Marry Me, Please

Marry Me, Please
Masih Merajuk



Bugh!


" Ah! " Pekik Kevin saat lagi-lagi Sherin menendang dan membuat Kevin jatuh dari tempat tidur. Kevin bangkit seraya mengusap bokong, lalu bagian tubuhnya yang sakit saat membentur lantai tadi. Ini bahkan bukan pertama kalinya dia jatuh. Sudah empat kali dia jatuh karena tendangan dari Sherin, padahal dia sudah tidur di ujung dengan posisi miring agar istrinya memiliki lebih luas ruang. Tapi yang ada malah dia tersiksa, karena kena senggol sedikit, dia langsung berciuman dengan lantai.


Kevin terdiam memandangi istrinya yang terlihat sangat nyenyak. Menyedihkan! apakah di dalam tidurnya juga Sherin masih tetap marah? Kevin tadinya berniat perlahan-lahan naik ke atas tempat tidur, tapi dia urungkan niatnya saat Sherin bangun, dan duduk di tempat tidur dengan mata terbuka.


" Dasar hidung belang! kalau saja aku melihatmu genit lagi, aku tidak akan segan-segan memelintir burung mu! akan aku gunakan seluruh kekuatan yang aku miliki untuk memecahkan telur mu! oh, atau aku akan membius mu saat tidur, lalu akan aku ganti burung mu menjadi seperti milikku. Biarkan saja kita hidup sebagai kakak adik. " Kevin hanya bisa meringis ngilu saat Sherin berucap sembari memperagakan dengan tangannya. Mulai seperti sedang memeras cucian, mengepal seolah penuh kemarahan, bahkan dia juga menyeringai dengan mengerikan saat ucapan terakhirnya. Memang sih matanya terpejam, tapi cara Sherin berbicara, mempraktekkan dengan tangannya benar-benar seperti seseorang yang sudah sangat berambisi.


Niat awal ingin tidur disamping istrinya, kini nyali itu menciut dan membuatnya memilih untuk tidur di sofa. Terus memikirkan ucapan Sherin, Kevin lagi-lagi menelan saliva dan terus menggeleng dengan perasaan ngeri. Untuk berjaga-jaga, dia memiringkan tubuhnya menghadap Sherin, kedua tangannya memegangi bagian bawahnya agar dia tetap sigap melindungi benda berharga miliknya itu.


" Sayangku, kalau burungku kau buat sama seperti milikmu, aku benar-benar memilih untuk mati saja. "


Satu jam telah berlalu, tapi Kevin masih saja tidak berai tidur. Dia benar-benar sangat takut kalau saja Sherin merealisasikan ucapannya. Ngantuk sih, tapi dia takut kalau nanti dia tertidur, lalu bangun-bangun burungnya sudah tidak ada, hah! membayangkan nya saja, ngantuk nya menghilang entah kemana.


Pagi Harinya.


Sherin menggeliat kesana kemari dengan leluasa. Hah! benar-brnar sangat nyaman. Padahal biasanya kan saat menggeliat dan berguling dia akan membentur tubuh Kevin, lalu berakhir di dekap erat olehnya. Tentu saja ada rasa berbeda dari rasa nyaman yang ia rasakan saat ini. Perlahan Sherin mulai membuka matanya, benar saja Kevin tidak tidur di tempat tidur. Sherin menatap sejenak Kevin yang kini tengah terlelap di sofa. Tapi dia juga merasa bingung, kenapa kedua tangan Kevin memegangi bagian bawahnya? apa mungkin bagian bawahnya kedinginan dan membutuhkan kehangatan? tapi sudahlah, hari ini dia masih akan libur dan memiliki rencana indah yang dia sudah pikirkan semalam.


Jalan-jalan keliling pusat belanja, membeli baju, cincin, kalung, tas, sepatu, oh! membeli makanan super mahal. Iya, memang sih ususku bisa kejang memakan makanan mahal, tapi sesekali pun tidak masalah. Baik Sherin, targetmu hari ini adalah tujuh ratus juta.


Beberapa saat kemudian. Sherin terlihat cantik dengan dress berwarna peach bermotif bunga-bunga. Wajahnya juga sudah dia sapu dengan make up tipis seperti biasanya. Kevin yang baru saja terbangun sontak terkejut melihat istrinya sudah rapih dan cantik sepagi ini.


