
" Jadi, kau meninggalkan ku untuk bersama wanita ini? " Renata mengepalkan tangannya kuat. Tatapannya yang jelas memperlihatkan kekecewaan itu begitu nyata tergambar.
" Iya. " Jawab Kevin terus terang. Jahat memang, tapi mau bagaimana lagi? dia sendiri sudah memberi tahu dari awal kalau dia tidak berniat menikahi Renata. Tapi keras kepalanya Renata, dia justru tidak perduli asalkan bisa bersama dengan Kevin lama kelamaan pasti minat untuk menikah akan terbesit dihatinya. Memang terjadi, tapi sayangnya wanita itu bukanlah dirinya.
Renata menatap Kevin dan Sherin bergantian. Jelas sekali tatapan itu begitu marah juga terkesan sangat merasakan sakit yang teramat sangat. Sherin yang pernah mengatakan kepada Renata tentu saja merasa tidak nyaman dan merasa bersalah. Walau bagaimana pun, saat itu dia benar-benar dengan tegas mengatakan, bahwa dia sama sekali tidak memiliki hubungan yang spesial dengan Kevin. Hah!lihat lah sekarang! bahkan di sudah menjadi istri dari pria yang dulu dengan tegas dia katakan, tidak!
" Kevin, apa sebenarnya yamg kurang dariku? aku melakukan semua yang kau inginkan. Tidak banyak menuntut waktu, tidak banyak mengeluh, tidak juga memintamu untuk segera menikahi ku meski kita sudah mengumumkan hubungan kita. Tapi yang kau lakukan, " Renata tersenyum miris dan pilu. Sungguh dia tidak habis pikir dengan cara berpikir Kevin yang sampai sekarang tidak bisa dia mengerti.
" Kau melakukan segala cara untuk mengejarnya, kau memberikan semua waktu mu hanya untuk menemuinya, kau menyempatkan diri di akhir pekan yang biasanya kau gunakan untuk meracik obat tradisional hanya untuk mengikuti kemana dia pergi. Kenapa kau tidak melakukan hal seperti itu untukku? kenapa kau membuat ku seperti orang bodoh yang dengan gilanya mengangguk saat kau mengatakan sesuatu. Kenapa kau membuat ku memperjuangkan mu dengan begitu menggila? " Renata menuntut jawaban dari kevin melalui tatapan matanya. Tentu saja Kevin tahu apa yang dia lakukan salah, tapi dia juga tidak berniat melakukan itu, dan itu bukanlah alasan untuk membela diri.
Kevin menatap Renata dengan tatapan yang tidak bisa Renata artikan.
" Karena kau tidak bisa membuat ku berusaha mengejar mu. " Satu kalimat ini benar-benar membuat Renata tersadar seketika. Iya, mungkin inilah alasannya Kevin meninggalkannya begitu saja, tapi alasan ini tentu hanyalah sepersekian saja dari alasan sesungguhnya kan?
" Apa maksud dari ucapan mu? " Tanya Renata untuk memastikan bahwa apa yang ia duga tidak lah benar.
Kevin menghela nafasnya. Sebenarnya sangat tidak nyaman membicarakan tentang masa lalu di hadapan istrinya, tapi walau bagaimanapun dia juga tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut. Apalagi saat ini banyak sekali mata yang terus menatap ke arah nya.
" Kau selalu begitu tidak sabaran dan selalu saja melarang ku melakukan sesuatu untuk mu. Seperti beberapa saat setelah kita sepakat untuk menjalin hubungan, saat aku ingin membawamu kesebuah tempat yang menurut ku indah. Tapi kau justru menolak dan menarik ku untuk masuk ke apartemen. Setiap kali aku ingin berusaha berjuang, kau selalu saja lebih cepat bergerak dan melakukan segalanya seolah-olah aku tidak bisa melindungi mu dan menjalankan tugas ku sebagai priamu. Aku juga sudah mengatakannya kan? aku juga sudah menyarankan untuk mengakhiri hubungan tidak sehat itu dari awal. Tapi kau, kau selalu saja menolak dan berkali-kali membujuk untuk tidak berpisah dan terus berusaha untuk melanjutkan hubungan yang aneh itu. "
" Hubungan aneh? " Renata menitihkan air matanya yang benar-benar tak tertahankan.
