
Kevin masih saja melirik kesal ke arah istrinya yang masih saja cuek dan tak terlihat seperti dirinya yang sama sekali tak berselera untuk makan. Kevin malah semakin di buat kesal saat Sherin tertawa kecil sembari menatap ponselnya. Sialan! dia benar-benar sangat kesal hingga tidak tahan lagi rasanya.
Trang!
Kevin membanting sendok dan garpu nya ke piring yang isinya makanan habis dia acak-acak sedari tadi. Sudah begitu keras suara sendok dan garpu yang sengaja ia banting, Sherin masih saja tak berniat untuk menoleh ke arahnya. Yang ada, dia malah semakin terkekeh karena entah video apa yang sedang ia tonton. Bahkan dia terus saja menyendok makanan fan begitu menikmatinya hingga bersih gak tersisa.
" Benar-benar menyebalkan! " Sebal Kevin seraya menjauhkan makanannya. Rici yang sedari tadi menatap Kevin juga gak berani mengatakan apapun. Tahu, sungguh dia tahu kalau Kevin sedang merasa kesal, kedatangannya untuk mengajak Kevin makan siang juga dimanfaatkan untuk membuat istrinya cemburu. Tapi biarlah, karena dia meyakini kalau lama kelamaan Kevin akan lebih bisa melihat ketulusannya di banding Sherin.
" Dokter Kevin, mau mencoba makanan ku? sepertinya menu yang Dokter pesan kurang enak ya? "
Hah! ini ide bagus.
" Benarkah? apa kau bersedia menyuapiku? " Tanya Kevin dengan suara lantang yang ia sengaja kan agar Sherin bisa mendengarnya dan merasa cemburu. Rici mengangguk dengan cepat. Dia mulai menyendok kan makanan lalu mengarahkan sendok itu ke mulut Kevin.
" A..... " Kevin membuka mulutnya sembari melirik ke arah Sherin yang masih tak mau menoleh ke arahnya. Sialan! sampai makanan itu masuk kedalam mulutnya, Sherin masih saja tak berniat menoleh sama sekali.
Dasar tidak punya perasaan! baiklah, ayo coba sekali lagi.
" Dokter Kevin mau lagi? "
" Apa boleh? "
" Boleh. "
" Ya ampun, kau adalah gadis cantik yang pengertian ya? "
Rici tersenyum lalu kembali mengarahkan sendok ke mulut kevin.
" A...... " Lagi, Kevin kembali melirik Ke arah Sherin, sialan! dia masih saja tak berniat menoleh meskipun seluruh makanannya sudah habis. Dengan wajah kesal, Kevin mengunyah makanan itu. Hanis sudah kesabrannya, dia berjalan dengan menuju Sherin.
Kenapa bajingan ini kesini?
Batin Sherin menatap Kevin yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya.
Dengan wajah kesal, Kevin meraih dagu Sherin, lalu menempelkan bibir mereka dan memindahkan makanan ya.g tadi Kevin kunyah ke mulut Sherin. Tentu saja Sherin mendelik kaget juga kesal. Bergegas dia berdiri dan berniat memuntahkan makanan dari mulut Kevin.
" Kalau kau muntah kan, aku akan memcium mu tanpa ampun disini. " Ancam Kevin dengan tatapan yang terlihat tidak main-main.
Kesal? tentu saja Sherin kesal juga jijik dengan makanan yang ada di mulutnya. Dia ingin memuntahkan, tapi dia merasa terintimidasi dan tertekan oleh tatapan Kevin. Kalau tidak dimuntahkan, tenggorokannya saja tidak mau menerima.
" Telan! " Ancam Kevin kembali menajamkan mata. Untunglah, Kevin sama sekali tidak menggunakan suara yang lantang. Dia sengaja berbicara di dekat telinga Sherin. tentu tujuannya agar Sherin tidak dianggap istri yang tidak dihargai suaminya. Walau bagaimana lun, Kevin sangat tidak ingin kalau sampai Sherin dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Telan? matamu sini yang ku telan. Apa otak mu itu tidak berfungsi? bukanya ini sama saja aku memakan makanan yang kau muntah kan?
