Marry Me, Please

Marry Me, Please
Yang Pertama



Sherin kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan yang aneh. Jantungnya berdegup kencang entah mengapa. Membayangkan kembali betapa sialannya senyuman Dokter Kevin tadi, rasanya ingin sekali dia lari dari tempat itu. Apalagi saat mendapat tatapan marah dari para penggemar Dokter Kevin. Sherin bergidik ngeri hingga mengusap tengkuk lalu kedua lengannya bergantian. Sudah hampir sepuluh menit dia menghabiskan waktu untuk mengingat kengerian itu.


Sherin duduk di kursinya lalu menepuk-nepuk pipi agar menghilangkan segala pikirannya yang enggan melupakan apa yang terjadi di kantin rumah sakit tadi.


" Tenang Sherin, tarik nafas lalu hembuskan perlahan. Buang jauh-jauh pikiran gila mu itu. Jangan tergoda meskipun dia sangat tampan. Ingat! dia sangat berbahaya. " Sherin menghembuskan nafas perlahan dan mengulanginya beberapa kali. Sherin benar-benar ingin menghilangkan bayangan senyum Dokter Kevin yang meracuni otaknya.


Sebenarnya Sherin ingin sekali memiliki kekasih seperti gadis seumurannya yang bahkan sudah ada yang memiliki anak. Tapi mau bagaiman lagi? pria yang cocok dengan seleranya tidak mudah di temukan. Dia bahkan tidak paham seperti apa pria idamannya.


***


Kevin menyenderkan kepalanya menatap langit-langit yang begitu kosong. Perlahan bibirnya tertarik dan membuat senyum manis terbit dari bibirnya. Bayangan-bayangan wajah manis Sherin berkelebatan di otaknya. Ini memang tidak biasa untuknya. Membuang-buang waktu hanya untuk menggoda seorang gadis. Bahkan dia begitu ketagihan melihat bibir Sherin yang tersenyum tai matanya begitu memakinya penuh kebencian.


" Sherin? kenapa kau membuat ku jadi seperti ini? apa yang kau miliki? apa aku suka menggodanya karena menganggap mu sebagai adik perempuan yang manis dan cantik? "


Kevin kembali menegakkan tubuhnya. Dia menggerakkan kepalanya yang terasa pegal karena lumayan lama dengan posisi sebelumnya. Dia meraih ponselnya untuk melihat pesan yang sepertinya sudah menumpuk. Kevin menghela nafas dan memilah pesan yang harus di balas dan melewatkan semua pesan yang tidak penting. Kevin kembali menghela nafas karena membaca pesan dari Renata atau yang biasa ia panggil Rien sebagai panggilan sayangnya.


Sayang, nanti pulang ke apartemen ku saja ya?


sayang, masih sibuk?


Sayang, aku kesana ya? aku ingin makan siang bersama.


Sayang, aku benar-benar merindukan mu.


" Berapa kali aku harus mengatakan padamu, Rien? aku tidak suka seperti ini. Dulu kau tidak banyak mengemis waktu. Kenapa ujung-ujungnya kau sama saja? "


Karena tak mendapatkan balasan dari Kevin, Renata akhirnya memutuskan untuk menghubungi Kevin.


Rasanya begitu malas untuk mengangkat telepon dari Renata. Tapi mau bagaimana lagi? lebih baik berbicara melalui telepon dari pada harus mengetik pesan dan membuat jempolnya kejang.


" Rien, ada apa? " Tanya Kevin saat sambungan teleponnya terhubung.


Sayang, pulang nanti aku jemput ya?


" Tidak bisa, Rien. Aku harus membantu di UGD. "


Bagaimana besok pagi?


" Aku mungkin butuh istirahat sampai siang. Barulah aku akan kembali ke rumah sakit. "


Sayang, kita sudah hampir satu minggu tidak bertemu. Apa kau tidak merindukan ku?


" Tentu saja aku merindukan mu. Tapi kau tahu resiko nya jika menjalin hubungan dengan ku kan? "


Apa aku boleh menemani mu istirahat besok?


Kevin menghela nafasnya. Malas memang, tapi mau bagaimana pun Renata adalah kekasihnya. Mau tidak mau dia hanya bisa meng iyakan permintaan Renata.


