
ia melihat tidak ada siapapun jadi ia melanjutkan makannya
"aku pinjam toilet onni" kata Soo rae pada pelayan
"silahkan saya antar" kata pelayan
Soo rae pergi ke toilet jadi bisa dipastikan diruangan rumah makan itu hanya ada Hwajun, karna Hwajun dan Soo rae pelanggan yang datang satu satunya karna rumah makan sepi
tapi tak lama Soo rae pergi, Hwajun melihat ke sisi sampingnya ada Soo rae, tapi Hwajun yakin betul itu bukan Soo rae jadi ia tidak mengajak sama sekali mengobrol
tak lama Soo rae datang dari toilet dan sosok tadi disamping Hwajun menghilang
selesai makan, jalan, belanja beberapa pakaian, baru pulang kerumah masing masing..
esoknya.. kali ini Hwajun sangat yakin jika akan membawa sepeda untuk pergi ke sekolahnya
"berangkat naik sepeda sayang?" tanya Dongchun
"iya pa"
"apa lagi ada kepentingan mendadak?"
"tidak pa, aku pikir ini kan hanya melihat hasil nilai, baru pulang jadi sebentar, jadi pakai sepeda saja"
yaa, Dongchun tau anaknya paling senang sekolah dengan jalan kaki, jika naik sepeda berarti akan ada kepentingan mendesaknya
okeh bangun pagi, berangkat sekolah, sampai sekolah, masuk kelas, duduk menunggu jam masuk, absensi guru, pelajaran, istirahat, pelajaran dan pulang.. masih sama kan?
tapi saat Hwajun pulang sekolah, dimana ia ingat tanggal itu adalah tanggal ulang tahunnya (10011997), jadi ia terburu buru pulang karna akan mempersiapkan acara ulang tahun bersama keluarganya dan teman dekatnya nanti malam.
ia mengambil sepeda diparkiran, Soo rae menyapanya
"kamu pergi naik sepeda? biasanya jalan?" tanya Soo rae
"iya, lagi ingin saja" jawab Hwajun
"kupikir kenapa, kok tumben? ada masalah ya?" jawab Soo rae
"tidak"
"ahh"
"aku duluan" kata Hwajun
Soo rae adalah teman paling dekat dengan Hwajun, Soo rae merasa heran karna selama sekolah ia tidak pernah melihat Hwajun membawa sepeda nya ke sekolah.
Soo rae tau jika Hwajun ada sepeda, tapi ia tau jika Hwajun memakai sepeda itu untuk urusan diluar urusan sekolah.
setelah bicara dengan Soo rae, Hwajun mengayuh sepeda nya dan keluar dari gerbang sekolah
tapi saat melewati gerbang, salah satu temannya lagi (dari kelas lain) menyapanya
"Hwa, hati hati ya dijalan" sapa Myung Hee
"ahh, yaa, gamawo" jawab Hwajun dengan bingung
Myung hee adalah teman sekolah juga dengan Hwajun tapi berbeda kelas dengan Hwajun dan juga Soo rae
saat mengayuh sepeda, Hwajun merasa ban sepeda nya semakin di kayuh semakin berat, ia berpikir ban nya kehabisan angin.
jadi ia turun melihat ke arah ban depan belakang nya tapi ia melihat tidak ada yang kekurangan angin, jadi ia mencoba dorong sedikit dan sepeda nya kembali ringan, tidak berat sama sekali.
