
Sherin melangkahkan kaki dengan cepat menuju ruang prakteknya. Oh, sungguh dia tidak tahan dengan tatapan menyebalkan dari para gadis yang mengagumi Dokter Kevin. Sherin menghela nafas kasarnya karena mengingat betapa menyebalkan pria yang membuat Susana kacau ini.
Bruk...!
Sherin menghempaskan tasnya ke meja kerjanya. Dia mendudukkan tubuhnya karena sudah merasa pegal kakinya.
" Sialan! kenapa jadi seperti ini sih?! " Gerutu Sherin. Sungguh dia tidak tahu apa maksud dan tujuan Dokter Kevin terus mengganggunya. Kadang ia berpikir, mungkinkah dia ingin membalas dendam tentang kejadian di kafe itu? apa mungkin dia sengaja mendekatinya karena memiliki maksud lain? tapi satu hal yang tidak akan dia percaya. Yaitu, cinta. Tidak akan mungkin pria menyebalkan nan mesum itu jatuh cinta padanya kan? apalagi pacar Dokter Kevin sangatlah cantik. Kalau di lihat dari mobil yang waktu itu dia pakai, Sherin sudah bisa menebak jika pacarnya Dokter Kevin pasti orang berada.
" Bagaimana caranya agar bisa lepas dari Dokter mesum sialan itu ya? " Sherin nampak berpikir begitu keras.
" Ah....! " Kesal, sungguh dia amat sangat kesal. Bagaimana caranya dia harus menjauhi Dokter sialan itu? apartemennya sudah kadung ia beli dengan seluruh uang tabungannya. Menjualnya juga membutuhkan waktu kan? lagi, tidak mungkin dia pindah rumah sakit seenaknya saja. Dari rumah sakit inilah penghasilannya berubah menjadi lebih tinggi. Sudah, ia sudah lelah memikirkan cara untuk menjauhi Dokter Kevin. Dan hasilnya adalah nihil! tidak ada cara untuk menjauhi si kampret sialan itu.
" Baiklah, fokus saja bekerja. Hilangkan semua pikiran-pikiran buruk yang hanya membuat suasana hatimu kacau, Sherin. Yakinlah pada dirimu sendiri. Kau bisa, kau hebat, kau cantik, dan kau berani. " Ucap Sherin kepada dirinya sendiri sembari memejamkan mata dan setelahnya, dia menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan dia hembuskan. Iya, siapa tahu kegiatan itu benar-benar mampu membuang segala gundah gulana yang merajalela didalam hatinya hari ini.
" Ah....! " Kaget Sherin setelah membuka mata. Tentu saja dia kaget, kenapa? karena entah sejak kapan manusia yang ingin selalu Sherin hindari tiba-tiba sudah ada di hadapannya dengan posisi duduk sembari memangku wajahnya yang tengah tersenyum menyebalkan.
" Good Morning? "
Good Morning kepalamu!
" Se selamat pagi, Dokter Kevin. " Sherin memegangi dadanya yang hampir saja jantungnya berlari keluar.
" Selamat pagi, Sherin. Kau sangat cantik hari ini. " Kevin masih berucap dengan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menyangga wajahnya. Bibirnya juga masih terus tersenyum manis entah mau sampai kapan dia seperti itu.
Memang aku cantik. Tapi aku tidak rela pujian itu keluar dari mulut busuk mu.
Sherin sebisa mungkin mengontrol diri dengan mencoba tersenyum semanis mungkin.
" Terima kasih, Dokter Kevin. "
" Sebenarnya, hari aku dalam suasana hati yang kurang baik. Bisakah temani aku untuk makan siang? "
Tidak sudi! kenapa juga aku harus membuat hatimu lebih baik? aneh-aneh saja.
" Saya punya janji makan siang bersama teman saya. " Kilah Sherin yang tentu saja dia tidak mau.
Kevin tersenyum lalu mengubah posisi tangannya menjadi lebih rileks berada di atas meja.
" Baiklah, aku akan menunggu mu di jam makan siang. "
Sherin mengeryit bingung. Tadi tidak salah bicara kan?
" Saya tidak bisa, Dokter Kevin. "
" Aku tahu, makanya aku akan menunggumu di jam makan siang nanti. "
" Aku tidak bisa loh. "
" Aku tahu, sayang. "
Sayang matamu!
