Marry Me, Please

Marry Me, Please
Luka



Sherin menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Berbeda dengan hari kemarin, hari ini dia benar benar bahagia. Meskipun pada awaknya dia terus menolak untuk mengakuinya, tapi setidaknya dia tidak perlu lagi berpura-pura saat berada di dalam kamar. Toh, tidak akan ada yang melihat kan? Sherin menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri melampiaskan kebahagiaan yang tidak bisa bendung lagi. Kevin. Nama itu kini tengah memenuhi isi kepala Sherin dan tak ketinggalan juga hatinya. Mengingat Kevin memeluknya tadi, rasanya dada yang tenang tiba-tiba seperti tersapu ombak besar terombang ambing tidak bertujuan. Dan akan lebih baik dia mengikuti saja arah hatinya kan?


" Gila ya? apa aku benar-benar menyukai Dokter mesum itu? " Gumam Sherin sembari menatap langit-langit. Sungguh munuafik jika dia tidak memahami apa yang di rasakan hatinya. Tapi logika selalu mengacaukan hati dengan banyaknya alasan. Tidak tahu bagaimana jadinya kalau semua ini berlanjut. Tapi sekuat apapun Sherin menolak, jika memang jodoh mana bisa di hindari.


Sherin kembali mengingat saat dia dan Renata bertemu. Jujur saja, hatinya seperti tida tahu malu kalau sampai menyukai pria yang sudah memiliki kekasih. Apalagi Renata sebenarnya adalah orang yang baik. Jika saja itu wanita lain, mungkin saja dia sudah menerima tamparan atau hinaan. Ditambah lagi, Renata adalah anak orang kaya itu semua bisa Sherin tebak dengan mudah dari penampilan ini Renata. Mulai dari mobil mewahnya, pakaian bermerk yang selalu membungkus tubuhnya, aksesories, dan juga gaya bicaranya. Sungguh, semua itu tidak bisa dibandingkan dengan Sherin yang lebih menyukai barang-barang murah.


***


Seperti biasa, hari ini Sherin tengah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Setelah mematikan bahwa semua keperluan sudah lengkap, Sherin dan mengajak Berly untuk segera berangkat. Ini juga adalah salah satu rutinitas Sharin. Sebelum bekerja, dia akan lebih dulu mengantar Berly ke sekolahnya.


" Kakak, mulai besok aku akan berangkat dan pergi sekolah bersama pengasuhnya Than than. Kakak tidak usah lagi mengantar ke sekolah. "


" Ok baiklah. " Sherin tersenyum sembari memandangi punggung Berly yang semakin menjauh dari nya. Vanya semalam memang sudah memberi tahu kalau dia meminta Berly berangkat bersama Nathan saja. Tapi karena hari ini dia sedang semangat, jadi ya dia ingin mengantar Berly sendiri.


Setelah memastikan Berly sampai ke dalam sekolahan, Sherin kembali melangkahkan kaki menuju rumah sakit. Bukan tidak mau membeli mobil, tapi berjalan kaki lalu menaiki angkutan umum adalah hobinya Sherin. Selain untuk berolah raga, dia juga merasa nyaman dengan melihat banyaknya orang sekitar beraktivitas. Apalagi sering kali dia melihat pasangan lansia yang begitu akur. Ditambah lagi, senyum para anak-anak tang manis cukup membuat hatinya merasa damai.


Tak terasa kaki Sherin kini telah menginjak lantai lobby utama rumah sakit. Semangat dan semangat itulah yang harus ia lakukan. Sherin menarik nafas panjangnya lalu menghembuskan perlahan. Jujur, dia sangat menikmati perannya sebagai seorang Dokter, tapi tatapan sinis dan banyaknya tenaga medis perempuan yang membencinya, rasanya cukup membuat mood nya berubah-ubah setiap waktu.


" Apa yang sedang kau lakukan, sayangku? " Lagi, suara keramat yang biasa mengganggunya kini kembali terdengar. Jujur, kali ini Sherin merasa tidak begitu marah seperti sebelumnya. Tapi, tidak mungkin dia memperlihat kan kalau dia tidak keberatan kan?


" Sayangku, kenapa masih berdiri di sini? ayo kita masuk! " Kevin melingkarkan lengannya di pinggang Sherin. Seperti biasa, Kevin akan mendekatkan wajahnya di tengkuk Sherin dan menghirup aroma tubuh nya.


