Marry Me, Please

Marry Me, Please
Takut



" Brengsek! " Tuan Hanung melotot tajam, jelas sekali dia sangat marah dengan keadaan ini. Selain harus kehilangan rumah serta perusahaan peninggalan mendiang istri pertamanya, dia juga terpaksa harus memikirkan bagaimana caranya untuk membayar hutangnya di bank. Mau mengemis kepada Kevin pun sudah tidak akan mungkin bisa.


" Kemasi barang kalian semua! mulai dari hari ini, kedua saudara Ibu akan tinggal dirumah ini. " Kevin tersenyum bahagia dengan semua ini. Lima belas tahun sudah dia menahan diri karena pesan dari Ibunya agar dia bersabar dengan Ayahnya. Tapi sudah cukup! lima belas tahun membiarkan Tuan Hanung bersama dengan keluarga nya menikmati harta Ibunya, tentu saja sudah sangat cukup. Sekarang, sudah waktunya adik dan kakak dari Ibunya yang akan memiliki rumah, beserta aset-aset Ibunya yang lain.


" Kau, jangan-jangan kau adalah orang yang mempersulit ku untuk menjual hotel? " Tuan Hanung bertanya dengan nada bicara yang seolah mengancam untuk mendapatkan jawaban yang jujur.


" Iya! aku yang membuat hotel itu tidak bisa dijual, aku juga lah yang menahan perusahaan minuman milik Ibuku agar tidak jatuh, dan aku jugalah yang sudah membuat rumah ini bertahan. "


Tuan Hanung menelan salivanya sendiri. Bingung, kaget, dan tidak mengerti bagaimana bisa ini semua terjadi? bukankah anak yang berdiri dengan percaya diri sekarang adalah anak yang dulu sering ia pukul? dulu Kevin memang sangat kasar dan juga tidak sopan, tapi sama sekali tidak pernah ia tunjukkan di hadapan Ayahnya. Lalu kenapa dia begitu berubah sekarang? dulu saat Ayahnya melotot, dia akan menunduk ketakutan. Sekarang, boro-boro ketakutan, yang ada malah Ayahnya sendiri di buat gemetar tak berdaya.


" Kau tahu apa yang kau lakukan?! mau bagaimanapun, aku tetaplah Ayahmu! kau mana bisa mengusirku begitu saja, lalu memasukkan dua keluarga kampungan ke rumah ini?! " Protes Tuan Hanung. Iya, sepertinya dia merasa kalau dia harus mengingatkan siapa Tuan Hanung bagi Kevin.


" Ayah? dari aku lahir, sampai usiaku lima belas tahun, apakah pernah sekali saja kau berbicara pelan layaknya seorang Ayah? bahkan saat aku memutuskan hubungan pun, kau tetap mengusikku, bahkan berani-berani nya membawa istriku dalam masalah ini. Sekarang kemasi barang kalian, lalu enyah lah! muak aku harus melihat tiga wajah ikan koi kalian. "


Tak punya pilihan lagi, akhirnya Tuan Hanung memilih untuk keluar saja dulu dari rumah itu, baru nanti dia akan mencari akal bagaimana caranya untuk bisa memiliki rumah itu lagi. Baru saja mereka selsai berkemas, dua orang yang entah dari mana datangnya tiba-tiba mencegat Tuan Hanung, istri dan juga anaknya.


" Tuan, mohon biarkan kami untuk memeriksa barang anda. " Ucap salah satu orang itu.


" Kurang ajar! kau hanyalah seorang antek! bagaimana bisa kau memperlakukan ku seperti ini?! " Kesal Tuan Hanung.


" Maaf, kami Antek Bos Kevin. Selain dari Bos Kevin, kami tidak perlu bersikap sopan secara berlebihan. Kami juga tidak diperintahkan untuk diam ketika direndahkan. Apa yang kami lakukan, tentu saja atas titah Bos Kevin. " Karena merasa akan terbuang banyak waktu jika terus meladeni Tuan Hanung beserta keluarganya, kedua pengawal itu dengan cepat mengambil alih ketiga koper itu, lalu memeriksanya satu persatu. Tentu mereka melakukan perlawanan, tapi postur tubuh dan jika tenaga dua pengawal itu sangatlah jauh dari mereka. Maka mau tidak mau, mereka hanya bisa pasrah saja.


