Marry Me, Please

Marry Me, Please
Bertemu Renata



Setelah mendengar kabar pernikahan putranya, Ayah kandung Kevin merasa geram juga kesal. Kesal karena merasa tidak di hargai sebagai seorang Ayah. Memang benar, Kevin sudah meninggalkan rumah dari usia lima belas tahun. Tapi, mau bagaimana pun, dia tetap lah Ayah kandung yang seharusnya menjadi orang pertama yang dimintai restu sebelum pernikahan itu dilaksanakan. Padahal, dia juga sudah menyetujui ajakan salah satu rekan bisnisnya untuk menjodohkan salah satu putranya dengan putri mereka. Selain dapat mengembangkan perusahaan, Ayah Kevin juga akan memiliki wajah bangga saat putranya menikahi anak dari pembisnis yang lumayan hebat. Tentu lah dia tidak mau menyia-nyiakan perjodohan yang menggiurkan itu. Ayahnya Kevin pada awalnya berniat menjodohkannya dengan Dino, yang tak lain adalah saudara tiri Kevin. Tapi sialnya, saat mengetahui jika Kevin adalah anak nya juga, putri dari pembisnis itu malah memaksa untuk menikah dengan Kevin saja. Padahal, Dino sudah jatuh hati kepada anak pembisnis itu.


" Aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka dan membujuk Kevin. " Ujar Ayahnya Kevin yang kini tengah merasa pusing. Sungguh, dia benar-benar membutuhkan suntikan dana untuk kelangsungan perusahaannya.


Sesuai dari informasi yang ia dapatkan, Kevin sudah mengabdikan diri sebagai Dokter di salah satu rumah sakit ternama di tengah Ibu kota. Pamor nya juga begitu mengesankan karena dikenal dengan Dokter terbaik di kota ini. Sempat dia berpikir untuk meminta Kevin agar memberinya uang agar perusahaan yang sudah berdiri sekitar tiga puluh enam tahun itu terselamatkan. Tapi jika mengingat bagaimana perlakuannya terhadap Kevin, tentu saja anak itu akan menolaknya. Tapi jika di sodorkan wanita cantik, apalagi anak dari salah satu pembisnis, tentu dia tidak akan menolak kan? lagi pula, menurut informasi yang ia dapatkan, Kevin hanyalah menikahi seorang Dokter muda yang kurang jelas asal usulnya.


Setelah sampai di rumah sakit tempat Kevin bekerja, Ayahnya Kevin yang bernama Hanung itu berjalan cepat agar bisa lebih cepat bertemu dengan Kevin. Rindu? tidak! perasaan rindu yang ia miliki benar-benar sudah terkikis oleh waktu yang lama karena sama sekali tidak pernah berjumpa. Ditambah lagi, dari duku dia juga sama sekali tidak dekat dengan Kevin. Tujuannya datang tentulah sudah sangat jelas apa maksudnya.


Setelah menunggu cukup lama, oh tidak! ini bahkan sudah pukul enam sore. Tuan Hanung terpaksa menunggu Kevin selama itu karena Kevin tidak pernah mau diganggu saat jam kerjanya sedang berlangsung. Setelah benar-benar selesai, barulah dia berhenti lalu satu tujuannya yaitu, Sherin.


" Sayang ku sudah selsai belum ya operasinya? " Tanya Kevin kepada dirinya sendiri. Dia tentu tahu jadwal Sherin karena dia selaku memantau nya. Tidak tahu apa sebabnya, tapi mengetahui segala apa yang di lakukan oleh istrinya benar-benar membuatnya merasa tenang. Kevin meraih ponselnya lalu meminta salah satu tenaga medis disana untuk melihat apakah operasi sudah selsai atau belum. Barulah setelah beberapa saat dia mendapatkan balasan bahwa Sherin sudah selesai, dengan segera dia berjalan meninggalkan ruang kerjanya untuk menghampiri wanita yang kini sudah ia sebut sebagai istri.


" Dokter Kevin? " Sapa salah satu tenaga medis yang biasa membntunya untuk menangani pasien.


" Iya? " Jawab Kevin.


