
Setelah seharian ini menenangkan Sherin, dan dia juga sudah meminta tolong kepada salah satu sahabat dekat Sherin agar menemaninya selama Kevin tidak berada disamping Sherin. Karena sekarang tibalah waktunya bagi Kevin untuk menyelesaikan masalah yang cukup membuat istrinya frustasi. Sebenarnya dia sudah memiliki dugaan setelah merangkai beberapa kejadian yang jika diurutkan akan menjadi sebuah rencana jahat yang luar biasa. Tentu tujuan utamanya adalah untuk menemui pria brengsek yang berani-berani nya memiliki niat kurang ajar terhadap istrinya.
Disebuah gudang bekas penyimpanan barang ekspor impor, disana lah pria itu kini di tahan oleh beberapa orang yang berada di bawah pimpinan Kevin. Tangan yang merentang karena didekat pada masing-masing pergelangan dengan posisi berdiri, kedua kakinya juga terbuka lebar karena di rantai. Wajahnya yang banyak mengalami luka, hampir saja Kevin tidak mengenali pria itu.
Dengan langkah kaki yang lebar nan gagah, Kevin berjalan mendekat menebarkan hawa dingin yang menekan suhu ruangan, tatapan yang begitu marah seolah mengisyaratkan jika siapapun yang berurusan dengan dirinya tidak akan mudah untuk lepaskan begitu saja. Hah! tidak mati juga adalah sebuah berkah.
Kevin menatap pria itu dengan tatapan yang masih saja dingin dan tajam.
" Bagaimana? sakit? "
Pria itu terdiam karena memang dia tidak berdaya. Sakit menjalar ke seluruh bagian tubuhnya benar-benar membuatnya tidak memiliki kekuatan walau hanya untuk berkata iya, ataupun tidak.
Kevin memajukan langkahnya semakin mendekat dengan pria itu.
" Siapa yang menyuruhmu melakukan itu? "
" A a aku, tidak tahu. Ayahku, dia yang memintaku melakukanya. " Ucap pria itu sekuat tenaga. Iya, di paham benar jika dia diam saja, yang ada dia pasti akan mati lebih cepat.
" Ayahmu? benar-benar cocok sekali. Kalian benar-benar segerombolan sampah. " Kevin kembali menatap pria itu.
" Siapa yang melucuti pakaian istriku? " Tanya Kevin, lalu mengeraskan rahang setelahnya. Iya, jauh didalam lubuk hatinya, dia juga sangat kesal kalau sampai tubuh istrinya dilihat oleh pria lain.
" Kenapa kau diam? jawab! "
Tubuh pria itu menjadi gemetar hebat. Pandangannya juga semakin menunduk karena takut.
" Jawab! "
" Sa saya. Saya yang mengganti pakaiannya. "
Bugh! Bugh!
Kevin memukul dua kali wajah pria itu hingga dua giginya jatuh ke lantai. Tentu pria itu merintih kesakitan setelah beberapa kali memekik lara saat Kevin mengayunkan kepalan tangannya ke wajah yang memang sudah bonyok.
" Ampun! ampun, Tuan! ampuni saya, saya hanya menjalankan titah saja. "
Kevin sebenarnya ingin sekali membunuh pria itu, tapi hari nuraninya teguh menolak untuknya menghilangkan nyawa.
" Katakan, apa saja yang kau tahu padaku. "
" Baik! "
" Aku sempat tidak sengaja mendengar percakapan Ayahku dan Ayah tirinya Sherin, mereka bilang bahwa ada seorang pembisnis hebat yang bersedia memberikan suntikan dana yang lumayan besar. Pagi harinya, Ayahku memintaku pergi bersama Ibunya Sherin dan memberikan instruksi tentang apa yang harus aku lakukan setelah sampai disana. "
" Siapa orang itu? " Tanya Kevin.
" Sungguh aku tidak tahu, aku bersumpah, aku benar-benar tidak tahu. "
Melihat bagaimana pria itu menjawab, Kevin menyadari jika pria itu memang mengatakan apa yang sebenarnya. Sebenarnya bukan hal sulit untuk mencari tahu, tapi dia hanya menginginkan sedikit saja petunjuk untuk memperkuat dugaannya. Ternyata, sungguh masuk akal dengan apa yang mereka pikirkan.
" Pulangkan dia kerumahnya. Jika mereka memberontak, berikan bukti visum lalu bersiap melaporkan brengsek ini, beserta bedebah sinting yang lainya. " Titah Kevin lalu meninggalkan gudang itu agar bisa secepatnya menyelesaikan masalah ini.
Tiga jam menempuh perjalanan, akhirnya Kevin sampai dirumah yang dulu ia tinggalkan lima belas tahun lalu. Rumah yang memberinya banyak luka, rumah yang selalu membuatnya meraka seperti sampah tak berguna.
