
Setelah lelah mendengar bujukan, rayuan, bahkan penjelasan sembari memohon. Sebenarnya dia masih kesal mengingat bagaimana Kevin begitu jujur dalam menilai dirinya, tapi mau bagaimana lagi? yang di katakan Kevin kan memang benar semua. Mulai dari dada, bokong, bahkan juga wajahnya. Cih! memang laki-laki itu tidak akan paham, hal yamg paling menyakiti perasaan wanita adalah ketika pasangannya menyebutkan segala kekurangannya, terlebih mengenai fisik yang jelas adalah pemberian dari Tuhan.
Sharin menikmati aroma terapi yang ia campurkan ke dalam air di bathub nya. Lumayan juga untuk mengusir penat. Eh, tali tiba-tiba Sherin teringat jika besok adalah ulang tahun Kevin.
" Meskipun aku masih sebal, tidak mungkin kalau tidak memberikan hadiah ulang tahun kan. Apalagi aku sudah menghabiskan banyak uang dua hari kemarin. "
Sherin berpikir sejenak, memang bingung mau memberikan hadiah apa. Jelas Kevin memiliki penjahit pribadi untuk bajunya, jam tangan? oh tidak! bahkan dia memiliki koleksi jam tangan mewah. Sepatu? itu tidak juga karena Kevin memiliki banyak sepatu. Uang? heh! dia saja belanja memakai uang dari Kevin.
" Hah! sudahlah! mumpung besok hari libur, aku akan pergi ke pusat belanja saja. " Ujar Sherin, lalu mulai kembali fokus menikmati aroma terapi yang menyeruak dari air di bathub nya.
Ke esokkan paginya. Seperti yang sudah direncanakan, Sherin mengunjungi pusat belanja. Dia memilih untuk pergi sendiri karena ingin memberikan kado tanpa sepengetahuan Kevin. Kini sampailah Sherin di salah satu butik ternama milik desainer terkenal yang namanya sudah dikenal di dunia internasional.
Sherin berjalan memperhatikan jejeran perlengkapan pakaian. Mulai dari kemeja, jas, jaket, kaos, sepatu, dasi, jam, sepatu, dan masih banyak lagi. Cukup sulit memang memikirkan apa yang cocok untuk Kevin hingga pada akhirnya, dia melihat sebuah pena berwarna hitam, dan memiliki garis berwarna gold yang terlihat sangat elegan. Baru saja tangannya akan menyentuh, sebuah tangan wanita sudah lebih duku meraihnya.
" Bungkus ini untukku! " Ucap wanita itu.
Sherin tadinya tidak mau mempermasalahkan hal ini, tapi begitu melihat wajah wanita itu yang tak lain adalah Renata, Sherin sontak menatap sebal.
Dia pasti sengaja.
" Oh, tidak sengaja selera kita sama ya? " Renata tersenyum miring dengan tatapan mengejek. Seperti kebanyakan wanita yang cemburu, maka Sherin sudah cukup biasa menghadapi itu.
" Oh, begitu ya? " Sherin memutuskan untuk tidak melanjutkan interaksi mereka karena malas meladeninya. Kini dia berjalan mendekati dompet-dompet keluarga terbaru karena dia ingat benar jika Kevin hanya memiliki sedikit koleksi dompet.
" Bungkus ini untukku! " Ucap lagi Renata yang entah sejak kapan sudah ada di sana.
Sherin menyipitkan matanya karena merasa sebal. Sabar, anggap saja ini kebetulan meskipun tidak mungkin. Sekarang Sherin berjalan mendekati cincin laki-laki yang begitu kekinian, ditambah lagi itu adalah salah satu cincin pria yang hanya ada lima luluh buah di seluruh dunia.
" Bungkus ini untukku! "
Hah! Sherin kini semakin tidak tahan lagi dibuatnya. Dia menatap Renata kesal, padahal sudah dua kali dia merebut benda yang dia minati. Jelas sekali kalau sengaja. Sherin memang sangat marah, tapi sepertinya dia memiliki ide brilian untuk membalas perbuatan menyebalkan Renata. Sherin berjalan mendekati barang-barang eksklusif dan sangat mahal.
" Bungkus ini untuk ku! "
" Aku mau yang ini! "
" Berikan saka ini padaku! "
" Aku ambil semua warna! "
" Aku mau yang itu! "
Seperti itulah Renata beraksi setiap kali Sherin menyentuh benda. Mungkin Renata tidak menyadari, tapi disinilah Sherin benar-benar mulai mengibarkan bendera kemenangannya. Sudah empat kartu yang digesek, tapi tak ada satupun yang bisa ia gunakan untuk membayar barang-barang belanja nya yang lebih dari dua puluh miliar itu.
" Maaf Nona, limit kartu anda tidak cukup untuk melakukan pembayaran. " Tentu saja Renata merasa marah juga malu, tapi kalau dia menunjukkan itu di hadapan Sherin, tentu saja dia akan merasa malu.
" Oh ya ampun! " Sherin terkekeh geli melihat bagaimana Renata berekspresi. Padahal sudah jelas-jelas dibodohi, tapi masih saja terjebak. Mana yang dia beli adalah atribut pria semua. Haha! Tawa Sherin di dalam hati.
" Aduh, ya sudahlah. Aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan dari toko ini. Setelah aku pikir-pikir, suamiku hanya menyukai ku, maka menghadiahkan tubuh ku sebagai kado ulang tahun adalah pilihan paling tepat. " Ujar Sherin seraya melangkah pergi meninggalkan Renata yang kini menatapnya tak percaya.
" Hihihi... Dasar bodoh! buang banyak uang hanya karena kesal padaku. Kalau aku jadi dia, seperak saja aku tidak akan sudi membuang percuma seperti itu. Dasar! cantik, kaya tapi bodoh! " Gumam Sherin seraya menjalankan kakinya kembali mendatangi toko lain.
Karena masih belum mendapatkan barang yang dirasa cocok untuk Kevin, Sherin masih terus berjalan mencari apa yang baginya cocok hingga matanya terhenti melihat seorang wanita tengah mengandung sedang memilih dasi dengan seorang pria yang tentu itu adalah suaminya. Sherin tersenyum karena sepertinya dia mendapatkan ide. Meskipun belum yakin sepenuhnya, tapi dia akan segera mencobanya.
Sherin memutuskan untuk mencari apotik dan membeli dua buah alat uji kehamilan. Meskipun sudah lewat satu minggu dari masa datang bulan, tapi Sherin masih saja merasa takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan yang dia harapkan. Tapi demi memberikan hadiah yang tak biasa, maka dia menguatkan hatinya untuk mencobanya.
Tak menunggu pulang kerumah, atau bahkan sampai bangun tidur besok pagi, Sherin langsung saja menggunakan alat uji kehamilan itu sesampainya di rumah.
Setelah beberapa saat, Sherin menutup bibirnya karena begitu bahagia. Iya, dia tengah mengandung anak pertamanya bersama Kevin. Hadiah yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan hadiah terindah yang pernah Sherin dapatkan.
" Baiklah, tunggu besok saat dia ulang tahun. " Ucap Sherin.
Pukul sembilan belas malam, Sherin yang sudah akan merangkak ke tempat tidur kini menghentikan niatnya karena telepon dari salah satu sahabatnya yaitu, Vanya. Dia mengundang Sherin dan juga Kevin untuk datang ke apartemennya. Nanti juga akan datang Lexi dan juga istrinya, Devi. Entah acara apa, tapi sepertinya ini adalah kesempatan bagus untuk mengumumkan perihal kehamilannya.
Setelah memberitahu Kevin mengenai undangan Vanya dan Nath, kini mereka tengah bersiap-siap untuk datang kesana. Santai, itulah yang mereka lakukan karena apartemen Nath dan Vanya ada disebelah apartemen mereka.
" Sayangku, sudah selesai? " Tanya Kevin seraya berjalan mendekati istrinya yang sepertinya sudah rapih.
" Sudah. " Jawab Sherin seraya meraih sebuah kotak kecil terbuat dari kayu yang terletak di meja riasnya.
" Sayangku, apa yang kau bawa? apa kau memberi mereka hadiah? " Tanya Kevin.
" Iya, hadiah ini juga milik kita. Ayo berangkat. "
TBC