
Sherin kini terdiam memandangi wajah Kevin yang terlihat begitu aneh. Sungguh dia tahu dan juga bisa merasakan jika jantungnya dan jant.ng Kevin berdegup sangat cepat. Manik mata mereka yang intens bertemu juga membuat mereka terkunci dari semua pergerakan. Lama dan semakin lama, Kevin kembali mendekatkan bibirnya untuk mencium Sherin. Sempat Sherin menutup mata seolah menginginkan dan mencoba untuk menikmatinya juga. Tapi sepertinya, hati nurani sebagai sesama wanita menyadarkan nya dari kegilaan ini. Dengan tenaga yang ia miliki, Sherin mendorong kuat tubuh Kevin agar menjauh dari nya. Dia yang beberapa detik lalu begitu terpesona oleh seorang Kevin, entah mengapa dia justru terlihat kesal dan jijik sekarang. Bayangan-bayangan saat Kevin dan Renata berciuman di depan umum juga tidak bisa ia lupakan begitu saja. Apalagi, wanita itu sampai datang kepadanya dan meminta agar menjauhi Kevin.
" Dokter Kevin, apakah di mata anda saya begitu gampangan? " Tanya Sherin kesal. Kesal sekali hingga matanya merah dan berair.
Kevin mengusap wajahnya. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa begitu kehilangan kendali.
" Aku tidak berpikir begitu. Maafkan aku, Sherin. " Ucap Kevin dengan perasaan bersalah. Dia juga mengatur nafasnya yang menderu agar bisa mengontrol dirinya dengan benar.
Sherin yang tak sanggup lagi menahan air matanya, akhirnya membiarkan saja cairan bening itu jatuh membasahi pipi tirusnya. Perasaan semakin bersalah juga nampak jelas di wajah Kevin. Entah bagaimana menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini, dan bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan maaf dari Sherin setelah kejadian hari ini.
" Dokter Kevin, sedari saya kecil, saya tidak pernah hidup bahagia seperti yang saya inginkan. Saya harus jatuh berkali-kali sampai berdarah-darah untuk sampai di titik ini. Saya bukan orang yang lahir dengan kasih sayang serta harta melimpah seperti anda. Mungkin anda tidak akan paham, tapi cara anda memperlakukan saya sudah sangat keterlaluan. "
" Sherin, maafkan aku. Aku tahu, kata maaf tidak lah cukup, tapi aku benar-benar ingin meminta maaf. "
" Untuk yang mana? apa anda tahu seberapa banyak kesalahan yang anda lakukan terhadap saya? "
Kevin terdiam. Bukanya tidak paham, dia hanya mengingat kejadian hari ini saja yang dia anggap sebagai sebuah kesalahan. Kalau yang lain, dia rasa dia tidak pernah membuat kesalahan.
Tunggu! apa dia tahu kalau aku yang mengusir semua pria-pria menyebalkan yang berniat mendekatinya? hah! pasti itu.
" Sherin, mengenai pria-pria yang ingin mendekati mu dan aku usir itu, aku tahu aku salah. Tapi aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi. "
Sherin semakin terperangah mendengar pernyataan Kevin yang tanpa dia sadari, dia tengah menggali lubang kuburnya sendiri.
Melihat ekspresi Sherin, Kevin jadi tahu kalau bukan itu masalahnya. Sejenak dia nampak berpikir kembali, dan akhirnya dia kembali menebak apa yang di maksud Sherin.
" Apa kau marah karena aku sebagai pindah kesini agar bisa lebih dekat dengan mu? "
Sherin kini mengepalkan tangannya erat. Lagi, dia harus mendengar pernyataan Kevin yang luar biasa mendidihkan darahnya. Sadar jika jawabannya salah, Kevin kembali berpikir lalu memberikan hipotesanya lagi.
" Apa kau marah karena aku mengatakan kepada semua orang, kalau kau adalah kekasih ku? "
Sungguh sangat keterlaluan! Sherin sesaat menundukkan kepala agar rasa sakit di tengkuknya sedikit menghilang. Dia kembali mengangkat wajahnya saat dirasa sudah baik-baik saja. Tatapannya berubah menjadi sangat marah menatap kevin.
" Jadi sebenarnya, ada berapa banyak lagi hal gila yang sudah anda lakukan?! "
Kevin menelan ludahnya sendiri. Bodoh! dia tanpa sadar sedari tadi telah mengakui banyak kesalahan yang sebenarnya Sherin tidak pernah tahu. Kevin memundurkan langkahnya, dia mencoba tersenyum meski itu sangat sulit sekali. Pandangannya juga sulit fokus karena merasa canggung saat tak sengaja melihat tatapan marah Sherin kepadanya.
Semakin lama, Sherin sudah semakin tak sabar. Melihat kebungkaman Kevin yang sepertinya akan berlangsung lebih lama dari perkiraan nya.
" Dengar, Dokter Kevin. Selain dari kesalahan yang anda sebutkan tadi, anda telah melakukan banyak kesalahan kepadaku. Pertama, gara-gara anda, semua pegawai medis menjauhi ku dan selaku menatap ku sinis. Kedua, anda telah membuat ku dipandang orang sebagai perusak hubungan antara anda dan kekasih anda. Ke tiga, anda telah membuat kekasih anda meninggalkan saya di tempat yang menyeramkan itu. " Sherin menjeda ucapannya sesaat karena mulai lagi merasa kesal.
" Dokter Kevin, tolong jangan lagi mendekati saya apapun itu alasannya. Tolong jangan menyakiti perasaan kekasih anda hanya karena penasaran dengan saya. Saya bukan apa-apa dan tidak memiliki apapun yang bisa di sebut menarik. Jadi tolong, mulai dari hari ini menjauhlah dari saya. Terutama di rumah sakit. "
" Kalau aku merindukan mu bagaimana? "
Sherin terperangah kesal mendengar ucapan Kevin. Sungguh dia ingin sekali rasanya menjahit mulut sialan itu. Sudah panjang lebar seperti kereta api, Kevin jutsru tidak menganggap satu pun ucapannya.
" Dokter Kevin, tolong jangan bercanda! "
Sherin semakin mengepalkan kedua tangannya karena sulit menahan rasa geramnya.
" Tidak boleh! panggilan suara atau apapun tidak boleh! "
" Baiklah, aku akan menemui di apartemen saja. "
Lagi-lagi, Sherin malah semakin di buat kesal oleh tingkah gila Kevin.
" Tidak boleh! " Tegas Sherin.
Bukanya takut, Kevin justru semakin menginginkan Sherin. Tidak tahu apa alasannya, tali keinginannya untuk menikah dengan Sherin tiba-tiba menjadi lebih menggebu-gebu dari sebelumnya.
" Sherin, " Panggil Kevin seraya melangkahkan kaki agar kembali dekat dengan Sherin.
" Kau bisa saja menghindari ku. Tapi ingatlah ini, aku akan membuat takdir memihak ku dan membuat mu menemukan mu di manapun kau pergi. " Kevin tersenyum di akhir kalimat.
" Anda lupa ya? anda bukan Tuhan. "
" Aku memang bukan Tuhan dari segala kehidupan, tapi aku adalah Tuhan di hatimu. " Kevin kembali tersenyum manis.
Sialan! selain tampan, dia manis sekali.
" Jangan mimpi ya? aku tidak akan tergoda oleh anda. " Sherin memutuskan untuk melangkahkan kaki pergi meninggalkan apartemen sialan milik Kevin.
" Sherin, kau tidak boleh meremehkan kemampuan ku. Aku tidak pernah begitu menginginkan wanita sebelum bertemu dengan mu. Kau pikir, aku akan menyerah hanya karena ancaman mu? tidak! entah itu kau sebut obsesi atau apapun, aku tetaplah Kevin yang tidak akan mengalah apapun yang terjadi. " Gumam Kevin.
Sesaat dia tersenyum membayangkan wajah Sherin. Tapi dering ponsel membuat fokusnya buyar. Kevin mengambil ponsel yang ia letakkan di meja dan menerima panggilan masuk.
" Ada apa? baiklah, aku berangkat makam ini juga. " Sambungan telepon terputus.
Kevin menghela nafas kasarnya.
" Sherin, sepertinya keinginan mu akan terwujud. Kita benar-benar tidak bisa bertemu sampai beberapa hari. "
Kevin berjalan menuju kamarnya dan mempersiapkan apa saja yang ia butuhkan. Tidak banyak, hanya satu tas gendong yang ia bawa. Kevin juga sudah selesai memakai pakaian nya. Dering ponsel dan banyak nya pesan yang masuk ke ponsel ha membuat Kevin harus segera berangkat. Setelah keluar dari apartemennya, Kevin menoleh ke arah unit Sherin. Dia tersenyum lalu memutuskan untuk menemui Sherin sebentar.
" Buka pintunya, hanya sebentar. " Ucap Kevin setelah melakukan panggilan suara kepada Sherin.
Awalnya sungguh malas Sherin menggubris pria itu, tapi saat Kevin bilang sebentar, dia memutuskan untuk menemuinya. Siapa tahu ada yang penting. Batin Sherin.
" Ada apa? " Tanya Sherin saat membuka pintu dan mendapati Kevin berdiri di sana. Cukup kaget memang melihat penampilan Kevin yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dia nampak asing dengan pakaian serba hitam dan topi serta tas ransel hitamnya.
Tak menjawab, Kevin justru mendekat ke arah Sherin dan mencium bibirnya sesaat.
" Sampai jumpa. "
TBC