My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Mengigau



Kadang kita perlu menelaah kata ‘benci’ yang kita ungkapkan pada seseorang. Benarkah itu suatu kebencian karena memang benar-benar benci, atau suatu kebencian karena enggan mengakui jika kamu sebenarnya sedang jatuh hati pada orang yang awalnya tidak kau sukai.


\~\~\~


“Delvin!!” Fanya mencoba melepas cengkraman Delvin dari pergelangan tangannya.


Delvin menghiraukan Fanya yang berusaha melepas genggamannya, dia menarik pergelangan tangan perempuan itu hingga membuat tubuh Fanya sedikit terseret.


“Delvin!!” Lagi-lagi Fanya meneriaki nama ‘Delvin’ kemudian menginjak kaki suami dan juga bosnya itu sekuat tenaga.


“Ka—u.” Delvin meringis. Dia melepas cengkramannya dari tangan Fanya, kini tangannya sibuk menyentuh kakinya yang terasa sakit.


Fanya berlari menghindari Delvin, namun sial tangan pria itu berhasil menarik kerah belakang kemejanya.


“Pulang, tinggalkan pekerjaanmu.” Delvin setengah berbisik ke telinga Fanya.


“Biarkan aku membersihkan lantai dua dulu.” Fanya sedang meminta persetujuan Delvin dengan raut yang tampak memelas.


“Pulang atau kau tidak akan pernah lagi bekerja disini.” Ucap Delvin dengan tegas. Fanya yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena ancaman Delvin hanya bisa menuruti perkataan pria itu.


“Sebentar aku ke loker mengambil tasku.” Fanya berlalu, sekilas ia menatap Kiara yang tampak terpaku menatap ke arah mereka.


Beberapa karyawan yang ada disana memang sedang memperhatikan mereka, termasuk Kiara yang bingung harus melakukan apa. Delvin adalah bos mereka ditambah sekelabat pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya membuat dia sejenak tak berkutik.


Semalam Fanya menangis di rumahku, apa benar dia menangis karena merindukan orangtuanya? Lalu, siapa yang menjemput dia semalam, apa jangan-jangan Delvin? Mobil itu benar-benar mirip dengan punya Delvin. Sekarang Delvin menarik tangan Fanya, apa hubungan mereka? Apa Fanya menyembunyikan sesuatu dariku. Batin Kiara.


Selesai mengambil tasnya, Fanya menghampiri Kiara yang masih tetap berada di posisinya yang tadi.


“Aku pulang Kiara, aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi tidak untuk malam ini.” Fanya tahu Kiara pasti bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan Delvin untuk itulah dia berjanji akan menjelaskannya pada Kiara.


“Hati-hati di jalan, aku menunggu penjelasan darimu.” Kiara mengusap bahu Fanya, dia tahu ada hal serius yang terjadi antara sahabatnya dengan bosnya itu.


Fanya mengangguk kemudian pamit kepada Kiara dan juga beberapa karyawan yang ada disana.


***


“Berhenti bekerja di Coffee Shop itu.” Fanya yang baru saja memasang seat belt di tubuhnya tampak membeliakkan matanya karena terkejut dengan kalimat Delvin yang baru saja di tangkap oleh indra pendengarannya.


“Kauu!! Bukankah tadi kau katakan akan membiarkanku bekerja asal ikut pulang bersamamu.” Fanya yang merasa dibohongi Delvin meninggikan nada bicaranya.


“Aku tidak mengatakan seperti itu, yang kukatakan jika kau tak mau pulang maka kau tidak akan pernah lagi bekerja di Coffee Shop milikku. Hari ini aku memecatmu, namun kalau kita sudah bercerai, terserahmu mau bekerja disana atau tidak, aku tidak akan mengurusinya.” Ucap Delvin dengan entengnya.


“Hah, apa kekasihmu yang menyuruhmu untuk memecatku?! Apa dia sebegitu cemburunya melihat kau membawaku ke minibar sampai harus mengurusi kehidupanku?!” Fanya tak kunjung merendahkan nada bicaranya, malah dia semakin menaikkan volume suaranya. Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun.


