Marry Me, Please

Marry Me, Please
Istri Kedua



Kevin melongo heran saat sampai di kamarnya. Padahal dia sudah teeburu-buru-buru dijalan karena takut istrinya akan marah, ataupun merindukannya. Ini sudah empat jam dia pergi, pikiran akan di sambut oleh rajukan sang istri karena terlalu lama ditinggal, bahkan Kevin sudah menyiapkan beberapa beberapa kata-kata rayuan kalau saja Sherin marah dan memilih diam cemberut seperti biasanya. Tapi saat sampai dikamar, dia hanya bisa sedih karena istrinya sama sekali tidak perduli tentang empat jam yang tidak bersama.


Kevin menghela nafas, lalu berjalan pelan mendekati tempat tidur demi memperjelas matanya, iya siapa tahu dia hanya salah lihat. Heh! semakin dekat, Kevin malah semakin sebal. Kenapa? karena Sherin justru terlibat sangat nyenyak hingga air liurnya mengalir deras seperti air terjun Niagara.


" Ckckck.... " Kevin menggeleng heran lagi.


" Istriku ini kenapa sangat nyenyak tidurnya saat tidak tidur bersamaku? " Gumam Kevin pelan. Dia menyingkirkan rambut Sherin yang menutupi sebagian wajahnya, lalu sebentar memandanginya. Setelah itu barulah dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sherin membuka matanya perlahan-lahan saat gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Kevin? Sherin mengubah posisi posisinya untuk duduk di tempat tidur. Dnegan mata sayup-sayup ala bangun tidur, dia mengarahkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan ponselnya.


" What?! " Kaget Sherin saat dia menyalakan layar ponsel dan melihat sudah pukul berapa sekarang ini.


" Empat jam aku tidur? hah?! " Sherin mendesah sebal. Jujur dia juga heran dengan tubuhnya yang sangat tidak nyaman beberapa hari terakhir ini. Dia mengecek nadinya yang jelas lebih cepat dari biasanya. Sherin mencoba untuk berpikir positif dulu, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya pelan melalui mulut. Barulah dia kembali menghitung nadinya kembali.


" Masih sama saja. Apa aku hamil? " Gumam Sherin. Sebenarnya ingin sekali dia mempercayai itu, tapi lebih baik untuk tidak terlalu berharap. Maka dia menunggu saja sampai tanggal mentruasi nya yang akan datang beberapa hari lagi. Barulah nanti dia akan melakukan tes kehamilan mandiri, setelahnya baru melakukan pemeriksaan lengkap kalau memang benar dugaannya.


" Sayangku, sudah bangun? " Tanya Kevin seraya berjalan mendekati lemari pakaiannya.


" Iya. Kau dari mana saja? " Tanya Sherin yang baru ingat kalau Kevin tadi sempat berpamitan dengannya.


" Tadi dari rumah paman dan bibi. Aku meminta lusa mereka untuk pindah ke rumah Ibuku. "


Setelah Kevin selesai berpakaian, dia memesan makanan untuk mereka berdua. Barulah dia kembali ke kamar untuk istirahat kembali.


Ke esokan paginya.


Pagi ini Kevin belum membolehkan Sherin untuk bekerja, maka hanya dia seorang yang pergi ke rumah sakit. Selain masih ingin menghabiskan satu hari lagi untuk bersama teman-temannya, yaitu Vanya dan Devi, Kevin juga tidak ingin kalau Sherin terlaku kelelahan. Tapi niatnya itu tak bisa langsung dipenuhi, karena Kevin mendapatkan telepon dari Renata. Awalnya tidak ingin menggubrisnya, tapi saat Renata mengancam untuk bunuh diri melalui pesan singkat, maka Kevin memutuskan untuk menerima panggilan dari Renata, lalu menemuinya di sebuah tempat yang mereka gunakan untuk bertemu saat mereka tengah menjalin hubungan.


Di sebuah restauran bergaya Eropa yang sudah sangat dikenal di pusat kota, di sanalah Renata duduk termenung menunggu Kevin datang. Cukup lama, karena tadi Kevin baru sampai dirumah sakit, terpaksa dia harus kembali lagi ke arah yang berbeda, ditambah lagi jalanan yang macet. Satu jam lebih, barulah Kevin sampai disana.


" Rien? " Panggil Kevin saat Renata terus menunduk, entah bagaimana ekspresinya.


" Vin? " Renata menegakkan pandangannya untuk menatap Kevin yang baru saja tiba.


" Kau sudah datang? " Renata bangkit, dia memeluk erat tubuh Kevin. Entah apa yang terjadi, tapi saat tadi melihat bagaimana wajah Renata yang seolah sedang sangat menderita, dia sama sekali tak berani untuk mendorongnya agar tak memeluknya terlalu lama. Alhasil, ya begitulah saja.


" Ada apa? kenapa kau menangis? " Tanya Kevin seraya mencoba mengurai kedua lengan Renata yang terus memeluknya erat. Tapi sayang, Renata justru semakin mengeratkan pelukannya.


" Vin, tolong bawa aku pergi. Selamatkan aku, Ayah dan Ibuku, bahkan kakak ku juga memaksaku untuk menikah dengan laki-laki tua yang sudah memiliki istri. Aku tidak mau menikah dengan dia. "


Kevin yang merasa risih, ditambah lagi tatapan banyak mata terarah kepadanya seolah-olah dia telah mencampakkan Renata tentu saja tidak mau kalau harus terlalu lama berada dalam situasi seperti ini.


" Rien, tolong jangan begini. Lihatlah, semua orang melihat kita. " Renata menuruti keinginan Kevin untuk duduk. Kevin pikir dia akan selamat, tapi nyatanya Renata justru duduk disampingnya, lengannya juga memeluk erat lengan Kevin.


" Vin, kenapa kau begini?! kau selalu saja menolak ku, tapi kau akan manis saat kau membutuhkan tubuhku, saat ini aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar, kau juga tidak mau? "'


Ya ampun! Kevin hanya bisa menahan diri karena tatapan orang-orang justru malah menghakiminya.


" Vin, tidak bisakah kau membawaku pergi? " Rengek Renata.


" Rien, aku bisa membawamu pergi, tapi aku juga bisa ditendang keluar rumah oleh istriku. " Keluh Kevin.


" Kau, kenapa begitu baik memperlakukan istrimu? " Tanya Renata yang tidak tahu seperti apa mimik wajahnya karena Kevin tak melihat ke arahnya.


" Karena aku takut dia meninggalkan ku. " Jawab Kevin.


Renata terdiam. Iya, dia mengingat dua tahun waktu yang dia habiskan untuk mencintai Kevin. Dia sering kali kesal lalu memutuskan hubungan, berharap Kevin akan membujuknya lalu lebih perhatian kepadanya. Tapi yang ada, Kevin akan menyetujui saja seolah-olah Renata bukanlah apa-apa yang mampu mencairkan hati Kevin yang sekeras baja.


" Vin, dua tahun aku menerima hubungan kita yang aneh. Aku begitu menggilai mu, mencintai mu dari ujung kaki sampai ujung kepala, aku bahkan tidak bisa mencintai pria lain meski aku beberapa kali berselingkuh darimu. Kenapa? kelembutan, perhatian, cintamu, kenapa bukan untukku? " Renata menitihkan air matanya.


" Aku tidak bisa menjawabnya. Setiap waktu yang aku takutkan hanyalah kehilangan Istriku, maka setiap hari aku selalu berusaha memperbaiki diri untuknya. Tapi ngomong-ngomong, yang punya masalah kan kau, kenapa jadi membahas tentang hubungan kami? "


Renata menghela nafasnya.


" Vin, bisakah kau memberikan tempat untukku juga? tidak masalah jika harus menjalaninya diam-diam. "


" Apa tujuan mu mengatakan ini? " Tanya Kevin.


" Aku sudah mengatakannya kan? keluargaku mengatur perjodohan untukku. Pria itu sudah tua, ada istri dan juga anak yang usianya tidak jauh dariku. dari pada menjadi istri keduanya, bukankah lebih baik menjadi istri keduamu? "


" Rien, aku- "


" Kalian sudah dari tadi berbicara, apa tidak haus? nih aku traktir lemon tea. "


Kevin terperanjak saat suara itu terdengar jelas di telinganya.


" Sa sayangku?! "


Sherin terdiam, dia meletakkan dua lemon tea di hadapan Renata dan di hadapan Kevin yang kini tengah berdiri dengan tatapan kaget.


" Lanjutkan saja pembicaraan kalian, bukan begitu, calon istri kedua? " Sherin tersenyum menatap Renata.


TBC