
" Sherin, maafkan Ibu. Ibu tidak memiliki pilihan lain. Demi menyelamatkan keluarga Ibu, Ibu harus mengorbankan mu. Maaf... " Tidak lama setelah itu, datanglah dua orang pria bertubuh besar, salah satu dari mereka menggendong Sherin, berjalan menuju lift, dan membawanya ke sebuah kamar hotel yang sudah ada seorang pria yang duduk di atas tempat tidur.
Setelah membaringkan Sherin di ranjang tidur, kedua pria itu kembali keluar dan berjaga disana. Pria yang sudah menunggu Sherin tadi tersenyum menatap tubuh Sherin yang tergeletak dari ujung kaki ke ujung kepala. Matanya berbinar bahagia karena wanita yang menolaknya kini terbaring tidak sadarkan diri. Awalnya dia memang cukup kesal karena merasa direndahkan harga dirinya saat Sherin menolak perjodohan diantara mereka, tapi kesempatan bagus ini datang secara tiba-tiba dan cukup membuatnya senang. Setidaknya, dia akan membalas bagaimana rasanya saat harga diri dijatuhkan oleh orang lain.
" Sebenarnya kau tidak terlalu cantik, tapi kesombongan mu benar-benar tidak pantas dengan wajahmu yang tidak seberapa ini. " Pria itu tersenyum lagi, dia menatap detail setiap lekukan tubuh Sherin yang lumayan mirip dengan tipenya.
" Baiklah, biarkan aku mencicipi bagaimana rasanya tubuhmu. Nanti jangan salahkan aku, karena ini adalah salahmu telah menyinggung orang yang bukan lawan mu. " Pria itu menyeringai lalu mulai membuka kancing bajunya.
***
Di rumah sakit. Sedati Sherin pergi, Kevin benar-benar tidak bisa tenang. Sudah mencoba untuk tenang, tapi yang ada dia semakin gelisah. Ditambah lagi, sedari tadi Rici terus bergelayut, mengoceh tidak jelas, bahkan memaksanya untuk makam siang karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tentulah Kevin semakin berpikiran buruk, sebisa mungkin dia melarikan diri dari Rici dengan alasan ke kamar mandi, setelah itu barulah dia menuju ke parkiran dengan langkah cepat. Sebelum melajukan mobilnya, dia mengeluarkan ponsel yang sedari tadi tersimpan di kantong celananya. Dia memeriksa GPS Sherin berada, lali dengan kecepatan lumayan tinggi dia mrlesatkan mobilnya ke sana.
" Sialan! kenapa pikiranku kacau sekali?! kenapa juga dia harus mengajak bertemu di hotel? " Kesal Kevin sembari mengeraskan rahangnya karena tida mungkin melampiaskan kemarahannya saat ini. Tidak begitu lama, akhirnya sampailah dia di hotel yang Sherin dan Ibunya gunakan untuk bertemu.
" Bos? " Sapa salah satu anggota Kevin.
" Dimana istriku sekarang? "
" Dia di bawa ke lantai lima belas. Kamar nomor tiga nol tujuh. "
" Sejak kapan? "
" Sekitar sepuluh menit yang lalu. " Jawab pria itu.
Kevin semakin terlihat kesal, dia berlari menuju lift, lalu berlari ke kamar yang dia maksud. Tanpa aba-aba dia langsung memukul kedua pria yang berjaga didepan pintu tanpa ampun.
Brak....
Pintu terbuka dengan kasar setelah salah satu pegawai hotel membukakan pintu karena ancaman pastinya. Pria tadi yang sedang membuka kimono yang Sherin gunakan pun terkejut.
" Brengsek! " Kevin meraih leher pria itu, mendorongnya hingga membentur dinding.
" Bos, biarkan saya yang melakukanya. " Bukan tanpa alasan, pria itu takut kalau dia tidak sengaja melihat bagian bawah istri Kevin yang sepertinya sudah terbuka. Kevin mendengarkan ucapan anak buahnya, lalu menghempaskan dengan kasar tubuh pria sialan yang kini menggigil ketakutan.
Bug! Bug! Bug!
Pukulan demi pukulan telah dilayangkan ke tubuh pria itu dari anak buah Kevin.
Kevin kini sudah berada di dekat Sherin, dengan tangan gemetar dia menutup jubah mandi Sherin. Takut, itulah yang benar-benar dirasakan oleh Kevin. Dengan jemari yang gemetar, dia memberanikan diri untuk menyusupkan jemarinya ke bagian inti Sherin.
