Marry Me, Please

Marry Me, Please
Menemui Ibu



Setelah kepulangan mereka ke apartemen, Sherin tentu melakukan rutinitas sebelum tidur. Mulai dari mandi, dan sebagai mana mestinya seorang wanita. Sementara Kevin, pria itu memilih untuk pergi ke balkon dan menghubungi seseorang.


" Selamat malam, tolong selidiki keluarga yang beberapa waktu lalu aku meminta mu untuk mencari tahu. Baik, aku tunggu kabar baik darimu. " Kevin memutuskan sambungan teleponnya, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Penat, tapi dia juga tidak boleh goyah hanya dengan hal sepele seperti ini. Dia menoleh kebelakang memastikan sudah atau belum Sherin keluar dari kamar mandi. Rupanya masih seperti biasa, Sherin akan butuh waktu lama saat mandi. Kevin akhirnya memutuskan untuk mandi di kamar mandi yang lain.


Beberapa saat kemudian. Kevin yang baru saja masuk kedalam kamar, dia tersenyum karena melihat Sherin yang tengah berpakaian. Dia tak bergeming dan terus menatap tubuh Sherin, untuk berat badan dari tinggi badan Sherin, tentu dia tergolong sangat kurus, Kevin jadi berpikir keras. Seberapa banyak makanan yang harus dimakan Sherin agar lebih capat berisi ya?


" Sudah puas? " Tanya Sherin yang tentu saja dia sadar jika Kevin terus memperhatikannya sedari tadi.


" Belum. " Kevin tersenyum lalu berjalan ke arah Sherin. Dipeluknya tubuh kurus sang istri dengan lembut. Iya, biasanya dia akan memeluk dengan erat sampai puas. Bahkan, Sherin sering kali marah karena merasa sesak. Tapi kali ini dia merasa agak kasihan melihat tubuh kurus istrinya itu.


" Kau mau makan? " Tanya Kevin setelah mengurai pelukannya.


" Makan? bukanya kita sudah makan malam sebelum pulang kerumah? " Sherin mengeryit karena merasa bingung.


" Khusus untukmu, sekarang kau harus makan sehari lima kali. "


Sherin terperangah heran. Lima kali? memang sih, Kevin banyak uang. Tapi mana mungkin juga dia makan sebanyak lima kali? Sherin menunduk memandangi tubuhnya? apakah dia begitu terlihat kekurangan gizi?


" Mau sedang menghinaku ya? "


Kevin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tersenyum kikuk karena tidak tahu harus mengiyakan atau mengelak. Memang benar, Sherin terlihat sangat kurus bagaikan kekurangan gizi. Tapi kalau dipikir sejenak, mana mungkin juga seorang Dokter kekurangan gizi?


" Tidurlah! jangan membicarakan omong kosong lagi! " Sherin berjalan menuju tempat tidur dan meninggalkan Kevin yang masih berdiri disana. Dia merebahkan tubuhnya, meraih selimut tebal yang tergeletak di ranjang tidurnya, menaikkam sampai ke batas leher dan memaksa matanya agar terpejam. Iya, meski hatinya masih bergerundel, tapi biarkan saja dia tahan di dalam hati. Toh, Kevin memang sudah terbiasa dengan wanita-wanita montok, kalau dibandingkan dengan tubuhnya yang seperti papan triplek, tentu saja sangat jauh berbeda.


" Sayangku, jangan marah ya? aku hanya sedikit sedih karena tubuhmu sangat kurus. Aku hanya ingin kau terlihat agak gemuk saja. Tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa kok. Aku tetap mencintaimu apa adanya. "


" Cih! aku juga tidak begitu polos seperti yang kau pikirkan, selama ini kau kan dekat dengan wanita-wanita montok, wajar saja kau tidak cukup puas dengan tubuhku yang seperti pena berdiri. " Ucap Sherin tanpa membuka matanya.


" Tidak kok. Aku tidak merasa kekurangan apapun darimu. Sumpah! aku hanya merasa sedih melihatmu kurus seperti ini. " Belum sempat melanjutkan bicaranya, suara ponsel menghentikan ucapan Kevin. Dia meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Rici? Tak ingin terus diganggu dengan nomor telepon yang berbeda setiap harinya, Kevin memutuskan untuk mengangkat saja telepon dari Rici.


