
" Selamat datang! " Ucap Vanya dengan suara bahagianya. Sherin memaksakan senyum karena merasa aneh dengan senyum bahagia Vanya. Bagaimana ya? ini kan seharunya dia yang bahagia, tapi kenapa senyum Vanya malah mau mengalahkan kebahagiaannya? cih! sebal sekali, batin Sherin.
Beberapa saat kemudian, Mereka kini sudah selesai menikmati makan malam bersama mereka. Hanya mengobrol dan menikmati buah, serta makanan penutup setelahnya. Ditengah-tengah kegiatan, Vanya berdiri untuk menyampaikan maksud mengundang mereka datang malam ini.
" Begini, temen-teman. Sebenarnya, aku ingin mengumumkan sesuatu kepada kalian. " Vanya tersenyum sembari memegang kotak kecil.
" Tunggu! " Devi ikut bangkit dan berdiri disamping Vanya. Tentu saja membuat Vanya mendengus sekaligus bingung.
" Aku juga ingin mengumumkan sesuatu. "
" Aku juga! " Tak mau kalah, apalagi dia merasa kabar darinya adalah hal yang paling wow malam ini. Sherin ikut bangkit dan berdiri di samping Vanya.
Nath, Kevin, dan Lexi saling menatap bingung. Apa sebenarnya yang para istri itu rencanakan?
Vanya hanya bisa menghela nafas menatap Sherin dan Devi bergantian. Begitu juga dengan Sherin yang memaksakan senyum, yah mau bagaimanapun, ini adalah acaranya Vanya. Tapi kan dia juga penting sekali mengumumkan kabar kehamilannya sebagai hadiah ulang tahun Kevin.
" Kalau begitu, aku dulu yang mengumumkan. " Ujar Vanya.
" Ah! punyaku lebih penting! " Ucap Devi tak mau kalah.
" Tidak tidak! kabar dariku lebih penting. " Ujar Sherin dengan begitu semangat.
Mereka akhirnya berdebat dan saling memperebutkan posisi pertama. Membuat para suami mereka kesal dibuatnya.
" Katakan saja bersamaan! " Ucap Lexi yang sebenarnya merasa kesal dengan Vanya dan Sherin. Mereka tidak mau mengalah untuk istrinya yang malang itu. Nath dan Kevin hanya bisa mengangguk setuju.
Para istri hanya bisa terdiam setelah saling menatap. Akhirnya, mereka menyingkirkan ego mereka dan mengikuti saran dari Lexi.
" Baiklah, dalam hitungan ke tiga, kita katakan bersama-sama ya? " Sherin dan Devi mengangguk setuju.
Vanya menarik nafas dalam-dalam. Kegiatan ini juga di ikuti oleh Sherin dan Devi.
" Satu, dua, tiga!!! "
" Aku hamil! " Vanya, Sherin, dan Devi saling menatap bingung karena mereka mengatakan hal yang sama secara bersamaan.
ketiga pria itu juga malah saling menatap dalam artian bertanya.
" Kalian hamil juga? " Tanya Vanya kepada Sherin dan Devi yang langsung mereka angguki.
" Kau juga hamil? " Tanya Sherin kepada Vanya dan Devi. Vanya mengangguk.
" Jadi? kita hamil berjamaah? " Vanya bengong sendiri karena pernah membayangkan hal ini terjadi.
" Jadi sebenarnya, siapa yang hamil? " Tanya Nath yang masih belum bisa mengerti. Lexi dan Kevin juga bingung.
" Kita bertiga hamil! " Seru Devi sembari memeluk Vanya dan Sherin.
" Apa?! " Lexi bangkit untuk menanyakan langsung kepada istrinya. Begitu juga dengan Kevin dan Nath.
" Sayang ini serius? " Tanya Nath dengan wajah gembiranya.
Kevin yang masih tidak percaya hanya bisa bengong melihat kedua temannya memeluk istri mereka. Tapi saat matanya menatap wajah Sherin, hah! ya ampun! hampir saja dia terperanjak karena mata Sherin tengah memelototinya dengan tajam. Iya, dia merasa kesal dan iri melihat kedua sahabatnya mendapat pelukan dan ucapan selamat dari para suaminya. Tapi dia? suaminya malah bengong seperti kambing kekenyangan.
" Ah, sa sayangku! " Kevin bangkit lalu memeluk Sherin dengan semangat. Masih tidak percaya kalau dia akan menjadi seorang Ayah, tapi yang dia pikirkan adalah menyelamatkan diri dari amukkan Sherin yang luar biasa menakutkan.