Dengan langkah kaki jenjangnya, cukup cepat Kevin sampai ke pintu utama setelah menerobos paksa pintu gerbang.
" Cih! " Kevin mencibir dengan senyum dingin nya. Rupanya yang dicari malah terlihat begitu santai duduk bersama diruang keluarga dengan istri dan anaknya.
" Kau sangat menikmati hidupmu rupanya. " Ujar Kevin saat dia sudah berada di ruang tamu.
" Kenapa datang dengan cara berandalan seperti ini? kau seharunya menyapaku dengan hormat kan? " Tuan Hanung menyesap tehnya perlahan lalu kembali menatap Kevin. Istri, dan juga putranya hanya bisa menatap tak suka kepada Kevin.
" Menyapa? apakah perlu menyapa orang yang akan segera ku tendang keluar dari rumah ini? " Kevin menyeringai setelahnya.
" Omong kosong apa kau ini?! " Saudara tiri Kevin bangkit dengan tatapan kesal, begitu juga dengan Ibunya.
" Omong kosong? lima belas tahun, aku sudah memberikan kalian kesempatan untuk menikmati semua uang yang Ibuku tinggalkan. Jangan mengira aku diam saja selama ini karena tidak perduli. Awalnya aku ingin membiarkan saja asalkan kalian tidak mengganggu hidupku, tapi kalian benar-benar tidak tahu malu. "
Tuan Hanung yang sedari sudah menahan emosi, akhirnya roboh sudah pertahanannya. Dia menatap marah putra yang selama ini tidak pernah sejalan dengan cara berpikirnya.
" Kevin, tutup mulutmu! Ibumu sudah memberikan rumah ini dan hartanya kepadaku. Kau tidak akan bisa melakukan apapun, apalagi mengusir kami. "
Kevin tersenyum mengejek.
" Oh ya? apakah Ibuku pernah memberi mu surat kuasa atas rumah dan hartanya? "
" Iya! "
Kevin mendesah lalu mengambil selembar surat dari dalam jaket yang ia kenakan.
" Lihat ini baik-baik. Tiga bulam sebelum Ibu meninggal, Ibu sudah mengalihkan semua hartanya atas namaku secara diam-diam. Saat itu hanya ada aku, dan juga sekretaris Haris dan pengacara Luis. Kami semua sengaja tidak memberitahu mu, karena tahu kalau kau pasti akan melakukan segala cara untuk merebutnya dariku. "
" Tidak! ini tidak mungkin! " Tuan Hanung menggeleng tak percaya melihat lembaran kertas ditangan Kevin.
" Tenang saja, kami membuat rekaman videonya juga. " Kevin meraih ponselnya, lalu menunjukkan sebuah rekaman Video proses penyerahan dan tanda tangan pengalihan kepada Kevin saat itu.
" Tyan Hanung, kau membuat surat palsu dengan banyak campur tangan para pejabat penting. Kau juga menggadaikan surat rumah palsu kepada Bank. Kalau aku rinci segala perbuatan mu, kau akan mendapatkan pasal berlapis. Penganiayaan terhadap ku dan juga Ibuku, pemalsuan dokumen, dan "
" Cukup! " Saudara tiri Kevin melotot tajam. Iya, tentu dia marah karena kenyataan yang jauh dari harapannya. Padahal, Ayahnya sudah berjanji akan segera menjadikannya sebagai pewaris satu-satunya, tapi yang terjadi justru Ayahnya sama sekali tidak memiliki harta.
" Kau siapa? kenapa begitu berani membentak ku? kau tahu, aku sangat benci dibentak? " Kevin menatap tajam saudara tirinya.
" Kenapa? kau pikir aku takut? bahkan, kau hanyalah anak yang lahir karena terpaksa. Ayahku, sama sekali tidak punya pilihan, dia menikahi mu karena tuntutan keluarganya. Padahal, Ayahku dan Ibuku sudah menikah terlebih dulu. "
Tak tahan lagi, Kevin akhirnya mengeluarkan senjata api yang sedari tadi tersimpan di balik jaket tebal hitam nya.
" Tutup mulut sialan mu! atau aku akan memisahkan jiwa dari ragamu! "
Awalnya dia memang takut, begitu juga dengan Tuan Hanung dan juga istrinya, tapi senjata api bukanlah senjata yang dilegalkan, tentu dia menganggap jika itu hanya senjata mainan.
" Kau pikir, aku anak-anak ya g bisa kau takuti dengan senjata mainan mu itu? "
Kevin menyunggingkan senyum, mengarahkan senjatanya ke langit-langit.
Dor...!
" Bagaimana? mainan ku ini cukup seru kan? "
TBC