
Satu kali lagi hari menyebalkan yang sudah Sherin lalui. Tidak tahu mau sampai kapan dia seperti ini terus menerus. Bangun pagi, sarapan, berangkat kerja, tersenyum menyambut pasien, menjalankan beberapa kegiatan wajibnya sebagai seorang dokter, makan siang, mendengar gunjingan orang, pulang, makan malam, dan tidur. Hah! sungguh membosankan. Sherin pernah membatin di dalam hati, kalau selama kepergian Kevin ada pria yang mendekatinya, dia akan dengan cepat menerimanya menjadi kekasih. Tidak perduli bagaimana bentuknya. Mau tidak punya mata kek, tidak punya kaki, atau tidak punya otak juga tidak apa-apa. Yang penting adalah memiliki pacar dan bisa ia pamerkan saat Kevin pulang. Sial! bahkan lalat saja seolah malas mendekatinya. Malam ini juga sama. Dia hanya sibuk berbaring lalu membuka akun media sosialnya.
" Huh! orang ini mati atau kemana sih?! atau jangan-jangan benar? dia itu sudah punya istri dan tidak mau orang tahu. Ckckck! kasihan sekali istrinya. Aku jadi penasaran, wanita menyedihkan mana yang menjadi istrinya? wanita itu pasti sangat tergila-gila dengan Dokter cabul itu. Buktinya, dia rela disimpan seperti barang dan tidak pernah di pamerkan. "
Sherin kembali mengejan nafasnya. Kesal! rasanya dia benar-benar sangat kesal menghadapi dugaan-dugaan yang hanya membuat dirinya sendiri terluka. Dia ingin membuat dirinya agar tidak mengharapkan Kevin, tapi hatinya terus saja menolak dugaan itu dan semakin membesar pula harapannya agar Kevin kembali dan membantah dugaannya.
" Sialan! otak ku benar-benar mau meledak rasanya! kenapa sulit sekali untuk tidak memikirkan pria itu?! atau jangan-jangan, di itu suka main dukun. Aku rada iya. Lagi pula, kenapa juga aku bisa segila ini memikirkan dia? "
Sherin bangkit dan kini sudah berada di posisi duduk. Sherin mulai meyakini dugaannya yang barusan adalah hal masuk akal dari semua dugaan sebelumnya.
" Benar-benar tidak bisa di maafkan! kalau sampai dia bermain dukun, aku benar-benar akan mencekik leher mu sampai putus! "
Sherin kembali menjatuhkan tubuhnya.
" Aku harus menahannya dulu. Besok adalah hari pernikahannya Vanya. Aku tidak boleh terlaku banyak marah-marah. Siapa tahu, besok ada pria tampan yang akan mendekati ku. Baiklah, lebih baik melakukan perawatan dan jangan memikirkan pria sialan dan cabul setengah mampus itu. "
Sherin bangkit menuju meja rias nya. Dia meraih masker wajahnya lalu melakukan beberapa perawatan agar wajahnya menjadi lebih segar. Sembari menunggu kegiatan nya usai, Sherin menyiapkan sebuah dress yang akan dia gunakan besok di hari pernikahan Vanya. Tidak lupa, diajuga sudah menyiapkan tas dan sepatu yang senada dengan dress nya.
Aku pasti akan tampak cantik saat menggunakan ini.
***
Hari ini adalah hari dimana Kevin akan kembali ke negara asal. Perasaan bahagia karena akan bertemu pujaan hatinya sungguh tidak bisa ia pungkiri. Bibirnya terus saja ingin tersenyum. Tidak tahu kenapa, wajah Sherin benar-benar memenuhi otak dan kepalanya. Sembilan jam dia menghabiskan waktu berada di penerbangan. Pagi hari ini, kakinya sukses menginjakkan kaki di salah satu bandara yang dimiliki oleh negara asalnya. Luar biasa memamg. Padahal beberapa hari yang lalu dia berangkat dengan sebuah misi yang harus ia jalankan. Baru kemarin pula, dia saking baku hantam untuk melindungi kubu masing-masing. Tapi sungguh beruntung nasib Kevin yang selalu lolos dalam bahaya dalam pertarungan antar kubu itu.
Kevin menaikan satu lengan jaket hitam yang melapisi tubuh nya. Baiklah, ini sudah pagi. Saatnya mengaktifkan ponselnya yang sudah hampir satu minggu dalam keadaan mati. Dia melihat beberapa pesan yang hanya dia anggap penting. Sedangkan ratusan pesan lainya dia abaikan begitu aja.
" Dia menghubungi ku? apa dia merindukan ku? " Gumam Kevin karena melihat notifikasi dari Sherin. Bibirnya benar-benar tersenyum dengan bahagia. Tapi saya dia membuka pesan dari Nath, dia kembali menghela nafas sebalnya.
" Nath, kenapa harus buru-buru menikah sih? padahal aku kan ingin bertemu dengan Sherin dulu dan menceritakan banyak hal. Kau benar-benar menyebalkan ya? " Gerutu Kevin.
***
Hari ini adalah hari pernikahan Vanya dan Nathan Chloe. Sahabat dari Kevin dan Sherin. Nathan junior dan Berly juga nampak sangat menawan hari ini. Di sana juga ada Devi dan Sekretaris Nathan yang bernama Lexi. Jujur saja, Sherin begitu terpesona dengan wajah Lexi yang amat tampan itu. Posisi wajah dan postur tubuh yang sempurna, tatanan rambut yang begitu kekinian dan rapih, ditambah lagi, aroma parfum yang menyeruak dari tubuhnya begitu wangi dan menggoda. Entahlah, semua yang ada di tubuh pria itu begitu menawan.
Ditengah-tengah acara berlangsung, akhirnya si pria menyebalkan yang membuat hatinya gundah tiba-tiba muncul di sana tanpa Sherin sadari.
" Apa kabar, sayang ku? " Sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar di perut Sherin. Nafas hangat yang menyembur dari bibir pria itu membuat Sherin merasa nyaman. Meskipun dia tahu siapa pemilik suara yang kini berbicara, tentu saja dia tidak akan membiarkan Kevin terlalu lama memeluk tubuhnya.
" Siapa yang kau panggil sayang? " Sinis Sherin setelah menjauhkan tangan Kevin dari tubuhnya. Dia juga enggan membalikkan tubuh dan fokus menatap pengantin meski jantungnya tengah berdegup kencang.
" Beberapa hati tidak bertemu, kenapa kau semakin cantik? "
" Jauhkan tangan mu dariku! " Kesal Sherin.
" Ya ampun sayang, kau bahkan menjadi sangat galak. Kemana Sherin yang banyak tersenyum beberapa waktu lalu? " Bukanya melepaskan pelukannya, Kevin justru semakin erat memeluk tubuh Sherin. Lexi dan Devi yang melihat kelakuan mesum Kevin hanya bisa menggeleng heran. Tapi, sangat lain reaksi Nathan dan Berly. Mereka kompak menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan mengejek.
" Lebih baik menjauhlah dariku! kau tidak lihat? disana ada banyak orang, ada adikku, dan yang paling penting, disana ada pria tampan yang menjadi incaran ku. "
Kevin mengeryit lalu menatap mencari pria yang di maksud Sherin.
" Apa maksud mu Lexi? "
" Iya. Asisten Nathan. Dia sangat tampan dan menawan. Aku sangat penasaran, kira-kira wanita beruntung mana yang akan menikahinya? "
Kevin menatap Lexi kesal. Lexi memang tampan. Tapi, walau bagaimana pun, dia juga tidak kalah tampan dari Lexi.
" Sherin, apa kau tidak tahu kalau aku juga sangat tampan? "
" Kau memang tampan, tapi kau sangat berbahaya. "
Kevin mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Sherin. Dia tersenyum memandangi wajah cantik wanita yang ia rindukan selama beberapa hari ini. Masih tetap sama, cantik dan manis. Hanya saja mulut nya sekarang lebih jujur dari sebelumnya.
" Apa kau merindukan ku? " Tanya Kevin lalu tersenyum setelahnya.
" Tidak! " Jawab Sherin cepat dan langsung memalingkan wajah.
" Aku juga merindukan mu. " Ujar Kevin.
" Aku bilang, tidak! "
" Hati mu bilang, Iya. "
" Dasar gila! "
" Aku memang menggilai mu. "
TBC