" Halo? "


Dokter Kevin, apa kabar?


" Kabar buruk, ada apa? "


Em, maaf kalau aku mengganggu mu. Boleh bicara sebentar?


" Apa yang ingin kau bicarakan? "


Besok adalah hari ulang tahun ku, bisakah Dokter Kevin datang?


" Aku tidak bisa, besok jadwalku menemani istriku berbelanja. "


" Maaf, tidak bisa! oh ya satu lagi! tolong jangan menghubungi ku terus menerus, aku benar-benar tidak nyaman dengan caramu ini. "


Dokter Kevin, aku.


Tut.


Kevin memutuskan sambungan teleponnya, melas sekali rasanya harus berurusan dengan gadis itu, memang wajahnya cantik, tatapannya juga manja dan polos, tapi tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan istrinya, Sherin.


" Dia menghubungi mu lagi? " Tanya Sherin.


" Iya, lama-lama membuat muak saja. " Kevin menjauhkan ponselnya, dia kembali membenahi posisinya agar bisa memeluk Sherin dan bisa dengan nyaman untuk segera memejamkan mata.


"Oh iya, tadi selesai aku mandi, Ibu mengirim pesan. Dia memintaku untuk menemuinya. "


" Ibumu? kenapa tidak datang kesini saja? dimana kalian akan bertemu? " Tanya Kevin yang sudah mulai curiga.


" Ibuku belum memberi tahu, tapi dia bilang akan dia beri kabar besok setelah makan siang. "


" Sayangku, nanti hubungi aku dimana kalian akan bertemu ya? dan juga, cepat hubungi aku jika kau merasa ada yang tidak beres. Atau, boleh aku ikut? "


Sherin mendesah sebal. Dia kembali mengingat pesan dari Ibunya untuk datang sendiri saja, karena ada banyak hal pribadi yang akan mereka bicarakan.


" Ibu ingin aku datang sendiri saja. "


" Kenapa aku sangat curiga dengan Ibumu ya? " Sherin menatap dengan tatapan yang tidak tentu apa. Pikirannya terus menebak apa yang akan terjadi, tapi mana mungkin Ibu kandung akan menyakiti putrinya sendiri?


" Aku juga begitu, tapi walau bagaimanapun, dia tetaplah Ibuku. Aku berhutang banyak karena dia sudah melahirkan ku, dan membuatku hidup tanpa kasih sayang darinya. "


Kevin menghela nafas panjangnya. Memang benar juga, jadi tidak usah terlalu dipikir secara negatif, toh memang benar Ibu kandungnya kan?


" Baiklah. "


Esok harinya. Seperti yang sudah di bicarakan dengan Kevin, Sherin kini tengah bertemu dengan Ibunya. Disebuah tempat makan yang ada di salah satu hotel ternama di tengah pusat kota, awalnya Sherin agak bingung karena Ibunya memilih restauran di dalam hotel, tapi karena wanita yang ia ingin temui adalah Ibunya, maka sebisa mungkin Sherin berpikiran positif saja.


" Sherin, minumlah dulu. Ibu sudah memesan es kopi kesukaan mu. " Ibunya Sherin menyodorkan segelas es kopi yang memang benar favorit Sherin. Karena rasa haus selama perjalanan menuju kesana, Sherin langsung saja menengguk es itu hingga sisa setengah gelas. Entah apa saja yang dibicarakan oleh Ibunya, Sherin benar-benar tidak mendengar dengan jelas. Kenapa? karena sekarang ini dia tengah merasakan pusing dan juga mengantuk.


" Sherin? " Panggil Ibunya Sherin saat Sherin tidak bisa menahan lagi dan tertidur dengan posisi kepala di atas meja. Pandangan mata Ibunya Sherin perlahan menjadi sendu.


" Sherin, maafkan Ibu. Ibu tidak memiliki pilihan lain. Demi menyelamatkan keluarga Ibu, Ibu harus mengorbankan mu. Maaf... " Tidak lama setelah itu, datanglah dua orang pria bertubuh besar, salah satu dari mereka menggendong Sherin, berjalan menuju lift, dan membawanya ke sebuah kamar hotel yang sudah ada seorang pria yang duduk di atas tempat tidur.


TBC