" Kalau saya tidak bisa, kenapa anda harus menunggu saya? " Sekarang ini wajah Sherin sudah mulai terlihat kesal. Maklum saja, siapa sih yang bisa berlama-lama menahan diri seperti ini?
Sherin terperangah. Sungguh dia sangat salut dengan rasa tidak malu Dokter Kevin yang semakin hari semakin menjadi.
" Baiklah, aku kembali ke ruang praktekku dulu. Sampai bertemu siang nanti, sayang ku. "
Dasar psikopat!
Sherin menggelengkan kepala beberapa kali karena merasa pusing menghadapi Kevin yang begitu menyebalkan. Maka biarkan saja lah. Karena tidak tahu harus bagaimana memghadapi nya.
Tak mau lagi memikirkan tentang Kevin, Sherin kini fokus mengerjakan tugasnya sebagai seorang Dokter. Seperti biasa, Sherin yang ramah kepada semua pasien selalu menyambut hangat dan memberikan semangat kepada pasiennya agar cepat sembuh. Sejujurnya, ini juga adalah salah satu bahan agar yang lain menjadi iri kepada nya. Sherin juga sama seperti Kevin. Dia memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan yang lain. Caranya menangani pasien, tanggap, dan tepat setia kali bertindak dalam penanganan. Semua itu juga bukan sebuah keberuntungan baginya. Karena untuk menjadi seperti sekarang ini, butuh usaha yang begitu luar biasa. Makan sehari sekali, kemana pergi memilih untuk berjalan kaki, menghemat dan jarang sekali membeli baju baru. Dan inilah hasilnya, Sherin yang sudah mendapatkan hasil dari usaha nya. Sherin yang bisa dengan bangga memakai seragam kedokteran karena usahanya sendiri.
Jam makan siang.
Sherin menjatuhkan kepalanya di meja karena merasa sangat lelah. Padahal hari ini hanya ada satu jadwal operasi, tapi entah kenapa dia begitu lelah. Tapi untunglah, saat operasi berlangsung dia tetap fokus seperti biasanya.
" Aku ini kenapa sih? tubuh ku seperti kehilangan banyak energi. Apa karena aku banyak berpikir? "
Tok... Tok...
Suara ketukan meja membuat Sherin mau tidak mau mengangkat wajahnya untuk melihat siapa si pengeruk meja pengganggu suasana pilunya.
Sherin menghela nafas kesal nya, lagi-lagi pria menyebalkan itu ada di hadapannya.
" Ayo kita berangkat. " Ajak Kevin. Laki-laki itu benar-benar tidak perduli apapun yang diucapkan Sherin tadi pagi ternyata.
" Dokter Kevin, saya tidak bisa. " Ucap Sherin dengan tatapan memohon.
" Tolong... " Pinta Kevin yang tak kalah pilu tatapannya dari Sherin.
Sudahlah, lelah juga harus terus menolak. Karena pada akhirnya, dia harus tetap pergi bersama Kevin. Sherin mengikuti langkah kaki Kevin dari belakang karena tidak mau menambah kadar kecemburuan para penggemar pria itu. Kevin yang merasa kurang nyaman dengan posisi berjalan seperti itu, dia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah Sherin. Dia meraih tangan Sherin yang menggandengnya tanpa memperdulikan betapa terkejutnya orang yang melihat adegan itu. Begitu juga dengan Sherin. Gadis polos itu mencoba melepaskan tangannya dengan terus memberontak.
" Tenanglah, Sherin. Kalau kau terus seperti ini, aku akan mencium mu di sini. "
Diam! tentu saja Sherin langsung diam tak mau lagi melawan ucapan Kevin yang begitu mengancam nyawanya.
Sesampainya mereka di sebuah restauran, Kevin dan Sherin duduk di sebuah ruangan VVIP yang begitu terjaga keamanannya.
" Apa yang ingin kau makan? " Tanya Kevin.
" Apa saja. Aku pemakan segala. " Jawab Sherin.
Kevin tersenyum. " Mau kah kau memakan ku? "
" Anda buka makanan. Kenapa saya harus memakan anda? "
" Aku bukan makanan, tapi rasaku nikmat loh. "
Apa sih maksudnya? apa dia mandi menggunakan kaldu ayam?
TBC