Marry Me, Please

Marry Me, Please
Cemburu atau tidak?



Setelah melalukan beberapa pemeriksaan, akhirnya pasien yang di spesial kan karena wajah cantik, serta latar belakangnya yang tidak biasa, mulai mendengarkan beberapa saran dari Dokter yang tak lain adalah Kevin.


" Saran saya untuk menghindari segala aktifitas fisik anda sampai keadaan lutut anda membaik. Usahakan untuk mengompres lutut anda dengan air dingin selama dua luluh menit setiap sehari sekali. Dan jangan lupa, pasang perban di bagian lutut agar tidak mengalami guncangan. " Setelah mengatakan itu, Kevin menyerahkan selembar kertas bertuliskan resep untuk ditebus gadis yang ada di hadapannya itu.


" Dokter, bagaimana kalau lutut saya tidak sembuh dalam waktu dekat? saya harus menghadiri sebuah acara balet, tidak mungkin saya batalkan karena saya harus menjadi juri bagi mereka. " Gadis itu menatap Kevin sedikit manja dan menggoda, sungguh sayang sekali. Kalau saja cara menggoda seperti itu dilakukan pada saat Kevin berusia dua puluhan, pasti langsung saja disikat sampai tuntas olehnya. Tapi untungnya sekarang sudah ada istri, dan lagi dia juga sudah puas bermain wanita sebelum menikah dengan Sherin.


" Maka penuhi saja saran dari saya, Nona. Jangan lupa juga untuk meminum obat yang sesuai dengan resep yang saya berikan. Saya yakin, dengan anda melakukan itu, anda tidak perlu khawatir tentang kegiatan anda tadi. " Kevin menatap wanita itu dengan tatapan datar. Sungguh dia tidak bisa bersikap hangat seperti saat dia melayani pasien lainya.


" Tapi, bolehkah saya sering datang untuk mengecek keadaan lutut saya? "


" Tentu saja boleh, Nona. Dokter spesialis tulang akan menangani anda jauh lebih baik dari pada saya. " Tadinya gadis itu tersenyum saat Kevin mengatakan hal yang pertama, tapi saat mulai membahas tentang Dokter spesialis tulang yang berarti orang lain, mimik wajahnya berubah jadi malas dengan seketika.


" Tidak bisakah anda saja yang menangani saya? " Gadis itu menatap Kevin dengan tatapan memohon. Sebenarnya Kevin sangat tidak bisa menghadapi tatapan polos layaknya anak kecil yang manis manja seperti ini, tapi kalau dia mengambil tugas seorang Dokter khusus tulang, bagaimana dengan pekerjaannya yang lebih fokus dengan penyakit organ dalam.


" Nona, maafkan saya. Saya menangani anda hari ini karena permintaan dari anda secara khusus. Tapi, tentang tulang saya tidak telalu paham. Tolong percayakan saja dengan Dokter tulang terbaik dirumah sakit ini. "


Gadis itu nampak tak senang dengan jawaban dari Kevin. Sungguh dia amat jatuh cinta dengan wajah Kevin dan pribadinya yang sulit untuk ditebak, tahu memang jika Kevin baru saja beberapa hari menikah secara diam-diam. Tapi, restu yang ia kantongi bersamaan dengan latar belakangnya yang mendukung, dia merasa jika dialah orang yang lebih pantas untuk menjadi istri dari kevin.


" Baiklah, tapi bolehkah aku meminta nomor telepon Dokter Kevin? aku ingin mentraktir karena sudah membantuku. "


Kevin mendesah dengan bibir yang tersenyum karena merasa lelah juga menolak.


" Tolonglah, Dokter Kevin. Aku janji hanya akan mentraktir saja. Kalau Dokter Kevin sangat sibuk, bagaimana kalau kita makan di kantin rumah sakit? aku dengar, kantin rumah sakit ini makanannya enak. Aku juga belum makan dari pagi, mau ya Dokter Kevin? "


Tadinya Kevin ingin menolak, tapi karena di ingat kalau Sherin akan makan siang di kantin, maka dia jadi ingin melihat bagiamana wajah Sherin saat merasa cemburu.


" Baiklah, kita makan di kantin rumah sakit saja. Tapi, kau tolong gunakan kursi roda saja ya? "


" Iya. " Dengan semangat gadis itu mengangguk.


