Marry Me, Please

Marry Me, Please
Adamson



Sesampainya di rumah sakit, seperti biasanya Sherin menjalani aktivitas. Keluar masuk pasien untuk mendapatkan penanganan, serta memberikan wejangan kepada pasien yang berkonsultasi kepadanya. Sudah tiga tahun dia menjadi Dokter, waktu tiga tahun mungkin tidaklah panjang, tapi selama tiga tahun itu juga dia selalu melakukan yang terbaik. Ketelitian, kesabaran, kerja keras, kecerdikan, terutama saat menangani pasien, terlebih lagi ketika melakukan tindakan operasi. Meskipun dia tidak mengerti kenapa Adamson mencari permasalahan dengannya, tentu Sherin yakin dengan kemampuannya sendiri. Boleh dia teledor dan bodoh dalam kebiasaan lain, tapi tidak akan dia berikan sedikit saja kesalahan dalam mengobati pasien.


Setelah jam makan siang, seperti yang sudah dijanjikan, Adamson telah membuat janji temu dengan Sherin untuk membicarakan masalah, atau keluhan terhadap Sherin. Sebenarnya agak membingungkan juga menurut Sherin, jika memang benar yang dia katakan, lalu bagaimana dia bisa sesantai ini? bahkan sampai membuat janji temu yang tidak boleh di ganggu sama sekali.


Kevin dan Sherin berjalan menuju ruangan yang sudah ia siapkan untuk bertemu dengan Adamson.


Sesampainya di depan pintu, Sherin menghentikan langkah kakinya untuk bisa menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya pelan. Cukup, dia meraih handle pintu untuk membuka pintunya. Sebenarnya Kevin juga kebingungan, selain Adamson tidak bisa di lacak, ekspresi serta perilaku istrinya saat akan bertemu Adamson benar-benar tidak biasa.


" Selamat siang, Tuan Adamson? " Sapa Sherin saat dia sudah sampai di dalam, dan mendapati Adamson tengah duduk dengan gaya arogan.


Adamson melepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi menutupi kedua matanya. Dia tersenyum tipis sebelum menjawab sapaan dari Sherin.


" Lama tidak berjumpa, Sherin. Oh, maksudnya adalah Dokter Sherin. "


Kevin menatap Adamson penuh tanya. Sungguh dia sama sekali tidak bisa menebak apa tujuan detail dari orang tersebut, tapi kalau di lihat dari cara bicara Adamson, sepertinya niat pria itu tidaklah baik.


" Kita tidak sedekat itu, Tuan Adamson. Tentu akan sangat aneh jika anda menyapa seolah kita sering bertemu. " Jawab Sherin. Dia kembali melangkahkan kaki untuk duduk di sofa, dan tepat berhadapan dengan Adamson. Tak mau ketinggalan, Kevin juga duduk di samping Sherin untuk menemani. Entahlah, rasanya dia begitu was-was dengan pria itu.


" Cih! aku benar-benar tidak percaya. Padahal aku sudah menyampaikan bahwa aku tidak ingin ada orang lain selain kita berdua saat berbicara. "


Sherin terdiam sesaat.


" Suamiku adalah Dokter terbaik di rumah sakit ini. Selain itu, dia juga adalah pemilik rumah sakit ini. Masalah besar seperti ini, tentu saja membutuhkan dia kan? "


Adamson terdiam dengan tatapan yang terlihat marah meski dia sudah sebisa mungkin menyembunyikannya.


" Baiklah, jika itu mau mu. "


Adamson menyodorkan sebuah amplop coklat yang berukuran besar.


" Lihat ini! "


Tentu saja Sherin menerima amplop itu dan membukanya. Sherin tersenyum tipis mendapati photo Rontgen yang menjelaskan bahwa ada beberapa helai rambut yang tertinggal di dalam tubuh pasca melakukan operasi beberapa minggu lalu. Sherin memasukkan kembali hasil Rontgen itu dan mengembalikannya kepada Adamson.


" Kau meragukan ku, tentu saja sudah menjadi tradisi mu. " Sherin menatap tegas kedua bola mata Adamson.


" Entah saat itu, ataupun sekarang, aku akan tetap menyatakan kepadamu, dan juga dunia bahwa aku benar. Kau, berhentilah mencari gara-gara. "


Adamson terkekeh. Setelah itu dia tersenyum miring dengan tatapan tajam menatap Sherin.


