
Setelah memberikan pertolongan kepada anak si pria tersebut, Kevin dan yang lainya pergi meninggalkan rumah itu. Memang terlaku berhati nurani sebagai mafia, tapi mau bagaimana lagi? profesi Kevin yang sebagai Dokter membuatnya tidak bisa membiarkan saja saat manusia selain lawannya kesakitan. Terlebih, yang menderita adalah balita. Bukan hanya memberikan pertolongan pertama, Kevin juga memberikan uang kepada wanita, atau istri dari pria yang hendak mencelakai Sherin agar segera membawa anak mereka ke rumah sakit.
" Bagaimana penyelidikannya? " Tanya Kevin seraya berjalan menuju jalan utama, tempat dimana dia dan juga orang-orangnya meninggalkan kendaraan mereka.
" Sudah mulai melacak siapa pengirim pesan, Bos. Tapi setelah meretas ponsel pria tadi, sepertinya dia adalah pihak ke tiga. "
Kevin mengangguk.
" Cari tahu secepatnya. Gunakan segala kemampuan mu, dan juga relasi mu, aku benar-benar tida akan melepaskan dalangnya. " Titah kevin.
" Baik. "
Setelah keluar dari hutan itu, Kevin memutuskan untuk kembali ke hotel terlebih dulu. Selain karena malam yang semakin larut, juga tidak mungkin akan secepatnya mendapatkan kabar yang dia inginkan.
" Untung saja bukan karena identitas ku. " Gumam Kevin seraya menyalakan mesin mobilnya. Tak mau berlama-lama, Kevin langsung menjalankan mobilnya, melesat cepat agar bisa lebih cepat untuk bertemu dengan istrinya. Setidaknya kini dia sudah tidak terlalu khawatir seperti saat dia berangkat tadi, memang benar tujuan pria itu adalah Sherin, tapi selama pria itu bukan anggota mafia dari lawan kubu, maka itu masih mudah untuk di atasi.
***
Tiga jam lebih, Sherin hanya bisa berjalan kesana kemari, duduk lalu berdiri, karena merasa cemas. Rasanya tidak rela sekali kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kevin. Kalau saja sampai Kevin pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun, alias tidak mendapatkan luka, dia akan berperilaku baik mulai dari sekarang, dia juga akan mengutarakan bagaimana perasaan nya yang sesungguhnya. Sudahlah, masa bodoh juga. Tidak perlu malu-malu atau merasa harus jaga image. Toh, Kevin adalah suaminya, mumpung dia masih hidup, lebih baik kalau dia memperlakukan Kevin dengan baik, dan lebih tulus mulai sekarang.
" Kenapa dia belum pulang juga? " Sherin mengigit bibir bawahnya karena tidak bisa menahan perasaan cemas begitu saja. Dia bahkan sudah mengusap kasar wajahnya entah berapa kali. Pandangannya lagi-lagi ingin mengintip jam. Lima menit saja sudah bagaikan lima abad.
" Kalau saja aku jadi janda, aku benar-benar akan mengutuk mu, Kevin. Kalau kau mati cepat, aku kan belum bisa menyombongkan diri bahwa suamiku adalah mafia tampan dan keren. Kalaupun nanti aku menceritakan setelah kau mati, yang ada mereka akan menganggap ku gila. "
Baru saja dia selsai bergumam kesal, pintu kamar terbuka pelan. Awalnya memang takut itu adalah pencuri, jadi dia untuk memutuskan untuk bersembunyi dari belakang pintu. Heh! sepertinya dia berlebihan, karena saat dia mengendus aroma tubuh Kevin, dia sontak memeluk Kevin dari belakang.
" Kau sudah pulang? "
Kevin tersenyum, dia menikmati saja pelukan Sherin yang terasa begitu nyaman baginya.
" Kok tidak kaget? " Tanya Sherin.
Kevin mengurai dekapan Sherin, dia membuat posisi tubuh mereka saling berhadapan dengan membalikkan tubuhnya.
" Karena aku peka. Aku tahu kau bersembunyi, maka aku biarkan saja sampai kau datang sendiri. "
Sherin berdecih lalu meninggalkan Kevin disana. Dia berjalan mendekati tepat tidur, lalu mulai merebahkan tubuhnya disana. Tak lupa, dia juga menarik selimut tinggi agar menutupi hampir seluruh tubuhnya.
" Kau belum tidur? " Tanya Kevin sembari berjalan menyusul Sherin.
" Belum. "
" Kenapa? " Kevin melepas jaketnya, menaruhnya di sofa yang berada di seberang tempat tidur.
" Aku, aku kan menunggumu pulang. " Baiklah, sepertinya dia tidak perlu berpura-pura lagi. Toh dia sudah janji akan memperlakukan Kevin dengan baik saat dia pulang dengan selamat kan? Eh, selamat? Sherin bangkit dari posisinya. Dia memperhatikan tubuh Kevin yang kini sudah bertelanjang dada. Dia berdiri lalu memeriksa tubuh Kevin dengan teliti.
" Apa kau terluka? apa ada memar? " Tanya Sherin, dia masih saja berjalan memutar untuk memastikan benar kalau Kevin baik-baik saja.
Kevin terkekeh, dia meraih pergelangan tangan Sherin, lalu membuat tubuh Sherin jatuh ke pelukan nya.
" Aku baik-baik saja, sayangku. Jika kau meragukan keadaan ku, bagaimana kalau kau mengetesnya? "
Sherin mengeryit menatap Kevin yamg kini tersenyum mesum ke arahnya.
" Apa yang ada di kepalamu? " Tanya Sherin yang mulai sebal.
" Otak, dan saudara-saudaranya. " Jawab Kevin.
" Kalau begitu, apa yamg otakmu pikirkan? "
Kevin mengeratkan dekapannya. Matanya semakin lekat menatap kedua bola mata Sherin.
" Tentu saja tubuh mu. Tapi sepertinya aku lebih menginginkan hal yang lain. "
" Apa? " Tanya Sherin.
" Kau sudah janji untuk memberi tahu bagaimana perasaan mu sekarang terhadapku saat aku kembali kan? "
Sherin menelan salivanya yang bagaikan menelan pasir. Haha, memang iya sih. Tapi, kenapa kenapa dia tiba-tiba merasa tidak percaya diri? bahkan jauh lebih mendebarkan dari saat dia mengambil sumpah seorang Dokter.
"Kenapa? kau masih tidak paham bagaimana perasaan mu terhadapku? apa aku harus mati terlebih dulu baru kau tahu apa yang hatiku rasakan terhadapku? " Kevin menatap Sherin seolah-olah dia kecewa. Padahal sih, dia hanya menekan secara tidak langsung.
" Aku, " Sherin menelan salivanya lagi. Tatapannya juga tak bisa teralih dari mata Kevin yang masih saja menatapnya.
" Aku apa? "
" Aku, " Tak mampu lagi bicara, Sherin memilih untuk menyambar bibir Kevin dengan bibirnya. Meski jauh dari kata mahir, setidaknya Sherin melakukan apa yang dia hafalkan saat Kevin menciumnya. Tentu Kevin paham jika Sherin merasa malu untuk bicara dan memilih menciumnya sebagai jawaban dari pertanyaannya. Tapi sudahlah! dia sudah cukup paham kok. Kevin menyambut ciuman Sherin dengan buas, dan terjadilah hubungan suami istri.
Pukul empat subuh. Kevin mengerjapkan matanya dengan susah payah karena suara ponsel miliknya terdengar. Dia mengeryit karena silaunya layar ponsel untuk melihat siapa yang tidak tahu diri dengan menghubunginya di saat seperti ini.
" Ada apa? " Tanya Kevin. Setelah mendengarkan ucapan seseorang dari seberang sambungan telepon, Kevin mulai kehilangan rasa kantuknya. Dia bangkit dari posisinya, dan kini sudah berada di posisi duduk di atas tempat tidur.
" Baiklah, sewa kamar di dekat kamarnya. Awasi dia, jangan biarkan dia kabur, aku akan menghubungi besok tentang apa yang harus dilakukan. " Ucap Kevin lalu segera memutuskan sambungan telepon setelah di iyakan oleh pria yang menghubunginya.
Kini Kevin menatap kesal ke arah lurus. Tangannya mengepal seolah ingin sekali melampiaskan kemarahannya.
" Rici, kau benar-benar amat tidak tahu diri. Kau yang bermain-main, maka jangan salahkan aku kalau kau tidak bisa melihat matahari terbit lagi. Setelah ini, kau hanya akan merasakan malam disepanjang hidupmu. "
TBC