
Jika seseorang berhasil mengganggu pikiranmu, pertanyakan hatimu seberarti apa dia untukmu.
\~\~\~
“Apa yang terjadi?” Fanya terkejut mendapati Delvin yang tidur di sofa bersama dengan puntung rokok yang berserak di lantai. “Dia menghabiskan rokok sebanyak ini, apa dia tidak menyayangi tubuhnya? Atau memang seperti ini cara orang kaya menghamburkan uangnya?” Fanya berdumel sendiri melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Merasa risih dengan abu dan juga puntung rokok yang mengotori lantai, ia mengambil sapu dan juga sekop sampah untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Delvin. Perempuan itu sengaja tidak menggunakan vacuum cleaner agar debu tersebut mengenai Delvin.
Uhukk.. Uhukk..
Delvin terbatuk saat menghirup debu yang tersapu, berkali-kali dia mengerjapkan matanya untuk memulihkan kesadarannya.
“Kenapa kau tidak menggunakan vacuum cleaner atau setidaknya membangunkanku dan menyuruhku pindah? Apa kau sengaja biar aku menghirup debu-debu yang kau sapu itu?” Delvin terdengar menggerutu melihat Fanya yang sedang menyapu lantai ruang tamu.
“Aku memang sengaja, Tolong kau jangan berbicara,” tangan Fanya spontan menutup mulutnya. “Nafasmu sangat bau, kau terlalu banyak mengisap rokok. Aku sangat tidak suka bau rokok, pergi sikat gigimu.” Fanya memang sangat sensitif dengan bau rokok, menciumnya saja bisa membuat kepalanya pusing.
“Kau terlalu berlebihan.” Meski terdengar membantah Fanya, namun Delvin tetap mengindahkan perkataan perempuan itu, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan juga mulutnya.
Setelah selesai membersihkan lantai ruang tamu, Fanya beranjak ke meja makan untuk menyantap telur mata sapi yang menjadi menu sarapannya pagi ini.
Tampak Delvin keluar dari kamar dengan handuk yang bertengger di bahunya, ia juga berjalan ke meja makan untuk sarapan.
“Apa kau kenyang dengan sebutir telur itu?” Tanya Delvin sembari mengoles selai coklat ke atas roti tawar miliknya.
“Apa makan harus kenyang?” Fanya balik bertanya kepada Delvin.
“Jangan terlalu menghemat uangmu, sekali-kali kau perlu memberi reward untuk dirimu, seperti makan makanan yang bergizi, tidak melulu mie instan dan telur ceplok seperti itu.” Sudah beberapa hari ini Delvin menemui Fanya makan dengan menu yang itu-itu saja.
“Kau pikir telur ini tidak bergizi? Aku tidak menghemat uangku, tapi penghasilanku sanggupnya membeli makanan ini. Lagian, apa urusanmu mengatur apa yang ku makan?” Protes Fanya yang merasa tidak senang pada Delvin yang mengomentari makanannya.
“Terserah padamu, aku hanya khawatir dengan anak-anakmu nanti, kasihan mereka harus merawat ibunya yang penyakitan karena masa mudanya dihabiskan dengan makan telur dan mie instan.” Ucap Delvin sambil mengunyah roti berlapis coklat yang mengisi penuh mulutnya.
“Hah, bagaimana dengan dirimu yang semalaman sanggup menghabiskan puluhan batang rokok. Kau jauh lebih berpenyakitan, istrimu mungkin akan menjadi single parent karena kebiasaan burukmu itu.” Fanya membalas ucapan Delvin. Dia tidak terima dikatakan menjadi orangtua berpenyakitan yang akan menyusahkan anak-anaknya kelak.
“Kau mendoakanku mati? Kau tidak berniat cerai denganku tapi menginginkan aku mati? Maksudmu, kita berpisah dengan cara aku yang mati?” Hampir Delvin tersedak mendengar kalimat Fanya barusan, ia meraih gelas yang berisi air putih untuk memudahkannya menelan roti yang terasa lengket di tenggorokannya.
“Maksudku di pernikahan keduamu nanti, aku juga tidak mau kau mati saat masih berstatus suamiku. Aku tidak bisa berpura-pura menangis di depan mayatmu, aku tidak pandai bersandiwara, berakting sedih, marah atau apapun itu.” Fanya meluruskan perkataannya yang disalah artikan Delvin.
Delvin sejenak membisu atas penjelasan Fanya, mungkinkah ia akan menikah saat nanti bercerai dari perempuan itu? Dia tidak pernah berpikir akan menikah, memiliki istri apalagi mempunyai anak, bahkan ia berniat melajang seumur hidupnya. Dia tidak sanggup berkomitmen dalam sebuah hubungan, karena menurutnya kesetiaan adalah langka atau sesuatu yang mustahil dilakukan oleh seorang wanita.