Baik, sayang. Aku tidak akan mengganggu. Aku janji hanya akan berbaring di sampingmu sembari memeluk tubuh mu saja.


" Hem. " Kevin mengakhiri panggilan teleponnya lalu mendesah sebal. Dia tahu jika apa yang dia lakukan memang tidak adil untuk Renata dan terkesan memanfaatkannya saja. Tapi walau bagaimanapun dia adalah seorang pria normal yang membutuhkan kebutuhan biologis yang perlu untuk dipenuhi.


" Sampai kapan aku harus hidup seperti ini? rasanya bosan juga. " Gumam Kevin lalu kembali untuk menguasai diri dan fokus kepada para pasien yang sudah mengantri untuk ditangani.


***


Malam harinya, bukan hanya Kevin yang masih berada dirumah sakit. Sherin juga masih berada di sana. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Bukan tanpa alasan, bagi mereka membantu di bagian UGD juga memiliki makna tersendiri. Kevin yang begitu dengan kesembuhan tiap pasien, dan Sherin yang isi otaknya hanya uang membuatnya rela melakukan apapun. Apalagi semenjak ada nya Berly. Mau tidak mau dia harus menyisihkan banyak uang untuk membayar orang yang menjaga Berly dan juga kebutuhan Berly yang sudah mulai sekolah.


" Ya ampun! aku sampai gila kerja begini ya? lebih baik aku pulang saja deh. Lagi pula kemarin aku juga pulang tengah malam. Kasihan juga si Berly kalau terlalu sering ditinggalkan di rumah. Bisa-bisa mulut los nya itu menerocos yang tidak-tidak. "


Sherin bangkit perlahan dari duduknya. Merah mini bag nya. Dia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk mengendurkan urat-urat yang sudah menegang karena lelahnya hari ini.


" Baiklah, sampai jumpa besok ruangan kerjaku tercinta. "


Sherin melajukan langkahnya perlahan menuju pintu samping rumah sakit yang sebagian lampunya memang sudah mati. Dia memang belum terlalu biasa bekerja sampai malam, maka itulah dia masih saja bergidik ngeri saat melewati lorong gelap sebelum sampai ke pintu samping.


" Ya ampun, Tuhan. Jangan sampai aku kenapa-kenapa. Aku benar-benar tidak rela kalau harus bertemu dengan hantu. "


Sherin semakin lama semakin mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di pintu samping. Tapi sayang, sebuah tangan tiba-tiba terasa menepuk dibagian bahu kirinya. Seketika Sherin berteriak karena kaget dan perasaan takut membuatnya lupa jika saat ini dia sedang berada dirumah sakit. Yang tentunya adalah tempat bagi orang yang sedang sakit.


" Ah....! hantu! " Sherin menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya.


" Aku tidak mau mati sebelum merasakan pacaran. Tolong jangan ganggu aku. Pergilah sana! hush... hush... " Sherin menggerakkan tangannya untuk mengusir tangan yang masih saja menempel di bahunya.


" Memang ada hantu yang setampan aku? " Suara seorang pria yang sudah mulai Sherin hafal siapa pemilik suara menyebalkan itu.


Sherin menurunkan kedua tangannya untuk melebarkan mata agar lebih jelas melihat benar atau tidaknya itu Dokter Kevin.


" Anda ini Dokter Kevin atau jelmaan Dokter Kevin? " Sherin semakin mendekatkan wajahnya karena kurang penerangan, maka kurang tajam juga penglihatannya. Tapi bukanya bisa melihat dengan jelas, yang di dapatkan oleh Sherin adalah kecupan singkat di keningnya.


" Ah mesum sekali! " Sherin menjauhkan posisi mereka dengan mendorong tubuh Kevin menjauh.


" Aku hanya menempelkan bibir di kening mu. Tapi kau sudah mengatai ku mesum. " Ucap Kevin yang entah bagaimana Ekspresinya karena penerangan yang kurang.


" Jangan sembarangan! anda tidak tahu ya?! ini adalah yang pertama bagiku! aku tidak rela kalau anda yang pertama mencium saya! "


" Kecupan seperti itu bukanya sudah sangat lumrah ya? "


" Apanya yang lumrah?! aku bahkan tidak pernah berpacaran. "


" Baguslah. Jadi aku yang pertama ya? "


TBC