" Kenapa? kau takut citra mu akan rusak kalau masa lalu terbongkar? "


Sherin tersenyum percaya diri. Dia melipat kedua lengannya, dan meletakkan di dada, menyilangkan kakinya seolah dia sama sekali tidak gentar.


Adamson menatap Sherin dengan tatapan dingin.


" Benarkah? Dokter Sherin, apa selama ini tidur mu nyenyak? apa kau tidak pernah membayangkan seorang gadis cantik terkapar bersimbah darah? apa kau sekarang fobia ketinggian? apa kau pernah mendengar jeritan gadis cantik itu sebelum mati? "


Sherin mengubah posisi tangannya, dia mencengkram kuat pinggiran sofa duduk yang ia duduki.


" Setiap hari aku melihat darah di rumah sakit, mendengar suara anggota pasien saat kehilangan juga aku sering dengar, tapi aku selalu tidur dengan nyenyak. Bahkan, lebih nyenyak dari pada beberapa tahun lalu. "


Adamson mengeraskan rahangnya. Sudah tujuh tahun berlalu, dulu dia adalah seorang pemuda yang begitu malas belajar, apalagi memikirkan prestasi. Tapi demi membalas apa yang dilakukan Sherin di masa lalu, dia berubah menjadi begitu giat, bahkan dia juga mengambil jurusan hukum agar bisa memberikan hukuman kepada Sherin suatu hari nanti.


" Kau lihat saja nanti. Entah apapun yang terjadi, aku akan tetap membuatmu dihukum berat. Bahkan, aku akan berusaha membuatmu kehilangan gelar sebagai seorang Dokter muda yang berbakat. "


" Akan aku tunggu, Tuan Adamson. Tapi dari pada itu, bukanlah yang harus dipikirkan adalah pasien ini? dimana dia? "


" Sudah ditangani oleh ruang sakit terbaik pilihanku. "


" Oh. "


Kevin yang sedari memilih diam dan memperhatikan, serta mencerna tiap kata dari Adamson kini sedikit mulai mengerti.


" Tuan Adamson, sepertinya kau masih begitu kukuh pendirian. Maka, lakukan saja apa yang bisa kau lakukan, dan kami akan melakukan apa yang kami bisa. Tapi ingat, saat semua itu terjawab, kau sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbalik. Karena aku, adalah orang yang tidak murah belas kasih. "


" Haha..... Benar-benar mengerikan. Seorang Dokter, tapi bicaramu seperti seorang detektif, aku benar-benar merasa takut. Tapi sayangnya, aku tida berniat untuk mundur. "


Setelah mengatakan itu, Adamson berjalan keluar meninggalkan ruangan.


" Kau baik-baik saja? " Tanya Kevin saat melihat Sherin menghela nafas panjangnya.


" Iya. "


" Sayangku, masa lalu seperti apa yang terjadi di antara kalian? kenapa aku tidak mendapatkan informasi tentang itu? " Tanya Kevin.


Sherin terdiam sejenak.


" Dulu, saat aku duduk di bangku sekolah menengah, aku memilih atap sekolah karena merasa itu adalah tempat yang paling tenang. Bukan hanya sekali dua kali, tapi aku selalu menghabiskan waktu istirahat untuk berada di sana dan membaca kembali buku pelajaran. Aku adalah seorang siswi miskin yang hanya mengandalkan prestasi, aku tidak bisa banyak bermain seperti siswi lainya. Tapi hari itu, hari dimana ujian kelulusan di mulai. Seorang siswi terjatuh dari atas gedung. Sungguh aku tidak melihat bagaimana bisa dia jatuh, posisiku sedang membelakanginya, dan aku juga menggunakan handset. Aku masih terus membaca buku ku sampai aku menyadari jika banyak orang yang datang ke atap dan menatapku aneh. Barulah aku mulai tersadar, aku mulai kebingungan saat semua berbicara aneh dan melihat ke bawah. "


" Sayangku, jika kau merasa berat, biarkan aku mencari tahu sendiri. "


" Tidak apa-apa, aku tidak mau menceritakan padamu, karena aku merasa jika aku bukanlah orang yang bertanggung jawab. Padahal, pihak berwajib juga sudah mengkonfirmasi jika aku tidak bersalah, tapi Adamson, pacar wanita itu masih saja menyalahkan ku. "


TBC-