“Aku yang membuat keputusan sendiri tanpa pengaruh dari siapapun.” Tadinya Delvin ingin meluruskan bahwa Rose bukan kekasihnya, namun ia urungkan dan membiarkan Fanya larut dengan kesalahpahamannya sendiri.


“Sama seperti kau yang tidak ingin Jack mengetahui pernikahan kita, aku juga tidak mau orang terdekatku mengetahui hubungan kita.” Jawaban Delvin berhasil mengundang air mata yang sebenarnya tidak diizinkan Fanya jatuh di pipinya.


Delvin tidak mengetahui jika Fanya menangis, sedari tadi pandangannya menatap lurus ke depan. Tidak sedikitpun dia menoleh ke arah Fanya.


“Aku membenci pernikahan ini, aku sa—ngat membencinya.” Ucap Fanya lirih. Kali ini Fanya memilih diam untuk menetralkan emosinya yang sempat membuncah bersamaan dengan matanya yang terpejam.


Awalnya Fanya memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya, namun mungkin karena lelah secara fisik pun juga batin membuatnya tertidur untuk beberapa saat.


“Fanya, bangunlah,” Delvin berkali-kali menggunjang lengan perempuan itu. “Hei bangun, kita sudah sampai.” Ulangnya lagi.


Fanya menggeliatkan tubuhnya, Delvin pikir perempuan itu akan bangun namun beberapa detik kemudian kembali tertidur.


“Kau selalu menyusahkanku.” Delvin tidak punya pilihan, ia mengangkat tubuh Fanya ke dalam gendongannya.


Setibanya di kamar, dengan hati-hati Delvin membaringkan Fanya di atas ranjang berukuran King size miliknya.


“Kau terlalu banyak makan mie instan, tubuhmu terlihat kurus namun penuh lemak di bagian perut. Kau sangat berat.” Delvin berguman sendiri bersama Fanya yang sedang tidur.


Dia berniat meninggalkan Fanya untuk tidur di ruang tamu, namun dia menangkap suara Fanya yang sedang mengigaukan dirinya.


Kau sangat kejam Delvin. Sejenak Fanya memukul selimut yang menutup tubuhnya.


Kupikir kau pria yang baik, tapi ternyata kau sangat kejam. Kali ini Fanya menangis hingga sesenggukan.


Bukankah kau juga akan menceraikanku? Harusnya kau bisa sedikit baik padaku. Atau, apa aku terlihat seperti bukan manusia sehingga kau sangat sering menyakitiku? Aku membencimu Delvin, aku membencimu. Air mata Fanya kini merembes ke bantal yang di tidurinya.


“Aku juga membencimu Fanya, sangat membencimu,” jemari Delvin meremas kuat telapak tangannya, bahkan kuku tangannya tampak memutih. “Mari selamanya membenci, sampai kita mati, sampai kau hilang dari kehidupanku, teruslah membenciku.” Tangisan Fanya terasa mengusik hati Delvin, ia tak suka perempuan itu menangis namun ia pun tak mau melihat perempuan itu bahagia selama menjadi istrinya.


Delvin menutup pintu kamar dengan kasar, ia tak peduli jika suara daun pintu tersebut akan membangunkan Fanya. Syukurnya tidur Fanya kembali pulas setelah ia berhenti mengigau, bahkan sangat pulas, membuat perempuan itu tidak merasa terganggu dengan kegaduhan yang dibuat Delvin.


Kepulan asap rokok memenuhi ruang tamu, Delvin menghabiskan malamnya bersama puluhan puntung rokok yang berserak di meja dan juga lantai. Asbak berukuran kecil yang terletak di atas meja tidak sanggup menampung puntung rokok milik pria itu.


Dia bingung atas apa yang dirasakannya sekarang, pikirannya tiba-tiba kacau memikirkan hubungannya bersama Fanya.


“Kenapa dia selalu mengganggu isi kepalaku.” Gumam Delvin sambil mengisap dalam-dalam batang rokok yang bertaut di antara jari telunjuk dan tengahnya itu.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira