Marry Me, Please

Marry Me, Please
Heran



" Sayang? " Kevin mengeryit melihat Sherin memegangi pipinya dengan mata yang menahan tangis. Kevin berjalan mendekati Sherin lalu menaikkan tangan Sherin dari pipinya. Bekas tamparan. Itulah yang dengan jelas dapat Kevin lihat. Kevin mengaihkan pandangan menatap wanita paruh baya yang juga menatapnya marah.


" Anda ini siapa? kenapa menampar istri saya? " Tanya Kevin dengan tatapan marah. Boleh saja dia sering baku hantam dengan lain kubu, tali tidak ada di kamusnya memukul wanita atau membiarkan wanita di pukul. Apalagi, yang dipukul itu adalah istrinya sendiri.


" Aku Ibunya! kau mau apa?! " Sungguh, Kevin benar-benar ingin sekali menutup pintu agar Ibunya Sherin tidak masuk. Sayang, orang yang cerewet dengan mata besar seperti ondel-ondel itu adalah Ibunya Sherin. Sekarang, mau tidak mau dia hanya boleh berlaku sopan dan berpura-pura saja menjadi menantu yang baik dan Budiman.


" Oh, Ibu mertua ya? kenapa datang sepagi ini dan sudah menampar pipi mulus istri ku? kalau Ibu mertua nakal lagi, akan aku sentil tangan Ibu. " Ucap Kevin lalu tersenyum jenaka. Biarlah terlihat bodoh. Yang penting bisa bersabar sebentar saja.


" Sherin, bawa barang-narang mu dan ikut Ibu! " Titah Ibunya Sherin tanpa memperdulikan Kevin yang sudah dengan susah payah berakting baik seperti itu.


" Ibu mertua, " Kevin merangkul istrinya lalu mengecup pipi yang tadi di tampar oleh Ibu nya Sherin.


" Ibu mertua mana boleh membawa seorang istri pergi tanpa berpamitan dengan suaminya. Lagi pula, aku sedang tidak ingin di tinggalkan oleh istriku. " Kevin tersenyum lagi-lagi dan itu membuat Ibunya Sherin muak.


" Sherin! " Suara Ibunya Sherin meninggi hingga membuat tubuh Sherin tersentak kaget. Mata yang sedari tadi sudah menahan tangis kini juga sudah tidak bisa lagi menahannya. Tubuh nya bergetar karena rasa takut yang luar biasa. Alasan inilah, yang pada akhirnya membuat Kevin tidak lagi mengenal sopan santun layaknya menantu dan Ibu mertua.


" Ibu mertua, jika anda ingin menakuti istri ku, maka aku tidak akan bertindak segan lagi. Cobalah lihat, istriku sampai gemetar ketakutan karena suara anda yang begitu menyeramkan. Kenapa anda ingin membawa seorang istri dari suaminya? anda juga sama sekali tidak seperti orang yang memiliki kesopanan. Anda menampar dan membentak anak anda di ambang pintu seperti ini. Sungguh, aku benar-benar heran bagaimana bisa Ibu mertua adalah Ibunya Sherin. " Kevin menatap tajam bola mata Ibunya Sherin yang sedari tadi tak hilang juga tatapan mengintimidasinya.


" Tutup mulut mu! kau bukanlah siapa-siapa! pernikahan kalian tidak sah! sampai kapanpun, aku tidak akan merestui pernikahan kalian karena Sherin akan menikah dengan anak dari kenalan suamiku. "


Kevin terkekeh mengejek. Tatapannya juga tak berpaling dari wajah Ibunya Sherin. Tidak tahu bagaimana bisa ada seorang Ibu yang tidak berperasaan seperti itu. Mungkin inilah waktunya memberikan pelajaran dengan orang tua yang menjual anaknya demi bisnis ataupun keuntungan yang sejenisnya.