" Memang kau hamil sungguhan? "
Sherin memberikan kotak yang ingin dia serahkan di hari besok, Kevin langsung merima dan membukanya perlahan.
" Ini sungguhan? " Tanya lagi Kevin sembari menatap penuh tanya. Sherin tersenyum lalu mengangguk.
Tentu saja bahagia, dia langsung mengusap perut Sherin, lalu memberikan sebuah kecupan disana.
" Hai anakku, tolong jangan lahir menjadi perempuan ya? "
Sherin yang dengan jelas mendengar apa yang di ucapkan Kevin, tentu saja bingung dan mengeryit penuh tanya.
" Kenapa kalau dia perempuan? "
" Anu, " Kevin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Iya, bagaimana dia akan menjawab pertanyaan dari Sherin? apa dia harus menjelaskan bagaimana nakalnya dia dengan perempuan dulu? tentu saja dia takut kalau anaknya nanti akan diperlakukan sama dengan dia memperlakukan wanita. Oh, bisa dibilang dia takut karma.
" Tentu saja dia takut, saat masih bujangan kan burungnya sangat bandel. Hinggap di sana dan disini, masuk sana masuk sini, perempuan bagi dia kan hanya seperti tisu, iya kan? " Sindir Lexi, lalu menyeringai puas setelahnya. Iya, meskipun ada rasa iri, karena dulu dia tidak bisa seperti Kevin yang memiliki keberanian memainkan wanita. Eh, itu pasti karena si Nath yang selalu menumpuk pekerjaan untuknya, dan membuatnya tidak punya waktu main ehem-eheman dengan perempuan.
" Matamu yang suka hinggap di sana sini! aku tidak seburuk yang kau katakan! " Kesal Kevin. Iya walaupun memang iya, seharusnya tidak sejujur itu kan? apa dia tidak tahu kalau terlalu jujur itu sangat menyakitkan.
" Iya, tidak seburuk yang aku bayangkan memang, tapi jauh dari itu. " Ucap Lexi.
" Lexi, aku ingin mencekik mu sampai mati! "
" Coba saja kalau kau berani! " Devi melotot tajam. Tentu saja ini adalah senjata, dan juga tameng untuk Lexi. Bahkan Nath juga tidak berani banyak bicara saat Lexi bersama istrinya. Hah! mungkin ini juga salah satu alasan dia terus bersama Devi, baik dirumah ataupun di kantor.
" Kenapa kau tidak terima? pertama kali melihatmu saja, kau sedang perang bibir dengan mantan pacarmu di tempat umum. Cih! mengingat itu aku jadi kesal sendiri. " Sherin melipat kedua lengannya, lalu meletakkan di dadanya. Hah! jijik sekali kalau ingat itu! apalagi saat dia tidak sengaja melihat lidah mereka menjulur dan menari-nari begitu, Ah! tiba-tiba dia jadi ingin mencekik Kevin.
Semua yang mendengar hanya bisa cekikikan menikmati bagaimana wajah Kevin yang was-was, takut istrinya murka. Tak mau membuat keadaan semakin buruk, Kevin segera membawa istrinya pulang dengan alasan agar Sherin tidak kelelahan saat hamil muda.
" Sa sayangku, anu, mau aku pijit tidak? " Tanya Kevin saat Sherin sudah akan menuju ke tempat tidur.
" Apa dulu kau sangat suka memijit Renata? oh, bagaimana dengan wanita yang lain? "
" Itu, sayangku, aku tidak pernah memijit siapapun. " Gila ya?! halo?! apa dia lupa kalau Kevin adalah anggota mafia? memijit? bahkan memijit dirinya sendiri saja dia tidak pernah. Hah! kenapa sosok menyeramkan di dunia mafia malah menjadi kucing peliharaan di depan istrinya sih?!
" Begitu ya? "
Kevin menyusul istrinya ke tepat tidur, lalu berbaring di sampingnya.
" Sayangku, boleh tidak mulai sekarang jangan menyebut nama mantan kekasih, atau menyebutkan masa lalu? aku ingin kita fokus dengan hidup kita tanpa ada embel-embel masa lalu lagi. Bisakah kita fokus untuk masa depan kit? aku tidak akan kembali dengan masa lalu kok. "
Tapi kalau ada wanita lain di masa depan, ya aku pikir-pikir dulu deh. Pft....
Sherin menyeringai menatap Kevin yang baru saja tersenyum aneh.
" Mari kita buat perjanjian. "
" Perjanjian apa? " Tanya Kevin.
" Kalau di masa depan kau berselingkuh, kau harus siap memangkas burung mu, dan mengubahnya menjadi satu bentuk denganku. "
TBC