Setelah menemukan beberapa perhiasan dan benda mahal dari ketiga koper itu, mereka berdua menyerahkannya kepada Kevin.


" Bos, ini barang-barang mahal yang mereka akan bawa keluar. "


Kevin tersenyum miring, sungguh menyebalkan batin Tuan Hanung beserta anak dan istrinya. Kevin benar-benar bertingkah seperti seorang raja dunia. Dia duduk dengan santai, kedua kakinya lurus naik ke atas meja, saling bertumpu, tangannya juga sibuk memainkan senjata api miliknya.


" Berani sekali? apa kau lupa bagaimana kau datang kerumah ini? kau bisa menikah dengan Ibuku karena kau menipunya, seolah-olah kau telah menyelematkan nya. Saat kau membawa wanita itu masuk beserta anak mu, mereka sangat dekil dan kumuh. Kenapa dengan tidak tahu dirinya kalian masih menginginkan ini? tidakkah cukup lima belas tahun? sekarang belajarlah untuk mengkonsumsi obat magh, lalu minum oky jelly drink, minuman penunda lapar. " Kevin tersenyum mengejek setelahnya.


" Cih! " Kevin menurunkan kedua kakinya, dia bangkit dari duduknya. Kedua tangannya juga masih saja memainkan senjata api dengan membuatnya memutar ke kanan dan ke kiri seolah benda itu hanyalah mainan belaka. Setelah dia berdiri tepat di hadapan tiga orang itu, Kevin menatap jijik secara bergantian.


" Mengatakan ingin membunuhku dengan begitu lantang dan percaya diri, tapi saat aku ada dihadapan mu, kenapa tubuhmu gemetar? takut? " Ketiga orang itu hanya diam menahan ngeri. Kalau dilihat dari cara Kevin memegang senjata api, jelas sekali Kalau Kevin sudah sangat ahli menggunakannya.


" Heh?! " Kevin semakin mencemooh lewat tatapan matanya karena saudara tirinya ternyata sudah mengompol karena ketakutan. Bahkan dengan begitu jelas, kedua kaki pria itu sampai gemetar hebat.


" Kau lebih tua dariku kan? kenapa malah bertingkah seperti anak lima tahun? menjijikkan sekali. " Kevin beralih menatap kedua anak buahnya dan memberikan isyarat agar mengeluarkan Tuan Hanung dan juga istri beserta anaknya. Mereka berdua mengangguk, laku dengan segera menjalankan apa yang diminta Bos mereka.


Tentu saja mereka bertiga masih memberontak, tapi kedua anak buah Kevin sama sekali bukan lawan mereka bertiga.


Bruk...


Mereka bertiga terjatuh di luar gerbang akibat dorongan yang lumayan kuat dari kedua anak buah Kevin. Setelah mengunci pintu Gerbang lalu memberikan amanah kepada penjaga gerbang agar tidak membuka pintu bagi mereka, kedua anak buah Kevin kembali masuk kedalam menyusul Bos mereka.


" Dasar sialan! Ayah, kenapa bisa jadi seperti ini?! " Protes saudara tiri Kevin.


" Diam lah! kau pikir, kita bisa melakukan apa?! tidakkah kau menyadari jika Kevin sangatlah berbahaya? cara dia memegang senjata, cara dia begitu di agungkan oleh anak buahnya, kau pikir kita bisa menghadapinya sekarang? ada banyak hal yang aku tidak tahu pada awalnya, tapi setelah hari ini baru aku menyadari, Kevin pasti memiliki sumber daya yang besar. Bahkan, jauh lebih besar dari orang tua Rici. Awalnya Ayah juga ingin mencari cara agar bisa menguasai rumah itu lagi, tapi setelah kembali dipikirkan, lebih baik jangan mengusik Kevin. "


" Ayah, kenapa kau begitu pengecut?! "


" Lalu apa dirimu? kau bahkan sampai kencing di celana kan? "


" Cukup! " Istri Tuan Hanung benar-benar marah dan pusing dengan semua ini.


" Kita pergi saja dulu, nanti baru pikirkan bagaimana caranya agar bisa kembali kerumah itu dengan aman. " Ucap istri Tuan Hanung.


TBC