" Syukurlah.... " Ucap Kevin setelah memastikan kalau laki-laki itu belum sempat melakukannya. Belum sempat? Kevin kini kembali merasa kesal, Bukankah tadi istrinya menggunakan baju yang ia pesan beberapa hari lalu? siapa yang mengganti bajunya? Kevin menatap laki-laki yang tidak berdaya itu. Wajahnya memang sudah bengkak, bahkan bibir dan hidungnya juga berdarah. Tapi saat ini dia tidak bisa langsung melakukan apa yang ingin dia lakukan terhadap pria itu. Kevin kembali menatap Sherin yang jelas sekali kalau dia dipaksa untuk tidur. Dia menghela nafas panjangnya, lalu mengangkat tubuh Sherin.
" Biarkan dia hidup, tapi tahan dia di gudang kosong. Setelah istriku sadar, baru aku akan menemuinya. " Titah Kevin sebelum keluar dari kamar itu.
" Baik,Bos. "
Beberapa saat kemudian, Sherin mulai tersadar dari tidurnya. Dia perlahan membuka mata yang sepertinya cukup lama ia tertidur.
" Kevin? "
" Sayangku? sudah bangun? bagaimana keadaan mu? "
Sherin mengeryit, iya awalnya dia bingung. Tapi saat dia melihat kamar yang ia tiduri adalah ruang rawat di rumah sakit, dia mulai kembali mengingat bagaimana dia bisa tidak sadarkan diri. Perlahan dia bangkit dari posisinya, dan tersentak karena melihat dia menggunakan jubah mandi yang ada nama hotel, tempat dia dan Ibunya bertemu.
" Aku, kenapa aku memakai jubah mandi? bajuku kemana? " Sherin menatap Kevin yang diam tak berani menatapnya. Tentu saja diamnya Kevin membuatnya menjadi menerka-nerka.
Ibuku? apa yang Ibuku lakukan padaku?
" Sayangku, sudahlah. Jangan banyak bergerak dan rileks kan saja tubuhmu. Nanti aku akan menceritakan padamu. " Kevin sebisa mungkin membuat Sherin tidak khawatir, tapi sepertinya itu tidak berhasil karena Sherin malah terlihat semakin penasaran.
" Sekarang! beri tahu aku sekarang! apa yang dilakukan Ibuku padaku?! "
Kevin mengepalkan tangannya kuat. Bagaimana dia akan menceritakan tentang ini? mengingatnya saja dia sudah tidak sanggup.
" Sayangku, " Kevin meraih tangan Sherin.
" Jangan begini! katakan saja padaku! " Ucap Sherin setelah menepis tangan Kevin.
" Baiklah, aku akan memberitahumu. " Kevin menjeda ucapannya sejenak.
" Ibumu sepertinya memberikan obat tidur di minuman mu, lalu menyerahkan mu kepada seorang pria yang sudah menunggu mu di kamar hotel. " Sherin mencengkram selimut yang menutupi pinggang dan kakinya dengan kuat. Menyerahkan kepada seorang pria? memikirkan itu benar-benar membuat dadanya berdenyut nyeri,dan sesak.
" Apakah, apakah pria itu sudah meniduri ku? "
" Tidak, aku datang sebelum itu terjadi. Hanya, "
Sherin menatap Kevin dengan tatapan penuh tanya.
" Hanya apa? "
" Pria itu hanya sempat mengganti pakian mu. "
Mengganti pakaian ku? itu berarti sudah melihat seluruh tubuhku?
" Sayangku, " Kevin bangkit lau memeluk erat tubuh Sherin yang mulai gemetar dan dingin.
" Tubuhku, tubuhku sudah dilihat orang lain? " Sherin mulai menangis sejadi-jadinya. Bahkan, itu juga sama menyakitkannya seperti sudah diperkosa kan?
" Aku tidak mau! kenapa jadi seperti ini?! kenapa Ibuku bisa serendah ini?! bagaimana aku bisa menghadapinya nanti? "
" Kenapa kau masih memikirkannya, seorang Ibu yang menjual putrinya demi kebahagiaannya, sangat tidak pantas menjadi Ibu. Hanya tahu melahirkan anak, tapi tidak tahu bagaimana merawat dan mencintai anak. Jika saja, jika saja dia bukan Ibumu, aku pasti akan menginjak hidupnya sampai Ibumu dan suaminya sekarat dalam hidupnya. "
" Aku tahu, aku juga sangat membenci Ibuku! tapi, yang aku maksud adalah kau! bagaimana aku bisa menghadapi mu setelah kejadian ini? " Sherin kembali menangis.
Eh? apa kabar tubuhku yang sudah dilihat banyak wanita?
TBC