"ini kenapa sih, apa rantainya?" gerutu Hwajun
ia kembali mengayuh sepedanya tapi disetengah ia jalan dari sekolah akan ke rumahnya dan sepeda nya sudah tidak berat lagi jadi ia jalan dengan lancar mengayuh nya, ia kembali memikirkan tentang Myung hee, temannya yang tadi menyapanya.
semua satu sekolah, sudah paham dengan kebiasaan Myung hee yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, bahkan ia selalu menjadi orang pertama yang dimintai tolong jika ada hubungan dengan "makluk tak kasat mata"
Hwajun berpikir sejenak, tentang tadi yang tiba tiba Myung hee menyapa nya dan mengatakan itu kepadanya, sementara sebelumnya bahkan Hwajun tidak pernah menyapa atau mengobrol dengan Myung hee
Myung hee tipe anak yang pendiam, jadi selama sekolah Hwajun tidak pernah mendengar Myung hee mengucapkan kata panjang seperti tadi, selalu menjawab satu atau dua patah kata saja.
bisa dipastikan jika ucapannya Myung hee panjang itu berarti isyarat untuk orang yang dimaksud oleh Myung hee harus menurutinya, benar benar berhati hati.
seketika, saat sedang memikirkan itu, Hwajun tertabrak mobil yang mengendarai sangat kencang membuat Hwajun pingsan ditempat dan yang salah adalah Hwajun
karna Hwajun tidak sadar jika laju sepeda nya semakin jalan semakin ke tengah, Hwajun di larikan kerumah sakit dengan bantuan warga sekitar, juga si penabrak tadi.
"astaaagggaa" teriak beberapa orang
"aduh saya tidak bisa kendalikan mobil, saya lihat dia memang jalan semakin ke tengah" jawab penabraknya
"pak, anda harus bertanggung jawab" kata beberapa orang
"iya pak saya bertanggung jawab semuanya" jawab penabraknya
sesampainya dirumah sakit, Hwajun ditangani dokter, banyak dokter merasa aneh sejak awal warga membawa Hwajun di rumah sakit karna tidak ada bekas darah, atau luka sama sekali tapi dokter tetap waspada untuk memeriksa tau tau didalam, organnya yang terkena benturan.
"gimana pak? anak saya baik baik saja kan pak?" tanya Ju Nee
"tenang bu, kami sudah berusaha terbaik, kami akan bantu" kata dokter
"pak, bantu anak saya sungguh ya pak, saya mohon" ucap Ju nee
"iyaa bu. tenangkan pikiran anda ya"
"maa.. jangan gini, jangan panik, kan ada appa" jawab Dongchun
"gimana gak panik sih pa, anak kita kecelakaan loh, taruhanny nyawa dia"
"iya ma, appa tau, tapi kalau kamu sibuk juga bingung, siapa yang tenang, appa juga bingung ma, ayolah"
mereka berpelukan disana saling menenangkan juga berdoa dan memohon agar anaknya baik baik saja
beberapa hari berlalu, Hwajun tidak juga bangun, keluarganya berdatangan melihat Hwajun juga bergantian menunggu Hwajun, begitupun teman teman sekelas Hwajun yang datang menjenguk Hwajun dirumah sakit termasuk Soo rae dan Myung hee
"kenapa kamu datang bawa sepeda Hwa, kamu kan selalu jalan, kalau kamu capek atau sedang tidak fit, kamu selalu bilang sama aku untuk ikut dan berboncengan dengan motor ku" kata Soo rae
"oh memang dia pergi sekolah terakhir membawa sepeda?" tanya teman Soo rae
"iya, dia bawa sepeda" kata Soo rae bersaksi
selang sehari, Myunghee juga datang bersama beberapa teman nya dari kelas nya juga
"kan aku sudah bilang hati hati" kata Myunghee
"apa yang kamu katakan padanya?" tanya teman Myunghee
"aku hanya mengatakan untuk dia hati hati waktu pulang itu" jawab Myunghee
"memang kenapa harus hati hati? apa kamu akan tau jika dia akan kecelakaan?"
"ya" jawab Myunghee dengan singkat
"apa tandanya?"
"ada sosok perempuan berbaju putih lusuh dengan berceceran darah di kain bagian dada sedang duduk di belakang Hwa" jawab Myunghee
seketika semua teman Myunghee kaget mendengar itu, karna mereka semua tau bagaimana jika Myunghee sudah mengatakan sebuah hal memang itu yang terjadi sebenarnya dialami