
Kini Kevin menatap kesal ke arah lurus. Tangannya mengepal seolah ingin sekali melampiaskan kemarahannya.
" Rici, kau benar-benar amat tidak tahu diri. Kau yang bermain-main, maka jangan salahkan aku kalau kau tidak bisa melihat matahari terbit lagi. Setelah ini, kau hanya akan merasakan malam disepanjang hidupmu. "
Pagi harinya. Seperti yang dinginkan Sherin, seharian ini dia begitu amat menikmati indahnya laut Maldives yang luar biasa. Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Sherin kini tengah memakai bikini sembari berjemur karena merasa sudah cukup lelah juga berada di dalam air sedari pagi. Dia dan juga teman-temannya nampak begitu bahagia. Sungguh sangat berbeda dengan tiga pria yang saat ini duduk bersama sembari menikmati kesebelan mereka.
" Mereka ini sengaja atau bagaimana sih? kenapa juga masih memakai bikini saat sudah selesai berenang? memang tidak takut kulitnya di kotori lalat? " Gerutu Lexi. Dia adalah sahabat Kevin sejak usia remaja.
" Apa kau juga cemburu dengan lalat? " Tanya Kevin.
" Bukanya lebih baik kalau aku yang mengotori kulitnya? " Ujar Lexi yang malah mendapatkan pukulan ringan dari kepalanya oleh Nath.
Tak lama setelah itu, Kevin melihat sebuah pesan masuk ke ponselnya yang memberinya kabar bahwa Rici sudah ada di tangan mereka. Bergegas Kevin bangkit sebelum Sherin menyadarinya, tentunya dia juga sudah menceritakan semua yang terjadi dengan kedua teman-temannya, jadi mereka akan membantu mencari alasan saat Sherin mencarinya nanti.
Setelah memakai baju lengkapnya, Kevin yang sudah di jemput oleh seseorang langsung saja melesat menuju tempat dimana Rici di tahan oleh teman-temannya. Tak butuh waktu lama, dua puluh menit diperjalanan akhirnya mereka sampai di tempatnya. Kevin berjalan dengan cepat untuk segera menemui Rici, lalu menyudahi segalanya dengan caranya sendiri.
Tak Tak Tak
Suara sepatu pantofel yang Kevin gunakan begitu jelas terdengar nyaring ditelinga Rici. Tatapan gadis itu nampak pilu dan melas. Mulutnya di sumpal, tangannya di ikat, bahkan kaki juga di rantai. Kejam? iya! tapi sungguh hukuman bagi seseorang yang seperti Rici sangat membutuhkan ketegasan, Karena kalau tidak, dia akan melakukanya lagi dan lagi sampai dia merasa puas sendiri.
" Buka penutup mulutnya. " Pinta Kevin kepada salah satu orang yang yamg berada tak jauh dari Rici.
" Dokter Kevin, tolong! tolong aku! mereka semua sudah gila! " Pinta Rici, matanya yang sudah lembab karena sedari menangis, kini menjadi semakin basah saat dia memohon kepada Kevin.
Kevin terdiam sesaat, lalu dia tersenyum melihat bagaimana Rici memperagakan wajah melasnya. Iya dia tahu Rici bdnar-benar ketakutan saat ini. Tapi Kevin yang sekarang ini mana mungkin akan memperdulikannya?
" Kau sudah meremehkan peringatan ku, terlebih lagi kau mencoba menyakiti, oh? mungkin niat mu adalah membunuh istriku. Aku tidak suka mengatakan hal yang sama dua kali. Maka hukuman ini kau terima saja. "
Rici ternganga karena merasa terkejut. Dia pikir, kedatangan Kevin adalah untuk menyelamatkannya, tapi kenapa Kevin malah berkata demikian?
" Dokter Kevin, kesalahan ku hanyalah karena mencintai mu. Di dunia ini, cinta bukanlah hal uang bisa di salahkan. Aku hanya berjuang untuk cintaku, kenapa kau begitu jahat? "
" Jahat? " Kevin terkekeh sebentar, lalu dia menatap Rici dingin dan tajam.
" Aku tidak pernah mengatakan kepada kepada siapapun jika aku adalah orang baik. Bahkan istriku saja menganggap ku brengsek. Jadi seharusnya tidak usah heran kalau aku berbuat jahat. "
Rici menangis sembari menggelangkan kepalanya pelan. Sungguh dia begitu ingin menjadi Sherin. Dijadikan wanita pujaan Kevin, di manja, di cintai, bahkan Kevin yang tidak mudah didekati bisa bertekuk lutut saat di hadapan Sherin.
" Kenapa? kenapa kau begitu mencintai dia? apa yang kurang dariku? jelas-jelas aku lebih segalanya dari dia. "
Kevin mengeraskan rahangnya menahan marah. Jika saja Rici adalah seorang laki-laki, dia pasti akan mencekik hingga mati. Sayang, karena dia seorang wanita, maka Kevin hanya bisa menahannya saja.
" Tutup mulutnya! "
Dengan sigap pria yang tadi membuka penutup mulut Rici kini memasangnya kembali dengan cepat meski Rici sempat memberontak.
Rici tak bisa berkata lagi karena mulutnya telah tertutup rapat.
" Mulai sekarang, kau akan dikurung di tempat ini. Lampu akan mati siang atau pun malam. " Rici menatap Kevin dengan tatapan terkejut.
" Seperti yang kau lihat, tempat ini hanya memiliki lubang kecil untuk fentilasi udara. Tidak ada jendela, pintu juga sudah di ganti dengan pintu besi. Nikmatilah dunia kelam mu mulai sekarang. Maaf, tidak bisa memberikan mu kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan matahari. "Kevin tersenyum miring, setelah itu dia membalikkan badan dan mulai melangkah meninggalkan Rici disana. Bukan hanya Rici, dua orang yang membawanya tadi juga ikut keluar dari ruangan tertutup itu.
" Em!! Em! Em! " Rici meronta mencoba melepas rantai-rantai yang mengekang tangan dan kakinya. Beberapa menit setelah mereka keluar, lampu yamg tadi menerangi ruangan itu di matikan. Benar saja, suasananya menjadi sangat tenang dan gelap. Bahkan, yang ada hanya suaranya yang tertahan dan hembusan nafasnya yang tidak beraturan.
Setelah memastikan lampu dan pintu terkendali, Kevin memberikan beberapa titah.
" Beri dia makan pagi dan malam, jangan memberikan apapun yang dia minta entah apa alasannya. "
Kevin kembali masuk kedalam mobil saat dirasa urusannya dengan Rici sudah selsai. Sebenarnya dia bisa dibilang beruntung karena ternyata Rici datang ke Maldives secara diam-diam, dengan uang yang dia miliki dia menghapus jejak penerbangannya sendiri. Jadi tidak mungkin dia akan disalahkan karena hilangnya Rici kan?
Kevin berjalan pelan untuk membuka pintu karena hari sudah mulai malam. Iya, pastilah Sherin mencarinya tadi. Eh? tidak ada orang? batin Kevin saat mendapati kamar mereka masih belum memiliki penerangan.
" Dari mana saja? "
Kevin memaksakan senyumnya saat mendengar suara Sherin dari balik punggungnya. Ternyata, Sherin bersembunyi di belakang pintu.
" Anu, tadi aku- "
" Kau ini sedang membuat lelucon apa?! kenapa kau ingin memakan cilok di Maldives? apa kau sudah gila?! "
Kevin mengeryit sesaat, tapi dia langsung berubah ekspresi saat Sherin menyalakan lampu.
'' Nath dan Lexi bilang, kau sedang ingin makam cilok, jadi kau mencarinya sampai dapat. Apa kau ini waras? "
Cilok? mereka berdua apa tidak bisa mencari alasan yang keren sedikit?
" Iya, maaf sayangku. "
" Mana? " Tanya Sherin.
" Apanya? "
" Cilok. "
" Eh?, itu sudah aku makan. "
" Dasar suami jahanam! kau makan cilok sendirian saja?! aku padahal sudah menunggumu sedari tadi, tapi cilok nya sudah masuk ke perut mu semua. "
TBC