
Hari masih berlanjut, ngidam Sherin yang semakin menjadi juga hanya bisa membuat Kevin menyan segala emosi di dalam dadanya. Meski mata membelalak kesal, mulut gatal ingin mengomel dan membentak, nyatanya Kevin masih bisa menahannya di hadapan sang istri.
Satu minggu sudah, Kevin menjadi model praktek make up untuk Sherin, sekarang giliran cat kuku warna warni yang menjadi langganan kukunya. Alih-alih merasa kasihan saat Kevin menangis, Sherin justru begitu antusias dan merekam videonya karena menganggap Kevin begitu terharu karena cat kuku yang dia berikan ke kuku Kevin sangat cantik.
Sebenarnya jika boleh memilih, atau bahkan mengulang waktu, Kevin benar-benar ingin memundurkan jadwal untuk memiliki anak. Tapi ya mau bagaimana lagi? anak sudah ada di perut Sherin, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apa yang di inginkan istrinya, yang katanya ' ngidam '.
" Sayang, bagaimana warna cat kuku hari ini? " Tanya Sherin dengan bangganya karena susah selsai memoleskan warna cat kuku di kuku suaminya.
" Bagus, bagus sekali. " Kevin memaksakan senyum seperti biasanya. Awal-awal memang serasa ingin kabur dan tidak pulang kerumah, tapi kalau mengingat bagaimana cengengnya Sherin sekarang ini, dia juga tidak tega. Apalagi kalau tidur memunggungi Sherin, wanita yang tengah hamil muda itu akan sesegukan bahkan saat matanya terpejam.
" Bagaimana kalau sekarang ganti warna dengan warna merah, kuning, dan hijau? tapi sepertinya lima kuku lima warna bagaimana? "
Kevin menghela nafasnya. Boleh tidak sih kalau bilang tidak mau? yah, sudah pasti dia tidak punya pilihan selain mengangguk.
Beberapa saat kemudian, suara dering ponsel menyelematkan Kevin dari lipstik berwarna merah, dan juga lingerie yang Sherin siapkan untuk Kevin. Tentu saja tujuannya untuk di photo, lalu di unggah ke akun media sosialnya.
" Boleh aku ikut? " Pinta Sherin saat melibat Kevin bergegas memakai jaket setelah menerima panggilan telepon beberapa saat lalu.
" Maaf sayang, bukanya tidak boleh. Takutnya nanti akan lama, belum lagi kau tahu benar bagaimana dia kalau bicara kan? aku tidak ingin kau kepikiran, dan mempengaruhi mood mu, kan tidak baik bagi janin kalau kau stres. " Ujar Kevin seraya berjalan mendekati Sherin. Dia mengecup kening Sherin lalu tersenyum setelahnya menatap Sherin.
" Tapi kan- "
" Sayangku, akan aku usahakan pulang secepatnya, lagi pula aku juga tidak suka membuang waktu dengan pria itu. Aku juga sangat sedih, dan berat hati harus meninggalkan mu sebentar. Tapi ini juga tidak bisa di abaikan saja, sayangku. "
Sherin menghela nafasnya. Iya, beberapa saat lalu, saudara Ibunya Kevin menghubungi Kevin, mereka menyampaikan jika Tuan Hanung, atau Ayahnya Kevin datang kesana dan memohon untuk diberikan tempat untuk tinggal bersama mereka.
" Ya sudah deh, tapi ingat ya? jangan macam-macam, jangan nakal. " Kevin dengan cepat mengangguk.
" Tentu saja sayangku. Aku janji tidak akan lama, karena aku juga tidak mau jauh darimu terlalu lama. "
Setelah keluar dari pintu apartemennya, Kevin menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum lebar setelahnya. Yuhu.... dia sangat bahagia karena terbebas dari siksaan istrinya. Dia bahkan sampai berjalan sembari menari kegirangan.
" Heh! maaf sayangku, mengurus si tua Hanung itu mungkin hanya butuh waktu sepuluh menit, nah sisanya aku akan bertemu dengan teman curhat ku, dan kembali saat kau sudah lelap. Hehe... " Ujar Kevin bahagia.
" Kevin, tolong, tolong Ayah sekali ini saja. Tolong izinkan kami juga tinggal disini. Saudara istriku tidak menerima kami karena kami tida memiliki uang, kami tidak punya tujuan lagi. Tolong, biarkan kami tinggal ya? "
Kevin menghela nafasnya, melihat ketiga orang itu menatap Kevin dengan tatapan memohon sebenarnya sama sekali tidak membuat Kevin merasa kasihan, tadinya Kevin masih enggan untuk menggubris Ayahnya, tapi karena paman dan bibinya merasa iba, mereka juga memohon agar membiarkan saja mereka tinggal dirumah karena kasihan, Kevin akhirnya memberikan satu solusi.
" Pergilah ke jl x nomor tiga nol enam. Kalian tinggal saja disana. Sebentar lagi akan ada orang yang datang mengantar kunci rumah. Tapi ingat, aku hanya memberi kalian tumpangan, bukan memberikan rumah. "
Setelah mengatakan itu, Kevin memilih untuk segera pergi dari sana karena tidak ingin mendengar kalimat bosa-baso yang intinya hanya ingin berterimakasih saja. Padahal dia sengaja tidak memberikan tinggal di rumah yang dulu ia tempati agar bisa mengontrol gerak-gerik mereka kalau-kalau mereka ingin membuat hal-hal aneh.
Empat puluh menit di perjalanan, akhirnya Kevin telah sampai ke sebuah tempat dimana dia sudah membuat janji bersama Nath dan Lexi. Yah, dua pria itu juga keder menghadapi ngidam istrinya yang tak kalah menyiksa bagi mereka.
Satu jam sudah mereka mengabiskan waktu bertiga, untuk saling bertukar pikiran, bercanda, dan membicarakan hal menarik pastinya.
" Aku benar-benar masih ingin disini. " Ujar Kevin sembari menyimpan kembali ponselnya setelah mengubah menjadi mode pesawat. Tentu saja diabtidak mau kalau sampai Sherin terus menghubunginya. Kapan pulang? lihat ini sudah jam berapa?! kau hilang ingatan sampai tidak tahu jalan pulang?! hah! dia benar-benar masih ingin disana.
" Aku juga. " Ujar lexi melakukan hal yang sama. Pria itu juga tak kalah menderita dari Kevin. Tahu sendiri kan? istrinya Kevin sangat tempramen, dan cerewet.
" Aku malah ingin cepat pulang, tapi istriku pasti mengusirku. Dia tidak mau kalau aku dekati sebelum tengah malam. " Nath menatap layar ponselnya yang tak juga mendapat pesan dari sang istri yang selalu ia rindukan.
Mereka kompak menghela nafas bersamaan. Sungguh rumit dunia wanita hamil. Apa boleh ya kalau meminta kepada Tuhan supaya hamil itu tidak usah pakai acara ngidam. Kalau pun harus ada, bisa tidak ngidamnya itu seperti membuatkan suami mereka melakukan hal yang menyenangkan?
" Aku takut terkena infeksi saluran kemih kalau begini. " Ujar Lexi lalu menyeruput kopinya. Iya, dia juga sangat kasihan karena sang istri sangat tidak mau berpisah barang sedetikpun. Bahkan buang air kecil pun sering ia tahan.
" Aku sekarang benar-benar sangat takut saat melihat alat-alat make up. Aku takut ini menjadi trauma bagiku. " Kevin berbicara dengan raut wajah ngeri. Hah! membayangkan benda yamg ujungnya berbulu di sapu kan ke wajahnya, dia menjadi merinding takut hanya dengan membayangkannya saja.
" Aku malah ingin merasakan apa yang kalian rasakan. Dipeluk sepanjang malam, menghabiskan waktu dengan istriku meskipun harus memakai make up. " Nath masih berandai-andai, matanya juga masih menatap layar ponsel menunggu dihubungi oleh istrinya.
Lexi dan Kevin menggeleng bersamaan.
" Aku malah ingin sepertimu, Nath. " Ujar Kevin dan Lexi.
TBC