" Masih sama, kau sangat wangi. " Ujar Kevin.


" Jauhkan tangan anda, Dokter Kevin! " Pinta Sherin sembari mencoba menjauhkan lengan Kevin dari perutnya.


" Tidak mau! "


" Menyingkir lah, Dokter Kevin. Aku tidak mau tindakan mesum mu ini menjadi masalah bagiku. "


Meskipun aku tidak keberatan, tapi aku tidak boleh terlalu terlihat gampangan kan?


Bukanya menjauh, Kevin justru semakin mengeratkan dekapannya.


" Dengar, kau adalah calon istriku. Kalau kau terus menolak ku, mereka pasti akan menganggap mu memiliki pribadi yang jahat. "


Calon istri? aku? menyenangkan sih mendengarnya, tapi aku tidak boleh terlihat senang dulu.


" Jangan bermimpi di pagi yang cerah ini. "


" Sherin, kau tahu? aku sangat merindukan mu. " Ucap Kevin berbisik di telinga Sherin. Merinding, rasanya benar-benar merinding saat hembusan nafas Kevin menyembur ke kulitnya. Hangat dan membuat Sherin tiba-tiba merasa nyaman.


" Dokter Kevin, tolong jangan begini. Lihatlah, banyak sekali yang melihat ke arah kita. "


Merasa mau karena di tatap aneh oleh kebanyakan orang yang kini melihatnya, Sherin mencoba kembali menjauhkan tangan Kevin yang masih saja memeluk pinggangnya.


" Dokter Kevin, anda benar-benar keterlaluan. Tolong jauhkan tangan anda! "


" Aku akan melepaskannya, tapi kau harus mencium ku terlebih dulu. "


Sherin terperangah lalu menoleh ke arah Kevin.


" Anda benar-benar tidak waras ya? "


Sherin menghempaskan paksa tangan Kevin hingga Kevin terdengar mendesis seperti merasakan sakit.


" Saya sudah meminta anda dengan sopan. Tapi sepertinya anda sangat suka jika saya berbuat kasar. "


Kevin tersenyum seperti tak menganggap ucapan Sherin yang jelas tidak menyukai tindakannya.


Sherin, tidak tahu kenapa, sekarang aku merasa tubuh ku sangat sakit. Lengan, dan juga kaki ku yang terkena sayatan pisau. Tadi aku membutuhkan mu untuk sebentar memapah tubuh ku.


" Sherin, apa kau tahu? kau sangat manis saat sedang marah. Aku suka melihat bibir cemberut mu yang seperti ini. " Kevin kembali tersenyum menatap wajah Sherin.


Tadinya Sherin ingin marah karena merasa kesal dengan ucapan Kevin, tapi saat matanya tak sengaja melihat ke lengan Kevin yang tertutupi kain kemeja berwarna cream yang terdapat noda darah segar, dengan cepat Sherin mendekat ke arah Kevin. Meraih tangannya lalu mencoba untuk membuka kancing kemejanya.


" Apa yang ingin kau lakukan? " Tanya Kevin sembari menahan tangan Sherin.


" Lengan mu terluka. Kau tidak lihat? noda darah di lengan mu semakin banyak. "


Kevin menjauhkan tangan Sherin lalu membenahi kancing lengan kemejanya.


" Bukan luka parah. Tadi hanya tidak sengaja tergores kaca. " Kilah Kevin yang tak mau diketahui lukanya oleh Sherin. Tentu saja tidak mau kalau sampai Sherin melihat luka yang ia miliki. Sherin adalah Dokter berbakat dan dengan mudah tentu dia bisa mengetahui sebab luka yang dia miliki. Dan kalau sampai Sherin menyadari lalu bertanya, bagaimana dia akan menjelaskannya? apalagi luka di lengannya bisa dibilang parah.


" Kalau hanya tergores, kenapa aku tidak boleh melihat? " Tanya Sherin karena merasa bingung.


" Aku sudah mengobatinya. Tidak akan terjadi masalah. "


" Tapi lukanya berdarah. "


" Untuk yang ini, kau tidak boleh bertindak lebih, Sherin. " Ucap Kevin dengan tatapan tegasnya.


" Aku bisa mengurus diriku sendiri. "


TBC