" Di lobby sudah ada yang menunggu anda. Beliau mengatakan jika beliau adalah Ayah anda. "


Kevin terdiam dengan tatapan kesal. Tentulah dia merasa kesal. Sudah lima belas tahun dia hidup seperti seorang yatim piatu dan sama sekali tidak memiliki arah tujuan saat itu. Sekarang muncul untuk apa?


" Baiklah, kau pulang saja dan biarkan dia disana. "


Setelah menjemput Sherin diruang kerjanya, Kevin kemudian mengajak Sherin keluar melalui pintu samping rumah sakit. Bukan merasa takut untuk bertemu dengan Ayahnya, hanya saja dia takut tidak akan bisa menahan diri di hadapan istrinya.


" Kenapa kita lewat sini? " Tanya Sherin yang pastinya akan merasa bingung karena harus keluar melalui pintu samping rumah sakit yang biasanya ia gunakan untuk menghindari Kevin.


Kevin tersenyum lalu mengecup punggung tangan Sherin.


" Aku sedang ingin lewat sini sembari mengenang masa dimana aku diam-dia melihat mu melarikan diri ke pintu ini untuk menghindari ku. "


Sherin menghentikan langkahnya sembari menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya.


" Iya, sebenarnya aku tidak sebodoh yang kau kira loh. Kau mau kabur kemana, lewat mana, naik apa, tentu saja aku tahu semua. Melakukan apa selama dua puluh empat jam juga aku tahu. " Kevin tersenyum lalu kembali menuntun Sherin untuk menjalankan lagi kaki mereka.


Setelah pulang dari rumah sakit, Kevin dan Sherin memutuskan untuk mampir ke tempat makan karena mereka tidak ada cukup tenaga memasak. Tapi, kalau tenaga untuk yang lain, tentu saja mereka masih banyak tenaga cadangan yang sudah berada di tempatnya.


" Makanlah, setelah sampai dirumah nanti, aku membutuhkan tenaga besar mu. " Ucap Kevin santai lalu menyantap makanannya dengan lahap. Tentu saja yang di ajak bicara hanya bisa melongo kesal mendengarnya. Apalagi melihat Kevin yang sempat tersenyum aneh tadi, rasanya ingin sekali Sherin meninju wajah sialan yang selalu saja mesum itu.


" Dengar ya Dokter Kevin, aku sungguh sangat lapar sekarang, jadi jangan membuat selera makan ku hilang ya. " Sherin meraih sendok dan garpu tapi tatapan matanya benar-benar tajam menatap Kevin.


" Panggil aku sayang, baru aku akan menuruti apa yang kau katakan barusan. "


" Tidak akan! dasar mesum! " Sherin menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut nya dengan wajah sebal.


" Terimakasih atas panggilan sayang nya. " Kevin seolah tak mau mendengar ucapan Sherin barusan dan menganggapnya seperti Sherin sudah melakukan apa yang dia inginkan.


" Aku menyebut mu, mesum! "


" Iya, aku juga dengar kau memanggil ku sayang. "


Sudahlah! lebih baik makan saja dan biarkan si Kevin brengsek itu berpikir seperti yang dia inginkan. Setelah makan malam selesai, Kevin dan Sherin berniat untuk bergegas agar bisa cepat sampai di rumah dan istirahat. Tapi sayang, niatnya itu harus di undur sebentar karena kehadiran Renata yang tidak di duga-duga.


" Vin? " Sapa Renata yang sepertinya baru saja datang ke tempat makan itu bersama dengan teman-temannya.


" Rien? " Kevin menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan datar. Canggung? tidak juga! Kevin sama sekali tidak terlalu memikirkan Renata yang menatapnya dan Sherin dengan tatapan kecewa.


" Jadi, kau meninggalkan ku untuk bersama wanita ini? " Renata mengepalkan tangannya kuat. Tatapannya yang jelas memperlihatkan kekecewaan itu begitu nyata tergambar.


" Iya. " Jawab Kevin terus terang. Jahat memang, tapi mau bagaimana lagi? dia sendiri sudah memberi tahu dari awal kalau dia tidak berniat menikahi Renata. Tapi keras kepalanya Renata, dia justru tidak perduli asalkan bisa bersama dengan Kevin lama kelamaan pasti minat untuk menikah akan terbesit dihatinya. Memang terjadi, tapi sayangnya wanita itu bukanlah dirinya.


TBC