
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Tuan Hanung dan keluarga nya, sekarang tinggal mengurus Ibu mertuanya yang menghilang tanpa kabar setelah kejadian di hotel itu. Mengenai Orang tua Rici, Kevin sudah meminta sahabatnya Nath untuk membantu memberi peringatan keras. Tapi sebelum menemui Ibunya Sherin, Kevin kembali dulu untuk menemui Sherin dan memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja.
" Sayangku? " Kevin mengeryit bingung karena heran melihat Sherin yang sudah berpakaian dengan rapih.
" Kau sudah kembali? " Sherin menoleh sesaat lalu fokus merapihkan rambutnya lagi.
" Kau mau pergi? " Tanya Kevin. Dia yang sudah merindukan istrinya kini duduk disamping Sherin. Dia mengecup bibir indah sang istri singkat, lalu mengusap kepalanya lembut.
" Iya, aku ingin menemui Ibu. Aku sudah tidak bisa menunda lagi, aku benar-benar ingin tahu alasannya, kenapa dia melakukan ini padaku. "
Kevin menatap bagaimana kecewanya Sherin saat membicarakan Ibunya. Mungkin, dia bisa berpura-pura kuat dan memilih tidak menangis, tapi walau bagaimanapun, dia adalah seorang anak yang ingin disayangi, dicintai, dan dijaga oleh Ibunya. Tapi yang dia dapatkan malah penghianatan, dan juga sebuah kejelasan bahwa dia sama sekali tidak memiliki arti bagi Ibu kandungnya sendiri. Dengan sadar, Ibunya menyerahkan putrinya yang sudah menikah untuk tidur dengan laki-laki lain. Mungkinkah ada yang bisa melebihi kekejaman ini?
Sherin menghela nafasnya. Dia menatap Kevin yang juga menatapnya sedari tadi.
" Temani aku menemui Ibuku ya? "
Kevin tersenyum lalu mengangguk. Demi Tuhan, dia bisa melihat bagaimana raut wajah Sherin yang begitu tidak bisa berbohong bahwa dia terluka. Kevin meraih tubuh Sherin lalu memeluknya erat.
" Sayangku, apapun yang kau inginkan, tentu saja aku akan berusaha mengabulkannya. Jangan takut menghadapi apapun, aku ada bersamamu. "
" Terimakasih. " Untuk pertama kali, Sherin membalas pelukan dari Kevin. Tentulah Kevin juga merasa bahagia. Setidaknya, musibah ini bisa membuat hati Sherin luluh olehnya. Heh! sepertinya dia harus lebih giat mengucapkan kata-kata manis agar istrinya bisa lebih mencintainya lagi.
Setelah beberapa saat, Kevin dan Sherin kini sudah mulai menempuh perjalanan untuk menuju ke kediaman Ibunya Sherin. Lumayan memakan waktu, karena dua jam perjalanan harus mereka lalui. Tidak ada obrolan yang serius, Kevin sengaja mengajak bicara Sherin tentang hal-hal yang menyenangkan agar dia tidak terlalu memikirkan masalah Ibunya. Benar saja, Sherin yang tadinya tegang, perlahan mulai rileks karena obrolan Kevin yang justru menceritakan Bagaiamana ekspresi Sherin yang malu-malu saat pertama kali mereka berciuman. Sekarang, mereka sudah berada di rumah yang lumayan besar. Iya, itu adalah rumah yang ditinggali oleh Ibunya Sherin dan juga suaminya.
" Sayangku, kau siap? " Tanya Kevin setelah memastikan Sherin sudah tak lagi menarik nafas dalam-dalam untuk membuang perasaan marah juga gugup yang jelas terlihat.
" Aku siap. Sekarang aku siap. " Sherin meraih jemari Kevin lalu membuat jemari mereka saling mengait. Sungguh Sherin sangat sulit menahan diri. Kevin mengecup kening Sherin lalu tersenyum menatapnya.
" Tidak apa-apa, ada aku. "
Sherin tersenyum lalu mengangguk. Iya, tentu saja dia merasa baik-baik saja saat Kevin bersamanya. Heh! apalagi dia adalah mafia ganteng yang keren seperti di kebanyakan novel dan juga komik kan? mana mungkin dia tidak merasa aman. Tapi masalahnya, yang membuat Sherin takut adalah alasan yamg akan dikatakan oleh Ibunya nanti. Dia takut, takut jika dia sama sekali tidak memiliki arti bagi Ibunya. Takut, jika dia adalah anak yang dilahirkan tanpa keinginan menganggapnya anak.
