
Hari ini adalah hari dimana Sherin harus mengantarkan Berly dan Nathan. Anak dari sahabatnya yang ternyata tinggal di sebelah unit apartemennya. Awalnya memang begitu enggan untuk mengantar anak-anak itu ke sekolah, tapi setelah beberapa kali menghabiskan waktu bersama sepasang bocah yang memiliki karakter sama itu, ternyata cukup menyenangkan juga. Apalagi melihat Berly malu-malu dan Nathan yang terlihat sama dengan ekspresi Berly. Kadang Sherin hanya bisa mendengus iri tapi juga terkikik lucu melihat mereka.
" Baiklah anak-anak, siang nanti kalian akan dijemput oleh Ibu asuh ya? jangan berpisah apapun yang terjadi, jangan mau ikut pergi kalau bukan Ibu asuh kalian ya? kalian mengerti? "
" Kami mengerti. " Nathan dan Berly berucap bersamaan.
Sherin tersenyum lalu mengusap pipi kedua bocah itu bersamaan.
" Bagus. "
" Sherin? " Panggil kevin yang sedari tadi memang sudah duduk didalam mobil untuk menunggu kedatangan salah satu bocah yang tengah bersama dengan Sherin.
" Dokter Kevin? kenapa anda disini juga? apa anak anda sekolah disini juga? " Tanya Sherin yang memang tidak tahu pasti status Dokter mesum yang begitu dingin di rumah sakit, tapi begitu senang menggodanya saat bertemu dengannya.
Kevin tersenyum sembari berjalan mendekati Sherin yang masih berdiri dengan dahi yang mengeryit bingung.
" Aku memang berencana menyekolahkan anak kita nanti disini. " Ucap Kevin santai lalu tersenyum kepada dua bocah yang kompak menatapnya dengan tatapan aneh. Sementara Sherin, gadis itu terperangah lalu mulai mencebik kesal ke arah manusia mesum yang semakin lama semakin tidak tahu diri dan tidak tahu malu itu.
" Hai? siapa nama kalian? " Tanya Kevin ramah.
" Perkenalkan, nama paman, Kevin. Paman adalah pacar kakak Sherin yang cantik ini. "
Sherin melongo sesaat lalu mulai menarik nafas dan menghembuskan perlahan agar tetap menjaga kesopan santunan terhadap Dokter terbaik dirumah sakitnya bekerja.
" Than-than, Paman ini adalah pacarnya kakak. Apa menurutmu aku harus bahagia berkenalan dengan dia? " Tanya Berly yang sepertinya tidak terlalu tertarik dengan Kevin yang sedari tadi menatapnya dengan wajah yang ramah.
" Tersenyum dan ayo kita pergi. " Jawab Nathan. Berly menghela nafasnya bersamaan dengan Nathan, tersenyum ke arah Kevin sesat lalu kembali ke ekspresi malas, setelah itu mereka berjalan memasuki sekolah tanpa menoleh ke belakang lagi.
Kevin sebenarnya sangat kesal dengan dua bocah yang kurang ajar itu. Tapi mau bagaimana lagi? ada dua misi yang ingin dia selesaikan saat ini. Misi pertama adalah melangkah maju agar Sherin dan dia sedikit lebih dekat, misi kedua adalah untuk membuktikan bahwa bocah laki-laki itu adalah anak dari sahabatnya.
" Sherin, kita berangkat bersama saja ya? " Ajak Kevin setelah dua anak menyebalkan tadi tak terlihat lagi.
" Maaf, Dokter Kevin. Aku lebih suka,- "
" Ayo. " Belum selesai Sherin mengatakan maksudnya, Kevin sudah lebih dulu meraih tangan Sherin dan memaksanya untuk masuk kedalam mobilnya.
" Tunggu! Dokter Kevin, jangan begini. "
" Ayo masuk. Atau aku akan mencium mu disini. "
Sherin menelan ludahnya sendiri. Mengingat kata mencium, otaknya kembali mengingat Kevin yang sedang berciuman dengan kekasihnya di kafe waktu itu.
Ah gila! jangan sampai aku juga jadi korban ke mesumannya. Apalagi saat berciuman, lidah mereka beradu seperti itu. Ih...! ngeri dan jorok!
