Marry Me, Please

Marry Me, Please
Tidak Memuaskan



Sherin menggeliat, berguling ke kanan dan ke kiri. Dia benar-benar berharap pegal ditubuhnya menghilang. Maklum saja, beberapa hari yang lalu dia terus saja berjaga sama malam karena ada beberapa pasiennya yang butuh pengawasan ekstra. Api untunglah, pagi ini dia bisa agak bersantai. Seperti rutinitas sebelumnya, sesibuk apapun dia, mengecek media sosial sebelum tidur dan sesudah bangun tidur adalah rutinitas sehari-hari Sherin. Dia menggerakkan tangannya meraba tempat tidur yang biasanya dengan sembarangan dia meletakan ponselnya. Dapat, dan dia langsung menyalakan ponselnya.


" What the f*uck?! " Sontak Sherin langsung bangkit dengan wajah kesalnya. Dia bergerundel kesal membaca satu persatu komentar yang memunuhi unggahan Kevin. Sungguh luar biasa cacian tidak manusiawi semuanya terarah padanya. Kesal? ya iya lah dia kesal. Empat ribu orang yang memberikan komentar buruk tentang wajahnya. Mukai dari hidung ciptaan Dokter, bibir yang di suntik minyak goreng, mata yang sipit dan seperti orang sakit, rambut berantakan seperti gembel, payudara yang berisi silikon, pantat yang rata dan jelek, ukuran wajah dan kepala yang terlalu besar, kaki yang pendek seperti bebek. Dan masih banyak yang lain. Padahal, saat itu hanya separuh wajah Sherin saja yang terlihat dari kejauhan. Lalu kenapa mereka bisa se detail itu dalam menghinanya?


Sherin menarik nafas kasarnya dengan wajah yang teramat marah. Dadanya naik turun seirama tarikan nafas. Sungguh dia amat sangat marah, tapi kalau dia menemui Dokter Kevin dan memprotes tindakannya, pria itu pasti akan melakukan hal gila yang lebih ekstrem. Sudahlah, hilangkan jauh-jauh Kevin dari hidupnya. Sherin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Terus seperti itu hingga beberapa kali dan sedikit menenangkan dirinya.


" Sabar, Sherin. Mungkin otak Dokter Kevin sedang konslet karena di pukul oleh pasangannya. Kemarin saja lengannya sudah di sayat oleh nya. Untuk menghindari bahaya, lebih baik jangan merespon dan biarkan saja. Lagi pula nyawa kan hanya satu. Kalai pasangannya datang membawa parang dan menebas leherku, bisa-bisa aku mati dalam keadaan perawan. Hah?! gila! umur dua puluh enam tapi masih perawan. Apa malaikat akan tertawa nantinya? "


Sherin menjauhkan ponsel dari nya. Dia bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bekerja. Setelah semuanya rapih, Sherin menatap dirinya di sebuah cermin yang memantulkan gambar dirinya. Sempat teringat makian para penggemar Dokter Kevin, tapi tekad nya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang Dokter adalah yang paling penting. Sherin meraih mini bag nya setelah beberapa kali menarik nafas dan menghembuskan perlahan.


Seperti biasa, Sherin akan berjalan kaki sampai ke hate Bus. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya, Sherin menyapa beberapa pejalan kaki yang berpapasan melakui senyumnya. Seperti inilah Sherin, berlaku sopan dam ramah adalah kebiasaan yang sudah kama ia lakoni. Bukan karena memang sifatnya, tapi karena keinginannya untuk menjadi orang yang di senangi membuatnya menjadi terbiasa untuk ramah.


" Bagus sekali cuaca pagi ini. " Gumam Sherin saat sudah sampai di halte Bus. Dia tersenyum saat sinar matahari mengenai kulit wajahnya. Hangat, dan membawa rasa tenang yah sampai ke hati.


" Sepertinya kau sangat menyukai sinar matahari pagi ya? "


Sherin terperanjak kaget. Senyum yang sedari tadi mengambang di bibirnya juga langsung menghilang saat suara itu terdengar di telinganya. Sherin sempat menoleh, tapi kembali dia memilih untuk memandangi kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.