" Ibu mertua, anda begitu ingin menjual Sherin hanya karena nada melahirkannya saja? ingat Ibu mertua. Melahirkan tapi kalau tidak mengurus nya, sama hal nya dengan anda menelantarkan. Dan Sherin, adalah anak yang sudah anda telantarkan demi ambisi anda untuk mencari suaminya yang seperti anda inginkan. Anda belum puas dan anda masih ingin menjual Sherin hanya untuk keuntungan pribadi anda dan suami anda kan? coba pikirkan kembali, Ibu mertua. Berapa anak yang anda telantarkan demi ambisi anda. Makanya Sherin, Sherin, Berly, dan masih ada satu adik balita lagi kan? " Kevin tersenyum miring menatap Ibu Mertuanya yang terlihat kehabisan kata-kata.


" Jangan asal bicara! " Ucap Ibunya Sherin yang tentu saja tidak akan mungkin mengakuinya dengan begitu mudah. Sherin yang baru saja mengetahui jika dia masih memiliki adik bayi, tentu saja dia terperangah tak percaya. Dia pikir Berly adalah adik bungsunya.


" Adik? aku masih ada adik lagi. " Tanya Sherin kepada Kevin.


" Iya sayang. Ibu mu sengaja meninggalkan adik laki-laki mu bersama dengan Ayah kandungnya. Mengenai alasannya, Ibu mu pasti tahu benar apa jawabannya. " Kevin kembali tersenyum menatap Ibunya Sherin yang terdiam dengan ekspresi yang tak jelas apa maksudnya.


" Aku datang kesini bukan untuk membahas masa lalu. Aku kesini untuk menjemput Sherin agar ikut bersama ku. " Ucap Ibunya Sherin yang sudah mulai normal intonasinya. Pandangannya juga turun tak berani menatap langsung Kevin.


" Aku disini juga untuk menahan istriku yang akan di bawa pergi dan dinikahkan dengan pria lain. "


" Tolong, janganlah mencampuri urusan ini. Masalah kau menikah dengan Sherin, tolong anggap saja kalian hanya hubungan kekasih saja. Mengenai kehamilan Sherin, aku tahu benar bagaimana putriku. Dia tidak mungkin melakukan hubungan terlarang sebelum menikah. Dan aku dengar, kalian baru menikah dua hari yang lalu kan? "


Kevin tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia menghubungi seseorang lalu berbicara setelah sambungan telepon terhubung.


" Tolong, bantu aku urus perusahaan Werd Group. Pastikan semua beres. " Kevin mengakhiri sambungan teleponnya lalu kembali menatap Ibu mertuanya yang kini menatapnya tak percaya.


" Ibu mertua, sungguh aku bisa menjadi monster kalau bertemu dengan orang yang terus memancing emosi ku. Tolong, pergilah dari sini karena anak sulung dari Presdir Group Werd tidak akan bisa memberikan dana kepada Ibu mertua dan suami anda. Kalai anda tidak percaya, paling lama besok pagi anda akan lihat beritanya di Tv. "


Karena perdebatan yang tidak mungkin dia menangkan, Ibunya Sherin memilih untuk pergi sementara waktu. Memang dia kesal, tapi dia juga tidak bisa mengatakan apapun karena ini semua juga di luar keinginannya. Meskipun dia bukan Ibu yang baik, tentulah dia tidak ingin menjual putrinya seperti ini.


Setelah kepergian Ibunya Sherin, Kevin kembali menuntun Sherin untuk kembali masuk kedalam kamar. Awalnya sih curiga kalau-kalau dia akan di bantai lagi. Tapi saat Kevin menuntun tubuh Sherin untuk berbaring dan melanjutkan istirahat, dia hanya bisa diam dan mengangguk saja. Eh! tapi tunggu! dia tiba-tiba teringat bahwa dia harus bekerja kan?


" Aku harus bekerja. " Ucap Sherin seraya bangkit dari posisinya. Tapi, tangan Kevin lebih dulu menahannya agar Sherin tak beranjak dari tempat tidur.


" Istirahatlah lagi. Aku akan mengambil kantung es untuk mengompres pipi mu. Masalah di rumah sakit, aku akan meminta Dokter lain untuk menggantikan mu. "


" Tapi, "


" Istirahatlah, atau aku akan memakan mu lagi tanpa ampun. "


TBC