Marry Me, Please

Marry Me, Please
Mantan Pacar



Renata menatap wajah Sherin yang tersenyum ke arahnya. Cukup heran di batinnya, padahal jelas-jelas Sherin dulu lah yang merebut Kevin dari dirinya. Dia memicingkan mata senagaja karena tidak mau terlihat kalah di hadapan Sherin. Bukan hanya soal harga diri, tapi ini adalah masalah hati. Memang kenapa kalau dia bersedia menjadi istri kedua? istri kedua juga belum tentu tidak bahagia dan selalu di nomor duakan kan?


Renata tersenyum seolah tak terlihat gugup.


" Jangan lupa, kau adalah wanita kedua sebelum pernikahan kalian terjadi. "


Sherin berubah kesal, sementara Kevin tahu benar jika dia tidak bisa diam saja. Dia bergegas mendekati istrinya, merangkul pundaknya.


" Sayangku, jangan salah paham ya? ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak memiliki niat mempunyai dua istri kok. " Sherin menatap kesal Kevin, lalu menepis tangan Kevin yang memeluk pundaknya.


" Ckckck.... " Salah satu sahabat Sherin yang bernama Vanya berjalan mendekat sembari menggeleng heran.


" Uh,.. kasihan. " Ledek Vanya yang kini tengah berdiri tak jauh dari mereka, disana juga Devi yang tersenyum bahagia seolah kejadian ini adalah tontonan yang seru.


Kevin menatap kesal ke arah Vanya, menggerakkan mulut tanpa suara untuk memaki Vanya.


" Sudahlah, kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian. Nanti kalau sudah tahu tanggal berapa kalian akan menikah, tolong beri tahu aku ya? aku akan menyiapkan bunga kuburan di atas tempat tidur kalian nanti. "


Kevin menelan ludahnya sendiri. Hah?! benar-benar firasat buruk!


" Sayangku, jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau menikah lagi kok, Sumpah! "


Sherin menatap Kevin tajam.


" Sumpah palsu mu itu tidak akan aku terima. Lihat saja, mulai malam ini, kau tidak boleh tidur diranjang yang sama denganku. Oh, kau juga boleh datang keranjang mantan pacar yang akan segera jadi istri keduamu itu kok. "


Kevin lagi-lagi menelan salivanya karena merasa takut. Hah?! ya ampun! bagaimana bisa Sherin berubah menjadi begitu menakutkan? oh, mungkin bukan Sherin yang menakutkan, tapi tidak tidur diranjang yang sama dengan Sherin adalah hal yang menakutkan.


Sherin yamg sudah akan melangkahkan kaki untuk pergi, kini kembali berhenti karena tangan Kevin menahan lengannya.


" Sayangku, aku tidak mau menikah! kau boleh percaya padaku, aku tidak berbohong. Kalau kau masih tidak mau percaya, bagaimana kalau kau beli ****** ***** yang terbuat dari besi, lalu memiliki gembok, kau bisa mengangguk kuncinya. Bagaimana? "


" Tidak tertarik! " Sherin menepis tangan Kevin, lalu berniat untuk pergi.


" Sayangku, tunggu! " Kevin menatap Renata sesaat lalu kembali menatap Sherin.


" Sayangku, aku mana mungkin mau menikah dengannya. Di bandingkan dia, tentu saja tidak sepadan denganmu. Kau adalah wanita yang paling cantik, baik, manis, lemah lembut, dan memiliki banyak sekali daya tarik. Mana mungkin aku tega menduakan mu? "


Heh! aku sudah berbohong sebanyak ini, masa iya dia tidak luluh.


Sherin terdiam menatap bola mata Kevin. Sialan! batin Sherin, iya tahu benar kalau mata Kevin itu mengatakan jika semua yamg dia katakan adalah bohong. Tapi sudahlah, tidak perlu marah lagi, biarkan saja dia membalasnya kalau sudah sampai dirumah nanti.


" Kalau begitu, bagaimana mantan pacarmu itu di matamu? " Tanya Sherin.


Sherin mendesah sebal. Cukup, dia sudah tidak tahan lagi!


" Kevin, hal yang kau ucapkan adalah kebohongan. Memujiku hanya karena takut, menghina mantan pacarmu hanya karena tidak ingin aku marah, kau pikir itu adalah yang aku inginkan? lihatlah dia, dia terluka karena ucapan mu. "


Kevin terdiam. Benar, dia memang menghina Renata, dan memuji Sherin karena tidak ingin Sherin marah padanya. Tapi dia juga cukup egois karena tidak memikirkan bagaimana perasaan Renata. Padahal, Renata adalah wanita yang sangat cantik, jelas sekali Kevin tahu bahwa Renata tidak pernah sekalipun memiliki bau tidak sedap di tubuhnya.


" Kevin, selesaikan dulu urusan mu dengan mantan pacarmu. " Sherin melepaskan lengannya dari genggaman tangan Kevin, lalu bergegas menghampiri kedua sahabatnya dan pergi dari sana.


Kevin tahu, ada banyak kesalah pahaman yang terjadi sekarang ini. Tentu saja dia ingin mengejar istrinya, tapi dia juga harus menyelesaikan urusan dengan Renata agar tidak menjadi duri dalam rumah tangganya nanti.


" Vin, aku tidak menyangka. Hanya karena tidak ingin istrimu marah, kau tega menghinaku sampai seperti itu. Padahal, dulu kau begitu menggilai tubuh yang kau hina itu. " Renata terdiam setelahnya. Rasanya sedih sekali karena tidak sekalipun dia pernah diperlakukan seperti itu oleh Kevin dulu. Padahal dia sudah memberikan segalanya. Waktu, cinta, tubuhnya, perhatiannya, bahkan matanya juga hanya terfokuskan kepada Kevin.


" Rien, maafkan aku. "


" Maaf? maaf untuk yang mana? "


" Maaf untuk segala rasa sakit yang aku berikan. "


Renata memaksakan senyumnya.


" Dua tahun, aku mengorbankan segalanya. Aku berusaha sebaik mungkin agar tidak membuatmu terganggu, aku bahkan seringkali mengalami hari-hari menyakitkan, tapi aku selalu menahannya meski aku tahu aku butuh seseorang untuk bersandar. Apa kau ingat? setiap kali kau datang padaku, yang kau cari hanyalah kepuasan saja. Setelah kau puas, kau juga langsung menghilang. " Renata bangkit dari duduknya, kini dia berdiri tepat dihadapan Kevin.


" Dua tahun kau melakukan hubungan badan hanya denganku, lalu tiba-tiba kau menikah dengan wanita lain. Menurutmu, se-hancur apa aku saat itu? apa kau pernah memikirkan, apa aku sudah baik-baik saja? "


Kevin menatap Renata.


" Bohong kalau aku bilang aku tahu bagaimana perasaan mu. Tapi, bukankah dari awal itu kesepakatan kita? Rien, apa kau tahu kenapa aku tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa saja kau berhubungan saat kita masih menjalin hubungan? " Kevin menatap Renata dengan tatapan bertanya.


" Aku sudah mencoba mengejar mu, tapi setiap kali aku ingin mencoba, kau selalu sedang dengan laki-laki lain. Kau tahu benar kan? dua tahun kita bersama, aku sama sekali tidak pernah tidur dengan wanita lain. Lalu kau? kau selalu mengatakan kau mencintaiku, tapi kau tidur dengan beberapa laki-laki, bagaimana aku bisa memiliki keyakinan untuk menikahi mu? "


" Kau tidak memberitahu jika kau juga mencobanya. " Ujar Renata.


" Kenapa aku harus memberi tahu? mulutmu, dan hatimu sangat jauh berbeda, Rien. Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau pasti tidak akan mencari pelampiasan dengan yang lain. " Kevin menjeda ucapannya karena menghela nafas.


" Rien, semuanya sudah berlalu. Aku memiliki hati yang harus aku jaga sekarang, Maaf aku harus pergi. Satu hal lagi, jangan menyerah jika kau tidak ingin dipaksa menikah. Hidupmu adalah hidupmu, mau bahagia atau tidak, semuanya ada di tanganmu, bukan ditangan mereka. " Kevin berjalan meninggalkan Renata yang kini mematung dengan segala pemikirannya.


Satu jam diperjalanan, kini Kevin sudah sampai di apartemennya. Seperti dugaannya, Sherin belum pulang ke apartemen.


" Dia pasti akan sangat kejam nanti. " Gumam Kevin.


TBC