" Oh, iya Dokter Kevin, kenalkan, namaku Pricilia. Dokter boleh panggil aku Rici, seperti kedua orang tuaku memanggilku. " Kevin tersenyum dan mengangguk.


Seharian bekerja memang sungguh melelahkan. Tapi untungnya, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang ia cintai, jadi meskipun lelah masih saja bisa membuatnya bahagia. Sherin melihat jam tangannya yang sebentar lagi menunjukkan jam makan siang. Dia mendesah sebal karena tubuhnya beberapa hari ini benar-benar bekerja keras karena Kevin tentunya. Sejenak dia melirik ke arah ponselnya berharap si manusia menyebalkan yang tak lain adalah suaminya menghubungi, atau bahkan mengirim pesan untuk makan siang bersama. Tapi sepertinya dia sedang sibuk karena banyak pasien.


" Dokter Sherin, aku baru saja dari toilet, aku dengar beberapa perawat bergosip, ternyata Dokter Kevin kedatangan satu pasien wanita yang sangat cantik, dia juga anak dari salah satu rekan bisnis Ayahnya Tuan Kevin. Setelah ditelurusi, ternyata wanita itu adalah anak dari pengusaha sukses. " Asisten sekaligus perawat yang selalu membantu Sherin itu dengan semangat menceritakan apa yang dia dengar. Tapi Sherin, dia amat kesal meski bibir nya tersenyum, serta kepalanya mengangguk mengiyakan saja apa yang di ucapkan oleh asistennya itu.


" Biarkan saja dia, lagi pula tugasnya adalah seorang Dokter. Sudah pasti dia harus menangani pasiennya sebagai mana mestinya. " Sherin kembali tersenyum laku bangkit dari duduknya.


" Tapi, wanita itu mengalami pergeseran tulang. Dokter Kevin kan spesialis penyakit dalam. "


Sherin yang tadinya ingin melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan, terpaksa sudah mengentikan langkahnya untuk kembali menatap asistennya.


" Kevin juga memiliki kemampuan itu. " Ucap Sherin lalu kembali melangkahkan kakinya untuk keluar. Tadinya, asisten itu berpikir kalau Sherin tidak cemburu karena masih bisa tersenyum seperti biasa, tapi saat Sherin menutup pintu dengan kuat, disitulah si asisten merasa menyesal sudah menceritakan apa yang dia dengar dari penggosip di kamar mandi.


" Do Dokter Sherin cemburu ya? " Tanya Asisten itu setengah bergumam dengan wajah yang ngeri.


Sesampainya di kantin, Sherin memesan makanan seperti yang biasa ia makan. Ikan bakar, dan sayur-sayuran kesukaannya. sebenarnya dia sesaat tak sengaja melihat ke arah Kevin dan si gadis yang diceritakan oleh asistennya itu. Tapi biarkanlah saja apa yang ingin dilakukan oleh si brengsek yang setiap malam menyiksanya di atas tempat tidur itu sambil bergumam mengancam di dalam hati.


Sialan! kau baru saja menerima pasien yang bermasalah dengan tulang kan? maka baguslah, karena setelah ini, tulang mu yang akan aku patahkan.


Dengan mimik wajah yang biasa saja, Sherin duduk jauh dari Kevin dan Rici. Sembari memainkan ponselnya, Sherin terus menyuapkan makanan tanpa menghiraukan Kevin yang sedari tadi sibuk meliriknya dengan tatapan sebal.


" Ck! " Kevin berdecak dan terlihat sangat malas untuk memakan makanannya. Entahlah, mungkin karena dia sudah terbiasa makan bersama dengan Sherin, atau mungkin karena dia sebal saat melihat Sherin seperti tak terpengaruh dengan apa yang dia lakukan. Lagi, dia mencuri pandang ke arah Sherin yang dengan lahapnya memakan menu makan siang yang biasa saja itu.


" Dokter Kevin, kenapa tidak dimakan? "


" Aku tidak berselera. " Jawab Kevin yang lagi-lagi menatap ke arah istrinya. Kali ini Rici bisa melihat dengan jelas apa yang membuat Kevin terlihat sebal dan malas untuk makan.


Hanya wanita seperti itu, sangat tidak cocok untuk mu.


TBC