Setelah itu, Kevin menekan bel pintu sebagai tanda kehadiran mereka. Memang mereka sudah bertemu dengan penjaga gerbang, tapi sepertinya Ibunya Sherin sengaja tidak membuka pintu. Oh, apa boleh itu diartikan jika dia merasa takut?. Karena tak juga dibukakan pintu, Kevin meraih ponselnya, lalu mengirim pesan suara kepada Ibunya Sherin.
Ibu mertua, buka pintunya! aku tahu kalian ada di dalam, jika tidak ingin merasakan apa yang dirasakan oleh anak dari rekan suaminya Ibu mertua, aku tidak keberatan melakukannya.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam jaketnya, pintu itu langsung terbuka, bahkan sebelum hitungan ketiga. Nampak Ibu nya Sherin ketakutan, dan juga gelisah saat membuka pintu.
" Yo? Ibu mertua lama sekali membuka kan pintu? apa tidak kasihan kepada kami berdua? "
Ibu nya Sherin menelan salivanya . Mata ya g biasanya begitu tegas dan galak saat menatap Sherin, kini tertunduk lesu tak berani terangkat walau hanya sedikit.
" Si silahkan. " Jawab Ibunya Sherin gugup.
Setelah dipersilahkan masuk, Sherin dan Kevin masuk kedalam, semenatara Ibunya Sherin meminta suaminya untuk menemani menghadapi Sherin dan juga Kevin.
" Kebetulan sekali saya belum pernah menyapa Ayah mertua tiri. Apa kabar, Tuan Heru? " Kevin tersenyum miring menatap Ibu mertua dan juga suaminya yang masih saja terlihat gugup ketakutan.
" A apa kabar? " Tanya Tuan Heru. Iya, ketakutan nya juga bukan tanpa alasan, setelah kembalinya anak dari rekannya yang saat itu hendak dijodohkan dengan Sherin, rekannya menghubungi Tuan Heru dan melampiaskan kekesalannya.
" Buruk, buruk sekali hingga tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. " Kevin kini menatap Sherin yang terus menatap Ibunya seolah ingin sekali bertanya, tapi dia juga takut dengan jawaban yang akan dia dengar nantinya.
" Sepertinya, sayangku ingin berbicara. Jadi dengarkan baik-baik, dan jawab sejujurnya " Ibu nya Sherin dan juga suaminya mengangguk serempak.
" Kenapa? kenapa Ibu menjebak ku? " Sherin bertanya tanpa ekspresi di wajahnya, tapi tangannya sangat dingin dan gemetar. Maka Kevin membawa tangan Sherin yang ia genggam masuk kedalam saku jaketnya.
Ibunya Sherin tertunduk. Sebenarnya dia paham jika tindakannya sangat tidak manusiawi. Tapi mau bagaimana lagi? saat itu dia juga tidak memiliki pilihan selain mengorbankan Sherin sebagai bayaran untuk kebahagiannya. Tapi sayang, bukanya kebahagiaan, yang ia dapatkan justru kekecewaan yang jauh lebih dalam, rasa sakit yang sangat dalam hingga dia sendiri merasa malu hidup di dunia ini.
" Sherin, maaf. "
Sherin mengepalkan kedua tangannya.
" Jangan meminta maaf. Aku datang kesini karena ingin tahu, kenapa Ibu melakukan itu? "
" Semua ini karena keadaan perusahaan yang sangat terpuruk. Ada seorang pengusaha datang menawarkan suntikan dana yang cukup besar kepada kami, dan juga rekan kami. Tapi kami harus membuatmu dan juga Kevin berpisah. "
Sherin tertawa kecil sembari menahan tangis yang seolah sudah sangat kesakitan.
" Ibu, " Sherin menenangkan dirinya, lalu mengusap air matanya.
" Ibu, Ibu pikir Ibu siapa? baik, aku tahu Ibu adalah wanita yang sudah melahirkanku. Tapi Ibu sama sekali tidak memberiku cinta, Ibu tidak memberiku hak sebagai seorang anak. Bagaimana bisa Ibu menjual ku seolah aku adalah milik Ibu. " Sherin menjeda ucapannya seraya menatap Ibunya penuh kekecewaan.
" Jika saja suamiku tidak datang tepat waktu, mungkin aku tidak akan pernah berbicara dengan Ibu. Karena dari pada dilecehkan seperti itu, aku akan memilih untuk mati, Ibu. "
Ibu nya Sherin terisak karena tidak tahan lagi mendengar ucapan Sherin yang tentu saja menyentil hatinya.
Untung saja, untung saja suami mafia ku ini selain tampan sangat cepat tanggap dan bersikap. Heh! sialan! sekarang aku benar-benar mengidolakan suamiku sendiri.
TBC