
Dua hari sudah Kevin selalu mendapatkan pesan dan juga telepon dari Rici. Entah dari mana gadis itu mendapatkan nomor teleponnya, pagi siang malam, begitu rutin mengirimnya pesan. Mulai dari mengingatkan sarapan, makan siang, istirahat, makan malam, bahkan selamat tidur juga tidak pernah absen. Sebal sih, tapi mau bagiamana lagi? dia tida bisa mengganti nomornya. Sudah ia coba memblokir beberapa nomor yang digunakan untuk menghubunginya, tapi Rici benar-benar tidak menyerah begitu saja. Ponsel Kevin justru memiliki banyak panggilan dan pesan dari nomor baru yang sudah jelas itu adalah Rici. Setelah meminta seseorang untuk mencari tahu, ternyata Ayahnya berniat menjodohkan Kevin dengan Rici.
" Ponselmu selalu sibuk ya? " Tanya Sherin yang tidak bisa juga tidur karena getar ponsel Kevin. Sebenarnya dia ingin sekali mematikan ponselnya, tapi dia takut ada sesuatu yang mendesak dari rumah sakit. Mau tidak mau dia hanya bisa mengubah menjadi mode silent.
" Maaf, sayangku. " Ujar Kevin laku mengubah posisi agar bisa lebih mudah untuk mendekap tubuh Sherin.
" Berat! " Pekik Sherin saat tangan dan kaki Kevin mendekap tubuhnya erat.
" Sayangku, kalau kau marah terus menerus, bisa-bisa aku kabur karena ketakutan loh... " Bujuk Kevin yang sudah memindahkan tangannya ke kepala Sherin dan mengusapnya lembut.
" Bukanya itu bagus? itu bisa kau jadikan alasan untuk menggoda wanita kan? " Ucap Sherin sebal. Iya, selama dua hari mereka tinggal berdua di hotel karena apartemen mereka sedang di renovasi, selama dua hari itu juga Sherin tahu benar siapa wanita yang terus menerus meneror Kevin. Selamat pagi, selamat siang, selamat malam, good night, breakfast bestie, lunch, dinner, bla bla bla... menyebalkan! cemburu! kalau iya kenapa?! batin Sherin berseru marah.
" Sayangku? " Kevin perlahan mengubah posisi Sherin yang membelekanginya menjadi telentang. Dikecupnya kening Sherin dengan begitu penuh perasaan.
" Aku sudah cukup bermain-main saat single, sekarang aku sudah punya dirimu. Aku akui, aku masih suka melihat tubuh seksi. Tapi, seksi juga tidak cukup untuk bisa menggodaku. Kau tahu kenapa? "
" Apa?! karena bokong dan dada besar tertutupi kain? "
" Eh? " Kevin menggaruk tengkuknya, bingung juga bagaimana menjelaskan kepada Sherin. Tidak tahu kenapa, Sherin jadi pemarah sekali beberapa hari belakangan ini.
" Bukan sayangku, karena aku merasakan nikmatnya berhubungan badan hanya bersamamu. Aku mencintaimu, itu adalah alasan kepuasan biologis ku serasa terpenuhi dan tidak akan mendapatkan dilain tempat. "
Sebenarnya Sherin cukup senang melihat kejujuran yang terpancar dari mata Kevin, tapi mana mungkin dia langsung tersenyum dan bersorak gembira kan?
" Kau tidak sedang berbohong kan? "
Kevin menghela nafasnya. Ditatapnya kembali manik mata yang indah, dan bibir ranum yang jelas terlihat menggoda.
" Kau tahu benar aku berbohong atau tidak kan? lagi pula, kalau kau tidak percaya, aku akan membuktikannya kepada mu. "
Sherin mengeryit menatap wajah Kevin yang begitu dekat dengan wajahnya. Sebenarnya berada diposisi dekat begini selalu membuat dadanya berdebar, tapi ya sudahlah... mau tidak mau dia juga harus terbiasa dengan hal semacam ini.
" Bagaimana caramu akan membuktikan padaku? apa kau akan membelah dada mu, lalu menunjukkan bagaimana isi nya? "
" Sayangku, kalau begitu aku bisa mati. Lagi pula, aku bisa membuktikan dengan cara uang lain kok. "
" Bagaimana caranya? " Tanya lagi Sherin.