“Untuk itu kita harus menjaga kesehatan agar tidah menyusahkan orang-orang yang menyayangi kita di masa depan,” ucap Delvin. Dia mengambil tissue yang berada di dalam sebuah box kecil di atas meja, ia mengambil beberapa lembar kertas tipis itu, kemudian mengusapnya ke sekitar bibirnya. “Aku hampir terlambat ke kantor, aku bersiap-siap dulu.” Lanjutnya sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
***
Delvin benar-benar tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya di kantor, dia masih memikirkan ucapan Fanya, bagaimana nanti kehidupannya setelah berpisah dengan perempuan itu?
Terdengar pintu kerja Delvin terbuka, menampilkan seorang perempuan dengan tinggi semampai berjalan ke arahnya.
“Delvin, apa kau sedang sibuk?” Tanya Rose sambil menarik kursi yang berada di hadapan Delvin kemudian mendudukan tubuhnya di atas benda itu. Rose merupakan satu-satunya perempuan yang berani keluar masuk ke dalam ruangan Delvin.
“Aku tidak terlalu sibuk, ada apa?” Delvin balik bertanya pada Rose.
“Aku ingin mengajakmu ke Montmartre, sudah lama kita tidak mengunjungi tempat itu.” Biasanya sekali dalam seminggu Delvin selalu mengajak Rose ke bukit yang berada di Kota Paris itu, namun sudah beberapa minggu ini Delvin tidak mengajaknya.
“Baiklah, tapi setelah jam makan siang nanti.” Ucap Delvin mengiyakan. Menurutnya pergi ke Montmartre bersama Rose adalah pilihan yang tepat untuk merilekskan pikirannya.
***
Setelah jam makan siang, Delvin dan Rose pergi ke Montmartre menggunakan mobil Delvin.
Suasana Montmartre siang ini sedikit sepi, pengunjung akan ramai saat pagi dan juga sore. Itulah sebabnya Delvin dan Rose sering berkunjung saat siang, mereka tidak harus berdesak-desakan dengan turis yang memilih Montmartre sebagai destinasi tempat mereka berwisata.
“Delvin, ayo kembali melukis diri kita,” Rose menarik pergelangan tangan Delvin, menuntun pria itu berjalan ke arah pelukis jalanan yang berjejer di alun-alun kaki bukit Montmartre. “Aku masih menyimpan lukisan wajah kita sewaktu kecil, biarkan aku menyimpan lukisan wajah kita setelah dewasa.” Ujar Rose bersemangat. Delvin hanya bisa mengikuti langkah Rose yang menariknya, diapun tidak keberatan dengan permintaan Rose.
“Delv, bukankah itu Fanya?” Rose tampak menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya, apakah benar sosok yang ia lihat sedang melukis seorang anak itu adalah Fanya.
“Sepertinya bukan.” Jawab Delvin, meskipun dia yakin bahwa perempuan yang di tunjuk Rose adalah Fanya.
“Tapi dia benar-benar mirip Fanya, aku ingin memastikannya, Delv.” Rose kembali menarik tangan Delvin, membawa pria itu mendekat pada seseorang yang terlihat mirip dengan Fanya.
“Fanya—“ Dugaan Rose benar bahwa pelukis jalanan yang tadi menarik perhatiannya memang Fanya.
“Rose, Delvin.” Fanya cukup terkejut dengan kehadiran mereka, sejenak ia memberhentikan lukisannya yang tinggal sedikit lagi.
“Ternyata kau seorang pelukis juga. Kebetulan sekali, aku dan Delvin sedang mencari pelukis untuk melukis wajah kami berdua. Bisakah kami menjadi pelangganmu selanjutnya?” Tanya Rose, dia merasa beruntung karena lagi-lagi bertemu secara tidak sengaja dengan Fanya, seolah-olah Semesta sedang mendukungnya untuk menunjukkan seberapa dekat dia dengan Delvin di hadapan perempuan yang menurutnya juga memiliki kedekatan pada Delvin.
“Tentu bisa Rose, tunggulah sebentar, aku menyelesaikan lukisanku dulu.” Fanya kembali bekerja, menyelesaikan lukisannya yang sempat tertunda.
Jika Rose merasa beruntung lain halnya dengan Delvin yang merasa sial bertemu dengan Fanya. Sebab niat awalnya datang ke Montmartre adalah untuk menenangkan pikiran bukan malah menambah beban pikirannya.
***
Jangan lupa berikan like, komen dan vote ya di setiap tulisan Author, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira