Marry Me, Please

Marry Me, Please
Memenuhi Kewajiban



Kevin menceritakan segala apa yang terjadi dan apa yang dialami oleh Kevin selama hidupnya. Lebih tepatnya, saat dia hidup bersama dengan Ayahnya. Mukai dari semua alasan tidak akurnya mereka, dan sampai pada akhirnya Ibunya meninggal karena sebuah penyakit, lalu Ayahnya datang membawa wanita baru beserta anak laki-laki lain dari wanita yang lain juga tentunya.


" Aku pikir, aku adalah anak paling malang sedunia, kau juga malang sekali ya? " Sherin menggeleng heran tapi tidak sedikitpun menatap Kevin.


" Aku tidak merasa aku malang, tapi mungkin dulu aku pernah beranggapan seperti itu, yang paling penting semua sudah baik-baik saja sekarang. " Kevin tersenyum lalu mendekap erat tubuh Sherin kembali.


" Sebenarnya, dulu aku sering berpikir dan bertanya-tanya di dalam hati. Kenapa orang dewasa begitu rumit? kenapa orang dewasa tidak berpikir seperti anak-anak, setelah bertengkar sesaat lalu kembali berbaikan. Saat aku kecil, aku sering sekali melibat Ayah dan Ibuku saling pukul. Meskipun mereka melihatku ketakutan, tapi mereka sama sekali tidak memperdulikan ku dan terus saja berkelahi. Tapi sekarang aku tahu jawabannya, kerumitan itu ternyata diciptakan sendiri, ditambah nya ke egoisan yang tidak terkendali, semuanya menjadi senjata untuk mereka menyakiti diri sendiri, dan meninggalkan jejak sakit untuk anak mereka. " Sherin tersenyum miris.


Kevin menghela nafasnya lalu megambil posisi untuk duduk seperti istrinya.


" Jalan hidup seseorang memang tidak ada yang tahu. Kau dan aku memilihi jalan hidup yang sama, berjuang untuk bisa makan, dan mengharuskan diri sendiri menjadi kuat dan pintar agar bisa terus hidup tanpa orang tua. "


" Iya, saat kecil aku sama sekali tidak suka belajar, tapi saat aku memutuskan keluar dari rumah, aku berusaha mati-matian agar menjadi pintar dan bersekolah dengan jalur prestasi. Aku tidak pernah pergi bermain seperti kebanyakan teman-teman karena waktuku hanya untuk tiga hal saja, Sekolah, belajar, dan bekerja. Sebenarnya aku sangat iri, tapi demi bisa bertahan hidup dan menjadi orang yang bisa berdiri di kaki sendiri, aku membuang jauh rasa iri itu dan fokus dengan impian ku. "


Kevin meraih jemari Sherin lalu membuatnya saling menggenggam. Dia menghela nafas karena tentulah dia teringat masa lalunya.


" Aku dulu sangat nakal disekolah, memukul teman dan berkelahi dengan orang adalah hal yang biasa. Tapi suatu hari, ibuku berkata kalau aku harus menjadi sukses agar Ayah ku berhenti memarihiku, tapi pada kenyataannya, sekeras apapun aku mencoba, aku tetap lah anak yang tidak berguna baginya. Setelah Ibuku meninggal, barulah aku keluar dari rumah degan perasaan marah dan kecewa. Kecewa karena Ayahku tidak terlihat sedih sama sekali, dan membawa wanita lain sebagai ganti Ibuku. Aku keluar dari rumah, dan panjang cerita, aku ditawari untuk masuk ke geng mafia karena kemampuan ku dalam berkelahi. Aku sadar, aku sudah banyak melukai banyak orang, maka itu juga lah yang membuat ku ingin menebus nya sebagai seorang Dokter yang mengobati banyak orang. "


Sherin berdecih, aneh! seorang mafia yang berprofesi sebagai Dokter, untunglah tidak ada kucing lewat saat dia bicara begitu, karena kalau sampai benar ada kucing yang lewat, kucing itu pasti akan terbahak-bahak mendengarnya.


" Sudahlah, menceritakan masa lalu hanya membuat otak kejang. " Sherin melepas paksa jemari yang digenggam Kevin lalu memerosotkan tubuhnya untuk mengambil posisi agar bisa lebih nyaman saat tidur.


" Sayang ku, kenapa kau tiba-tiba berbaring tidak mengajakku serta? " Kevin juga ikut menyusul Sherin, tentu saja di dengan sengaja mendekatkan tubuhnya agar menempel dengan Sherin.


" Jangan terlalu menempel seperti ini! " Sherin menggerakkan sikut tangannya agar Kevin sedikit menjauh. Tapi tentu saja itu tidak berhasil, justru Kevin malah semakin menempel lalu mendekap erat-erat tubuh Sherin.


" Sayang ku, kalau aku tidak menempel padamu, aku harus menempel pada siapa? " Kevin tersenyum masa bodoh kalau Sherin masih ingin menjauhkannya. Sementara Sherin hanya bisa terdiam sembari berpikir, memang benar sih apa yang dikatakan Kevin barusan. Apalagi wanita yang ingin bersama dengan Kevin kan lumayan banyak juga. Sudahlah! lebih baik menempel seperti ini saja dengannya asal jangan dengan wanita lain.


" Baiklah, tapi jangan sampai macam-macam! "


" Iya, sayangku. "


" Ah! Kevin! " Pekik Sherin saat Kevin menyentuh bagian dada Sherin dan menekannya lumayan kuat.


" Apa sayang? " Kevin dengan sengaja meniup-niup tengkuk Sherin dan membuat gadis itu menggeliat menahan geli.


" Hentikan! " Titah Sherin. Seperti biasa, kata bantahan dari Sherin selalu di anggap kebalikannya oleh Kevin.


" Siap sayang! " Kevin bangkit dan langsung berada di atas tubuh Sherin hanya dengan satu gerakan.


" Kau ini apa-apaan?! "


" Kau tuli ya?! aku bilang, Hentikan! "


" Iya sayang, aku tahu. Tapi kau menahan wajah ku. " Ucap Kevin setelah berhasil menyingkirkan tangan Sherin dari wajahnya.


" Baiklah, kalau begitu cepat kembali ke tempat mu! " Ucap Sherin sembari mencoba untuk mendorong tubuh Kevin.


" Kau tidak sabaran sekali ya? " Kevin kini semakin mendekatkan tubuhnya setelah bisa menguasai kedua tangan Sherin dan mengangkatnya tinggi ke atas. Kevin mulai menjalankan kecupannya memenuhi area leher Sherin.


" Em! aku bilang Hentikan! "


" Sabar sayang, ini juga sedang dilanjutkan. "


Sherin menggigit bibir bawahnya tapi matanya menatap kesal. Ternyata Kevin mengartikan kalimat jangan dengan kata sebaliknya, maka Sherin akhirnya mengetahui apa yang harus dikatakan untuk menghentikan Kevin.


" Baiklah, lanjutkan! "


" Pft! " Kevin seketika menahan tawa, benar-benar lucu sekali kata-kata itu di saat seperti ini. Lanjutkan! luar biasa membuatnya menjadi lebih semangat sekarang.


" Tentu sayang ku. " Kevin dengan tidak sabaran langsung saja memasukkan tangannya ke bagian dalam celana Sherin dan menyentuh bagian inti Sherin.


" Ah! a, aku bilang kan, "


" Kau bilang, lanjutkan! jadi aku harus mengikuti titah istriku kan? memuaskan mu adalah kewajiban ku loh. "


Sialan! Sherin hanya bisa memaki Kevin di dalam hati karena sekarang, dia harus benar-benar menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara.


Keesokan paginya. Setelah selesai membersihkan diri, tentu dia akan rapih-rapih sebelum berangkat ke rumah sakit. Kevin yang sedang mandi juga sudah ia siapkan bajunya. Setelah mereka sudah rapih, Sherin kembali teringat sesuatu laku mengambil salah satu produk make up yang bisa menutupi tanda merah di bagian lehernya. Iya, setidaknya hanya di tempat itu yang terlihat, sedangkan di bagian dada kebawah, siapa juga yang akan tahu selain Kevin?


Sesampainya dirumah sakit, Kevin dan Sherin masih saja menjadi topik hangat untuk dibicarakan, ditambah lagi hari ini ada tamu khusus yang menunggu Kevin.


" Tamu? siapa? " Tanya Kevin setelah mendengar asistennya menyampaikan kabar itu.


" Tidak tahu, Dok. Dia mengaku anak salah satu rekan bisnis Ayah anda. "


" Tujuannya hanya ingin bertemu dengan ku? apa dia lupa kalau ini adalah rumah sakit? "


" Eh? anu, dia mengalami pergeseran tulang di bagian kakinya, Dok. "


TBC