" Apa kau sedang sariawan? " Tanya seorang pria yang sudah pasti itu adalah Dokter Kevin. Pria yang sangat ingin d jauhi oleh Sherin.


Tapi mendapat respon tentu tak membuat Kevin menyerah. Pria itu dengan semangatnya terus bertanya dan mengajak bicara meski sama sekali tidak di jawab oleh Sherin.


" Kemarin aku menunggu mu seharian. Kenapa kau tidak muncul juga? "


Muncul? kau ini sedang menyamakan ku dengan makhluk halus ya?


" Kemarin kau juga terus menghindari ku, apa kau marah karena aku menolak perawatan dari mu? " Sherin masih terdiam.


" Luka itu bukan luka yang serius. Tapi terimakasih. Kemarin aku benar-benar bisa melihat kalau ka mengkhawatir kan ku. "


Mimpi! aku hanya kasihan. Kasihan loh ya, jangan di salah artikan.


" Nanti kita pulang bersama ya? "


Tidak sudi!


Tunggu saja sampai kau jadi kakek kakek, aku tidak akan datang padamu.


" Oh iya, makan siang nanti, kita makan bersama ya? "


Makan bersama kepala mu pitak! melihat mu saja aku sudah malas. Heh! makan bersama? kepala mu saja sini ku penggal dan biar aku saja yang memakan kepalamu.


Kevin terus berbicara tanpa henti meski Sherin masih saja diam. Sampai akhirnya Bus datang dan Sherin bergegas masuk kedalam Bus. Akhirnya dia akan terbebas dari Kevin. Batin Sherin. Dengan perasaan lega akhirnya Sherin bisa duduk dengan tenang di dalam Bus. Oh, tapi sepertinya itu tida akan terjadi. Entah apa tujuan di pria gila yang tak lain adalah Kevin itu ikut masuk kedalam Bus dan duduk tepat disebelahnya. Tentu saja Sherin kembali kesal. Padahal untuk membuat hatinya merasa baik dia membutuhkan waktu yang panjang tadi pagi. Tapi kalau sepanjang perjalanan bersama dengan biang mood buruknya, bagaimana bisa dia menjalani hari yang menyenangkan?


" Mulai sekarang, aku juga akan naik Bus. " Ucap Kevin.


Sialan! mulai besok aku mau naik bajaj saja.


" Tapi kalau kau naik kendaraan lain, aku juga akan terus menempel padamu. Jadi lebih baik jangan memikirkan hal itu. "


Sherin menggerakkan bibirnya karena kesal.


Dasar orang gila! dia benar-benar tahu apa yang aku pikirkan ya? tidak benar! pokoknya, menjauh dari si maniak gila ini adalah hal yang paling tepat.


Kevin terus tersenyum menatap wajah Sherin yang begitu enggan menatapnya. Lucu memang melihat Sherin yang sedang marah. Dia hanya akan meghela nafas, melirik tajam, bibir yang bergetar menahan kesal, tapi bibir nya sama sekali enggan untuk bicara.


" Sayang, apa kau marah karena semalam aku kurang memuaskan mu? " Tanya Kevin dengan nada suara yang lumayan lantang. Tetu saja Sherin terperangah dengan tatapan tidak percaya menoleh ke arah Kevin. Sungguh, kalau bukan di tempat umum, Sherin benar-benar akan menyomot wajah sialan itu dan mencabik-cabiknya sampai menjadi seperti daging giling.


" Sayang, aku janji akan lebih berusaha. Semalam itu aku terlalu letih. Tapi nanti malam aku akan melakukanya sampai tiga ronde. Bagiamana? " Ucap Kevin lagi dengan suara yang lebih keras.


" Tutup mulut mu yang tidak masuk akal itu! " Ucap Sherin dengan nada pelan tapi jelas dia terkihat menahan marah.


" Sayang, apa kah dua ronde begitu tidak memuaskan mu? kalau benar begitu, aku akan mencari obat yang bisa membuat ku kuat sampai kau lelah. "


Sherin semakin menatap kesal tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kini semua mata terarah padanya dengan maksud yang sudah pasti keheranan.


TBC