
Layaknya Pangeran yang membangunkan Putri Tidur, sebuah ciuman dapat memberikan keajaiban. Karena Kemustahilan biasanya terjadi dari hal-hal yang tidak terduga.
\~\~\~
“Aku ketinggalan pesawat karena kesiangan bangun.” Delvin sedikit melonggarkan pelukannya.
“Lalu, apa hubungannya denganku?” Jawaban Delvin sangat tak masuk akal menurut Fanya.
“Aku kesulitan tidur mengingat ciuman kita semalam.” Ujar Delvin tersenyum, menampilkan deretan gigi putih pria itu.
Semburat merah seketika muncul di pipi Fanya, membuat perempuan itu mencoba mengurai tautan tubuhnya dari Delvin, namun pria itu justru menahannya.
“Ka—kau terlalu berlebihan, semalam kau bahkan lebih dulu tidur dariku.” Fanya menolak untuk mempercayai perkataan Delvin. Dia menyembunyikan wajah di dada sang suami.
“Sebenarnya aku tidak tidur, aku masih merasakan dirimu melepas sepatuku dan juga menyelimutiku. Aku baru bisa tertidur sekitar pukul 04.00 dini hari.” Ujar Delvin penuh kesungguhan. Semalam dia tidaklah benar-benar tidur saat berbaring di sofa.
Ketika Fanya di kamar mandi, dia menghubungi Richard, meminta agar dia menggantikan sahabatnya itu ke Marseille. Sebelumnya, Delvin tidaklah berniat kesana, tujuan utamanya adalah untuk menghindari Fanya, sebab perbincangan perempuan itu dengan Jack entah mengapa mengusik pikirannya.
Dia tidak mau hubungan mereka yang tinggal seminggu meninggalkan perasaan lain kepada Fanya dan menjadi penghalang dirinya menceraikan perempuan itu.
Delvin pikir setelah membuat keputusan berangkat ke Marseille akan membuat pikirannya tenang, namun bayangan kala dia mencium Fanya mengganggu lelap pria itu.
“Hmm, anggaplah begitu, tapi kenapa kau tidak memberi kabar kalau ketinggalan pesawat? Kau membuat semua orang khawatir.” Tanya Fanya mengalihkan topik pembicaraan.
“Tunggu dulu, aku perlu memastikan. Kau percayakan aku kesulitan tidur karena ciuman semalam?” Tapi Delvin enggan untuk berganti topik.
“Kenapa kau membahas itu lagi?!” Fanya tak habis pikir pada Delvin yang begitu santai membahas ciuman mereka, sedangkan dia sangat malu.
“Supaya memperjelas, kalau ciuman kita menjadi penyelamat nyawaku. Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu karena memesan makanan berdiskon semalam, aku bersyukur atas hukuman yang kita lakukan." Jelas Delvin.
Rona merah di pipi Fanya kembali timbul, rasa malu dan senang bercampur aduk di hati perempuan itu. Malu karena lagi-lagi Delvin membahas ciuman mereka dan senang karena ciuman semalam membuat Delvin kesulitan tidur sehingga pria itu kesiangan bangun.
"Terimakasih juga sudah memikirkan ciuman semalam. Kalau tidak, aku tak akan pernah melihatmu lagi." Kalimat Fanya barusan terkesan dia juga turut mensyukuri ciuman mereka semalam, karena seingin berpisahnya dia dari Delvin, tidak sedikitpun Fanya mengharapkan kematian pria itu.
"Kau tidak bertanya, mengapa aku memikirkan ciuman kita?" Tanya Delvin yang sepertinya sangat senang membahasnya.
"Jelas karna kau menginginkannya dan juga menikmatinya." Sembur Fanya, dia merasa perbincangan mereka semakin lari dari pembahasan awal.
"Kau benar." Seru Delvin sambil terkekeh.
"Mesum!!" Pukulan mendarat di lengan Delvin oleh tangan kecil Fanya.
"Cepat katakan, kenapa kau tidak mengabari kami kalau kau ketinggalan pesawat?!" Tatapan tajam Fanya yang melotot menghentikan tawa Delvin.
"Saat aku hendak keluar dari bandara, seseorang merampas tas yang berisi dompet dan ponsel milikku, makanya aku tidak bisa langsung mengabari kalian. Aku segera melapor ke pihak keamanan bandara dan syukurnya perampok itu berhasil diamankan, namun butuh waktu sekitar 1 jam. Tadi aku sudah berkali-kali menghubungi nomormu, tapi tidak ada jawaban, begitupun dengan nomor Richard. Hanya Dad Diego dan Kak David yang mengangkat panggilan dariku." Ujar Delvin.
Sebenarnya dia tidak terlalu peduli kehilangan dompet, yang membuat dia panik adalah ponselnya juga ikut melayang. Saat itu suasana bandara mulai riuh mengenai berita pesawat yang harusnya ia tumpangi hilang kontak, dia tahu keluarganya termasuk Fanya pasti sangat mengkhawatirkan dirinya, namun Delvin kesulitan menghubungi mereka, selain karena dia kehilangan ponsel, dia juga tidak mengingat salah satu nomor orang-orang terdekatnya itu. Jika Delvin tahu, pasti dia langsung akan meminjam ponsel orang lain untuk memberi kabar pada mereka kalau dia tidak jadi berangkat ke Marseille.