" Sayangku, mau kemana? " Tanya Kevin, tak mau terlalu lama mendapat jawaban, dia dengan segera berjalan mendekati Sherin dan duduk di pinggiran tempat tidur agar jaraknya dengan Sherin semakin dekat.


" Tentu saja bersenang-senang. Kemarin sudah hampir lima ratus juta, hari ini aku punya limit sendiri. Apa kau keberatan? "


Kevin terdiam.


Boleh jujur tidak sih? lima ratus juta, sekarang limit sendiri? apa tidak terlalu buang-buang uang hanya karena kesal? tapi kalau aku mengatakan kata-kata yang seolah-olah keberatan, aku sendiri yang akan susah nantinya.


" Tidak apa-apa kok, sayangku. " Kevin memaksakan senyumnya, hah! kalau setiap hari Sherin kesal, bisa-bisa dia dan anak-anak mereka makan tahu dan tempe nantinya. Ya ampun! apa jangan-jangan malah hanya bisa makan nasi dan garam.


" Kenapa wajahmu seperti tidak sinkron dengan ucapan mu? " Sherin melirik sebentar lalu kembali menatap cermin yang ada di hadapannya sembari membenahi riasan wajahnya.


" Hah? memang wajahku seperti ini kok sayangku. Ngomong-ngomong, sampai kapan kau berencana untuk ngambek? "


Sherin menatap Kevin kesal.


" Kenapa? kau keberatan?! "


Sialan! lagi-lagi mulutnya tidak tahan. Kevin menggeleng cepat, lalu dia memukul pelan mulutnya sendiri.


" Dasar mulut tidak tahu aturan! "


Satu jam setelah itu, Sherin sudah pergi ke tempat yang dia inginkan, sementara Kevin kini sudah berada di ruang praktiknya. Sejenak memang dia teralihkan dengan adanya pasien yang harus dia tangani. Tapi sebentar-sebantar notifikasi dari aktifitas kartunya terus saja berbunyi. Ya ampun! biarkan sajalah, mau bilang apa juga dia tetap bersalah.


" Dokter Kevin! " Panggil asisten Kevin dengan nada khawatir.


" Ada apa? " Tanya Kevin seraya menjauhkan ponselnya.


" Ada salah satu pasien Dokter Sherin, dia mengadukan komplain karena salah satu kerabatnya menjadi semakin parah setelah ditangani oleh Dokter Sherin. Dan yang paling fatal adalah, beberapa helai rambut tertinggal di organ dalam setelah menjalani operasi yang di pimpin oleh Dokter Sherin. "


Kevin terdiam mendengarkan segalanya dengan seksama. Rambut? bahkan Sherin sangat menjaga kebersihan saat di rumah, sehelai rambut lun tidak ia biarkan tergeletak di kamar mandi, lalu bagaimana bisa ada rambut di dalam tubuh pasien?


" Kita kesana sekarang. "


Dengan langkah lebar dan cepat, Kevin dan juga asistennya mendatangi keluarga pasien yang mengajukan komplain.


Kevin menatap seorang pria tinggi besar yang kini duduk seperti tengah berseteru dengan wakil direktur rumah sakit yang tak lain adalah bawahan Kevin.


" Kau yakin dengan apa yang kau tuduhkan? " Tanya Kevin saat hanya tinggal mereka berdua yang ada di ruangan itu.


Pria itu tersenyum miring dengan tatapan tajam.


" Kalau aku tidak memiliki keyakinan, maka aku tidak akan berada di sini sekarang. "


Kevin sejenak memperhatikan cara bicara pria yang berada di hadapannya. Tenang dan menakutkan, seolah semua berada di bawah kendalinya. Bahkan Kevin merasa jika pria yang ada di hadapannya adalah lawan yang lumayan.


" Dimana Dokter yang bernama Sherin itu? "


Kevin tersenyum miring. Sebenarnya ini kali pertama Kevin begitu angkuh menghadapi keluarga pasien dari rumah sakitnya. Tapi saat matanya melihat bagaimana pria itu menatap dengan kesan angkuh dan arogan, Kevin merasa jika pria itu sama sekali bukan orang yang pantas mendapatkan perulaku sopan dan hangat darinya.


" Istriku sedang merajuk, masalah ini biakan saja aku yang menanganinya. "


Pria itu bangkit dari duduknya.


" Kalau begitu, aku sama sekali tidak ada urusan denganmu. "


Pria itu berjalan keluar, saat dia sudah memunggungi Kevin, dia tersenyum miring.


Sherin, aku semakin bersemangat untuk ini.


TBC