Marry Me, Please

Marry Me, Please
Pulang



Setelah hampir satu jam Sherin memasang wajah sebal karena cilok, akhirnya kini Kevin bisa bernafas lega karena sang istri sudah mulai tertidur. Benar-benar tidak di sangka, hanya karena cilok, dia bisa se-marah itu. Lagi pula, dua sahabat tengiknya itu benar-benar tidak punya otak. Mana ada cilok di Maldives? mau sampai memgobok-obok lautan juga belum tentu mendapatkannya.


Kevin perlahan bangkit dari tempat tidur, dia berjalan pelan ke arah balkon sembari menyelipkan sebatang rokok di jemarinya. Sesampainya di sana, dia membakar ujung rokoknya, lalu menyesapnya perlahan. Rasanya baru saja menikah dengan Sherin, tapi banyak hal yang sudah terjadi. Entah masalah apa lagi kedepannya, tapi dia hanya bisa berdoa dan berharap agar Sherin selalu kuat menjalani hubungan suami istri yang dia harapkan akan bertahan selamanya, hah! maksudnya sampai dia mati nanti.


" Kenapa kau keluar? "


Kevin terperanjak, sungguh sangat tidak biasa. Padahal dia adalah orang yang sangat sensitif dengan gerakkan seseorang, apa mungkin karena sedari tadi dia melamun?


" Sayangku? " Kevin mematikan puntung rokoknya, dia bahkan meniup-niup asap rokok agar tidak mengenai Sherin.


" Kenapa kau bangun? padahal aku kan sudah tidak membuat suara apapun. " Ujar Kevin. Dia meraih pergelangan tangan Sherin, membawanya untuk duduk dipangkuannya. Sherin yang merasa bersalah karena marah untuk hal sepele hanya bisa menurut saja dan mengikuti apa yang di inginkan Kevin.


" Lebih tepatnya, aku belum tidur. " Jawab Sherin.


" Kau berpura-pura tidur tadi? "


" Iya. Itu karena aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan. "


Kevin tersenyum. Dia meraih rambut Sherin, lalu menyatukannya untuk ia singkirkan ke bagian pundak kiri Sherin. Dia meletakkan dagunya di pundak kanan Sherin, memeluk tubuh Sherin yang kini duduk dipangkuannya, dan dia juga memberikan beberapa kali kecupan di pundak Sherin.


" Maaf, sayangku. "


Sherin terdiam sesaat. Benar, ini semua memang tidak masuk akal, marah hanya gara-gara cilok saja? anak-anak saka pasti akan tertawa kalau tahu ini.


" Tidak, aku yang harus minta maaf. "


Tak ada lagi pembicaraan apapun, karena setelah itu, yang ada mereka mulai melakukan kegiatan suami istri.


Sepuluh hari mereka habiskan di Maldives. Memang sih tidak sesuai dengan rencana Sherin, dan teman wanitanya. Karena ternyata mereka malah lebih sering harus menghabiskan waktu di kamar untuk, ehem!


Di salah satu Bandara tanah air. Sherin dan Kevin, beserta teman-temannya kini telah sampai. Tak lagi bersama setelah itu, karena mereka tentu akan kembali ke tempat tinggal masing-masing.


Bruk!


Sherin menjatuhkan tubuhnya di sofa duduk ruang tamu. Entahlah, rasanya dia sangat lelah dan ngantuk berkepanjangan. Masih kurang nyaman, Sherin mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas meja agar sejajar dengan tunggi duduk nya.


" Sayangku, kau baik-baik saja? " Tanya Kevin yang jelas bisa melihat ada yang tidak biasa dengan istrinya. Sudah tiga hari ini dia terlihat sangat lemas dan mudah mengantuk, bahkan Sherin juga mengeluh lelah saat mereka belum selesai melakukan hubungan badan.


" Tidak, aku malah seperti habis minum alkohol. Pusing, lelah, dan banyak rasa seperti permen nano nano. " Sherin memejamkan matanya sembari merasai tubuhnya yang memang sangat tidak nyaman.


Kevin yang merasa khawatir sontak memeriksa denyut nadi istrinya. Kevin mengeryit menatap Sherin yang juga menatapnya saat merasai pergelangan tangannya disentuh oleh Kevin.


" Sayangku, denyut nadi mu lebih cepat dari biasanya. "


" Aku hanya kelelahan, tidak perlu khawatir. "


Kevin terdiam.


" Mau mencoba menggunakan alat uji kehamilan? "


" Tidak, lain kali saja. memang belum waktunya untuk datang bulan kan? setidaknya masih satu pekan lagi untuk datang bulan. " Ucap Sherin. Tak mau terlalu berharap dan terkesan memaksa, Kevin mengangguk setuju saja.


" Barang-barangnya biarkan saja dulu. kau pergi istirahat saja ya? biarkan aku menggendong mu. " Kevin membopong tubuh Sherin, perlahan-lahan dia merebahkan tubuh istrinya itu ke tempat tidur.


" Sayangku, tidurlah dulu. Aku akan pergi sebentar, nanti setelah urusanku selesai, aku akan segera kembali. Tapi, jangan lupa hubungi aku kalau terjadi sesuatu ya? " Sherin mengangguk saja meskipun dia samar mendengarkan apa yang dikatakan Kevin. Setelah memastikan Sherin tertidur, Kevin bergegas mengganti pakaian, lalu berjalan keluar meninggalkan apartemennya.


Hampir satu jam berada di perjalanan, akhirnya sampailah Kevin di tempat yang ingin dia datangi. Sebuah tempat tinggal yang berada dipinggiran ibu kota. Dindingnya terbuat dari triplek, atapnya juga banyak yang bocor.


" Kevin? " Sapa seorang pria paruh baya yang tak lain adalah kakak kandung dari mendiang Ibunya. Kevin tersenyum, dia berjalan mendekati pamannya, dan langsung memeluknya. Sungguh amat di sayangkan, hanya karena rasa cinta yang begitu buta, mendiang Ibunya rela mengabaikan saudara dan saudari kandungnya, dan memilih menyerahkan segalanya demi pria yang tidak tahu diri seperti Ayah kandungnya itu.


" Bagaimana kabar paman, bibi, dan anak-anak kalian? maaf aku baru bisa datang langsung ke rumah paman sekarang. "


" Tidak apa-apa. Masuklah dulu, biarkan kami memberimu teh hangat. "


" Tidak perlu, paman. Sekarang kemasi saja barang-barang paman sekeluarga. Sekarang aku harus menemui bibi juga keluarganya. Mereka juga akan ikut tinggal di rumah Ibu. "


Paman menatap Kevin bingung.


" Ta tapi, keponakan, menanggung biaya sekolah anak-anak paman, dan kau juga menanggung biaya anak-anak dari adik paman juga sudah sangat besar. Bagaimana mungkin kami dua keluarga membebani mu dengan adanya paman dan juga adik Ibumu? "


Kevin menghela nafasnya, dia meraih kedua bahu pamannya, lalu tersenyum.


" Paman, kalian adalah keluargaku. Aku tidak ingin keluargaku tersisihkan oleh orang asing. Rumah itu sudah kosong, dan lagi, aku tidak memberikan kalian tinggal secara cuma-cuma loh. Paman, dan bibi akan bekerja sama untuk memajukan perusahaan yang Ibu dan kalian berdua bangun bersama dulu. Aku tahu, paman dan bibi adalah orang yang cerdas. Jadi, selama perusahaan berkembang, aku akan menganggapnya sebagai bentuk cinta kalian kepada Ibuku. "


Paman menyeka air matanya. Iya, dulu sekali, dia adalah orang yang memimpin perusahaan itu. Meski sebenarnya, ada Ibunya Kevin dan juga adik bungsunya yang membantu, tapi semua berubah saat Ibunya Kevin jatuh cinta dengan sekretarisnya, pria itu bersembunyi di balik wajah polosnya, dan lama kelamaan menyuntikkan racun yang sangat banyak tanpa disadari oleh mereka. Bahkan buntutnya, dia dan adik sulungnya tersisih, dan kesulitan mencari pekerjaan karena nama baik yang dirusak oleh pria itu yang tak lain adalah Ayah kandung dari Kevin.


Setelah selsai urusan dengan pamannya, Kevin menyambangi asik dari Ibunya, dia meminta hal yang sama. Memang perlu membujuk, tapi karena kebaikan Kevin selama ini, akhirnya bibinya pun setuju.


" Ah! lumayan lelah juga. Sayangku, aku sangat merindukan mu. Aku sudah tiga jam pergi, kau pasti sedang menungguku dengan wajah sedih kan? " Gumam Kevin sembari menjalankan mobilnya.


Semenatara di apartemen. Sherin masih saja tertidur, entah mengapa dia merasa begitu nyaman. Dia bahkan sampai berguling kesana kemari karena luas tempat tidurnya begitu mendukung. Dia bahkan sampai mendekur seperti suara dekuran seorang pria.


TBC