" Berhentilah untuk mengasihani dirimu sendiri, Rien. Aku tidak lah sebodoh yang kau pikirkan. Kau begitu ingin terus bersama ku, tapi kau juga tidak bisa berhenti berhubungan dengan pria yang selalu datang ke apartemen mu kan? "
Renata menatap bola mata Kevin. Benar, dia juga memiliki sebuah kesalahan yang membuatnya terjebak di dalam sana. Tapi, dia juga tidak rela kala harus berpisah dengan Kevin. Tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada Kevin, tapi dia juga tidak ingin semua itu terjadi.
" Kau, "
Kevin tersenyum menatap Renata yang terlihat Kaget saat dengan jelas Kevin mengisyaratkan bahwa dia tahu semua apa yang dilakukan Renata dibelakangnya.
" Rien, benar pada awalnya aku tidak memiliki keinginan untuk menikah ataupun berhubungan dengan serius. Tali semuanya berubah saat aku bertemu Sherin. Aku lupa kalau dulu aku memiliki prinsip, aku lupa apa dan bagaimana diriku dulu. Semua itu karena istriku ini. Dafi dia kau tahu bagaimana berjuang, mencintai hingga memikirkan bagaimana untuk memiliki dan dicintai, sungguh aku juga tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Jika kau ingin marah, marah saja padaku. Tapi ada satu hal penting yang tidak boleh kau lupa, wanita yang saat ini ku genggam tangannya dan menjadi istriku, dia juga tidak memiliki pilihan selain menikah denganku, karena hanya itu caraku untuk bisa terus bersamanya dan membuatnya jatuh cinta padaku. Sekali lagi, maaf dan terimakasih untuk dua tahun hubungan kita. " Kevin membawa pergi Sherin yang sedari tadi memilih untuk diam tanpa melakukan pergerakan apapun.
" Maar untuk yang terjadi barusan. " Ucap Kevin saat mereka sudah berada di dalam mobil. Matanya sungguh lekat menatap bola mata Sherin hang menatap datar.
" Aku, aku hanya merasa bersalah dengan wanita mu itu. " Jawab Sherin apa adanya karena memang itulah yang dia rasakan saat ini.
Kevin menghela nafas nya lalu mendekatkan dirinya dan mengecup singkat bibir Sherin.
" Jangan sembarangan bicara, wanita ku tentu saja kau. "
Sherin memalingkan wajah karena merasa tidak nyaman dengan jarak yang begitu dekat dengan Kevin.
" Sudahlah, aku tidak mau bicara lagi. Kita pulang saja. " Ajak Sherin yang masih memalingkan wajahnya.
" Baiklah, istriku. " Kevin mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya.
" Oh iya, sayangku. Besok apartemen kita agan dijadikan satu. Pekerja juga akan dagang mulai besok pagi. Jadi nanti setelah kita pulang dari rumah sakit, kita menginap di hotel dulu ya? "
Benar, Sherin sampai lupa kalau apartemen Kevin ada di sebelahnya karena beberapa hari terakhir pikirannya sama sekali tidak bisa fokus.
" Baiklah. "
Sesampainya di apartemen, Sherin dan Kevin terkejut dengan adanya seorang pria paruh baya yang berdiri di depan pintu apartemen Kevin. Tentu Kevin bisa dengan sanagat tahu siapa pria itu, sementara Sherin, wanita cantik itu hanya bisa kebingungan sembari menatap Kevin yang justru tajam menatap pria paruh baya itu.
" Kevin? " Sapa pria itu yang gak lain adalah Ayah kandung Kevin yang sudah beberapa tahun tidak ia lihat wajahnya secara langsung.
" Untuk apa anda datang kesini? " Tatapan Kevin semakin menajam saat matanya bisa dengan jelas melihat bagaimana pria paruh baya itu tersenyum.
" Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan. "
Sherin terperangah tidak percaya.
" Ayah? "
TBC