My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Pingsan



Perhatian pada orang lain bisa saja muncul karena sisi kemanusian dari seseorang namun bisa juga muncul karena rasa khawatir pada orang yang (mungkin) sedang mengganggu pikirannya.


\~\~\~


Setibanya di apartemen, Fanya mengajak Delvin duduk di ruang tamu untuk membicarakan tentang cara mengakhiri pernikahan mereka.


“Mari membuat kesepakatan pada pernikahan kita.” Ucap Fanya pada Delvin yang sedang bersedekap di hadapannya.


“Kau ingin mengakhiri pernikahan kita karena pria bernama Jack tadi melamarmu bukan? Sebulan—kau memberi waktu sebulan seolah-olah untuk memantapkan hatimu, padahal kau sedang menyembunyikan kebohongan dari pria malang itu,” ujar Delvin yang kini berdiri dari tempat ia duduk.


“Aku tidak mau menunggu sampai sebulan Fanya, kita akan bercerai secepatnya,” Delvin melempar sebuah foto ke pangkuan Fanya. “Aku mengikutimu bukan karena peduli dengan hubunganmu.” Lanjutnya sambil berlalu meninggalkan Fanya.


Fanya meremas foto dirinya yang tampak akan berciuman dengan Jack, jika dia bercerai secepat itu dengan Delvin tentu akan menimbulkan kecurigaan pada orang tuanya, ditambah dirinya yang seolah-olah mengkhianati pernikahannya dengan Delvin sudah pasti orangtuanya tidak akan mengizinkannya menikah dengan Jack.


Awalnya Fanya berniat untuk mengajak Delvin bekerja sama, dimana Delvin berpura-pura mendapati dirinya berselingkuh dengan pria lain lalu menjadi bukti kepada Ayah Delvin pun sebaliknya, Fanya berpura-pura mendapati Delvin berselingkuh dengan wanita lain dan menjadi bukti kepada orangtuanya, sehingga perceraian mereka dapat diterima oleh orangtua mereka masing-masing, sehingga Ayah Delvin tidak menyalahkan putranya, begitu pula orang tua Fanya tidak menyalahkan putrinya. Namun Delvin sudah lebih dulu menggagalkan semua rencananya.


Suara bel membuyarkan lamunan Fanya, ia berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


“Kak David, silahkan masuk kak.” Fanya sedikit menepi dari depan pintu untuk memberi ruang pada David. Kehadiran kakak iparnya yang berkunjung di malam hari membuatnya sedikit bingung.


“Terimakasih Fanya.” Ujar David yang langsung masuk kala dipersilahkan Fanya sambil melangkahkan kakinya ke arah sofa yang berada di ruang tamu.


“Apa kakak ingin minum sesuatu?” Tanya Fanya.


“Tidak perlu, pergilah beristirahat. Besok aku ada urusan bisnis ke Berlin bersama Delvin, aku akan menginap disini, subuh kami akan berangkat.” David memberi penjelasan atas kedatangannya pada Fanya.


“Apa aku perlu memanggilkan Delvin?” Tanya Fanya setelah tahu alasan kedatangan kakak iparnya.


“Jika dia sudah tidur biarkan saja, dia akan telat bangun.” David yang sangat paham kebiasaan adiknya membiarkan pria itu beristirahat, sebab itulah alasan sebenarnya ia menginap di apertemen adiknya, Delvin sangat tidak disiplin soal waktu.


“Uhmm, baiklah, aku akan mengambilkan selimut dan bantal untuk kakak.” Ujar Fanya sambil berjalan ke kamar Delvin. Dalam hatinya sebenarnya dia sangat canggung dan takut untuk masuk kesana, namun ia tak punya pilihan.


Awalnya Fanya mengetuk daun pintu kamar berwarna coklat itu, namun karena tidak ada sahutan ia memutar handle pintu yang ternyata tidak dikunci. Saat ia masuk, betapa terkejutnya Fanya mendapati Delvin sedang duduk berselonjor di atas ranjang bersama dengan laptop yang ia taruh di atas pangkuannya.


“Kenapa dia tidak membukakan pintu atau sekedar menyahutiku.” Guman Fanya dalam hati.


“Maaf, kak David ada diluar, aku mau mengambil selimut dan bantal untuknya. Kakak akan menginap disini.” Ujar Fanya yang berdiri tepat di belakang pintu, dia tidak berani mendekati Delvin, sebab wajah pria itu sangat tidak bersahabat untuk diajak berbicara.


“Biar aku yang memberikannya.” Delvin menaruh laptop ke atas nakas untuk berjalan ke walk in closet mengambilkan selimut untuk kakaknya. Hanya beberapa menit ia sudah keluar dari dalam ruangan itu.


Fanya tidak berpindah dari pijakannya, ia masih berdiri di tempatnya tadi. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa.


“Kenapa kau masih berdiri disitu?” Delvin mengernyitkan kening mendapati Fanya yang masih berdiri seperti patung di belakang pintu.


“Kau menghalangi jalanku.” Delvin sedikit mendorong tubuh Fanya dengan selimut dan bantal yang dibawanya, kemudian berlalu meninggalkan Fanya seorang diri di dalam kamar.


Tadinya Fanya ingin bertanya dimana dia akan tidur, kehadiran David sangat tidak mungkin untuknya kembali tidur di kamar mandi luar. Tapi ia tidak punya keberanian untuk menanyakannya pada Delvin.


Fanya berjalan mondar-mandir terlihat seperti orang kebingungan, sampai suara derit pintu menghentikannya.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau masih saja berdiri disitu?” Tanya Delvin sambil menyandarkan satu tangannya ke atas dinding.


“Bisakan malam ini aku tidur disini? Aku akan memakai buthup kamar mandimu sebagai ranjangku.” Fanya memberanikan diri untuk bertanya pada Delvin.


Tampak kerutan dalam di dahi Delvin, permintaan Fanya barusan sangatlah aneh dirasa pria itu.


“Subuh aku akan berangkat ke Berlin, aku tidak mau keberangkatanku terlambat karena tidak bisa menggunakan kamar mandiku pukul tiga pagi nanti.” Jawaban Delvin adalah sebuah penolakan untuk Fanya yang ingin memakai kamar mandi pria tersebut sebagai tempat ia tidur malam ini.


“Uhmm—“ Fanya tampak berpikir. “Aku akan tidur di balkon.” Ujarnya yang kembali membuat Delvin mengernyitkan kening.


“Terserah padamu.” Kali ini Delvin membiarkan Fanya untuk tidur di balkon, tadinya ia berpikir perempuan itu akan tidur di sofa yang ada di dalam kamarnya, namun permintaan aneh Fanya tidak ditolaknya sebab dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang dilakukan perempuan itu.


“Bolehkah aku meminjam selimutmu yang lain?” Tanya Fanya setelah Delvin mengijikannya tidur di kamar pria itu, tepatnya di balkon kamar pria itu.


“Hmm.” Jawab Delvin sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


***


Waktu menunjukkan pukul satu dinihari, sial bagi Fanya sebab hujan turun sangat deras hingga membasahi balkon dan juga keseluruhan tubuhnya. Derasnya hujan dan suara petir yang cukup kuat membangunkan tidur nyenyak Fanya. Ia menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya kala cahaya kilat dan suara petir kembali menggelegar.


Tangan Fanya yang gemetar karena rasa takut dan juga dingin menyulitkannya untuk membuka pintu balkon yang terkunci. Dengan susah payah ia berhasil membuka pintu tersebut lalu segera menutupnya.


Fanya terpaku mendapati Delvin berdiri di hadapannya, pria itu memegang sebuah handuk kemudian menggulungkannya ke tubuh Fanya.


“Baju gantimu di ranjang, pakailah di kamar mandi.” Ujar Delvin pada Fanya yang sedang mengigil menahan dingin.


Fanya mengangguk kemudian berlalu ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Hanya beberapa menit Fanya sudah selesai mengganti pakaian basahnya. Saat dirinya keluar dari kamar mandi, penglihatannya tampak mengabur, kepalanyapun terasa pusing hingga ketika dia berjalan ke arah Delvin yang sedang duduk di tepi ranjang, tubuhnya ambruk  yang dengan segera di tangkap pria itu.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira