Marry Me, Please

Marry Me, Please
Kebenaran Untuk Adamson



Satu minggu berlalu, Kevin masih terus memantau segala perkembangan mengenai masalah istrinya. Cukup rumit memang untuk memecahkan teka teki yang di siapkan Adamson, tapi untunglah, Kevin dan anggota yang selalu membantunya bisa mendapatkan beberapa informasi jelas dan valid. Tak seperti orang yang kepikiran karena dilaoirkan ke pihak berwajib atas tuduhan kelalaian, dan tindakan tidak profesional, Sherin justru tenang dan sama sekali tidak terlihat panik. Yang ada dia malah sibuk dengan banyaknya makanan ringan yang dia kumpulkan selama sepekan ini. Aneh, tapi mau bagaimana lagi? dibanding melihat istrinya stres, memakan banyak camilan juga bukan masalah.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Kevin kembali ke dalam kamar. Sesampainya dia disana, dia benar-benar tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum melihat bagaimana posisi tidur istrinya malam ini. Mungkin karena kenyang memakan camilan, dia tertidur telentang mulutnya terbuka lebar, bahkan terdengar suara dengkuran.


" Hais,.. dia ini lucu sekali. " Ujar Kevin seraya memposisikan tubuhnya untuk tidur, dia meraih selimut tebal lalu menutupi juga tubuh istrinya.


" Selamat tidur, sayangku. Mimpi yang indah, karena masalah yang kau hadapi ini tidak akan menjatuhkan mu. Besok semua akan kembali normal. " Kevin memberikan kecupan di kening Sherin, memeluk tubuhnya dan mulai tertidur.


Pagi harinya.


Adamson bersama Kevin bertemu di sebuah kafe, tempat yang sudah mereka sepakati untuk bertemu tanpa sepengetahuan Sherin. Iya, Kevin ingin menyelesaikan masalah Sherin tanpa diketahui olehnya.


" Nyali mu cukup besar juga ya? sudah tahu tidak memiliki bukti, tapi kau masih ingin menjerat istriku dengan tali hukum. " Ucap Kevin.


Adamson tersenyum miring. Dia menjauhkan secangkir kopi yang baru saja ia seruput.


" Tentu saja, itulah kenapa aku masih terap berdiri dengan kokoh. "


" Pft! " Kevin menahan tawanya. Kokoh? lucu sekali, dia benar-benar ingin tertawa, tapi malas juga kalau yang lucu adalah Adamson. Manusia menyebalkan dan sok keren. Walaupun memang keren, tapi bagi Kevin, tentu saja dia yang paling keren.


" Bagian mana yang lucu menurut anda? " Tanya Adamson dengan wajah dinginnya.


" Menurut mu? " Kevin tersenyum miring dengan tatapan tak berekspresi.


" Aku tidak menemukan hal yang lucu. " Jawab Adamson.


Kevin membenahi posisi duduknya. Kini dia tegak menghadap ke Adamson yang duduk dengan gaya maskulinnya. Yah, meskipun di dalam hati dia kesal karena kalah cool, tapi sudahlah! membuang-buang waktu juga kalau terlalu bertele-tele.


" Lihat ini, dan biarkan aku bertanya kepadamu, apakah kau masih bisa berdiri kokoh seperti kemarin? " Kevin menyodorkan sebuah amplop coklat berukuran sedang. Dengan cepat Adamson meraih amplop itu, dan membukanya.


" Ini? " Adamson mengeryit bingung juga terkejut.


" Itu adalah salah satu fakta yang aku berikan kepadamu. Hasil pemeriksaan terakhir kekasih mu itu. Bagaimana rasanya mengetahui pacarmu itu tengah hamil? apa kau ingin tahu dengan siapa dia hamil? hah! aku benar-benar tidak menahannya lagi, tapi satu hal yang harus kau tahu, pacarmu bunuh diri karena dia hamil. "


" Kebohongan apa ini? " Protes Adamson.


" Bohong? aku tidak kurang kerjaan sampai harus menciptakan kebohongan sepertimu. Kalau kau tidak percaya, kau boleh mengintrogasi Ayahmu. Tanyakan kepadanya, kenapa pacar mu itu bisa hamil. " Kevin tersenyum puas setelahnya.


" Kau?! " Adamson menatap marah Kevin yang tersenyum seolah mengejek kebodohannya sebagai seorang pengacara terbaik.


" Ck! aku ini selain tampan dan jenius, aku juga sangat jujur loh. Jadi aku tidak akan berbohong untuk hal menarik seperti ini. " Kevin mengeluarkan lagi sebuah amplop besar berwarna coklat, dan sepertinya cukup tebal juga.


Adamson mengeraskan rahangnya menahan kesal. Mau marah karena tidak terima pun, sepertinya itu tidak mungkin. Melihat saru bukti saja dia sudah tahu kalau itu adalah asli. Lucu sekali bukan? selama bertahun-tahun dia hidup dan berambisi untuk balas dendam karena cinta palsu, yang ia yakini sampai saat ini.


" Jika kau bingung kenapa tragedi bunuh diri kekasihmu itu di tutup secara rapat, jawabannya adalah karena orang tua kekasihmu, dan juga Ayahmu bekerja sama untuk tidak membiarkan orang lain tahu dan mencari tahu. Tentu saja karena ini adalah aib bagi kedua belah pihak. Ditambah lagi, orang tua kekasihmu itu sudah disuap sampai kenyang oleh Ayahmu. "


Adamson semakin mencengkram kuat selembar kertas yang tengah ia pegang. Marah, kecewa, kesal, entah seberapa besar dia tidak mampu mengukurnya.


" Aku tahu kau pasti sangat marah kan? kalau begitu, pulang saja dulu, ambil pisau, terus bunuh diri juga deh. '' Ledek Kevin lalu terkekeh sendiri.


" Harus ku akui, kau sangat hebat karena bisa mendapatkan informasi dengan begitu detail. Tapi, aku jadi berpikir, kau pasti bukan orang biasa yang akan mendapatkan semua informasi ini hanya dengan satu pekan. "


" Ehem! Aku tentu saja bukan orang biasa. Aku adalah seorang suami, yang akan berubah menjadi Superman demi melindungi istri. "


Adamson menarik nafas dalam-dalam. Sudah, lebih baik dia tahan saja perasaan campur aduk yamg tidak biasa ini. Mendengar kalimat-kalimat menyebalkan dari Kevin, dia benar-benar kesal.


" Aku jadi ingin merebut istrimu agar aku bisa menjadi Superman juga. "


Kevin terperangah kesal.


" Dasar bajingan! tidak tahu terimakasih! sedetik saja kau memikirkan istriku, aku tidak akan segan mencongkel otak mu keluar. "


Adamson tersenyum miring.


" Baiklah, mulai detik ini aku akan lebih sering memikirkan istrimu. "


" Brengsek! "


Adamson tak lagi mau meladeni Kevin, dia memilih untuk pergi dari sana dan memikirkan bagaimana dia akan bertindak setelah mengetahui semua kenyataan ini. Sementara Kevin, dia masih saja menatap jengkel Adamson sampai Adamson sampai ke parkiran, bahkan sampai mobilnya melesat cepat dari sana.


" Sialan! kalau dari wajah, dia memang lumayan, tapi bokongnya terlalu montok. Sayangku tidak akan mungkin mau dengan laki-laki yang memiliki bokong lebih indah dari bokongnya kan? " Gerutu Kevin.


Setelah beberapa saat, Kevin kembali kerumah sakit untuk melanjutkan aktivitasnya. Yah, meskipun dia menjadi tidak fokus karena kata-kata Adamson, tapi dia tetap saja mencoba yang terbaik sebagai seorang Dokter.


" Kalau dipikir-likir, Sayangku memang tidak secantik bintang iklan sampo di televisi sih, dada dan bokongnya juga kerempeng. Padahal dia juga banyak makan, tapi tetap saja kurus, hah! jangan-jangan cacing di tubuhnya malah lebih besar dari tubuh Sayangku. "


" Kevin, apa belum puas menghina fisikku?! "


Kevin membeku mendengar suara Sherin dari balik punggungnya. Ya ampun! karena terus kepikiran dengan ucapan Adamson, dia sampai tidak sadar bergumam tentang fisik istrinya. Dia bahkan baru sadar kalau sudah menghabiskan lima belas menit waktu istirahatnya untuk hal itu.


TBC