***
Di tempat lain, Richard yang tidak berhasil menemukan Fanya malah bertemu dengan Diego, David dan Rose di Kafe yang tadi Delvin sempat datangi.
"Paman, kak Dave, Rose." Sapa Richard dengan nafas yang sedikit memburu, dia cukup lelah mencari Fanya.
"A-aku tadi melihat Delvin, aku sedang mencarinya, kuharap aku tidak salah lihat." Ujar Richard beralasan, dia menahan diri untuk tidak memberitahu kalau sebenarnya dia sudah bertemu dengan Delvin dan kini sedang mencari Fanya. Selain karena Rose berada di antara mereka, alasan lainnya adalah Digeo sendiri, lelaki itu pasti akan sangat marah mengetahui menantunya menghilang.
"Kau tidak salah lihat nak, Delvin tidak jadi menaiki pesawat itu." Diego menjelaskan mengapa Delvin tidak jadi berangkat ke Marseille dan alasan tidak segera menghubungi mereka untuk memberi kabar, tentu yang dijelaskan Diego karena putranya kesiangan bangun dan seseorang mengambil dompet dan ponsel pria itu. Diego tidak menjelaskan penyebab putra keduanya itu kesiangan bangun, sebab Delvin tidak memberi tahu mereka. (Biarlah itu menjadi rahasia Delvin, Fanya dan juga para readers sekalian)
"Benarkah begitu, Oh Tuhan aku sangat bersyukur. Kupikir aku salah lihat." Richard pura-pura terkejut mendengar penjelasan Diego, sekalian dalam hati bersyukur sahabatnya itu kesiangan bangun.
"Lalu, dimana Delvin sekarang Paman?" Tanya Richard bersandiwara.
"Katanya dia ke toilet, tapi sedari tadi belum kembali juga. Bisakah kau menghubungi dia?" Pinta Diego.
"Baik Paman, sebentar aku menghubunginya." Richard mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Maniknya sedikit membulat melihat duapuluh panggilan tak terjawab dari Delvin.
"Ternyata saat aku ke bandara dia sudah menghubungiku berkali-kali." Batin Richard, mode silent yang terpasang di ponsel pria itu membuat dia tak mendengar panggilan Delvin.
Richard sengaja membisukan dering dari ponselnya, agar bisa fokus mengendarai mobil saat perjalanan menuju bandara tadi, dia khawatir karyawan di kantor atau orang lain menghubungi nomornya sehingga mengganggu konsentrasinya yang sedang mengendarai mobil dengan laju di atas rata-rata.
Tidak menunggu lama, suara Delvin dari seberang menyahuti panggilan telepon Richard.
"Aku sudah bersama Fanya." Delvin seolah bisa menebak tujuan Richard menghubunginya.
"Delvin, apa benar ini kau? Aku-aku sangat mengkhawatirkanmu, kupikir aku akan kehilangan sahabatku satu-satunya." Ujar Richard dengan suara yang dibuat-buat sedih.
"Hei, apa kau gila? Tadi kita sudah bertemu." Delvin dibuat bingung dengan pertanyaan Richard, ditambah lagi dengan nada suara pria itu yang terdengar menggelikan.
"Ya, aku sedang di Kafe bandara bersama Paman, Kak David dan Rose. Cepatlah kembali dari toilet, aku sudah sangat ingin melihatmu." Jawaban Richard membuat Delvin mengerti maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Berikan alasan yang masuk akal pada Daddyku, aku akan pulang bersama Fanya. Dan bawalah Rose ikut ke mobilmu, segera antarkan dia pulang." Ujar Delvin memerintah sekenanya.
"Kau mau enaknya saja. Tapi baiklah, karena aku sedang bahagia atas keselamatanmu, aku akan menurutimu." Batin Richard menggerutu.
"Kau mendengarku?" Tanya Delvin, sebab Richard tak kunjung merespon perkataannya tadi.
*"Apa? Kau diare? Hah, kotoranmu bahkan mengenai celana da**lammu?! Astaga Delvin, pasti sangat sakit dan sudah tidak tertahan lagi. Baiklah, baiklah.. Kami akan pulang lebih dulu." Jawab Richard sambil terkekeh di dalam hati.
"Sialan!!" Seru Delvin mengumpat sahabatnya itu, tapi Richard sudah lebih dulu memutus sambungan teleponnya.
Richard beralih kepada tiga orang yang menatapnya aneh.
"Delvin masih di dalam toilet Paman, dia diare parah dan meminta kita pulang lebih dulu." Jelas Richard beralasan.
"Tapi bagaimana dia pulang kalau celananya kotor?" Tanya Rose yang tadi dengan jelas mendengar perbincangan Richard dan Delvin, meski ia tak tahu apa yang diucapkan Delvin.
"Yang kotor celana da*lamnya Rose, dia bisa pulang tanpa itu." Jawab Richard asal.
***
Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira