Marry Me, Please

Marry Me, Please
Setelahnya



Malam pertama yang terasa begitu panjang bagi Sherin, kini telah berakhir.


Pagi hari yang cerah, oh tidak! ini bahkan sudah siang, tapi sepasang anak manusia yang baru saja meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan, kini tengah berbaring lelap di tempat tidur mereka. Gagal seperti malam pertama pasangan yang lain saat perasaan belum yakin akan cinta? oh, itu tidak mungkin. Nyata Kevin si pria tidak sabaran itu berhasil mengelabuhi Sherin dengan segala tipuan dan sentuhan erotis yang membuat Sherin masuk ke dalam permainannya.


" Em.... " Sherin meregangkan tubuhnya dengan kedua tangan terangkat ke atas. Tubuhnya juga sedikit melengkung ke bagian atas menikmati tubuhnya yang pegal kini sedikit menghilang. Perlahan-lahan matanya terbuka saat panas sinar nampak di dekat jendela nya. Saat merasai ada sesuatu yang menindih perutnya, tentulah dia sudah tahu jika itu pasti Kevin. Perlahan dia menyingkarkan tangan Kevin dari perutnya. Diliriknya Kevin yang masih saja terlelap. Dia juga menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Kevin untuk memastikan. Untunglah masih tidur. Batin Sherin.


" Ah! " Pekik Sherin pelan saat merasai bagian intinya sedikit perih. Tapi, dia harus segera lari ke kamar mandi agar tidak bertemu dengan Kevin dulu. Karena dia merasa Kevin masih tidur, Sherin hanya bisa berjalan pelan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya. Setelah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya, barulah dia bisa menghela nafas lega. Perlahan dia kembali menuju wastafel untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya.


" Hah?! " Sherin terperangah melihat bagian dada dan lehernya banyak sekali tanda merah yang begitu menyeramkan. Sherin yang merasa ingin memeriksa lagi, dia memundurkan tubuhnya agar bisa dengan mudah melihat dimana lagi tanda merah sialan itu berada.


" Oh, my God! " Sherin menutup bibirnya rapat menggunakan telapak tangannya. Kenapa? tentu saja karena dia keheranan melihat tanda merah itu bukan hanya ada di leher dan dadanya saja. Tapi seluruh tubuhnya. Jika saja bisa melihat ke bagian intinya, pasti akan ada tanda merah itu juga.


" Sialan! " Sherin menggaruk-garuk kepalanya karena merasa malu dan kesal terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya membiarkan Kevin melakukan ini?


" Ya ampun! " Sherin menjatuhkan tubuhnya menjadi duduk di lantai kamar mandi. Yah, untunglah lantai kamar mandi nya bersih. Ingatan apa yang mereka lakukan semalam benar-benar membuat nya malu sendiri. Dia tahu sih kalau itu adalah hal uang biasa bagi pasangan menikah. Tapi saat mengalami nya langsung, dia justru menyalahkan diri sendiri karena terlalu murahan. Tapi dia kan suamimu. Hah! tiba-tiba ingatan itu menyadarkan Sherin akan kenyataan yang sesungguhnya.


" Bagaimana ini? bagaimana caranya aku bisa menatap Dokter Kevin setelah ini? hanya dengan membayangkannya saja, aku sudah sangat malu. " Cukup lama Sherin berada di dalam posisi seperti itu sembari mengutuk dan merasa bingung sendiri sampai akhirnya dia memutuskan untuk mandi dari pada gila karena malam pertamanya.


" Sayang? " Panggil kevin yang sudah mencoba membuka pintu kamar mandi tapi nyatanya pintu itu dikunci dari dalam oleh Sherin. Padahal dia berniat menyusul istrinya lalu mandi bersama seperti kebanyakan drama di televisi.


" Istriku? bisa buka pintunya? aku juga ingin mandi. " Ucap Kevin. Entah mengapa, memanggil nama istriku benar-benar membuat nya bahagia. Sebenarnya dia juga masih agak tidak mempercayai semua ini. Menikah dengan Sherin benar-benar impiannya.


Sementara di dalam kamar mandi, Sherin kini tengah beringsut ngeri dan malu mendengar kalau Kevin juga ingin mandi.


" Apa dia itu tidak punya otak? semalam aku sudah memperlihatkan tubuh ku tanpa sehelai benang pun yang menutupi. Kalau kita mandi bersama, bukanya kau akan lebih untung dariku? kau bisa melihat ku polos, sedangkan aku? " Sherin terdiam sesaat mengingat bahwa ia juga melihat milik Kevin. Semakin lama mengingat itu, dia hanya bisa menelan ludahnya lalu menggeleng kan kepalanya cepat.


" Dasar gila! berani-berani nya mengingat bagian bawah pria itu. Kau ini murahan sekali sih! " Sebal Sherin terhadap dirinya sendiri.


" Ih! berisik sekali! sayang sayang kepalamu! " Kesal Sherin tapi dengan nada yang tidak begitu jelas. Tidak tahulah, dia begitu canggung dan malu saat ini kalau harus melihat atau berbicara secara langsung kepada Kevin.


" Sayang? " Panggil lagi Kevin dengan nada memelas tapi juga sedikit manja.


Merasa sudah tidak tahan lagi karena Kevin terus memanggil, mau tidak mau Sherin hanya bisa bangkit dengan cepat dari bathub. Dia meraih jubah handuknya lalu melekatkan di tubuhnya sebelum ia keluar. Saat mendekati pintu, Sherin memandangi handle pintu kamar mandi sembari menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan agar dia mendapatkan keberanian dari sana. Cukup, akhirnya dia membuka pintu kamar mandi dengan wajah yang menunduk. Tentu saja karena dia tidak ingin bertatapan dengan Kevin secara langsung. Tapi masalahnya, Sherin salah memperhitungkan. Dia memang tidak melihat wajah Kevin secara langsung, tapi dia malah melihat bagian bawah Kevin dengan begitu jelas. Sialan! kenapa juga dia tidak memakai apapun saat berdiri di depan pintu kamar mandi.


" Ah! " Sherin menutup mata menggunakan kedua telapak tangannya. Sungguh, ini semua bukan karena dia sok imut atau apalah itu. Tapi dia sungguh-sungguh merasa kaget. Dengan kedua mata nya yang sehat dan tajam itu, dia kembali melihat benda panjang milik Kevin dengan begitu jelas.


Tadinya Kevin ingin membiarkan saja Sherin berlalu karena dia tahu kalau Sherin sudah cukup lama berada di kamar mandi. Tapi, tanpa sengaja tadi dia melihat jubah mandi nya tersingkap ke atas saat Sherin mengangkat kedua tangannya untuk menutup mata.


Grep...


Kevin meraih pinggul Sherin dan mendekatkan posisi tubuh mereka sampai kulit mereka menempel. Perlahan Kevin meraih tangan Sherin dengan sebelah tangannya dan menjauhkannya.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di kening Sherin. Sungguh rasanya ingin sekali Kevin mengulangi apa yang semalam terjadi. Tapi, dia juga tidak mungkin melakukannya karena ini adalah yang pertama bagi Sherin. Meskipun dia tidak tahu bagaimana rasanya, tapi pastilah dia tahu kalau Sherin tengah merasakan ke tidak nyamanan dengan **** *************. Kenapa? karena dia sendiri juga merasa malu milik Sherin begitu sempit. Sejujurnya, kalau mengingat itu Kevin benar-benar merasa bahagia. Dia terus saja merasa bersyukur karena dia adalah satu-satunya pria yang mencium dan merenggut kesucian Sherin.


" Sayang, bukalah mata mu. Untuk apa kau menutupnya serapat itu? "


" Itu, tentu saja karena punya mu tidak kau tutupi. "


" Sayang, kau lupa ya? aku kan tidak membawa pakaian selain pakaian yang di gunakan untuk menikah kemarin. "


TBC