.
Menatap lekat manik sang istri, Delvin memilih membisu. Dia justru semakin merapatkan tubuhnya dengan Fanya-mengikis jarak di antara mereka.
"Ka-kau, apa yang kau lakukan?" Pertanyaan konyol itu lolos dari mulut Fanya, pun dengan jantungnya yang berdegup kencang manakala pangkal hidung mereka saling bersentuhan dan ibu jari Delvin mengusap bibirnya.
"Memangnya aku harus melakukan apa, Sayang?" Pertanyaan balik Delvin justru membuat Fanya salah tingkah, tampak perempuan itu hendak membuang muka untuk menghindari tatapan sang suami.
Entahlah, pikiran Fanya yang travelling membuat perempuan itu menjadi malu sendiri (Mbak Fanya lagi mikirin apa hayooo :D)
Tak ingin pandangan Fanya berpaling dari wajahnya, Delvin melayangkan sebuah ciuman ke bibir perempuan itu. Menelusupkan lidah ke rongga mulut sang istri, dia ingin mencecap semua rasa yang ada disana.
Meski sempat tersentak, Fanya kini turut membalas perlakuan Delvin. Dia tahu apa yang diinginkan suaminya, pun juga yang ia inginkan sekarang. Lalu, kenapa Fanya masih bertanya tadi? Heheheh :D
Selama dua bulan masa pernikahan mereka, belum pernah sekalipun Delvin menyentuh Fanya. Sebab bulan pertama pernikahan mereka dipenuhi banyak prahara dan ketika cinta mulai tumbuh di antara sepasang suami istri itu, hingga disaat mereka berkomitmen untuk tetap bersama, kecelakaan sialan itu mengharuskan Delvin dirawat selama sebulan penuh.
Bulan kedua pernikahan mereka terfokus untuk pemulihan Delvin. Kaki Delvin yang cidera cukup parah waktu itu menjadi penghalang semuanya. Pria itu kurang tenaga dan sulit bergerak. Lagi, dokter juga melarang mereka melakukan hubungan suami istri, dengan tujuan untuk menghindari cidera berulang yang mungkin bisa terjadi di kaki Delvin sekaligus mempercepat pemulihan pria itu.
Sepasang suami istri itu kini tampak semakin hanyut dalam kemesraan yang memabukkan. Rona merah timbul di permukaan pipi Fanya, manakala Delvin melepas tautan bibir mereka dan pria itu beralih menyisiri leher jenjang sang istri.
Berpindah posisi, kini Delvin mengungkung Fanya. Membuka perlahan pita merah muda yang menjadi pengait gaun sang istri, pria itu menelan saliva manakala bagian atas Fanya tersingkap sempurna.
Hening dan tak melakukan apapun, Delvin diam bak patung liberty.
Fanya bingung, dia yang sudah kepalang malu sejak tadi memilih membenarkan gaunnya sebab Delvin masih membeku.
"Apa dia belum siap?" Pikir perempuan itu.
"Jangan ditutup." Seru Delvin, ketika Fanya hampir saja menautkan pita di gaunnya.
-
-
Happy Eid Mubarak manteman, mohon maaf lahir dan batin 💛
Jangan lupa memberi like atau komen ya, jika berkenan bisa melempar bunga juga, heheh. Tengkiuu luvv 😊