
Hari adalah hari minggu yang akan Sherin habiskan dengan beberapa kegiatan menyenangkan. Seperti joging, lalu berjalan-jalan ke taman kota, lalu menikmati kuliner yang ia lihat di iklan TV. Lalu berbelanja kebutuhan dapur dan kebutuhan pribadinya. Ah, iya. Dia juga akan membelanjakan kebutuhan Berly yang sekarang ini sudah seperti anak nya sendiri. Bagaimana tidak? yang membantu Berly mandi adalah dia, yang menyiapkan makan saat dia ada dirumah juga dia, yang memenuhi kebutuhan Berly juga dia. Bahkan yang mengajari Berly mengerjakan PR nya juga dia. Baiklah, anggap saja itu adalah latihan menjadi ibu rumah tangga kalau ada yang berminat menjadikannya istri.
Seperti yang sudah direncanakan, pagi ini Sherin joging dengan perasaan gembira. Gembira karena bisa melihat keadaan dan pemandangan kota lalu menikmati udara yang sebenarnya tidak segar karena ada campuran polusi disana.
" Ah! lumayan juga rasanya. " Sherin yang merasa cukup lelah akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku taman sembari mengusap keringat yang membanjiri wajahnya. Setelah itu dia membuka penutup botol untuk menenggak air mineral yang memang ia bawa tadi.
" Eh? itu kan Dokter Kevin. " Sherin itu mencwrgeryit untuk mempertajam matanya sebelum yakin dengan apa yang dia lihat.
" Cih! sialan! benar ternyata. " Sherin kembali mengusap wajahnya menggunakan handuk yang memang sedari tadi melingkar di lehernya.
Semoga saja si mesum gila ini tidak menyadari kalau aku ada di sini.
Sherin tak menyingkirkan handuk kecil dari wajahnya, dia benar-benar berharap kalau Kevin tidak akan melihatnya. Bukanya terlalu percaya diri, hanya saja dia terlalu malas untuk menghadapi mulut sialan dari seorang Dokter Kevin yang terkenal tampan itu.
Kevin berlari kecil melintasi Sherin yang tidak mengubah posisinya sama sekali selain melebarkan handuk agar menutupi wajahnya dengan sempurna. Sherin bisa bernafas lega karena ternyata Kevin melintas tanpa menyadari adanya dia di sana.
Syukurlah,.....
Baru saja Sherin bernafas lega penuh syukur, dia dikejutkan dengan suara angker yang tiba-tiba ada di sampingnya.
" Good morning? "
Sherin sontak menatap pria itu dan terperangah setelah nya.
" Dokter Kevin? bukanya anda sudah kari ke arah sana ya? " Sherin menunjuk arah dimana tadi arah tujuan Kevin berlari.
Kevin tersenyum lalu menenggak sir mineral milik Sherin tanpa permisi.
" Tunggu! itu milikku. " Menatap botol minumnya yang hanya tinggal sedikit isinya. Mau marah tidak berani, tidak marah dia kesal. Akhirnya hanya bisa memaki di dalam hati.
" Aku kira air itu rasanya sama. Tapi setelah meminum air dari botol mu, aku sadar jika air yang rasanya manis juga ada ya?. "
Kevin tersenyum manis menatap Sherin yang jelas sekali ada kebencian dan kemarahan yang bisa dengan jelas Kevin lihat. Meskipun Sherin mencoba menipunya dengan bibir yang tersenyum.
Keparatt sialan! itu artinya kan berciuman secara tidak langsung.
" Dokter, anda tidak berhati-hati begini, memang anda tidak takut tertular penyakit? "
Kevin kembali tersenyum lalu meraih handuk kecil yang bertengger di leher Sherin. Lagi-lagi tanpa izin, dia memakai handuk itu untuk menyeka keringat yang membasahi wajahnya.
Apa-apaan orang ini?! kenapa memakai handuk bekas bu? ini artinya bersetubuh secara tidak langsung kan?
" Do Dokter Kevin, anda ini bagaimana sih? itu kan handuk bekas saya? " Protes Sherin.
Kevin meletakkan kembali handuk kecil itu di leher Sherin.
