
Satu bulan telah berlalu. Hari demi hari Sherin habiskan dengan bersantai seperti apa yang diinginkan Kevin. Tidak lagi berteman dengan jarum suntik, tidak lagi bermain dengan peralatan operasi, dan itu semua membuat kuku Sherin selalu rapih dan cantik dengan warna gradasi bercampur taburan Swarovski. Padahal duku boro-boro mau mengecat kukunya, panjang sedikit saja hampir tidak pernah.
" Hoam! " Lagi-lagi Sherin hanya bisa menguap Karena perubahan hormon yang selalu membuatnya ngantuk. Belum lagi dia selalu lesu dan tidak bertenaga, sedkit-dedikit dia mnejadi sangat mudah lelah. Sudah begitu, sekarang dia juga mnejadi sangat cengeng saat Kevin berbicara agak keras, atau mengungkapkan kalimat keberatan.
Hari sudah mulai malam, saatnya bagi Sherin menunggu kedatangan suaminya yang dari pagi tidak bertemu. Iya, tapi Sherin selalu melakukan panggilan video dan membuat Kevin berpura-pura kehabisan baterai agar tidak di ganggu saat tengah bekerja.
" Sayangku? " Kevin tersenyum setelah membuka pintu. Iya, sebulan penuh inilah yang digemari oleh Sherin, menunggu dengan wajah cemberut.
" Kau pasti sengaja mematikan ponselmu ya? " Cecar Sherin.
" Tidak kok, baterainya memang habis kok, sayangku. Sumpah deh!. "
Sherin menghela nafasnya karena malas juga berdebat untuk hal yang sama setiap hari. Dia membantu Kevin melepas pakaiannya, dan meletakkan ke keranjang baju kotor. Sementara Kevin bergegas untuk mandi. Di dalam kamar mandi Kevin akhirnya bisa bernafas lega karena sepertinya hari ini Sherin tidak curiga seperti biasanya.
" Oh, ya ampun! kalau sampai sayangku tahu aku mendapat beberapa pasien cantik hari ini, bisa-bisa aku tidur di ruang tamu. Memang sih, mendapatkan pasien cantik juga lumayan untuk mencuci mata, tapi kalau setiap kali sampai dirumah harus mendapatkan tatapan mengerikan dari Sayangku, biarlah saja pura-pura buta kalau ada pasien cantik. " Gumam Kevin seraya menjalankan ritual mandinya.
Setelah selesai mandi, Kevin berjalan mendekati pinggiran tempat tidur, tempat dimana Sherin meletakkan satu set baju tidur untuk Kevin.
" Sayangku, tumben sekali membeli banyak make up. " Ujar Kevin seraya memakai baju tidurnya.
Sherin tersenyum, di tatapnya wajah Kevin yang begitu menggoda dengan sisa air yang masih tertinggal. Oh, seksi sekali, batin Sherin.
" Tadinya aku ingin membeli satu set saja, tapi saat melihat banyaknya pilihan, aku jadi tidak bisa menentukan yang mana. Jadi aku memutuskan untuk membeli semua, dan aku akan meminta tolong untuk kau mencoba. Kalau hasilnya bagus saat make up ini melekat di wajahmu, barulah itu akan menjadi make up pilihanku. "
Kevin ternganga, handuk yang jatuh ke lantai mengenai kakinya juga tak ia rasakan lagi. Melekat kan make up di wajahnya? Ya Tuhan! dia ini adalah anggota mafia yang terkenal ketangkasannya, licik, dan kuat. Bagaimana bisa dia menggunakan make up yang banyaknya melebihi tetesan air di samudra.
" Kau mau membantuku kan. " Tanya lagi Sherin.
Kevin masih saja terdiam karena memikirkan bagaimana nasibnya. Sebenarnya apa sih yang membuat Sherin begitu gila? apa karena hamil? ya ampun! kalau tahu begini, lebih baik dia menunda dulu untuk punya anak, setelah latihan kebatinan, baru dia boleh punya anak.
" Sayangku, make up seperti itu adalah musuh bagi pria sejati. Kau mau aku jalan melambai? "
Lagi-lagi, Sherin mulai menjebik sedih. Iya ini adalah senjata baru yang Sherin dapatkan agar Kevin tidak bisa menolak apa yang dia inginkan.
" Sayang, kalau kau tega begitu, aku akan mencari laki-laki lain untuk membantuku. "
Tuh kan? kalau saja sedang memaksa, dia akan dengan lancar memanggil sayang. Tapi kalau tidak sedang memohon, panggilan itu benar-benar tidak akan terdengar.
" Sayangku, tentu saja tadi aku hanya bercanda kok. " Kevin memaksakan senyumnya.
Tidak bisa mengelak, kini Kevin hanya bisa berbaring di tempat tidur dan pasrah saja.
" Sayangku, ini apa?! " Kevin terkejut saat benda kental di teteskan ke wajahnya.
" Ini adalah urutan pertama setelah wajah di bersihkan , Mengaplikasikan pelembap adalah urutan make up berikutnya. Pelembap penting untuk menghidrasi kulit agar make up tidak mudah retak dan mengelupas. Setelah itu, baru oleskan primer di lapisan pertama sebagai base make up.
Primer sebagai kunci untuk membuat riasan tidak mudah luntur dan terlihat halus. Primer akan membentuk lapisan di atas kulit yang menjadi dasar make up dengan cara mengisi pori-pori. "
Kevin menelan ludahnya sendiri. Diliriknya kembali banyaknya macam make up yang akan di pakaikan ke wajahnya.
" Sayangku, setelah ini ada berapa macam dan tahapan lagi yang harus di coba? "
Kevin menahan bibirnya yang gemetar karena menahan tangis. Ini benar-benar pelecehan loh ya! kemana harga diri seorang Kevin yang tergabung dengan geng mafia?! hempas sudah kemegahannya karena make up yang di sapu ke wajahnya.
" Jadi, kau punya berapa merek yang harus di coba? "
" Empat. "
Sialan! kalau saja bukan istriku, aku benar-benar ingin menggantung mu di atas pohon dan menguliti mu.
" Apa keberatan? " Tanya Sherin seraya menghentikan kegiatannya sebentar.
Kevin memaksakan diri untuk tertawa kecil.
" Tidak kok, aku kan sangat mencintaimu, apapun akan aku lakukan asal kau dan anak kita bahagia. "
Keberatan lah! aku ini laki-laki sejati. Hah! aku benar-benar tidak tahu bagaimana kalau wanita-wanita ku dulu tahu kalau aku diperlakukan seperti ini oleh istriku.
Setelah beberapa saat. Kevin yang ketiduran sayup-sayup mendengar suara ponsel mengambil gambar, terlebih di barengi dengan cahaya. Kevin cepat membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.
" Sa sayangku, kau mengambil gambar apa? "
Sherin tersenyum lalu membalikkan layar ponselnya untuk di arahkan ke arah Kevin.
" Bagaimana? cantik kan? "
Kevin terperangah ngeri melihat bagaimana wajahnya di buat oleh Sherin. Lipstik warna merah terang, pemerah pipi yang sangat jelas, bahkan eyeshadow nya juga begitu merah mengalahkan merahnya warna bendera negara indonesia. Belum lagi bulu mata yang begitu tebal menempel di matanya.
" Sa, sayangku. Tolong hapus ya? "
" Kenapa? padahal sudah banyak sekali yang memberi like, bahkan banyak komentar mengatakan kalau kau sangat lucu. "
Kevin terperangah lemas. Dia menatap kosong karena tidak mampu lagi berkata-kata. Lucu? sejak kapan?! tidak mau!
Sherin, aku benar-benar ingin mencekik mu, tapi aku juga takut kalau kau mati. Aku ingin menendang pantat mu, tapi aku takut pantat mu yang kerempeng itu retak. Aku ingin menggunduli rambutmu, tapi aku tidak mau tidur dengan tuyul. Sialan!
" Sayang, kalau di lihat-lihat kau ini bahkan lebih cantik dari Renata loh. "
Kevin menahan tangis hingga bibirnya bergetar.
" Cantik? "
Sheri mengangguk cepat sembari tersenyum.
" Iya. "
Iya matamu! dari mananya aku cantik?! aku ini pria sejati yang tampan dan berkarismatik! berani-berani nya kau mengatai ku cantik?! Sherin, beruntung sekali karena aku mencintaimu, kalau tidak aku pasti akan memasukkan granat ke mulutmu.
TBC