" Begini! " Kevin langsung saja menyantap bibir indah yang sedari tadi ada di hadapannya, menyesapnya lembut tapi penuh keinginan untuk melakukan lebih.
" Em! " Sherin mencoba untuk menjauhkan tubuhnya, tapi tangan Kevin sudah lebih dulu memeluk pinggangnya dan membuat tubuh mereka menempel erat. Tak sampai disitu saja, tangan nakal Kevin mulai beraksi, dia menjamah titik-titik sensitif dari tubuh istrinya.
Setelah kegiatan panas itu selsai, Kevin akhirnya tersenyum luas karena lagi-lagi dia berhasil menuntaskan keinginan bagian bawahnya. Sementara Sherin, dia sesekali menatap sebal Kevin yang berhasil membuat pinggangnya lagi-lagi terasa nyeri dan pegal. Kevin yang sekarang sudah berubah menjadi sosok pria yang penyayang dan pengertian terhadap istri, tentu dia akan membantu rasa pegal di pinggang Sherin mereda. Padahal, kalau dipikir-pikir, Kevin adalah bintang utama dalam setiap adegan panas mereka. Tapi anehnya, yang sakit pinggang adalah Sherin.
" Sayangku, besok pagi kita lihat apartemen dulu ya? "
" Em " Jawab Sherin singkat. Masa bodoh apa lah yang di katakan Kevin barusan, karena selain tubuhnya yang begitu lelah dan pinggangnya nyeri, matanya juga sudah sangat ingin terpejam dengan tenang. Apalagi, sentuhan jemari Kevin sungguh membuat Sherin merasa nyaman.
" Kau pasti sangat mengantuk ya? baiklah, tidur saja. Aku akan berhenti memijat saat kau sudah lelap. " Ucap Kevin lalu mencium kening Sherin seperti kebiasaan saat dia akan tidur.
Pagi hari.
Seperti yang sudah dijadwalkan oleh Kevin, pagi ini Kevin dan Sherin mendatangi apartemennya untuk melihat bagaimana apartemen yang sudah disatukan itu.
" Wah... " Sherin ternganga takjub melihat bagaimana bagusnya apartemen miliknya dan milik Kevin yang sudah disatukan itu. Semua perabotan juga diganti dengan yang lebih modern dan elegan. Dengan semangat Sherin berjalan menuju kamarnya, sungguh luar biasa! kamarnya kini menjadi lebih luas dan lebih mewah dengan segala furniture mahal yang dulu sama sekali tidak pernah Sherin pikirkan.
" Kau suka? " Tanya Kevin seraya menyusupkan tangannya memeluk pinggang Sherin.
" Iya, kamar ku jadi sangat bagus. "
" Kamar kita, sayangku. " Ucap Kevin untuk mengingatkan Sherin. Kevin sengaja tidak memindahkan kamar mereka karena kamar ini adalah saksi malam pernikahan mereka. Kevin sungguh selalu ingin menghabiskan banyak waktu di kamar ini bersama istrinya.
Setelah cukup puas melihat-lihat apartemen yang sudah berhasil di renovasi, Kevin dan Sherin kini melanjutkan aktifitasnya untuk segera menuju rumah sakit. Seperti biasa saat berada di dalam mobil, Kevin selalu saja mencari keberadaan tangan Sherin untuk ia genggam.
" Sayangku, sebenarnya aku betah tinggal di apartemen itu. Tapi, seandainya kau mau pindah ke rumah, aku akan menyiapkan rumah untuk kita. Kau hanya perlu memberitahu rumah seperti apa yang kau inginkan. " Ucap Kevin sembari fokus menyetir mobil.
" Aku juga merasa nyaman disana. Aku sama sekali tidak memikirkan untuk pindah ke rumah. "
" Kalau anak-anak kita nanti yang meminta bagaimana? "
Hah? anak?
Sherin terdiam lalu memalingkan wajah cepat. Gila! membayangkan ada anak-anak diantara mereka, Sherin tidak tahan untuk tersenyum.
Sesampainya di rumah sakit, Sherin dikejutkan dengan datangnya seorang pasien gawat darurat yang sudah berusia sekitar tujuh puluh tahunan.
" Nenek, bertahan ya? tolong jangan menyerah. " Ucap seorang gadis yang tak lain adalah Rici. Gadis menyebalkan yang selalu merayu suaminya itu.
TBC