" Maaf ya? dari tadi aku mengendus wangi yang begitu memikat. Setelah aku selidiki, ternyata bau keringat mu benar-benar menggoda ya? "
" Maaf, Dokter Kevin. Lebih baik anda memperhatikan kebersihan. Sepertinya anda terlalu sembrono ya? "
" Tidak juga. "
Sherin menghela nafasnya. Mungkin memang benar pria disebelahnya adalah pria teraneh di dunia. Mulai dari air manis, keringat yang wangi menggoda. Apa-apaan dan entah apa maksudnya tidak ada yang mengerti selain dirinya dan Tuhan.
" Baiklah Dokter Kevin, saya harus segera pulang ke rumah. Saya permisi. " Sherin bangkit lalu berjalan menjauh dari pria gila yang akhir-akhir ini membuat nya pusing.
Baru beberapa langkah kaki Sherin berjalan, dia menghentikan langkahnya dengan dahi yang mengeryit. Entah mengapa dia merasa jika ada orang yang mengikutinya. Sherin membalikkan tubuhnya untuk memastikan benar atau tidak yang dia rasakan ini.
" Dokter Kevin? " Sherin menatap kesal, karena ternyata Kevin tengah mengikuti Sherin, meski tanpa menimbulkan suara.
" Apa? " Jawabnya santai.
" Anda mengikuti saya? "
" Tidak juga. "
Sherin menghela nafas kasarnya. Dia kembali melanjutkan langkah tanpa mau memperdulikan lagi Kevin yang dia yakin masih saja berjalan dibelakang nya. Sherin terus berjalan santai sembari melihat-lihat indahnya taman yang kini tengah dipenuhi pria-pria tampan tengah melakukan joging. Sudah semakin lupa saja dia dengan Kevin saat ada beberapa pria menggodanya.
Oh, ya ampun! yang tadi itu tampan sekali ya?
Tanpa Sherin sadari, kini pipinya bersemu merah karena merasa malu.
" Ya ampun, kalau begini terus, aku akan semangat untuk joging setiap hari. Dan nanti pasti aku akan dapat pacar dari tempat ini. " Gumam Sherin sembari memegangi pipinya sendiri.
" Jangan mimpi! " Ucap Kevin pelan yang hanya bisa ia sendiri yang mendengarnya. Sebenarnya, sedari tadi dia memelototi setiap pria yang mencoba mendekati Sherin. Dan pada saat pria itu hendak mengajak berkenalan, Kevin maju beberapa langkah mendekat ke punggung Sherin tanpa mengatakan apapun dan hanya menatap dingin seolah bertindak seperti kekasihnya Sherin. Tentulah pria-pria yang berniat mengajaknya berkenalan hanya bisa mengatakan Hai tapi tidak berani mengajak berkenalan.
" Untung saja aku tidak membuat suara jadi kau tidak menyadari jika aku masih di belakang mu. Pria-pria bodoh itu ketakutan hanya karena melihat mataku saja? dasar penakut! " Gumam Kevin yang masih saja mengekor kemana kaki Sherin melangkah.
Beberapa saat kemudian, Sherin menghentikan langkahnya lalu menghela nafas leganya karena sudah sampai seberang apartemennya.
" Ah.... waktunya masuk lalu pergi berbelanja saja ah setelah ini. " Sherin melajukan langkahnya tanpa menyadari jika Kevin masih saja berdiri memandangi punggung Sherin yang semakin menjauh darinya dan masuk di sebuah gedung Apartemen yang terbilang lumayan mewah itu.
" Jadi kau tinggal disini? kalau begitu, sampai bertemu di pusat belanja ya? " Kevin mengeluarkan ponselnya lalu meminta sopir untuk menjemputnya. Setelah sopir itu tiba, Kevin langsung masuk dan meminta sopir untuk membawanya ke apartemen miliknya. Tapi saat Kevin akan semakin jauh, dia tidak sengaja melihat Sherin tengah berbicara dengan seorang anak kecil yang sangat mirip dengan sahabatnya.
" Pak, putar balik ke arah sana ya? " Kevin menunjuk sebuah Lobby apartemen, tepat dimana Sherin dan Anak laki-laki yang mirip sahabatnya kini tengah mengobrol.
Setelah jarak mereka lumayan dekat, Kevin semakin yakin jika anak laki-laki itu sangat mirip dengan sahabatnya.
" Apa Sherin ibu dari anak itu? tapi informasi yang ku dapatkan mengatakan, jika Sherin hanya tinggal berdua dengan adik perempuannya. Lalu siapa anak itu? kenapa wajahnya sangat mirip dengan Nath?
TBC