" Sherin, sampai jam berapa jam kerjamu hari ini? " Tanya Kevin sembari melajukan kendaraanya.
" Kurang tahu, Dokter Kevin. " Benar-benar memuakkan harus berpura-pura sopan seperti ini. Jika saja dia lebih senior, dia pasti akan menendang jauh yang namanya Dokter mesum tidak tahu diri itu.
Sherin melirik kesal tapi keharusan untuk sopan kepada senior, membuat nya harus menahan diri dan tidak terpancing emosi.
" Sepertinya ada banyak hal yang harus ku kerjakan, Dokter Kevin. "
Kevin tersenyum tapi tak menatap Sherin. Sejujurnya dia mulai menyadari ketertarikannya dengan Sherin. Tapi dia masih tidak menyangka kalau tidak akan mudah mendekati Sherin.
Sherin, aku tidak pernah memiliki perasaan seperti ini sebelumnya. Aku bahkan dengan senang hati membuang banyak waktu hanya untuk lebih dekat dengan mu. Sekarang kau bisa menolak ku. Tapi nanti, kau tidak akan bisa menolak ku lagi. Mungkin caraku sedikit kasar dan memaksa, tapi yakinlah kalau kita itu berjodoh. Jadi jangan coba-coba lari dariku.
Sherin yang merasa tiba-tiba merinding, mengusap tengkuknya beberapa kali agar tak lagi berdiri buku bulu kuduknya.
Sialan! kenapa sih aku terus menerus merinding? orang ini benar-benar angker ya? kenapa berada disampingnya membuat bulu kudukku berdiri terus seperti ini.
Dug!
" Ah! " Pekik Sherin karena mobil Kevin tak sengaja menabrak lubang jalanan yang lumayan dalam.
" Maaf. " Kevin menepikan mobil lalu mendekati Sherin dengan posisi wajah yang begitu dekat meski dia tidak berhadapan langsung.
" Apa yang ingin anda lakukan, Dokter Kevin?! " Protes Sherin yang tentu saja merasa kaget dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan ujung hidungnya nyaris saja bersentuhan dengan pipi Kevin.
Kevin tak menjawab dan hanya fokus dengan kegiatannya, yaitu memasang sabuk pengaman untuk Sherin. Tadinya memang masih ingin memprotes Kevin, tapi karena melihat apa yang dilakukan Kevin, dia lebih memilih untuk diam dan tidak bergerak sama sekali.
Sialan! jantungku kenapa berdebar kencang tidak jelas sih?!
Kevin juga merasakan hal yang sama. Debaran jantung yang begitu menderu, mata yang tidak bisa beralih pandang saat manik mata mereka bertemu. Ditambah jarak yang begitu dekat membuatnya sulit untuk menjauh.
Sialan aku ingin sekali menciumnya.
Berbanding terbalik dengan Kevin, Sherin justru ingin sekali menjuhkan tubuh Kevin darinya. Tapi kalau dia mendorong jauh, takutnya itu tidak sopan. Jadilah Sherin hanya diam sembari berjaga-jaga agar Kevin tidak melakukan pelecehan kepadanya.
" Maaf. " Ucap Kevin sembari menjauhkan tubuhnya. Jujur saja, beberapa detik yang lalu dia hampir saja tidak bisa menahan diri. Tapi jika dia mencium Sherin saat itu, sudah bisa dipastikan Sherin akan semakin menjaga jarak darinya.
Baiklah, sabar Kevin. Akan ada hari dimana kau bisa mencium Sherin sepuas mu. Sekarang harus berusaha tanpa mengenal lelah terlebih dulu.
Kevin mulai melajukan kembali mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya disana, Sherin dan Kevin keluar dari mobil bersamaan.
" Terimakasih, Dokter Kevin. " Sherin berniat langsung pergi tanpa mendengar jawaban Kevin. Tapi sayang, niatan itu harus terjeda sesaat karena Kevin menahan langkah Sherin dengan menghalangi langkah kakinya.
" Bukankah seharusnya kita masuk bersama? " Kevin tersenyum manis yang justru membuat Sherin semakin ketakutan. Kenapa? karena banyak lara tenaga medis yang ada diparkiran tengah menatap mereka dengan tatapan yang penuh kecurigaan juga kecemburuan.
Sialan! berhentilah tersenyum seperti itu, dasar brengsek!
TBC