Sial! karena tatapan mata Kevin, Sherin akhirnya menelan habis makanan itu meski dia ingin sekali memuntahkannya karena perutnya benar-benar mual.
" Dasar bajingan tengik! aku mau cemburu atau tidak, itu adalah hak ku! "
Mendengar suara Sherin yang meninggi, semua orang kini menatap ke arahnya. Tentu dengan sigap Kevin meraih tangan Sherin lalu menuntunnya untuk segera kembali keruang kerjanya. Barulah sesampainya disana, cekcok rumah tangga dimulai.
" Kau ini apa tidak bisa menghargai usaha ku untuk membuat mu cemburu? kalaupun memang tidak cemburu, kau kan bisa berpura-pura cemburu untuk menyenangkan ku? kenapa kau ini tidak pengertian sekali sih?! " Protes Kevin. Iya, hati mana yamg tidak sedih kalau pasangan kita tidak cemburu saat kita bersama orag lain? malahan, bertingkah seperti tidak kenal begitu, bukanya menandakan kalau tidak punya rasa cinta sedikitpun?
" Memang aku ini artis yang harus banyak pura-pura? lagi pula, kau itu memang sudah terbiasa mengobral dirimu seperti kain rombeng! jadi aku sudah tidak heran lagi. " Sherin juga gak kalah kesal, dia membuang pandangan begitu ucapannya sudah selsai.
Kevin menghela menghembuskan nafas panjangnya. Biarlah, entah cemburu atau tidak, tapi yang pentingkan Sherin sudah menjadi istrinya. Terlebih, Sherin juga sama sekali tidak masalah dengan masa lalunya dan juga identitas lain yang ia sandang.
" Sayang ku? aku minta maaf. Maaf karena marah tidak jelas. Maaf karena sengaja pergi makan dengan perempuan lain. " Kevin memeluk tubuh Sherin dari belakang, dia juga memberikan kecupan sayang di kepala Sherin.
Sebenarnya Sherin merasa lega, ternyata Kevin tidak memiliki perasaan naksir dengan gadis cantik tadi. Meskipun sekarang dia jadi bertanya-tanya, memang apa yang bagus dari dirinya? kenapa juga Kevin bisa jatuh cinta dengannya? dan yang lebih membagongkan lagi, maksudnya membingungkan, Kevin adalah pemilik rumah sakit, Dokter terbaik di kota ini, ditambah dia adalah si keren yang bergabung dengan geng mafia. Kok ya bisa jatuh cinta dengannya sampai seperti ini? benar-benar indah sekali, batin Sherin.
" Kau masih diam, apa kau masih marah? aku kan sudah minta maaf. "
Sherin tersadar dari segala pemikirannya saat mendengar Kevin bicara barusan.
" Aku tidak marah. "
Kevin memutar tubuh Sherin agar bisa berhadapan dengannya.
" Tapi kau masih diam saja. "
" Bukanya sekarang aku sedang bicara? " Jawab Sherin dengan tatapan polosnya.
" Iya ya? " Kevin tersenyum laku mengecup kedua pipi Sherin bergantian. Gila! Sherin benar-benar terheran-heran dengan sifat Kevin selama menyandang status sebagai suaminya. Sungguh, Kevin jadi begitu lembut, dan juga tidak segan-segan meminta maaf dan membujuknya. Apa ini termasuk satu golongan dengan cerita mafia yang menjadi budak cinta? oh ya ampun!
" Sayangku, aku belum makan loh. " Keluh Kevin yang kini mulai terasa lapar.
" Tadi kan sudah makan. " Ujar Sherin.
" Makanya, tadi kau harus melihat ke arahku. Aku hanya mengaduk makanan itu saja. Aku tidak berselera untuk makan. "
" Aneh! padahal dihadapan mu adalah wanita cantik, kenapa kau tidak selera makan? " Sherin menatap Kevin dengan tatapan menyelidik. Tali baguslah! setidaknya Kevin merasa bahagia dengan jawaban dari Sherin karena dia menganggap Sherin sedang cemburu.
" Aku tidak berselera kalau bukan makan bersamamu. "
" Jangan-jangan, itu karena belahan dada gadis itu tidak terlibat jelas. " Ujar Sherin menebak-nebak.
TBC